
A Lin berdiri di depan jendela besar, memandang ke arah ombak yang menggulung-gulung memecah pantai. Posisi vila tempat tinggalnya berada di tebing tinggi, pemandangan yang diciptakan di luar sangat spektakuler namun juga sangat berbahaya. Tak ada yang bisa lolos jika terjatuh dari tebing ini ke bawah.
Damian datang dengan santai membawa gelas berisi wine kapada A Lin, dia memeluk A Lin dan mencium pundaknya yang telanjang dengan lembut.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hhhmmmmm..." A Lin hanya mendesah dan bersandar malas ditubuh sang kekasih.
'Apakah kamu lapar?"
"Apakah kamu akan memasak untukku?"
"Tentu saja." Ujar Damian, "Tunggu sebentar." Lanjutnya dan melangkah pergi.
A Lin tersenyum, ada kelembutan di wajahnya, beberapa tahun belekangan ini, Damian selalu menemaninya kemana pun, bagi sebagian orang yang melihat, mereka hanya akan mengira dia hanyalah asisten biasa seperti Qing Mei, hanya segelintir saja yang tahu, kalau Damian adalah orang yang penting baginya.
Damian sudah meminta untuk menikah dengannya, namun hatinya tidak bisa melepaskan Gu Xin Ji begitu saja, ada kebencian yang harus di tuntas dan dendam yang belum terselesaikan. Matanya menunjukkan kekejaman jika mengingat perlakuan Xin Ji kepadanya.
18 tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan rasa di hatinya. Rasa yang telah tumbuh dasn mekar menjadi bunga tapi kemudian berubah menjadi kebencian yang dalam. Dia belum bisa hidup dengan tenang jika belum menghancurkan Gu Xin Ji dan pelac*r itu.
Damian kembali masuk dan mendorong troli makanan, dengan lembut dia memanggil A Lin untuk makan, A Lin berbalik dan dengan anggun duduk di sofa dekat jendela.
"Ayo makan bersama."
"Makanlah, aku masih harus menyelesaikan panggilan telp." Ujar Damian. Dia lalu mengambil telp dan mulai menghubungi anak buahnya.
"Bos! Paket sudah dilokasi."
"Bagus..! Perlakukan mereka dengan baik, dan jangan biarkan mereka mendekati apa pun, mereka anak-anak yang jenius!" Perintah Damian dingin.
Damian adalah seorang Bos Mafia bawah tanah yang sangat kejam, Keahliannya dalam menyamar membuat kepolisian mengalami kesulitan dalam menangkapnya. Kepolisian Tiongkok bahkan bekerjasama dengan interpol agar bisa melacak keberadaannya.
Penjualan senjata ilegal, narkoba, bahkan pembunuhan dilakukan oleh "Red Ghost" Sindikat yang dipimpin oleh Damian. Tak penah ada yang tahu, siapa pimpinanan tertinggi mereka, karena dia tidak pernah menampakkan diri. Perintah diturunkan berantai, jadi orang di bawah pun tidak pernah tau siapa bos mereka sebenarnya.
Jika perintah membunuh telah keluar dan tersegel, secanggih apa pun orang itu untuk melindungi diri, tetap tidak ada jalan menyelamatkan diri dari tangan "Red Ghost", sindikat ini sangat menakutkan
" Aku akan keluar sebentar." Damian berkata kepada A Lin
"Kemana?" A Lin segera menahan tangan Damian
"Jangan pergi." ujarnya,
A Lin menarik Damian dan memeluk pinggangnya erat. Tubuh Damian seketika menegang, dengan sekali angkat A Lin telah berpindah kedalam gendongannya.
Dia membawa A Lin keranjang dan menciumnya dengan ganas, A Lin membalas tak kalah agresif, dia selalu bisa lepas kendali jika Damian mencium. Sebenarnya dalam hati kecilnya, ada rasa cinta yang sudah terukir untuk Damian, namun sebelum dia menerima Damian dia harus memastikan Gu Xin Ji dan keluarga kecilnya hancur berkeping-keping.
