
Saat Yan Hao terjatuh dalam pengaruh obat bius, pria misterius itu datang dan menggendongnya dalam pelukannya, ada ekspresi puas dalam tatapannya yang dingin.
Gu Xinji melihat ke arah perginya Yan Hao, ada perasaan tidak nyaman saat melihat sekelebat bayangan gaun merah melangkah ke arah kamar mandi kapal pesiar Star Moon.
Xin Ji perlahan menutup telpon dan menatap dengan rumit ke arah menghilangnya istrinya, ketika dia akan menyusul, Fang Shijin pemilik kapal Star Moon datang dan menyapa Gu Xinji dengan kebahagiaan jelas di raut wajahnya yang tak bisa di tutupi.
"Tuan muda Gu, lama tidak melihatmu." Dia melangkah dan mengulurkan tangan ke arah Gu Xinji.
Xinji menjabat tangan Tuan Fang namun matanya tak henti menatap ke arah kamar mandi tempat istrinya menghilang, sesekali dia menatap jam tangan mewah yang melingkari lengannya dengan elegan.
"Apakah kamu sudah melihat kamar khusus yang kusiapkan untukmu?"
"Belum, aku akan." Xinji kembali menatap jam tangannya, Presiden Fang menatap ke arah tatapan Gu Xin Ji, dia pun paham.
"Apakah dia menggunakan kamar mandi?"
"Sudah lebih 10 menit, aku akan menyusulnya." Xin Ji berjalan ke arah kamar mandi, perasaan tak terlukiskan memenuhi rongga dadanya, jantungnye berdegup dengan sangat kencang.
Di sisi lain, di mansion Lanhua, San'er tertidur setelah asik melihat hasil rekaman bocah gendut yang dimarahi ibunya, dalam tidurnya, dia melihat ibunya terperangkap di rumah kaca yang sangat indah, dia mencoba memanggil sang ibu namun Yan Hao tidak mendengarnya, Seorang lelaki tampan datang dan meraih tangan ibunya membawanya pergi, San'er ingin mengejar namun tiba-tiba seluruh tempat ditutupi kabut yang tebal sehingga dia tidak bisa melihat kemana ibunya di bawa pergi.
"Mommy......!"
"Mommy...!"
Sanbao memanggil sang ibu dengan sekuat tenaga namun ibunya tidak pernah datang untuk menjemputnya, San'er terbangun dan menangis histeris. Saudara-saudaranya yang berada di kamar sebelah mendengar tangisan histeris Sanbao, berlari mengejar ke arah kamar adik perempuan mereka yang cantik.
"Adik, ada apa?" Xiaobao mendekat dan duduk disisi San'er.
"Apakah kau mimpi buruk? apakah mimpi burukmu kembali lagi?" Yiyi duduk disisi sebelah Sanbao yang lain.
__ADS_1
"Kakak pertama, kakak kedua, dimana mommy dan ayah?" wajahnya kecilnya memandang kedua saudaranya bergantian, dia tidak mengatakan perihal mimpinya, tapi dia sangat yakin kalau akan ada hal buruk menimpa ibunya.
"Ayah dan Mommy belum kembali." Xiaobao mengambil tisue dan menyeka keringat di wajah kecil adiknya.
"Bukankah kamu tahu kalau ayah dan mommy akan bulan madu, mungkin saat mereka kembali kita akan mendapat seorang adik perempuan yang imut dan lucu." Yiyi mencoba mengalihkan ketakutan adik kesayangannya.
"Tidur kembali, kami akan menemanimu disini." Xiaobao membaringkan adiknya di ranjang merah mudanya yang indah, Yiyi juga naik dan ikut berbaring di sebelah sang adik, mereka memang biasanya tidur bersama saat berada dirumah di tepi pantai, jadi mereka tidak merasa canggung untuk menemani adiknya tidur saat ini.
Di kapal Pesiar Star Moon.
Gu Xinji menyusul Yan Hao di kamar mandi, namun begitu dia mendekat suara samar dari sesuatu yang berkedap kedip menusuk telinganya,
"Ini....ini suara bom." Xinji berlari dengan panik, namun begitu pintu akan ditendangnya, dia teringat peristiwa yang terjadi satu tahun yang lalu, dia takut kalau dia menendang pintu, bom akan meledak dan Yan Hao tidak akan bisa tertolong.
