SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 51. Gu Baoyu


__ADS_3

Sanyuan School


Sanbao dan saudara-saudaranya mendapat nama yang indah dari ayah mereka, Yan Hao saat itu memang belum memberikan nama formal kepada anak-anaknya dan hanya memanggil mereka dengan nama kecil yang seperti biasa mereka dipanggil.


Sanbao diberi nama Gu Baoyu


Yibao menjadi Gu Mingyu


Dabao menjadi Gu Yaojin


Saat ini, Gu Baoyu sedang duduk menyendiri di hutan pinus sekolah Sanyuan, dia merindukan ayah dan ibunya.


Temperamennya berubah sejak empat tahun lalu, dia menjadi tertutup dan lebih suka menyendiri. Kedua saudaranya tidak lebih baik dari dia, mereka bahkan sering berkelahi dengan teman-teman sekolahnya, nilai mereka hancur dan mereka dijuluki TIRAN SEKOLAH.


Ketika itu Gu Xinji membawa Yan Hao palsu pulang empat tahun lalu, Sanbao adalah orang pertama yang tidak menerima perubahan ibunya. Dia bersikeras bahwa itu bukan ibunya.


Yan Hao menunjukkan sakit hati di wajahnya, air mata berkumpul di matanya namun tidak mengalir keluar, keadaannya sangat menyedihkan sehingga siapapun yang melihat akan tergerak untuk melindungi, seakan dia adalah porselin putih yang mudah retak.


Yibao dan Dabao juga menunjukkan gejala yang sama.


Yan Hao menangis sedih, dia bahkan berpura-pura ingin bunuh diri karena tidak menerima perubahan wajahnya juga tidak sanggup menahan tekanan anak-anaknya membencinya, dia beralasan ketidak sukaan anak-anaknya adalah karena operasi kecantikan yang dilakukan karena luka bakar di wajahnya.


Dai bahkan harus menyalahkan Gu Xinji karena mengajaknya di kapal pesiar Star Moon saat itu sehingga dia mendapatkan luka bakar itu.


Gu Xinji secara alami merasa bersalah. Dia bahkan setuju memasukkan anak-anak ke asrama demi keharmonisan bersama.


Tanpa dia sadari, keputusannya membuat dia semakin jauh dari anak-anaknya, dan tingkat ketidak percayaan mereka terhadap ibunya semakin tinggi.


Menggunakan seragam musim panas sekolah Sanyuan, dengan kemeja putih dibalik rompi dan jas biru tua, rok kotak-kotak dengan warna senada di atas lutut dan juga dasi kotak-kota serta Kaos kaki hitam yang panjang sampai ke atas lutut


Baoyu nampak seperti gadis remaja yang sangat cantik, kulit putih jernih seperti giok, alis melengkung indah, melindungi mata phoeniks dengan bulu mata melengkung panjang, dan bibir serta hidung yang tak kalah indah Menggunakan Bando frozen merah muda untuk menahan rambut panjang bergelombang, Poni lurus cantik menghiasai wajah kecilnya membuat dia seperti gadis kecil yang keluar dari lukisan.


Wajah kecil dan menggemaskan miliknya nampak serius mengeluarkan set alat lukis dari dalam tas.


Belum sempat dia mulai melukis, sekelompok anak perempuan kecil di pimpin seorang gadis cantik sebaya datang dan merampas alat-alat lukisnya.


"Gu Baoyu...! berani-beraninya kamu menggoda Lu Tinghao!!"


Salah satu anggota kelompok itu berbicara dengan arogan.


"Kamu sudah tau kalau Jiaojiao menyukainya namun beraninya kamu mengambil susu yang dibelikan Lu Tinghao!"


Gu Baoyu memutar matanya ke atas, "Balikin alat lukisku!"


"Ambil kalau kau memiliki kemampuan!" Gadis kecil yang lain menantang dengan arogan.

__ADS_1


Gu Baoyu berdiri, menepuk-nepuk rok seragam untuk menyingkirkan kotoran yang menempel, setelah itu dia memandang sekelompok anak perempuan itu dengan malas, mata persiknya memancarkan kilau berbahaya.


Tanpa aba-aba, Gu Baoyu Sanbao berlari dan mengarahkan telapak kaki kecilnya ke arah dada gadis yang mengambil alat lukisnya.


"Aaaaaaahhh...." anak gadis itu berteriak kesakitan.


Sekelompok anak yang lain mundur tanpa disadari, mereka tidak pernah menyangka gadis kecil berumur 8 tahun ini, tahu cara berkelahi.


Jiaojiao sang pemimpin kelompok bahkan mundur ketakutan.


Anak gadis yang ditendang Sanbao terpelanting ketanah dengan kuat, wajahnya pucat seperti tak berdarah, untuk beberapa saat dia bahkan tidak bisa bangun.


Sanbao hanya menggunakan sedikit kekuatannya, kalau tidak bisa dipastikan anak gadis itu akan muntah darah dan dirawat dirumahs akit untuk waktu lama.


Tidak jauh dari situ, seorang anak laki-laki remaja berbaring dengan buku menutup wajahnya, nampak tidak terganggu dengan keributan di sekitarnya, namun sebenarnya dari awal sampai akhir dia mengetahui kejadian itu.


Wajahnya yang tampan menyembunyikan senyum di balik buku yang menutupi wajahnya.


"Menarik." Ucapnya.