--------------
Di Rumah Yan Hao
__ADS_1
Gu Xin Ji, Lin Chao dan beberapa anak buahnya sedang menyelidiki rumah Yan Hao. Mereka tidak melewatkan sekecil apa pun petunjuk yang mungkin bisa membantu dalam proses pencarian si kembar.
Xin Ji menatap ke sekeliling di dalam kamar, tempat anak-anaknya dan istrinya tidur, wajahnya semakin muram.
"Mereka menjalani hidup yang sulit." pikirnya sedih
Di Halaman luar, terdengar raungan mobil yang baru saja datang dengan decitan ban yang berbunyi tajam. Gong Yu keluar dan berlari memasuki rumah yang telah porak-poranda itu.
"Kakak!" Panggilnya pada Xin Ji yang tengah termenung di dalam kamar
"lakukan pencarian!" perintah Xin Ji acuh tak acuh kepada Gong Yu.
Gong Yu sudah terbiasa dengan cara kerja Xin Ji, semakin berat masalah, semakin menjauh dan nampak acuh tak acuh dia. Mereka sudah paham karakternya.
Gong Yu mulai melakukan pencarian kesekeliling ruangan. Dia bahkan memeriksa jam tangan pintar yang tergeletak dalam keadaan hancur dipojok dekat kamar tidur mereka.
Xin Ji di sisi lain mulai melihat monitor di dalam kamar kecil tempat pakaian-pakaian mereka di letakkan. Dia mengambilnya dan mulai membuka monitor itu. tanpa diduga monitor tidak bisa diakses karena membukanya harus menggunakan password. Butuh beberapa menit untuk Xin Ji sebelum bisa mengakses password yang mengunci layar. Dengan sigap Xin Ji mulai berselancar. Dia tertegun ketika mendapatkan program-program canggih yang terdapat dalam monitor itu. Isi komputer itu tidak seperti layaknya sebuah komputer biasa. Data-data yang tersimpan berupa kode yang memerlukan kecerdasan dan skil untuk mengaksesnya. Kecurigaan Xin Ji akhirnya terkonfirmasi. Yan Hao adalah "BOBA" yang selama ini dia cari dan ingin mengontraknya guna bekerja di perusahaanya.
Xin Ji mengusap mukanya gusar. Tidak heran anak-anaknya begitu pandai memanipulasi CCTV hingga menghancurkan sistem kerja Lalu Lintas Air, Jalan dan udara di kota ini. Xin Ji hanya berdoa semoga anak-anaknya meninggalkan jejak penculikan mereka.
Mereka bekerja sampai matahari perlahan keluar dengan malu-malu, namun salju telah menumpuk di halaman. Mata Xin Ji memerah setelah tidak tidur selama 36 jam, namun tak ada rasa lelah ditubuhnya, pikirannya hanya berisi keberadaan anak-anaknya. Dia masih berkutat dengan monitor ditangannya. Gong Yu masuk mengantarkan kopi panas kepadanya, Xin ji masih tetap menundukkan kepalanya menatap layar. Dia mengakses setiap tempat melalui monitor Yan Hao
"Kakak, Minum dulu." setelah melihat Xin Ji masih diam, Gong Yu melanjutkan. "Apakah kita tidak melihat kakak ipar?"
Mendengar ucapan Gong Yu, Xin Ji langsung mengangkat kepalanya.
"Kita ke sana." Xin Ji menutup laptop dan melangkah keluar ke arah mobilnya.
Yan Hao mulai membuka mata, pandangannya nanar memandang sekitar, otaknya terasa lumpuh saat kesadarannya menghantam begitu kuat, Anak-anaknya telah diculik, dan dia tidak tau siapa penculiknya. Spontan Yan Hao menyingkirkan selimut rumah sakit, dia ingin bergegas turun ketika sebuah tangan yang kokoh menahannya di tempat tidur.
"Jangan bergerak dulu. biarkan dokter memeriksamu." Suara lembut yang sangat dikenalnya membuat hati Yan Hao menegang. Matanya bersirobok dengan mata Xin Ji, lautan ketenangan menguar dari mata itu, seakan ingin menelannya dalam kelembutan. Tanpa sadar air matanya berlinang, dia tidak ingin menangis, tapi membayangkan bayi-bayinya yang hilang tanpa jejak membuat dia begitu lemah, dia ingin membenci lelaki di depannya, tapi dia sadar, dia membutuhkan kekuatan lelaki ini untuk menemukan anak-anaknya.
