
Yan Hao menunduk dan membiarkan dirinya tenggelam dalam emosi rumit.
"Apa kau dan ayah tidak tidak pernah berpikir untuk mengunjungiku di pulau pantai ini, ibu? Yan Hao bertanya perlahan.
Ibunya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah keheningan yang lama dia berkata, "tidak apa-apa bagi kami untuk tidak melihatmu selama kamu dan CEO Song menjalani kehidupan yang bahagia bersama."
Yan Hao mengerutkan alis, kedengarannya seperti seseorang Berusaha menjauhkan orang tuanya. Dia mendengar sang ayah berkata, "Song Hyun bilang kita hanya bisa menelpon sebulan sekali, kamu pikir kamu sedang apa?"
"Aku harus pergi Yayao." Panggilan ditutup. Keraguan muncul di hati Yan Hao.
Song Hyun, apakah ada sesuatu yang yang kamu sembunyikan? Semua keraguan dan kekhawatiran membuatnya terjaga sepanjang malam, kilas balik memory lama membuatnya sulit tidur.
Pikiran Yan Hao menjadi jernih saat ingat kalau Song Hyun berjanji akan tiba jam 3 sore, "Kenapa dia belum tiba? Apa sesuatu terjadi padanya di jalanan" namun pikiran mengganggu itu tidak bertahan lama, tak berselang lama Yan Hao pun tertidur.
Ketika bangun esok pagi,lingkaran hitam besar terlihat di matanya, Yan Hao merias wajahnya hati-hati untuk menutupi lingkaran hitam itu.
Dia kemudian turun dan memanggil Vera, Karena tidak ada jawaban, Yan Hao berjalan ke dapur ingin membuat sarapan. Pulau ini terkenal dengan makanannya, setiap turis yang datang akan di manjakan dengan aneka makanan seafood yang memanjakan lidah.
Ketika Yan Hao sedang memikirkan apa yang akan dimasak, dia melihat sosok kecil berdiri dengan sedih di luar tidak jauh dari vila. Tanpa sadar Yan Hao berjalan keluar menuju kearah anak kecil itu berada.
Dabao yang sedang menunduk sedih sambil menendang-nendang pasir di kakinya. "Nak, apa yang terjadi? Kenapa kamu disini sepagi ini"
"Saya alergi seafood, bisakah saya mendapatkan sesuatu untuk dimakan, mommy....tidak.... Ibu....hhmmm." Dabao mengerucutkan mulutnya, mulai tergagap dengan canggung usai memanggil Yan Hao.
Yan Hao tidak mempermasalahkan panggilan anak itu, dia menatapnya lembut dan berkata "Panggil saja aku sesuai keinginanmu." tangannya membelai lembut kepala Dabao, "Siapa namamu? Maafkan aku, aku lupa saat kalian memperkenalkan diri kemarin"
Mata Dabao memancarkan cahaya menyilaukan seperti ada ratusan bintang kejora yang berpendar dalam mata itu, "Dabao, mommy, namaku Dabao, mommy biasa memanggilku Xiaobao." Dabao melempar dirinya dalam pelukan Yan Hao, dia bertingkah sangat imut hingga membuat hati Yan Hao meleleh
Tak jauh dari sana kedua saudara yang lain, Sanbao dan Yibao yang tengah bersembunyi menggertak giginya melihat Dabao berada dalam pelukan ibunya. "Huh, bukan ini perjanjiannya tadi, kenapa dia harus memeluk mommy tanpa kita." Mereka marah, awalnya mereka bekerja sama, Dabao mengajukan diri untuk memancing sang ibu keluar, setelah itu dia akan mengajak sang ibu jalan dan kedua saudaranya akan datang kehadapan ibu mereka, namun lain yang direncakan lain yang dikerjakan, bukan cuma Dabao tidak mengajak ibu mereka jalan dia juga malah melemparkan dirinya dalam pelukan sang ibu dan melupakan mereka yang sedang bersembunyi di belakang pohon dengan badan yang bentol-bentol digigit nyamuk.
"Dia sangat licik, dia ingin menguasai mommy sendiri, bermimpilah." mereka berkata dengan marah.
__ADS_1
"Aauuu..!" Sanbao tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke depan, Yibao memandang Sanbao tak percaya, mata Sanbao memerah memegang lututnya.
Tiingg... Yibao tercerahkan.
