SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 28. Kecelakaan A Lin


__ADS_3

Kediaman A Lin


"Nona, ada pemotretan di kota C besok," Qingmei mengingatkan A Lin yang masih memegang gelas sloki yang berisi wine kualitas terbaik.


"Meimei...Apakah baik kalau aku mengalami kecelakaan mobil besok?" A Lin bertanya dengan kilatan licik di matanya. 3 tahun yang lalu, dia bekerja sama dengan CEO Song Hyun dan membayar seseorang yang mirip dengan Yan Hao untuk menginap di kediaman sang CEO.


Kerjasama mereka sukses besar, Xin Ji meragukan kehamilan Yan Hao dan malah ia diusir dari kediaman Xin Ji dalam keadaan hamil, namun apesnya, boro-boro menikahinya, Xin Ji malah bertemu dengan dua anak kembarnya.


Qingmei menegang, ia tidak menyangka nona nya akan berpikiran seperti itu. "Jangan berpikir macam-macam, nona! tidak akan ada kecelakaan, kita akan baik-baik saja besok."


A Lin cuma tersenyum tipis mendengar ucapan Qingmei, kemudian dia mengeluarkan telpon seluler dari dalam tas tangannya.


Panggilan tersambung setelah dua kali sambungan.


"Dimana...? aku membutuhkanmu sekarang." A Lin berkata lembut


.......


Vila Lanhua


Xin Ji sampai di vila Lanhau jam 9 malam, setelah mandi, ia menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian datang Butler Li


tok... tok... tok..suara ketokan pintu.


"Masuk," Xin Ji berkata namun matanya tetap fokus pada layar komputer di depannya.


"Tuan, memanggil?"


Xin ji diam sejenak seperti sedang berpikir.


"Paman Li, Apakah Yan Hao... tidak... Nyonya muda.. pernah menghubungi kalian?"


Butler Li menegang, sejujurnya, Yan Hao beberapa kali pernah menghubungi dia dan bibi Wang, mereka bahkan tahu tentang si kembar tiga. Kakek Gu pun tau. yang tidak tau hanya Tuan Muda mereka. Hanya sudah beberapa bulan ini, Nyonya Muda nya tidak pernah menghubungi mereka lagi.


"Uhuk..uhuk..." Buterr Li batuk, ada rasa bersalah terselip di hatinya, tapi ia tidak menyesal mengingat perlakuan Tuan Muda nya terhadap Nyonya Muda.


"Tidak, Tuan." Butler Li menjawab khidmat.


"Baiklah, kau boleh pergi."


Sepeninggal Butler Li, Xin Ji berdiri, ia melangkahkan kakinya yang panjang menuju taman belakang rumahnya. Duduk di kursi taman matanya menerawang jauh, sambil sesekali menghisap rokok yang terselip di antara jemari panjangnya. Kabut asap putih yang melingkar membuat wajahnya berkabut.

__ADS_1


Sudah sejak lama ia sering duduk sendiri di taman ini, terkadang sampai tertidur, ia merasa tenang, seakan dekat dekat istrinya, aroma yang terpancar dari bunga-bunga beraneka ragam ini mengingatkannya terhadap istrinya.


Drrrttt....Drrtttt... hp nya berbunyi.


"Ya, ada apa?"


Tubuhnya tiba-tiba menegang mendengar suara dari seberang sana.


Xin Ji berdiri dan memanggil Wu Chen, supir pribadinya. Biasanya Lin Chao sang asisten akan merangkap sebagai supirnya, namun karena dia ada di rumah jadi Wu Chen yang akan menggantikan Lin Chao.


"Ke rumah sakit." Perintah Xin Ji dingin.


......


Rumah sakit.


Paramedis berlarian mendorong ranjang rumah sakit, tergolek di atasnya tubuh seorang wanita muda, seluruh tubuhnya bermandikan darah, bahkan kepalanya tidak terkecuali. Wanita itu sudah lama kehilangan kesadaran.


Xin Ji tiba di rumah sakit beberapa saat kemudian. Wanita yang mengalami kecelakaan itu adalah A Lin, dan sekarang sedang menjalani operasi.


Lampu di ruang operasi menyala menandakan operasi sedang berlangsung, Lin Chao datang setelah mendapat panggilan dari Xin Ji.


Setelah mendapat informasi akurat, dia kemudian menghadap sang presiden untuk menyampaikan informasi tersebut.