Yan Hao berusaha untuk mengatakan sesuatu, namun anehnya suaranya tidak bisa keluar dari tenggorokannya. Dengan panik dia memandang Gu Xin Ji. Xin Ji merasa aneh melihat Yan Hao seperti itu. Jiang Shan langsung memeriksa kembali sang kakak ipar.
"Dia mengalami Afasia." ujarnya, "Ini, hanya bisa disembuhkan secara perlahan-lahan, jangan membuatnya stres dan mengurangi pemicunya." Jiang Shan menerankan secara lugas.
Mata Yan Hao terbuka lebar, "Tidak...dia tidak boleh sakit pada saat sseperti ini, anak-anaknya membutuhkannya." ujarnya dalam hati.
Yan Hao menarik lengan Xin Ji, matanya membesar seolah ingin menyampaikan sesuatu. Xin Ji mengambil kertas dan pena dan memberikan kepada Yan Hao. Yan Hao menerimanya dan menulis beberapa kata di dalamnya.
"Tolong aku, Xin Ji, tolong aku, aku tidak bisa sakit saat ini."
Hati Xin Ji sakit membaca tulisan ini. Dia menarik Yan Hao dalam pelukannya, kemudian mengecup lembut keningnya. Yan Hao memejamkan mata menikmati kelembutan dari mantan suaminya. Seolah tersadar, Yan Hao mendorong Xin Ji menjauh, matanya mendelik memandangnya, dia kemudian menulis sesuatu di kertas. "kita sudah bukan suami istri, jangan bertidak terlalu jauh."
Xin Ji tersenyum membaca tulisan itu, dia tetap menarik Yan Hao kedalam dekapannya. Jiang Shan, Gong Yu dan beberapa paramedis sudah pergi tanpa diketahui pasangan itu.
"Kita belum bercerai, kamu masih tetap istriku." ucapnya lembut sambil mengecup kepalanya.
"Bertahanlah, aku akan membawa anak-anak kita kembali." janji Xin Ji
__ADS_1
Mendengar kata-kata Xin Ji, Yan Hao kembali menangis, dia memeluk Xin Ji erat, seolah ingin menumpahkan rasa yang selama ini dipendamnya. Selama beberapa saat mereka berpelukan hingga Yan Hao teringat dengan laptop ang ada di rumahnya, melepaskan diri dari dekapan sang suami, Yan Hao mengambil kertas dan menulis, "bawa laptopku kesini, ada yang ingin aku cari."
Seperti sudah menduganya kalau Yan Hao pasti akan menanyakan keberadaan laptonya, Xin Ji mengambilnya dan memberikan kepada Yan Hao.
Begitu Yan Hao memegang laptopnya, dia segera masuk ke dalam akunnya dan mulai beraksi. Xin Ji melihat dari samping gerakan-gerakan tangan Yan Hao yang sangat cepat dalam mengoperasikan laptopnya. Xin Ji juga seorang hacker yang handal bahkan terkadang dia bisa menjadi seorang craker, menerobos masuk ke keamanan perusahaan saingannya yang mencoba berbuat curang kepadanya dan merusak sistem pada perusahaan tersebut, nama "ZOZ" termasuk sangat menakutkan di dunia maya setelah BOBA.
Melihat kelincahan Yan Yao, ada sinar kekaguman terpancar lewat matanya, selama ini dia tidak pernah tau kalau istrinya adalah seorang ahli yang sangat hebat namun tersembunyi. tidak...tidak...dia bahkan tidak terlalu mengenal Yan Hao sang istri, dia terlalu lama mengabaikannya dan hanya menganggapnya sebagai seseorang yang harus dijaga menggantikan sang kakak, hingga Yan Hao pergi ke Korea dan berhubungan denga Song Hyun, dia menyadari rasa cintanya yang besar kepadanya. Sekarang dia dihadapkan pada sang istri dan segala kelebihan yang dimiliki, dia harus angkat topi atas semua kelebihan ini, tak pernah terbersit dalam benaknya bahwa gadis kecil ini, yang dulu hanya berdiam di vila dan hanya tau memelihara bunga ternyata adalah seorang jenius. Dia berjanji dalam hati bahwa dia akan lebih mencintai dan menyayanginya.
