SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 40. Kembali Ke Guangzhou


__ADS_3

Sebulan setelah pernikahan, keluarga berjumlah lima orang memutuskan kembali ke Tiongkok.


Untuk mencegah terjadinya kejadian tragis setahun yang lalu, Gu Xin Ji melatih ke tiga anaknya dengan ketat, menembak, Memanah, Jiu Jitsu dan Muathai.


Sanbao bahkan sudah sepenuhnya sembuh, setelah dirawat setahun penuh oleh Jiang Shan. Jiang Shan mengenali bakat Sanbao, dia akhirnya memutuskan mengajari Sanbao secara pribadi ilmu pengobatan tradisional Tiongkok dan juga mengajarinya tentang racun. Sepintas orang tidak akan mengetahui jika gadis kecil yang sangat cantik itu mengusai ilmu beladiri dan bahkan ahli dalam racun meskipun levelnya masih belum terlalu tinggi.


Yan Hao datang ke tempat latihan putra-putranya. Saat ini mereka sedang latihan menembak, masing-masing dari mereka mengenakan penutup telinga dan dengan serius menatap papan target di depan. raut wajah kedua anak laki-lakinya sangat dingin, sedangkan sang putri raut wajahnya tenang namun sinar matanya memancarkan rasa dingin


"Mereka sangat tekun." ucapnya


Gu Xin Ji menarik Yan Hao mendekat, dan membungkusnya dalam pelukan yang hangat.


"Mereka anak-anak yang cerdas, Xiaobao bahkan tidak pernah meleset kecuali awal latihan, dia selalu mendapat nilai penuh meskipun targetnya di acak dengan cepat, di tempat kedua ada Yiyi baru kemudian San'er, namun untuk ukuran orang biasa, mereka sudah melampaui nilai terbaik." Xin Ji menjelaskan dengan lembut, ada nada bangga dalam suaranya.


"Jadi... apakah kita akan kembali? apakah tidak apa-apa?" Yan Hao nampak khawatir


"Mereka sudah siap, kita tidak bisa menyembunyikan mereka selamanya, mereka harus mulai berinteraksi dengan orang lain, itu untuk melatih kewaspadaan mereka." Xinji menarik wajah istrinya mendekat kearahnya, berusaha sebaik mungkin menghilangkan kekhawatiran sang istri.


"Tapi....aku masih takut." ucapnya lemah


"Tidak apa-apa, ada aku."


Xin Ji menunduk mencium Yan Hao, awalnya lembut, lama kelamaan ciuman itu menuntut, tangannya sebelah memeluk pinggang Yanhao kuat dan sebelahnya memegang belakang kepalanya dan menekan hingga wajahnya tak bisa menghindar, dia menciumnya hingga kakinya lemas dan harus bersandar pada tubuh suaminya agar tidak terjatuh. Wajah Yan hao memerah, Xin Ji sangat menikmati saat-saat istrinya menjadi malu.


"Kita sudah menikah, namun kamu masih belum bisa mengatasi rasa malumu." ucapnya sambil menyeka lembut bibir Yan Hao dengan ibu jarinya. Bibir Yan Hao sedikit bengkak. matanya berkabut dan tidak fokus, pipinya memerah, dia kelihatan sangat mempesona. Saat itu adalah pemandangan yang indah. Gu Xin Ji ingin menarik istrinya ke kamar VIP mereka namun Yan Hao menolak.


Pada musim panas di bulan Agustus, Gu Xin Ji memutuskan membawa seluruh keluarganya ke Tiongkok, dengan menggunakan jet pribadi.


Kehadiran mereka di bandara sangat menyita perhatian.


Sanbao menggunakan rok tutu merah hari ini, rambutnya diubah menjadi rambut puteri, dan jepit rambut kartun di sematkan dikepalanya, dia memiliki kulit putih dan fitur wajah yang halus, dia sudah menjadi bibit kecantikan di usia muda.


Kedua kakaknya menggunakan kemeja putih dan rompi hitam, rambut mereka di potong pendek, dan disisir dengan rapi, tak ada senyum dibibir mereka, muka mereka dingin dan muram, seolah mereka adalah orang dewasa yang memiliki kesulitan hidup.


Kendati begitu ketiganya memiliki wajah yang tampan, tidak sedikit yang memotret dan mengunggahnya di Weibo.


(Apakah mereka artis cilik?)


