
Lin Chao memacu mobil Bentley hitam dengan kecepatan tinggi kearah luar kota, dibelakangannya, Xin Ji duduk dengan wajah muram, kepalan tangan kirirnya menepuk-nepuk pahanya ringan. Kalau saja Yan Hao tidak sengaja masuk ke dalam kamera Gong Yu mungkin Xin Ji tidak akan pernah tahu kalau anak dan istrinya sebenarnya ada di depan matanya. Gu Xin Ji berpikir dalam-dalam, timnya sudah mencari ke seluruh Guangzhou dan daerah sekitarnya, bahkan pencarian mereka meluas hingga ke daerah-daerah lain di luar Guangzhou yang masuk wilayah Tiongkok namun semuanya nihil. "Sepertinya jejak Yan Hao ditutupi oleh seseorang yang ahli." pikir Xin Ju.
Dia mengeluarkan telp genggam dan menelpon kakeknya, sudah lama sekali kakek menolak bertemu dengannya. Kakek Gu terlalu marah atas kebodohan cucunya, kalau saja dia tidak meragukan kehamilan Yan Hao pasti cucu mantunya masih ada di Villa Lanhua dan melahirkan cicitnya dengan sehat.
"Kakek," sapa Xin Ji ketika mendengar suara kakeknya di ujung sana.
"Ada apa?"
"Aku sudah tahu dimana istri dan anakku!" Xin Ji berkata tenang, padahal dadanya berdegup kencang, tangannya terkepal hingga memutih. Perasaannya campur aduk, antara bahagia dan takut. Dia takut kalau Yan Hao akan menolaknya begitupun anaknya.
Kakek Gu diam sejenak, sebelum menarik napas panjang. "Hhhhmmmmm.... Kau sudah tahu dimana mereka?"
"Aku sekarang menuju ke tempat mereka." Xin Ji menjelaskan posisinya sekarang.
"Jangan ganggu mereka!" perintah kakek Gu tegas.
Xin Ji: "......"
'Siapa yang merajuk dan tak mau datang ke villa selama tiga tahun jika cucu mantunya tak ketemu', Xin Ji berpikir pahit.
__ADS_1
"Kenapa? bukankah kakek ingin bertemu dia dan cicit kakek?"
"Jangan ganggu kataku! kalau dia lari lagi membawa cicit-cicitku, kau akan ku copot dari posisimu sekarang!." Ujar kakek mengancam.
Xin Ji menutup telp, dia tak peduli dengan ancaman kakeknya. tapi sepanjang jalan dia berpikir. "Ada yang salah dengan kakek." katany dalam hati
Setelah beberapa jam perjalanan, Gu Xin Ji tiba di kampung nelayan. Dengan mengandalkan foto dari Gong Yu, Xin Ji bertanya pada penduduk di sekitar.
"Oh, toko bunga "The Flower's yang milik si kembarkan?" kata seorang bibi tua. "Jalan sedikit lagi di pertigaan, disitu letaknya." katanya memberitahu
Xin Ji berjalan mengikuti petunjuk si bibi tua, dan benar saja ada toko bunga dengan plang nama "The Flower's" di pertigaan jalan itu, tapi sayangnya toko dalam keadaan tertutup, dan ada tulisan close pada pintu.
Xin Ji jadi tertarik dengan informasi yang diberikan si bibi bertopi jerami. "Dimana rumahnya?"
Bibi bertopi jerami memandang Xin Ji dari atas ke bawah, seperti menilai kelayakan pria di hadapannya. "Kamu yakin mau memesan bunga? bukan karena kamu ingin merayu mama si kembar kan?"
Xin Ji hampir saja memutar matanya ke atas, mendengar pertanyaan si bibi yang seperti ingin bergosip.