"Yan Hao...!! teriakan Gu Xinji terdengar di seantero kapal, Tuan Fang yang sedang menjamu tamu berkerut
'Ada apa?"
"Tidak mungkin!" Tuan Fang akan membuka pintu kamar mandi namun segera di tahan Xinji.
"Jangan gegabah, istriku ada di dalam." Xinji mengeluarkan aura pembunuh yang kental di udara, tuan Fang merasakan krisis yang tajam menyerang hatinya.
"Apakah kamu yakin ini bom?" keragu-raguan memenuhi suaranya.
"Apakah kamu berpikir aku akan berjudi dengan nyawa istriku?!" nada yang semakin dingin menekan tuan Fang, suhu disekitarnya kembali turun hingga ke titik nol membuat tuan Fang merasakan kedinginan sampai kelubuk hatinya.
"Lin Chao...!"
"Tim sudah bergerak, tuan." Lin Chao mendekat dan melaporkan keadaan di sekitarnya.
__ADS_1
Tuan Fang merasa bersalah, keadaan ini terjadi di kapal pesiarnya, apalagi Gu Xinji adalah tamu istimewa yang dia undang khusus.
Tuan Fang langsung memanggil penjinak Bom terbaik, namun mereka akan tiba dalam 10 menit.
Gu Xinji sudah tidak bisa menunggu selama itu, dalam waktu singkat dia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi menggunakan jalur lain. dia segera masuk ke kamar mandi melalui bagian atas kamar mandi.
Tuan Fang sendiri sudah memerintahkan agar segera mengevakuasi para penumpang yang ada di kapal itu.
Di tengah hiruk pikuk penyelamatan, seorang lelaki tampan keluar menuju sekoci penyelamatan dengan seorang wanita di tangannya, wanita itu dalam keadaan tidak sadarkan diri dan menggunakan masker tebal serta kacamata sehingga penampilannya tidak bisa dikenali.
"Kenapa istri anda tuan?" wanita bangsawan berumur bertanya dengan penuh perhatian kepada lelaki itu.
"Serangan jantung, kami harus cepat sebelum terlambat." lelaki itu menempatkan istrinya didadanya, matanya merah dan ada kesedihan yang kental di raut wajahnya.
"Kasihan, semoga dia akan baik-baik saja." Wanita bangsawan tua itu menghela napas dan mendoakan yang terbaik untuk istri lelaki tampan itu.
Di atas kapal, Gu Xinji berhasil masuk lewat langit-langit kamar mandi, mengintip kebawah dia melihat istrinya terikat dengan kepala terkulai dan mulut yang ditutupi lakban. Tidak jauh dari tempat istrinya, terdapat satu unit bom rakitan yang mengeluarkan suara bip...bip...bip....waktu yang tertera disana menyisakan satu menit.
Seperti akan gila, Gu Xin Ji melompat turun, dia menggunakan perhitungan mental antara menjinakkan bom atau melepaskan istrinya, dengan cepat Xinji memutuskan lebih baik menyelamatkan sang istri, karena bom itu tidak terikat di badan istrinya jadi akan lebih mudah untuk membawa istrinya keluar.
"Sayang...sayang bangun.!" Xin Ji melepaskan ikatan istrinya dan merobek lakban dari mulut sang istri, begitu ikatan itu terlepas. Dia menggendong Yan Hao yang masih tidak sadarkan diri, berlari dengan kekauatan penuh.
Biiiiiippppp....suara bom rakitan terdengar panjang dan
DUAARRRR....!!!!
Ledakan dahsyat meledakkan kamar mandi dan sekitarnya, Yan Hao terlempar dari tangan Xin Ji saat Xin Ji terpental ke depan karena kekuatan ledakan. Asap hitam menyelimuti sekitar.
Mempertahankan sisa-sisa kesadarannya, Xinji mengambil Yan Hao yang bermandikan darah, berjalan tertatih menuju keluar.
__ADS_1
Lin Chao yang sedang mengatur timnya, terpana dengan kekuatan ledakkan itu, ditengah asap yang membumbung tinggi, Lin Chao melihat tuan muda Gu menggendong istri di tangannya membawa keluar.
Bersambung ....@@@