-------------------


Yu Yayao berlari di sepanjang garis pantai, itu adalah rutinitas biasa yang dikerjakan selama hampir empat tahun.


Wajahnya berkilau sehat karena peluh yang bercucuran. Dia masih akan berlari ketika dari jauh terlihat sosok kuat dengan badan tegap, kaki panjang, dan tubuh yang menjulang berlari kearahnya.


Tanpa aba-aba, Yan Hao berbalik untuk menghindar.


Namun langkah kakinya kalah cepat dengan kaki panjang Gu Xin Ji.


Gu Xinji telah berada tepat di sampingnya.


"Menghindar, Nona?" Alisnya terangkat memandang Yan Hao


Yan Hao diam, sikapnya yang acuh tak acuh menimbulkan senyum pada bibir Gu Xin ji


Ketika persimpangan terlihat di depan, Yan Hao segera berbelok, dia berlari menjauh dari Gu Xinji dengan kecepatan tercepat.


Gu Xinji sengaja membiarkanya lolos, ada senyum di sudut bibirnya.


"Yayao, kau kembali?"


"Ada apa?" Yan Hao melihat wajah Vera yang gelisah.


"Aku ingin membuatkan sarapan, tapi gas kita habis, aku masih menunggu tukang gas datang namun sudah lebih setengah jam mereka belum datang."

__ADS_1


"Oh, Aku akan mandi dulu kalau begitu."


Saat Yan Hao berjalan ke kamarnya, terdengar ketukan di pintu depan.


"Aah..anda akhirnya datang!"


Vera sempat terpana, tukang gas di depannya menggunkan T-Shirt biru laut dengan celana jeans robek, wajahnya tertutup oleh topi yang turun hingga ke bawah, namun dari tampilannya orang akan berkata bahwa pemuda ini adalah orang yang sangat tampan, aura yang dikeluarkannya pun berbeda, membawa rasa penindasan yang kuat.


Vera tergagap. Seingatnya tidak ada tukang gas setampan ini.


Setelah memasang gas, Tukang gas itu berkata akan melakukan pemeriksaan rutin di sekitar rumah.


Vera yang mulai membuat sarapan hanya meng iyakan ucapan tukang gas itu.


Dengan diam-diam tukang gas yang tak lain Gu Xinji berjalan ke kamar Yan Hao yang berada di lantai atas, dia sebelumnya sudah membobol sistem di vila itu, makanya dia tau kalau gas mereka habis, dan dia juga tau dimana letak kamar Yan Hao.


Xinji masuk kekamar Yan Hao yang tidak dikunci, perlahan dia mendekat dan mendekat suara air dari kamar mandi.


Tersenyum licik, Gu Xin Ji melepas Tshirnya dan hanya menyisakan celana jeans robeknya, memperlihatkan dada otot perut berjumlah delapan tingkat yang sangat seksi, dia menyusup masuk ke kamar mandi.


Yan Hao tengah berdiri di bawah shower dengan punggung telanjangnya menghadap pintu, karena Gu Xinji masuk tanpa suara, juga suara shower yang deras, Yan Hao tidak tahu bahwa ada penyusup di kamar mandinya.


Gu Xinji memandang punggung telanjang Yan Hao, dia sengaja menyusup masuk ke kamar mandi diam-diam karena ingin memastikan satu hal.


Di tengah punggung Yan Hao terdapat tailalat kecil yang indah, Yan Hao akan bergelinjang nikmat saat Gu Xinji menyentuh atau mencium tai lalat kecil itu.


Jika wanita di hadapannya ini memiliki tai lalat itu, maka tidak perlu diragukan lagi bahwa wanita itu adalah istrinya YAN HAO. Dia berani menantang siapapun yang akan menyangkalnya.


Dengan perlahan, Gu Xinji melangkah, matanhya tak pernah lepas dari tai lalat kecil yang berada ditengah punggung wanita ini, dia seperti predator yang bersiap memangsa kelinci putih.


Tangannya terulur, memeluk pinggang Yan Hao dari belakang.


Yan Hao tersentak, tubuh telanjangnya menegang. sebelum berteriak mulutnya telah dibungkam oleh ciuman ganas Gu Xin Ji.


Xinji menciumnya lama sebelum akhirnya melepas hingga Yan Hao meraup napas terengah-engah.


Tangannya masih memeluk pinggang Yan Hao erat, dibawah shower yang mengeluarkan uap panas, bayangan mereka terpantul, menciptakan ilusi yang indah, tubuh mereka terjalin menjadi satu.


Tanpa menunggu lama, Gu Xinji kembali menyerang Yan Hao, kali ini dia menyerang titik-titik sensitif Yan Hao.


Sebagai suami, tentu saja Gu Xinji tau dimana titik sensititf itu, Yan Hao tidak bisa berteriak atau melawan, tubuhnya sudah lemah, dia hanya bersandar pasrah pada tubuh tegap Xinji.


Dalam hatinya, dia merasa berdosa terhadap Song Hyun, Namun dia tidak bisa mengendalikan hasrat yang muncul tiap kali Gu Xinji memeluk dan menciumnya, dia seperti merasakan kedamaian, dan rasa yang familier pada setiap gerakan brutal Gu Xinji.


Mulutnya ingin menolak namun hati dan tubuhnya tidak.

__ADS_1


Lanjut Besok .....@@@


Maaf kemarin gak posting orang tua sakit


__ADS_2