
Gu Xin Ji dan Jiang Shan mendarat di atas tanah bersalju.
Pandangannya diarahkan kesekeliling, sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan salju yang menebal.
"Tidak akan ada yang bertahan hidup disini." Jiang Shan bicara perlahan, tatapannya nampak rumit.
"Sani, dimana mereka?"
"Mereka tidak disini ayah, gelombangnya semakin melemah, tapi Sani bisa merasakannya."
Dikejauhan terdengar lolongan anjing, yang semakin dekat.
"Ayah, sekelompok orang dengan anjing mendekat, sepertinya mereka sedang mencari saudara-saudara saya."
Gu Xin Ji dan Jiang Shan berjaga di balik pohon yang tertutup salju, Xin Ji mengeluarkan Pistol Glock Meyer 22 dari balik mantelnya sedangkan Jiang Shan dengan mata sangat dingin dan raut muka sangat kejam mengeluarkan Raging Bull yang memiliki kecepatan 580 meter per detik dan energi sebesar 2700 Joule. Masing-masing mereka memiliki niat membunuh yang sangat jelas.
"Cari mereka, dan seret!!" terdengar perintah dikeluarkan sang pemimpin regu dengan sangat kejam. "BUNUH jika mereka bertingkah!" tambah sang pemimpin.
Gu Xin Ji dan Jiang Shan mengepalkan tangan mereka mendengar perintah itu melalui earphone yang telah diretas oleh Sani
Beberapa saat kemudian.
DOORR...DOORR
Tembakan...tembakan...tembakan...
Suara tembakan sahut menyahut di kesunyian hutan yang tertutupi salju, Tiga dari regu pertama yang berisi 6 orang tersungkur mendapat serangan tiba-tiba Gu Xin Ji dan Jiang Shan.
"Berpencar!" Terdengar suara panik dari regu pertama.
DOORR...DOORR..DOORRR...
3 orang yang tersisa tersungkur diatas salju.
baku tembak semakin intens, Jiang Shan dan Gu Xin Ji berpencar
Jiang Shan berhadapan dengan para penculik sedangkan Gu Xin Ji berlari ke arah gunung, dia ingin segera menemukan anak-anaknya sebelum keadaan mereka semakin buruk.
Di puncak gunung, 3 anak meringkuk seperti bola dalam pelukan anjing pelacak, bulu anjing yang tebal membuat mereka merasa hangat.
"San'er, bertahanlah... bertahan sedikit lagi." Yibao berkata sambil memeluk sang adik yang semakin lemah, dia sendiri dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku mendengar suara orang baku tembak!" Dabao berkata lemah.
"Mungkinkah paman penolong ang datang?" Yibao bertanya
"Dia bukan paman... dia ayah kita." ujar Sanbao lemah dengan mata terpejam.
"Aku pernah melihat mommy membelai fotonya, wajahnya juga sangat mirip dengan kakak ke dua." lanjut Sanbao dengan napas tersengal, tak lama kemudian dia terdiam.
"Adik...adik...jangan tidur." Yibao berteriak panik.
"kakak kedua, bagaimana ini,, whoaa..whoaa....?" yibao mulai menangis
Dabao mendekat dengan perlahan dia memeluk adiknya, menggosok kedua tangannya juga pipinya, namun Sanbao tetap tak bergerak. tubuh Sanbao mulai kaku, wajahnya perlahan membiru, tak lama Yibao pun tersungkur.
Dabao berteriak, dia menangis kencang melihat kedua saudaranya jatuh. tanpa sadar dia memanggil
"AYAAAHHHHH....AYAAHHHHH...!" dia berteriak sekuat tenaga yang masih dimilikinya.
Sani yang sudah memberi pentunjuk keberadaan saudara-saudaranya, membuat Gu Xin Ji bergerak cepat ke arah puncak.
Telinganya yang tajam samar-samar mendengar suara anak kecil menangis
Mempercepat langkahnya.
"AYAAHHHH..."
Suara itulah yang tertangkap di telinga Xin Ji ketika dia tiba di posisi mereka.
Ketiga anaknya dalam keadaan mengenaskan, mereka mengalami Hipotermia, San'er dan Yibao bahkan hampir tidak bernafas, Dabao yang baru saja pingsan suhu tubuhnya sudah mulai turun
Jiang Shan tiba tak lama kemudian, dia dan Gu Xin Ji membawa ketiga bocah itu ke tempat yang lebih kering, dengan cekatan mereka berdua mengganti pakaian ketiga bocah itu.