(Mereka terlalu tampan)


(Kenapa mereka tidak tersenyum, namun begitu mereka tetap sangat tampan)


(Aku juga ingin memiliki anak kembar tiga)


(Mungkinkah mereka hasil program bayi tabung)


(Siapa orang tuanya)


(pasti orang tuanya juga sangat tampan)


Pembicaraan sesama penumpang di bandara terus berlangsung, mereka bahkan menjadi tranding di Weibo, banyak yang bertanya apakah mereka aktor atau artis cilik, atau apakah mereka orang Tiongkok?


Di depan dan di belakang mereka, pengawal berpakaian jas hitam lengkap, dengan earphon di telinga, melindungi mereka. sedangkan pengawal tersembunyi dengan menggunakan pakaian preman berjumlah ratusan tersebar di bandara.


Xinji dan Yan Hao berada pas di belakang mereka.


Mereka sangat terlindungi, kejadian setahun yang lalu membawa trauma bukan saja bagi mereka namun bagi kedua orang tua.


Dari jauh, seorang bocah berusia sepuluh tahun, memandang Sanbao lekat, dia pernah melihatnya, saat di pantai, dia mengambil bola bocah itu dan memberikan kepadanya, kemudian berbalik dan berlari kearah saudara-saudaranya. Namun mata Dabao tajam, dia melihat anak laki-laki yang mencoba mendekati adiknya yang cantik dengan tatapan mengancam


Tak lama, Lin chao datang mendekat memberitahukan jika pesawat telah siap, mereka berdiri dengan cepat dan berjalan ke dalam.


Disisi lain di Tiongkok, Alin sedang mempelajari dokumen di atas meja.


Sejak peristiwa setahun yang lalu, dia resmi mundur dari karir modeling Internasionalnya dan mulai mengambil alih bisnis keluarga.


Dia bukan saja mengambil alih namun juga mengembangkan bisnis keluarganya hingga merambah ke bisnis hiburan.


'Nona." Qingmei mendekat. "Apakah Nona sudah melihat Weibo hari ini?"


Qingmei dulu adalah asistennya saat menjadi model sekarang dia menjabat sebagai sekretaris pribadi A Lin, kinerjanya baik jadi A Lin tetap memakainya.


"Ada apa?" tanya acuh


"Ini..." Qingmei menyodorkan ipad di hadapan A Lin


Alin membeku sesaat, "Mereka...?" A Lin memandangnya


"Ya....mereka Triplet, anak orang itu." Qingmei menjawab


Wajah A Lin terdistorsi, "Jadi mereka kembali?' ucapnya. "Apakah mereka kembali dan ingin balas dendam?" Alin berkata pelan, dengan susah payah dia menyembunyikan ketakutan sekaligus kebencian di hatinya.

__ADS_1


"Damian..!" A Lin memanggil Damian di telpon.


"Linlin? Ada Apa?"


Sejak kejadian itu, Damian dan markas "Red Ghost" di obrak abrik kepolisian bekerja sama dengan interpol, beberapa petinggi Red Ghost akhirnya di tangkap dan dijebloskan ke penjara, beberapa bahkan di hukum mati, namun Damian berhasil lolos, dengan satu tembakan di kaki.


Ketrampilannya dalam merubah wajah tidak berguna pada saat itu karena Sani yang merupakan AI dari San'er sudah mengeluarkan sejumlah gambar perubahan wajah Damian dalam berbagai sisi sehingga kepolisian berhasil membekuknya, namun belum sempat Damian dibawa, bawahan elitnya berhasil menyelamatkan Damian bahkan membuat Kapten Polisi Vivian yang memimpin operasi penangkapan itu tertembak dan hampir mati.


"Apakah kamu sudah tau? Mereka...mereka...?" Alin berkata dengan kacau


"Aku sudah tau. Kembalilah!" perintah Damian.


Setahun yang lalu, Alin hampir gila saat tahu kalau operasi penangkapan dan pembunuhan Xin Ji dan keluarganya gagal. Dia bahkan dengan gila hendak membunuh Damian karena menurutnya tidak berguna.


Hingga akhirnya, dia melihat dengan matanya saat Damian ditembak saat mencoba melarikan diri, hatinya tersentak, tanpa sadar dia ketakutan. dia takut kalau Damian akan mati dan meninggalkannya, dia takut tidak ada yang menginginkannya.


Damian bersembunyi di Thailand, dia melakukan operasi plastik untuk mengganti wajahnya, dan memulihkan kakinya yang tertembak.