"Dia wanita yang sangat cantik juga baik hati, sayang sekali suaminya meninggal terlalu cepat.... ckckck.... nasibnya terlalu buruk!" suara bibi bertopi jerami berubah menjadi sedih. "Bukan kamu saja yang ingin mendapatkannya, banyak pria yang kesini ingin melamarnya, jadi sebaiknya kau bersiap untuk mengantri." Lanjutnya sambil terkekeh
__ADS_1
Xin Ji hampir muntah darah mendengar kata-kata bibi itu, "Aku masih hidup!" katanya dengan marah dalam hati.
Gu Xin Ji segera berlalu meninggalkan si bibi itu yang melongo sendiri, "Sungguh anak muda yang tidak punya sopan santun." katanya mengomel sambil membawa belanjaannya masuk kedalam rumahnya.
Dengan bantuan Lin Chao dalam mencari alamat rumah mama si kembar, mereka akhirnya sampai ke sebuah rumah yang jauh dari keramaian dan berada di bukit kecil di tepi pantai dengan panorama yang indah. Bagian depannya ada payung dan beberapa kursi malas untuk bersantai. Di pekarangan depan dipenuhi dengan bunga-bunga beraneka macam dan pepohonan yang rindang yang mencegah terik matahari masuk kedalam rumah, sekaligus memberi kesan sejuk dan teduh, disamping rumah ada semacam rumah kaca yang Xin Ji yakin pasti penuh dengan aneka macam bunga yang langka dan indah. keseluruhan rumah itu memberi kesan nyaman, tenang dan sangat indah.
Gu Xin Ji turun dari mobil, melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam pekarangan rumah kecil yang indah itu, dia mengedarkan pandangan ke sekitar, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum, "ini adalah khas dari Yan Hao." pikirnya hangat. Lin Chao yang mengikuti dari samping, melihat bos nya tersenyum, hanya merasa kelegaan luar biasa. "Akhirnya...bos bisa tersenyum." pikirnya.
Tak lama setelah itu, alis Xin Ji berkerut, "Kemana meraka?" tanya Xin Ji. Lin Chao ikut mengedarkan pandangannya. "Sepertinya mereka pergi, tuan." Lin Chao berkata.
"Sedikit lagi...., geser sedikit lagi, Xiao Bao...!" samar-samar terdengar suara dari dalam rumah. Gu Xin Ji segera berjalan cepat ke dalam rumah, dari jendela dia mengintip ke dalam. Hatinya hampir jatuh ke tanah, darahnya seketika terkuras habis begitu melihat pemandangan di dalam rumah. Di atas meja yang tinggi, dua anak laki-laki kecil yang bulat dan gendut saling bahu membahu bekerja sama mengambil sesuatu yang letaknya di atas. Satu anak berada di atas bahu anak yang lain, memakai kostum spiderman dan berbicara dengan penuh semangat pada saudaranya di bawah.sedangkan anak yang menggendong yang posisinya di bawah kakinya sudah berada di tepi meja, tinggal sedikit lagi maka mereka berdua akan jatuh dari meja dan menghantam tanah.
Secepat kilat Gu Xin Ji membuka pintu yang syukurnya tidak terkunci, tepat pada waktunya untuk menangkap kedua anak yang sama-sama berteriak ketika anak paling bawah menginjak tepi meja dan membuat mereka berdua terjatuh.
Gu Xin Ji tidak pernah merasa setakut itu seumur hidupnya, tangannya masih bergetar memeluk kedua anak itu. Dia mengkat mereka dan memeluk mereka dengan erat. Hampir tak mampu dibayangkan jika dia terlambat sedikit saja masuk ke dalam rumah. "Syukur pada Tuhan...Syukur pada Tuhan." gumamnya dalam hati.
Setelah rasa takutnya berkurang, timbul rasa marah dalam dirinya. Mau rasanya dia memukul pantat kedua anak itu agar tidak mengulang kesalahan yang sama kedua kalinya.
Yibao dan Dabao, memandang orang yang menolong mereka.
__ADS_1
"Paman..? paman siapa?" tanya anak yang memakai kostum Spiderman.