SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 43.


__ADS_3

Yan Hao buru-buru ke sekolah anak-anaknya ketika mendapat kabar kalau mereka bermasalah dengan teman sekolah. Ketika dia sampai yang masuk dalam dia melihat ketiga anaknya duduk dengan punggung tegap di kursi di depan direktur sekolah, dan di seberang mereka seorang anak laki-laki gendut dengan muka lebam menangis dengan sedih di pelukan ibunya.


Yan Hao mengira ketiga anaknya diintimidasi seperti yang terjadi di sekolah-sekolah bergengsi yang dihuni oleh sekumpulan orang kaya yang memperlakukan anak-anak mereka seperti raja atau ratu kecil, sehingga anak-anak mereka akan ebrtindak seperti tiran dan menghancurkan anak yang manis seperti anak-anaknya, namun saat mendengar ucapan sang ibu anak gendut itu, Yan Hao terpaku.


"Maafkan anak saya pak Direktur, saya lalai mendidiknya sehingga anak saya melakukan tindakan seperti ini di sekolah, saya akan mendidiknya ketika tiba di rumah." Ucapnya sang ibu dengan lembut.


Anak yang berada dalam dekapannya menggigil ketakutan, Yan Hao melihat seperti ada yang salah dengan cara anak itu menggigil, pupil matanya menyusut seperti mengalami ketakutan yang dalam, namun dia tidak dalam kapasitas menilai keluarga orang lain.


Yan Hao maju dan menyapa Direktur dasn juga para guru yang berada di dalam ruangan.


"Halo, saya ibunya triplet, Yan Hao."


Kepala sekolah melihat ke arah Yan Hao dan terperangah sesaat, dia tidak menyangka kalau ibu dari si kembar masih muda dan bahkan sangat cantik. Rasanya seperti wanita yang keluar dari sebuah lukisan, indah dan sangat indah. dalam data administrasi ketiga anak itu, tidak dicantumkan nama sang ayah, sehingga direktur berspekulasi bahwa Yan Hao adalah orang tua tunggal.


"Ibunya si kembar, silahkan duduk," Direktur berinisiatif mendorong kursi agar Yan Hao dapat segera duduk, dia bertindak laksana kesatria yang melindungi sang putri. Mata ketiga anak itu memutar ketas melihat tingkah Direktur.


"Mommy, mengapa mommy tidak bersama ayah." San'er melemparkan tubuh mungilnya ke arah Yan Hao.


"Ayah sedang sibuk, mommy tidak ingin mengganggu ayah." jawab Yan Hao lembut.


Sang Direktur yang mendengar jawaban Yan Hao langsut menyusut, baru saja dia mengembangkan semacam perasaan bahagia melihat wanita di depannya, namun berlum-belum sudah di hempaskan. "Duh, kapan nasibku yang sepi akan berakhir?" pikirnya sendu.


"Bagaimana anak-anak bisa saling berhadapan?" Yan Hao bertanya


Yibao menunjukkan rekaman bideo kepada ibunya, semua orang tercengang.

__ADS_1


"Bagaimana kalian memiliki rekaman?" Direktur ingin tahu


Yibao menunjukkan kamera kecil pada kotak pensil Sanbao, direktur terperangah, Yan Hao tersenyum.


"Baiklah...baiklah....apakah Ibu si kembar ingin melanjutkan masalah ini, atau berdamai saja?"


'Tidak apa-apa..kita selesaikan saja disini, tidak perlu di perpanjang, dengan catatan tidak akan ada waktu berikutnya." Yan Hao berkata bijak.


Mama si gendut menunjukkan ekspresi lega, mereka berjabat tangan untuk berdamai, namun saat tidak ada yang melihat, wajah wanita itu menjadi sangat kejam, tatapan penuh kebencian ditujukkan kepada ketiga bocah cilik yang memiliki wajah yang sama di depannya.


Wanita itu pergi dengan menyeret anak laki-laki gendut dalam tangannya. Yan Hao memandang dengan ekspresi rumit di matanya.


"Mommy...mommy...apakah mommy marah?" Sanbao bertanya dengan suara susu dan seketika melemparkan diri pada ibunya sedangkan dua saudaranya melihat dari samping dengan tatapan cool.


"Mommy, aku ingin ke kamar kecil." San'er berkata sambil memegang perutnya.


"Ayo mommy antar."


"tidak, aku ingin pergi sendiri." San'er langsung berlari kebelakang


Sebenarnya dia tidak ingin ke kamar kecil seperti katanya, dia hanya ingin melihat anak laki-laki gendut yang telah menggodanya beberapa saat yang lalu, ada yang aneh dengan anak itu. Rasa ingin tahu San'er terbakar, dia diam-diam mendekati ibu dan anak itu.


Beberapa saat kemudian dia kembali, Yibao dan Dabao memandangnya lama dengan ekspresi rumit, namun mereka tidak menanyakan apa pun pada saudara mereka yang cantik.


"Ayo mom kita pulang." Ajak San'er sambil memegang tangan ibunya.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju rumah, dia diam, pikirannya berkelana, tangannya meraba jam teknologi tinggi yang melilit pergelangan tangannya yang kecil dan putih. Manik matanya menyimpan rahasia dan semangat.


Setelah sampai di vila mereka, Sanbao tidak terburu-buru turun, di otaknya yang kecil sudah tersusun rencana untuk melakukan sesuatu, dia tau dia tidak bisa melakukan itu sendiri jadi dia akan mengajak kedua abangnya yang hebat dalam bela diri.


Saat melihat Gu Xin Ji berdiri di depan rumah Sanbao berlari dan melemparkan dirinya ke pelukan Xinji. "Ayah...ayah...apakah kau merindukanku?"


Gu Xinji pura-pura berpikir sebelum menjawab


"Tergantung...apakah San'er ku berperilaku baik hari ini?"


"Ayah...! pekiknya sambil mengalunkan tangan kecilnya ke leher ayahnya, Xin Ji tertawa bahagia dan mencium wajahnya San'er yang memiliki lemak bayi dan beraroma susu dengan kasih sayang yang kental di udara.


Yibao dan Dabao melihat


"Bodoh!" ucapnya keduanya dan berjalan masuk ke rumah.


"Apakah kalian tidak ingin pelukan ayah?" Xinji bertanya sambil menggoda keduanya.


"Tidak!" jawabnya tegas namun kaki mereka berhenti berjalan seolah menunggu ayahnya datang dan memeluk mereka.


Xinji yang melihat tingkah kedua anaknya yang sombong, tersenyum kecil, dalam sekali angkat


Hooopp.... keduanya masuk dalam dekapan kuat sang ayah, ketiganya tertawa geli saat janggut kasar Xinji menggores pipi mereka yang berlemak.


Yan Hao tersenyum melihat ketiga anaknya tertawa bahagia, terkadang ada saatsaat dimana dia mengira semua ini hanya mimpi, empat tahun yang lalu, dia masih berjuang sendiri, dengan membawa kandungannya berlari meninggalkan mansion ini dengan hati hancur dan penderitaan yang dalam. Empat tahun kemudian dia kembali ke mansion ini dengan kebahagiaan dan tawa. Takdir tak pernah bisa ditebak alurnya.

__ADS_1


__ADS_2