Dia berganti nama menjadi Xiao Jie dan datang kehadapan Alin, namun A lin tidak mengenalnya, dia puas.


Lama setelah itu, A Lin akhirnya tahu kalau orang yang selalu disisinya adalah Damian.


Damian menata kembali organisasi bawah tanah yang telah di obrak abrik kepolisian internasional. Markasnya bukan saja di Tiongkok yang dihancurkan namun di Las Vegas, Manhatan dan beberapa tempat lain. Damian mengalami kerugian besar.


Senjata ilegal yang di produksi dan akan dikirim ke negara-negara konflik disita, obat-obatan terlarang yang siap edar dalam jumlah besar bernilai milyaran dolar di hancurkan pihak kepolisian internasional. Damian memiliki dendam yang besar terhadap Gu Xin Ji juga anak-anaknya.


Sekarang Organisasi bawah tanahnya telah kembali beroperasi. Anggota pasukan elitnya berkumpul dan memulai bisnis mereka yang bermula dari kasino. Memiliki ijin resmi dan telah resmi beroperasi.


"Aku akan kembali." ucap A Lin.


Gu Xinji beserta keluarga kecilnya tiba di vila Lanhua.


Para pelayan bahagia, Butler Li dan bibi Wang menyambut mereka dengan senyum sumringah.


Setiap anak memiliki kamar masing-masing dan ditata sesuai selera mereka.


Mereka semua menempati lantai dua. Lantai tiga digunakan untuk studio rekaman, Studio kecil untuk melukis dan ruang kerja Xin Ji yang memang letaknya di lantai tiga.


Rumah terasa ramai, Yan Hao  pergi ke taman belakang, taman bunganya yang cantik masih terpelihara dengan baik, sudah 4 tahun berlalu sejak dia meninggalkan rumah ini, semua masih sama


para bocah juga sedang bermain di bagian belakang rumah, mereka berlatih menembak dengan menggunakan senapan berburu, yang menjatuhkan burung terlebih dahulu adalah pemenang. Yibao dan Dabao berlomba, Sanbao yang menjadi juri.


Burung terbang di atas kepala mereka,


Dua burung jatuh dengan sayap yang terluka, siapa yang menembak duluan dan peluru siapa yang kena duluan tidak bisa di tentukan, mereka berlari mengejar mangsa yang terjatuh.


Sanbao datang dengan kotak P3K nya, dia bertugas mengobati burung yang jatuh, mereka memang tidak berniat membunuh burung-burung itu, makanya mereka menembak dengan menargetkan ujung sayapnya.


Sanbao mengobati luka burung, setelah itu dia meletakkannya di sangkar yang sudah disiapkan, setelah burung sembuh mereka akan melepaskan kembali ke habitnya.


Guk....Guk....Meong...Meong


Suara anjing menggonggong dan suara kucing mengeong terdengar samar.


Mereka bertiga mencari arah suara. Tak jauh dari tempat mereka berlatih menembak burung, ada kolam yang agak dalam, mungkin jebakan yang dibuat tapi karena sudah lama tidak digunakan tertutupi oleh lapisan daun.


Sanbao mendekat, dia memang memiliki kemampuan menjinakkan binantang.


"Kakak, ada anjing kecil dan kucing terperosok dalam kolam." Sanbao berteriak memberitahu saudaranya


"jangan turun.. aku akan panggil ayah atau kakek Li." Yibao berlari ke arah rumah


"Ayah...!" Yibao memanggil sang ayah


"Dimana ayah, kakek Li?"


"Ayah di ruang kerja, ada apa?"


Yibao berlari ke lantai tiga memanggil ayahnya.


"Ayah!"


Xin Ji sedang melakukan video konfrens dengan para Direksi perusahaan.


"Ayah cepat, ikut aku!"


Para Direksi melihat yibao yang masuk, mereka seketika menjadi heboh


"Apakah itu anak Presiden?"


Mereka bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Kita hentikan dulu sampai disini.." Xin Ji menutup Video konfrens dan menyusul anaknya


"Ayah...ayah...cepat...cepat...mereka akan mati!" Sanbao bergegas menarik tangan sang ayah dan mengarahkan telunjuknya ke arah anjing dan kucing yang perlahan mulai tenggelam.


