SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 47. Mereka Bertemu Setelah 4 Tahun


__ADS_3

4 tahun kemudian.


Yan Hao datang ke perusahaan Grup Gu, tas tangan edisi terbatas, pakaian indah rancangan desainer terkenal dunia dan kacamata mewah melengkapi penampilannya yang glamour.


Dengan percaya diri dia melangkah masuk tanpa menoleh pada Resepsionis di meja depan, langsung menuju lift khusus pimpinan perusahaan.


Para karyawan yang berpapasan langsung dengan nyonya Gu, menyapa dengan hormat. Yan Hao mengangguk acuh dan menekan tombol lift, namun sayang tombol lift yang dioperasikan dengan sidik jari tidak mengenali sidik jari Yan Hao hingga pintu lift tidak kunjung terbuka.


Marah, Yan Hao mengambil ponsel dari dalam tas branditnya dan menekan nomor Xinji.


Ponsel terhubung namun tidak ada jawaban dari pihak sana, kesal, Yan Hao menekan sekali lagi, namun panggilan itu tetap tidak dijawab.


Yan Hao beralih ke ponsel Lin Chao asisten pribadi Gu Xinji.


"Tuan, Nyonya menelepon." Lin Chao menunjukan panggilan Yan Hao kepada Gu Xinji berharap Tuan mudanya mau menjawab telponnya.


Gu Xinji hanya melirik acuh.


"Matikan tidak perlu dijawab!" Gu xinji berkata tak acuh.


Sejak kejadian di kapal pesiar dan Yan Hao melakukan operasi kecantikan, watak dan sifatnya berubah drastis. Anak-anaknya bahkan merasa asing hingga menjadi jauh darinya, mereka lebih memilih tinggal di asrama dari pada harus tinggal di rumah dan bertemu setiap hari dengan "mommy"nya. Namun untuk menjaga perasaannya, mereka hanya berkata kalau itu hanya untuk mempermudah mereka kesekolah dan agar mereka bisa lebih konsentrasi pada pelajaran.


Gu Xinji sendiri bahkan tidak pernah menyentuh Yan Hao sama sekali. Setiap kali Yan Hao mencoba mendekatinya, perasaannya benar-benar tidak nyaman, disudut hati terdalamnya dia seperti melakukan pengkhianatan jika menyentuh istrinya.

__ADS_1


Untuk membuang perasaan tidak nyamannya, Gu Xinji sering harus membuat dirinya mabuk dan pulang kerumah untuk kemudian tidur di kamar tamu, dia akan bilang bahwa dia terlalu mabuk untuk melangkah kekamar tidur mereka jika Yan Hao bertanya keesokan harinya.


Selama hari-hari pernikahan mereka, dia seperti tubuh tanpa jiwa, ada yang kosong di relung hatinya terdalam. "apa yang salah? apakah aku hanya mencintai fisiknya?" Gu Xinji selalu melayangkan pertanyaan yang sama pada hatinya, kadang dia akan menangis sendiri dikala rasa sepi terlalu menghantui jiwanya. "Apa yang salah.. apa yang salah." dia akan tertidur setelah larut dalam minumannya.


Yan Hao mendobrak pintu ruang Presiden, dia melangkah masuk, tak peduli sifatnya hanya akan membuat malu suaminya selaku pimoinan perusahaan.


"Apa-apaan ini, kamu ada disini tapi kamu tidak mengijinkan aku masuk. Apa aku sudah bukan istrimu lagi?!" Yan Hao berteriak histeris.


Lin Chao seketika menyingkir, dia tidak ingin terlibat dalam pertengkaran tuan muda dengan nyonyanya. Nyinya terlalu banyak berubah. Lin Chao jadi tidak ingin menikah.


"ada apa? Aoa uangmu habis?" Gu Xinji menatapnya dingin, Yan Hao seperti tersiram air es melihat tatapan suaminya yang tidak peduli dan sangat jauh.


"Aku hanya.... merindukanmu." Tangannya menjalar ke tubuh Xinji namun secepat kilat diblokir. Ada rasa jijik dalam tatapan Xin Ji.