"Saudaraku, kenapa!? jangan menangis, yakinlah mommy sayang sama kita, mommy pasti akan mengingat kita." Yibao memeluk Sanbao dengan dramatis. Sanbao ingin memutar matanya keatas, tapi sudut matanya menangkap langkah kaki mommy dengan Dabao kearah mereka.
"Kakak, aku ingin makan masakan mommy, aku begitu kurus sekarang karena napsu makanku menurun!"
Dabao memutar matanya, "Adik, tidak adakah kebohongan yang lain, badanmu begitu bulat,kurus dari mana." Dabao membatin dengan cemas.
"Apa yang salah, kenapa kalian kesini?" Yan Hao bertanya prihatin, hatinya begitu sakit melihat air mata di wajah mereka, tanpa sadar dia sudah menganggap mereka anak-anaknya.
"Ayo masuk, aku akan membuatkan kalian sarapan." setelah berpikir sejenak, "Kalian boleh memanggilku mommy,"
"Yeeee... " mereka bertiga loncat kegirangan.
Yan Hao terpana, dia merasa ada yang salah, apa aku terlalu mudah jatuh? pikirnya dalam hati.
"Mommy..!"
"Mommy..!"
"Mommy.. "
Ketiga anak itu memanggilnya dengan antusias, Yan Hao merasa perasaannya membuncah, dia ingin memeluk mereka dalam dekapannya dan tidak ingin meninggalkan mereka selamanya. mungkinkah ini perasaan seorang ibu.
"Kalian ingin makan apa? mommy akan memasak untuk kalian."
"Mom, kami akan memakan apa pun yang mommy masak!"
"Tapi mommy tidak terlalu pandai memasak, mungkin rasanya akan tidak enak." Yan Hao merasa gamang, selama ini Vera yang selalu memasak untuknya, dia tidak pernah membiarkannya menyentuh apa pun di dapur.
__ADS_1
"Pasti akan enak, ayo mom kita sama-sama memasak."
Mereka menuju dapur, mereka mulai bermain dengan tepung, Yan Hao mencincang daging sapi dan mencampurkannya dengan bumbu dan tepung, mereka akan membuat bakso dan pangsit keju, Yan Hao juga mulai membuat aneka makanan pencuci mulut, semua dia lakukan dengan sistematis tahap demi tahap, Yan Hao tidak pernah tau kalau dia memiliki skil seperti itu.
"Mommy, apakah ini rumah sementaramu?" Yibao bertanya, tangannya masih bermain dengan adonan.
"Mommy, rumah kita ada di Guangzhou." Dabao menimpali ucapan Yibao.
Yan Hao diam saja, dia memang tidak memiliki rasa memiliki pada rumah di pulau ini. Dia berpikir, suatu hari dia akan pergi dari pulau ini.
Vera masuk rumah tanpa prasangka, dia tertegun melihat anak-anak dengan penampilan luar biasa di dapur, disampingnya ada Yayao.
"Vera, kamu akhirnya kembali, ayo kita makan bersama."
"Yayao, siapa anak-anak ini?" Vera sangat antysias melihat anak-anak yang menggemaskan dan lucu ini, dia ingin sekali mencubit pipi mereoa yang tembem, terutama gadis kecil yang luar biasa cantik ini.
"Perkenalkan, ini Nona Vera."
"Hallo, Nona Vera!" ucap mereka bersamaan.
Mereja sangat sopan dan berperilaku baik, mereka seperti anak-anak bangsawan yang sering ada di drama-drama kolosal China atau Korea.
"Aaahhhh,, mereka sangat menggemaskan, Yayao, dimana kamu menemukan mereka?!" Vera sudah jatuh cinta pada mereka.
Vera mengangguk, dia berpikir bahwa Yayao seperti wanita pada umumnya yang selalu ingin menjadi ibu bagi anak-anak yang tampan dan menggemaskan, dia tidak pernah berpikir bahwa Yayao adalah ibu kandung mereka. Dia juga ingin menjadi ibu bagi anak-anak ini.
"Bayi-bayi cantikku, apakah kalian ingin oermen dan es krim, ibu akan memberikan kepada kalian!" Vera berkata dengan genit.
"Terima kasih nona Vera, tapi kami tidak membutuhkannya, kami akan makan masakan mommy." Mereka menolak dengan halus, mereka tidak ingin nona Vera sedih karena nona Vera adalah sahabat mommy mereka.
"Vera, ayo kita makan bersama, setelah itu aku akan mengantar mereka kembali."
__ADS_1