Gu Xin Ji perlahan menuruni tanah yang tempat mereka berdiri, dia menuju ke arah kolam kecil yang lumayan dalam airnya, dengan mendekatkan kayu kearah anjing dan kucing yang perlahan mulai tenggelam, dia berharap binantang-binatang itu cukup pintar untuk merangkak di atas kayu yang disodorkan.


Binatang itu cukup pintar, mereka dengan perlahan berjuang keluar dan berjalan dengan hati-hati diatas batang kayu yang disodorkan Xin Ji. Setelah dekat, Xin Ji maraup keduanya dan kembali naik ke atas


Sanbao dengan antusias mendekat, tanpa khawatir kotor, dia mengambil kedua binatang itu dari tangan sang ayah.


"Mereka terluka." ucapnya


Dia membaringkan mereka di tanah dan mulai mengobati luka binatang itu.


Kedua kakaknya mendekat, apa pun asal adiknya bahagia.


Xin Ji memperhatikan dengan teliti, sepertinya anjing dan kucing ini terkena penyakit, perasaannya mulai tidak enak. "lagian ini properti pribadi, bagaimana mungkin ada kolam seperti perangkap disini," pikirnya.


Seketika,


"San'er, biarkan anjing dan kucing itu, jangan mendekat!" Xin Ji berkata tegas


Ketig saudara itu membeku. Dabao segera menarik sanga dik menjauh.


"Kenapa ayah?" Yibao bertanya penasaran


"Yiyi, panggil kakek butler kemari."


Yibao berlari kembali dalam rumah memanggil butler Li.


"Tuan."


"carikan tempat, dan bawa binatang-binatang ini ke dokter hewan, saya curiga mereka terpapar penyakit menular!." Xin Ji berkata tegas


"Masih ada yang ingin main-main dengan anak-anakku" pikirnya marah


"Ayo ikut ayah, kita antar hewan-hewan itu ke dokter sekaligus memeriksa San'er." Xin Ji menjelaskan kepada ketiga anaknya. Mereka mengerti dan menurut.


Di dokter hewan,


"Sangat baik kalian segera membawa hewan-hewan ini ke sini." dokter itu menjelaskan setelah memeriksa dengan teliti anjing dan kucing itu.


"Hewan-hewan ini terkena penyakit Rabies, dan itu bisa menular dengan cepat ke manusia. Apakah kalian menggunakan pelindung saat mengangkatnya?"


Wajah Gu Xin Ji pusat pasi,


"Putri saya menggendong mereka. Apakah berbahaya?"


"tidak apa-apa, jangan khawatir, saya akan memberi mereka suntikan anti rabies, dan memberi mereka vaksin."


"Apakah hewan-hewan itu akan sembuh?" Sanbao bertanya, hatinya sakit, dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada hewan-hewan itu.


"Mereka akan sembuh setelah dirawat beberapa hari, jangan khawatir, kalian bisa mengambilnya setelah perawatan." dokter tua itu menjawab dengan ramah.


Ketiganya menarik napas lega, membuat sang dokter tertawa kecil.


Yan Hao datang dengan wajah khawatir.


"Apa yang salah?"


"Tidak apa-apa." Xin Ji menarik Yan hao dan memeluk pinggangnya membawanya masuk


Di ruang kerja, Xin ji mulai mengawasi kamera pengawas yang ada di vila, dia memperkirakan kejadian sehari sebelum kedatangan mereka, namun semua kamera rusak pada saat itu,


"Sani." panggilnya


Hologram gadis cilik yang sangat cantik muncul di depan Xin Ji.


"Ayah!" sapa Sani


"Perbaiki kamera yang rusak."


Hanya butuh waktu lima menit bagi Sani untuk memperbaiki kamera pengawas itu.


Layar yang tadinya hitam mendadak berganti dengan areal rumah, terlihat di layar di depan pagar muncul seseorang memakai hoodie, dan topeng, dari proporsi tubuh sepertinya itu adalah wanita, namun Xin Ji sendiri meragukan, bisa jadi itu adalah laki-laki yang masih remaja.


"Sani, bisakah kau memperoleh data wajahnya?"


"Bisa ayah, kalau dia sempat melihat kamera walau sebentar.


Xin Ji melihat bagaimana dia membawa anjing dan kucing yang sakit ke arah belakang rumah, melepaskannya begitu saja, dari awal sampai akhir dia tidak melihat ke arah kamera, bahkan selalu membelakangi kamera seolah tahu tempat-tempat dimana kamera itu berada

__ADS_1


Lanjut besok.....@@


__ADS_2