"Ambil ini." Xin Ji menyerahkan cek dengan nilai besar kearah Yan Hao.


"Bukan ini tujuanku datang." ucapnya lemah, namun tangannya dengan cekatan mengambil cek itu dan masukkan ke dalam tas.


"Pergi!" tanpa perlu melihat kedua kali, Gu Xin Ji mengusir Yan Hao dari kantornya.


Yan Hao mengenakan kacamata dan beranjak keluar dengan memberikan ciuman terbang kepada Xin Ji yang hanya dibalas dengan tatapan dingin.


Di lain tempat, Yu Yayao sedang melakukan pengisian suara untuk radio setempat, selama ini dia telah tinggal jauh dari negaranya, dia hanya ditemani oleh Vera, asisten kecilnya. Suaminya Song Hyun akan datang sesekali menghampirinya.

__ADS_1


Yu Yayao tidak pernah merasa dekat dengan orang yang mengaku sebagai 'suaminya', apalagi sejak peristiwa dia kehilangan anaknya setelah dilahirkan. Ya, Yu Yayao memang hamil kala itu, kehamilannya sudah memasuki usia 8 minggu, Song Hyun ingin menggugurkan janin itu dengan alasan akan mempengaruhi kesehatan Yu Yayao namun Yu Yayao dengan keras kepala nekat mempertahankan walaupun nyawa taruhannya. Song Hyun dengan tak berdaya terpaksa merelakan istrinya mengandung janin yang tak diinginkan.


Saat Yu Yayao melahirkan, Song Hyun mengambil anak itu dan membawanya ke panti asuhan untuk dipelihara, Song Hyun juga memberikan uang yang banyak ke panti asuhan itu. Ketika Yu Yayao bangun dari tidurnya setelah berjuang melahirkan bayinya, dia diberitahu kalau anaknya telah meninggal dan Song Hyun mengkremasi anak itu karena tidak ingin membuatnya bersedih, Yu Yayao begitu terpukul, dia sangat membenci Song Hyun sehingga tidak ingin ebrtemu dengannya.


.......


Gu Xin Ji melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Setelah hari yang panjang dan melelahkan dia akhirnya bisa kembali ke hotel untuk beristirahat, di perjalanan dia bersandar pada Jog, mencubit daerah sekitar alisnya untuk meredakan sakit kepala yang belakangan selalu datang dan perlahan menutup matanya.


Biasanya Lin Chao akan menyetel instrumen musik klasik agar tuan mudanya bisa beristirahat, namun kali ini, Lin Chao mencoba mencari siaran radio dan mendengar berita dari daerah setempat.


Lin Chao masih mencari program ketika sebuah suara merdu menembus gendang telinga, Gu Xin Ji yang sedang menutup matanya di jog belakang langsung terjaga.


"Putar kembal!" bentakan Xin Ji membuat Lin Chao membeku.


Alunan suara merdu itu kembali terdengar, dia sedang membaca kisah-kisah romantis yang dikirim oleh penggemar ke radio mereka.


Xin Ji yang mendengar suara itu bergetar hebat, matanya memerah, tangannya terkepal erat, dia seperti terguncang hebat. Lin Chao pun juga sama, dia terpana mendengar suara yang mengalun lembut dari radio ini.


"Cari tau.....cari tau siapa dia." Gu Xin Ji seperti akan gila.


Kisah yang dibawakan Yu Yayao begitu indah, suaranya seperti alunan musik klasik yang berasal dari negeri para dewa, dia seperti peri langit yang turun untuk menyejukkan hati yang dilanda kegelisahaan. Gu Xinji sangat menikmati suara itu, matanya perlahan tertutup, rasa tenang yang damai menghanyutkan jiwanya seperti oase di padang gurun yang tandus, jiwanya seperti mendapat tempat untuk pulang.

__ADS_1


"Ini suara Yan Hao, ini suara istriku." ucapnya perlahan, air mengalir di sudut matanya saat matanya perlahan terpejam.


Maaf sahabat, pertemuan mereka ditunda besok aja yaaaaa......@@


__ADS_2