"Dimana asistennya? Mengapa dia yang harus menyetir sendiri?" Xin Ji bertanya muram, bagaimanapun, kakek Shin pernah menitipkan A Lin padanya.


"Asistennya pulang duluan karena masih harus mengatur jadwal Nona A Lin berikutnya. Nona A Lin menolak menggunakan jasa supir pengganti, Tuan." Lin Chao melapor.


Xin Ji diam, dia cuma bisa menghela napas panjang.


Qingmei kembali setelah menyelesaikan prosedur administrasi rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, sampai sekarang, dia masih tidak percaya dengan kejadian tidak terduga ini.


Baru saja Nona A Lin bicara tentang kecelakaan, dan sekarang itu benar-benar terjadi.


Qingmei berkata dalam hati.


Sebelum kecelakaan Qingmei mendapat perintah dari A Lin, dan sekarang dia harus membantu melancarkan rencana Nona nya.


"Minum." Lin Chao menyodorkan air mineral di depan Qingmei


Sejak tadi, Lin Chao memperhatikan Qingmei, ada rasa kasihan melihat asisten A Lin, bagaimanapun A Lin bukanlah sosok yang ramah dan penyayang, dia mudah marah, dan asistennya selalu menjadi sasarannya jika hatinya sedang gusar.

__ADS_1


Namun yang paling bersedih dengan kecelakaan A Lin adalah Qingmei, sang asisten.


Lampu ruang operasi mati setelah dua jam.


Seorang dokter yang menggunakan pakaian khusus operasi keluar.


"keluarga pasien" kata dokter


Xin Ji berdiri


"Pasien masih kritis, cedera kepala dan hati." dokter berkata tenang, "untuk sekarang masih harus dipantau di ICU." lanjut dokter.


Gu Xin Ji dari awal sampai akhir hanya mendengar dengan tenang.


Dari arah depan terdengar langkah kaki yang berjalan tergesa-gesa.


"Bagaimana cucu saya...!? kakek Shin datang dengan wajah pucat dan tubuh bergetar.


"Xin JI...katakan...katakan kalau Lin'er tidak apa-apa." kakek Shin mencengkram tangan Xin Ji dengan erat seperti catok.


"Kakek, A Lin tidak apa-apa, dia baru selesai menjalani operasi dan masih harus dirawat di ruang ICU untuk di pantau keadaannya." Gu Xin Ji mencoba menenangkan.


"Kakek sebaiknya pulang untuk istirahat." lanjut Xin Ji.


"Paman Wu, antarkan kakek Shin pulang!" perintah Xin Ji


"Benarkah?" Kakek Shin bernapas lega. "Kakek ingin melihat Lin'er." lanjutnya.


"Baiklah."


Di ruang ICU, banyak instrument medis di pasang di badan A Lin, mulai dari kepala hingga dada.


A Lin masih koma, ia menggunakan gaun rumah sakit khusus yang steril, seluruh kepalanya di balut perban putih, tangan juga kakinya.


Cedera tangan dan kakinya tidak terlalu parah, hanya kepala dan hati yang mengalami cedera serius, dan satu monitor terpasang untuk memantau keadaannya.


Xin Ji sudah menerima laporan kalau kecelakaan itu sudah ditangani pihak yang berwajib, sayangnya sang supir truk melarikan diri.


Kakek Shin berdiri di luar ruang Intensive Care Unit ICU melihat melalui kaca ke arah A Lin, air matanya jatuh tanpa disadari. Xin Ji datang dan menepuk pundak kakek Shin, dan menyuruh sang kakek pulang di antar Wu Chen.


Kakek Shin hanya bisa mengangguk, dan melangkah gontai menuju lobi rumah sakit.

__ADS_1


Baru beberapa langkah, tiba-tiba kakek Shin tersungkur sambil memegang dadanya. Xin Ji yang kaget bereaksi cepat menangkap kakek Shin sebelum tersungkur ke lantai.


Wajah kakek Shin pucat, bibirnya membiru, tangannya memegang dadanya dengan raut wajah kesakitan. paramedis bergerak cepat. Kakek Shin di letakkan di ranjang rumah sakit, dan dilarikan ke unit gawat darurat, dokter jaga yang sedang bertugas di UGD dengan sigap memberikan pertolongan.


__ADS_2