Tangan Yan Hao masih dengan lincah menari diatas papan keyboard, beribu kode bergantian dengan kecepatan luar biasa dilayar, Xin Ji tetap tenang mengamati. Tiba-tiba Yan Hao menoleh, mengambil kertas dan menulis sesuatu.
"Say Helo pada monitor, aku ingin memasukan suaramu sebagai sample untuk bisa menggerakkan Sani."
'Halo, Sani..!" Xin Ji berkata tanpa banyak tanya
Setelah suara Xin Ji terekam, Yan Hao memprosesnya, dia memasukan kode tertentu pada program dan kemudian....Yan Hao menekan enter...
Dalam sekejap mata, Hologram berbentuk anak perempuan mungil yang luar biasa cantik dan menggemaskan hadir di depan mereka. Kilas keterkejutan muncul di mata Xin Ji namun kemudian hilang kembali berganti dengan ketenangan.
"Ini adalah AI (Artificial Intelligence) ciptaanku, selama ini aku mendedikasikan diri untuk menciptakan kecerdasan buatan ini untuk melindungi anak-anakku, tapi sayang, sebelum kecerdasan ini sempurna mereka telah diculik. Aku menduplikasikan San'er dalam diri AI ini, dan memberinya nama 'Sani', Pak Tua Made sering memanggil San'er dengan nama Sani, jadi nama itu kupake pada AI untuk mengingatnya. Sekarang, Sani telah disempurnakan, karena aku tidak bisa merekam suaraku maka kamu yang akan mengendalikan dia, karena dia hanya mengenal suaramu" Yan Hao menjelaskan di kertas.
Anak perempuan ini memang sangat mirip dengan San'er.
"Halo, Sani..!" sapa Xin Ji.
"Halo, Ayah.." Sani menjawab
Hati Xin Ji bergetar hebat mendengar jelmaan San'er memanggilnya ayah, bagaimana pun dia belum pernah mendengar mereka memanggilnya 'ayah" selama ini.
"Jangan menangis, ayah." ucap Sani.
Bukan menghilangkan kesedihan mendengar ucapan Sani, air mata Xin Ji malah mengalir deras, Yan Hao yang melihat Xin Ji menangis, hanya terpana, selama ini dimata dan di benaknya, Xin Ji adalah laki-laki dingin yang arogan, bahkan terkesan tidak punya hati, tapi sekarang dia melihatnya menangis di depannya.
Yan Hao memeluk Xin Ji dengan tenang, setelah merasa Xin Ji sedikit tenang, Yan Hao menulis "Tidak apa-apa, mereka akan memanggilmu ayah saat kita menemukan mereka, Aku akan memprogram Sani ke dalam HP mu agar kau masih bisa memerintahnya dimana pun."
"Kamu bisa meminta dia menyajikan data apa saja. Cobalah" ujarĀ Yan Hao
"Sani, tampilkan peta kota ini, dan jalan-jalan yang tidak menggunakan CCTV." perintah Xin Ji tanpa menunggu lama.
Lin Chao dan Gong Yu masuk saat Gu Xin Ji sedang memberi perintah pada Sani.
Mereka terpana melihat gadis kecil yang sangat cantik dan imut berdiri dihadapan XIn Ji dan Yan Hao.
"Baik, Ayah." Ucapnya.
Tiba-tiba dihadapan mereka terpampang peta kota dan semua jalan baik yang utama maupun jalan-jalan tersembunyi bahkan jalan-jalan pegunungan lengkap dengan penjelasannya. Sani juga menampilkan jejak CCTV yang sudah dihapus maupun dirusak sistemnya oleh hacker yang dikirim sang penculik.
"Ayah, buka penutup mata boneka cantikku di rumah, saya tidak bisa melihat."
Gong Yu dan Lin Chao hampir syok mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadis kecil yang super cantik dan super imut namun transparan ini.
__ADS_1
Lanjut Besok.................