
Xin Ji berdiri di tepi pantai sambil merokok, tatapannya menerawang, raut wajahnya yang selalu dingin bertambah dingin, mungkin bahkan bisa membekukan tulang.
"Paman...!! Dua bocah cilik bulat putih dan gemuk berlari ke arahnya.
Xin Ji berjongkok memeluk keduanya di lengannya, hatinya dipenuhi kelembutan. Tangan kecil mereka melingkari lehernya, masih ada sisa-sisa air mata di mata bulat mereka yang indah.
Dengan lembut dia mengeringkan sisa air mata di mata kedua putranya.
"Paman, apakah adikku akan sembuh? Yibao bertanya dengan dengan sedih.
"Ya, paman akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkannya." dia berkata sambil mengelus sayang rambut Yibao.
"Apakah paman sedih? Dabao melihat mata paman merah." Dabao berkata pelan.
"Hhhmmmmm... paman sedih melihatnya."
"Jangan sedih, adik akan membaik." Hibur Dabao sambil menepuk pundak Xin Ji dengan bijak, Yibao mengikuti.
Xin Ji, "......"
"Apakah kalian percaya pada paman?" Xin Ji bertanya lembut.
Yibao dan Dabao mengangguk.
__ADS_1
"Jangan katakan soal paman kepada ibu kalian."
"Kenapa?" Yibao bertanya heran.
"Setelah paman menemukan dokter terbaik untuk menyembuhkan Xiaosan, paman akan datang pada ibu kalian." Xin Ji memandang kedua putranya.
Untuk saat ini, dia terlalu malu untuk bertemu Yan Hao, kesalahannya terlalu besar.
Jika dulu dia tidak menuduh Yan Hao secara sepihak, maka kandungan Yan Hao akan terawat dengan baik. Jika dulu dia tidak terlalu cemburu dan mau mendengar penjelasan istrinya, maka anak-anaknya akan mendapatkan perawatan terbaik dan putri kecilnya tidak akan menderita. Jika....
Tapi tidak ada obat untuk penyesalan. Dia hanya bisa melakukan yang terbaik untuk putri kecilnya, dan akan memohon pengampunan dari istrinya.
Ya, istrinya. Karena sampai sekarang dia tidak pernah menandatangani dokumen perceraian itu.
"Baik." Kata mereka berdua serempak.
"Tidak, paman akan membawa kalian jalan-jalan. Apakah kalian bersedia?"
"Yeeeee." mereka berjingkrak kesenangan.
................
Bibi Qi tertegun di dalam rumah, badan bergetar, wajahnya yang mulai menua pucat pasi, jantungnya berdegup kencang, matanya jelalatan melihat kesana-kemari, rumah sepi, gak ada satupun makhluk yang nampak. Dia menyesal meninggalkan si kembar sendiri dirumah, andaikan dia lebih memaksa si kembar untuk ikut, mungkin mereka tidak akan hilang dari rumah.
__ADS_1
Biasanya kalau Yan Hao kerumah sakit si kembar dititipkan padanya, namun tadi, suaminya menelpon mengabarkan sesuatu telah terjadi dirumah, dia tadinya ingin membawa si kembar tapi mereka menolak ikut, ingin menunggu ibunya di rumah aja. Jadinya dengan berat hati sikembar dtinggalkan, dia bergegas pulang ke rumah.
Sekarang dia betul-betul menyesal, dengan panik dia memanggil
"Yibao....Dabao.....!" tak ada jawaban, dia berlari ke arah pantai dengan harapan mereka ada di pantai, namun nihil.
Kembali kerumah, dia melihat di halaman seperti ada bekas ban mobil, dan itu masih baru, dia juga melihat jejak sepatu di halaman bahkan didalam rumah. Jantungnya semakin berdebar. Bermacam-macam pikiran buruk terbentuk di benaknya. Dengan tangan gemetar dia menelpon Yan Hao.
"Halo Bibi Qi..!" Yan hao menjawab.
"Haohao..." suara bibi Qi bergetar, "apakah Xiaosan sudah membaik?"
"Syukur pada Tuhan, keadaannya sudah stabil, sekarang kami bersiap pulang."
"Baiklan, Bibi menunggumu pulang, berhati-hatilah." air mata bibi Qi jatuh, dia tidak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenanrnya.
Sementara itu, Xin Ji membawa kedua bayi kembarnya ke arena permain. karena saat itu bukan hari libur cuma ada segelintir orang yang membawa anak-anaknya bermain termasuk si kembar. Sedang asik bermain balapan mobil, sepasang kaki cantik menggunakan stiletto merah menyala menghampiri.
"Kakak Ji...."
"A Lin..? kenapa kamu disini?" Xin Ji bertanya heran.
"Saya sedang ada pemotretan di sekitar sini." A Lin menjawab santai. Padahal sebelumnya dia sudah menelpon Lin Chao untuk menanyakan posisi sang Presiden. Hatinya galau, sudah lama sejak kejadian malam itu, Xin Ji seperti menjauh darinya. Dia tidask mungkin melepaskan Xin Ji begitu saja, apalagi semua teman-temannya sudah tahu kalau dia adalah calon istri Xin Ji, bahkan media. Kalau media sampai tahu kalau itu hanya akal-akalan dia saja, mau taruh dimana mukanya.
__ADS_1
"Siapa mereka?" A Lin memperhatika wajah si kembar. Dahinya berkerut, ada rasa tidak suka melihat kedua anak imut itu. Apalagi setelah memperhatikan lekat-lekat, "mereka terlihat seperti...kakak Ji?" ujarnya dalam hati, matanya terbelalak, "Apakah ini anaknya dengan perempuan itu" bisik hatinya. susah payah dia menutupi rasa cemburu di hatinya.
"Halo anak manis..."