"Apakah kau membawa alkohol?" Jiang Shan bertanya
"Ada."
"Ambilkan, minumkan pada mereka beberapa teguk, itu akan menghangatkan tubuh mereka." Jiang Shan menjelaskan.
Gu Xin Ji mengeluarkan Anggur kualitas terbaik dari ikat pinggangnya, mendekatkan dengan lembut ke mulut mereka, Seteguk demi seteguk, dia bersikap sangat sabar, berharap penderitaan anak-anaknya akan sedikit berkurang. Setelah meneguk beberapa teguk anggur, suhu tubuh mereka mulai meningkat, tidak sedingin pertama kali mereka ditemukan
Mata Dabao sedikit membuka.
__ADS_1
'Ayah, aku tahu kau akan datang." Seteleh mengucapkan kalimat itu, ia kembali tertidur dengan senyum di bibirnya.
Xin Ji dengan mata berkaca-kaca memeluk ketiga anaknya di dada.
Namun ada yang aneh dengan San'er, napasnya seperti satu-satu tidak seperti kedua saudaranya.
Jiang Shan dengan sigap memeriksa denyut nadi San'er, melihat tanda-tanda Sanbao akan mengalami gagal jantung, Jiang Shan segera memberi tindakan resusitasi.
Xin Ji melihat dari samping, jejak kekhawatiran tampak nyata di matanya.
Sesaat kemudian napas Sanbao mulai teratur, Jiang Shan menarik napas lega.
"Kita harus cepat, San'er memerlukan penanganan secepatnya.' Ujarnya.
"Saya bisa mulai melakukan tindakan medis untuk merawatnya tapi semua perlengkapan saya tertinggal di kapal." Jiang Shan melanjutkan dengan penyesalan.
Tak lama kemudian, di langit luar terdengar suara Helikopter mendekat. Angin yang dihaslikan baling-baling yang berputar membuat salju beterbangan, dan dingin yang semakin menggigit.
Jiang Shan dengan memeluk Sanbao berlari ke arah pesawat berbaling-baling itu, menyusul di belakangnya Gu Xinji dengan menggendong kedua anak lelakinya masuk secepaty mungkin ke dalam helikpter itu
Ketika Helikopter hendak terbang, tiba-tiba berondongan tembakan mengarah ke arah mereka. Jiang Shan memaki pelan,
"Sial!" umpatnya
"Bajingan-bajingan ini, mereka mencari kematian!" dengan gagah berani, dia berdiri di depan pintu heli dan mengangkat senjata laras panjangnya. Moncong senjata itu kemudian memuntahkan peluru dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama sebelum para penjahat itu terkapar, dan salju ditutupi cairan merah.
Heli itu akhirnya terbang membumbung ke langit.
Disisi lain,
Damian membanting telponnya saat menerima kabar dari salah seorang anak buahnya. Dai tidak percaya bahwa rencana yang telah disusun dengan rapi hancur begitu saja. Dan yang paling memalukan adalah, dia bahkan terjebak dalam rencana yang dengan susah payah disusunnya, ini persis seperti pepatah 'menembak kaki sendiri'
"Panggil Victor kemari!" Raungnya marah.
Saat ini, Victor yang sedang bersenang-senang di tepi pantai dengan dua wanita cantik berada di dekapannya menerima telpon. Begitu mendengar perintah yang keluar dari telponnyanya Victor langsung berdiri dan meninggalkan kedua wanita cantik itu.
Dengan segera, dia melaju dengan mobil sportnya dan menuju pangkalan laut tempat kapal cepatnya parkir.
Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam bagi Victor untuk sampai ke pulau utara tempat anak-anak itu tadinya di sekap.
Victor adalah salah satu penembak jitu yang dimiliki oleh "Red Ghost"
__ADS_1
Dia terkenal dingin, tajam dan kejam, semua misi yang diserahkan kepadanya tidak pernah ada yang gagal. Biasanya setelah melakukan pembunuhan, dia akan meninggalkan mawar hitam sebagai tanda kalau dia yang membvunuh dan bahwa orang yang mati adalah target yang harus ditumpasnya.