SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 37. Melarikan Diri 2


__ADS_3

BUUUMMMMMM....!!!


Ledakan dahsyat membakar kapal "Nigh Sea" api besar berkobar membumbung tinggi ke angkasa, Gong Yu, Lin Chao dan semua tim beserta anak-anak yang telah diselamatkan terpana tak percaya melihat ledakan itu.


Gong Yu bereaksi terlebih dahulu.


"Mana Kakak?" dia bertanya pada salah satu anggota tim,


"KAKAK!!! GU XIN JI...!!!"


"TUAANNNN..!! " Lin Chao juga memanggil Gu Xin Ji


Byuurr...Byuurr...


Dua orang terjun ke air, berusaha mendekat ke arah kapal yang terbakar, panasnya api yang menjilat kapal terasa sampai jauh, Gong Yu tak peduli, Dengan tekad dia memanjat melalui areal ang belum termakan api, sambil berteriak memanggil saudaranya.


GU XIN JI.....! KAKAAAKKK...! GU XIN JII....!!!!"


BUUMM...BUUMMM....Ledakan kembali terjadi.


Gong Yu terpental jatuh ke air dan tidak sadarkan diri. Lin Chao yang hendak naik pun tak luput dari ledakan, namun keadaannya masih lebih baik dari Gong Yu, Dia berhasil menghindari api yang terbang ke arahnya.


Dengan susah payah, dia berenang dengan menarik Gong Yu ke arah kapal mereka.


Tanpa mereka sadari, semua tindakan mereka terlihat dengan jelas melalui teropong oleh pihak lain. Kapal mata-mata yang dikirim Damian berada jauh dari jangkauan penglihatan mereka, namun tidak cukup jauh untuk menyembunyikan keadaan mereka yang sangat mengenaskan.


Damian tertawa puas saat tubuh Xin Ji hancur dalam ledakan, dia bahkan lebih kencang tertawa saat melihat Gong Yu dan Lin Chao mencari bajingan itu dan akhirnya terhempas oleh kekuatan ledakan.


Damian mengambil telpon dan mulai menghubungi A Lin.


"Sayang," Damian menyapa lembut


"Hhmm."


"Sudah selesai."


"Dia..... Mati..?" A Lin bertanya ragu


"Mati."


A Lin memejamkan mata, ada setitik air mata jatuh di pipinya.


"Maafkan aku, Kakak Xin Ji, kamu yang meminta." A Lin berkata lemah, kemudian dia tersenyum dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Kamu akhirnya MATI...HA.. HA... HA..!

__ADS_1


"Tapi jangan takut, sebentar lagi istri dan anakmu akan menyusulmu." dia kembali tertawa......


Dan akhirnya menangis tersedu-sedu.


Disisi lain, Yan Hao yang hendak keluar dari rumah sakit terjatuh disamping mobilnya, dadanya terasa sakit, napasnya sesak, dan ada air mata yang mengalir.


"Gu Xin Ji." ucap Yan Hao pelan, tangannya menepuk-nepuk dada yang terasa sakit


Air matanya tak henti mengalir, dengan tangan gemetar dia menghubungi ponsel Lin Chao, tapi hingga hubungan terputus Lin Chao tidak menjawab telponnya.


Sementara itu, Yibai, Dabao dan Sanbao berjalan mengendap, tubuh mereka yang kecil memungkinkan mereka untuk menyusup.


Seorang penjaga datang dan memeriksa ruangan, begitu tahu ketiga bocah cilik itu hilang, dia segera memberi perintah pencarian keseluruh penjuru rumah,


Kamera pengawas diperiksa namun tak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Setiap kamar dan ruangan dibuka dan diperiksa satu per satu hasilnya masih sama. anak-anak ini pandai menghindari kamera pengawas.


Karena tahanan tidak dapat ditemukan mereka mengeluarkan anjing pelacak yang hitam dan sangat besar. Anjing-anjing berlari dengan cepat ke arah hilangnya anak-anak.


Mereka bertiga telah berjalan jauh ke dalam hutan, karena saat itu musim dingin, seluruh areal hutan tertutup salju, meskipun mereka terlahir jenius, namun daya tahan tubuh mereka hanyalah daya tahan tubuh anak-anak yang bahkan belum genap 3 tahun, segera mereka mulai dilanda kedinginan, bibir mereka mulai membiru, dan langkah kaki mereka mulai terasa berat.


Sanbao bahkan sudah tiga kali terjatuh dan dibantu berdiri oleh kakak-kakaknya. Dalam keadaan yang sangat dingin, napas Sanbao mulai melemah, dia mulai kesulitan bernapas. Kedua saudaranya nampak sangat panik, peralatan sederhana untuk mengurangi serangan asma Sanbao tak ada sama sekali.


Anjing pelacak itu menemukan mereka ketika mereka sudah terjatuh dan tak sanggup lagi berjalan.


Jika anak-anak yang lain akan ketakutan melihat anjing sebesar itu lain hal nya dengan mereka bertiga.


"Kakak, bantuan datang." ucapnya bahagia.


Sanbao mengulurkan tangan yang nampak pucat, dengan mantap dia mendongak memandang mata sang Anjing pelacak selama beberapa waktu, anjing itu tiba-tiba terduduk dan meringkuk disamping mereka, Sanbao segera memeluk sang anjing dan berbisik, "bawa kami menjauh."


Sanbao duduk diatas punggung anjing pelacak yang super besar itu disusul Yibao dan dabao, mereka berpegangan dengan kuat agar tak sampai terjatuh saat sang anjing membawa mereka pergi.


-----@@


Gu Xin Ji yang di kira telah hancur dalam ledakan, tengah berada dalam kapal selam kecil milik Jiang Shan.


Sebelumnya.


"Ayah."


"Ada apa?"


"San'er mendeteksi adanya bom dalam kontener."


"Perlihatkan!" Perintah Gu Xin Ji

__ADS_1


Nampak didepan mata Xin Ji, bom yang dirakit dengan rumit dalam sebuah kontener urutan ke tujuh, di dalamnya kosong dan hanya bom itu satu-satunya yang kelihatan.


"Mereka ingin memancingmu masuk, ayah." Sani berspekulasi


"Kita beri apa yang mereka mau." ujar Xin Ji dengan senyum licik yang berbahaya di raut wajahnya.


Xin Ji segera menghubungi Jiang Shan, dan Jiang Shan akan menjemputnya dengan kapal selam kecil miliknya yang selama ini di sembunyikan dari perhatian orang luar.


Sebelum dia membuka pintu kontener itu, dia sudah memastikan bahwa kapal selam Jiang Shan sudah ada di bawah laut tak jauh dari Night Sea.


Pintu kontener nomor tujuh tidak dibuka Xin Ji, melainkan dia melempar seorang penjaga kapal Night Sea yang telah mati ke pintu kontener hingga terbuka, dia kemudian terjun dengan kecepatan kilat kelaut dan berenang ke arah kapal selam "The Diamond" milik Jiang Shan.


Saat ini.


"Xin Ji, ini ulah A Lin, dan sepertinya keluarga Shin menyetujuinya." Ungkap Jiang Shan


Wajah Xin Ji tidak ada perubahan, ekspresinya sangat dingin.


"Ayah." Sani yang telah kembali dalam bentuk hologram berdiri di hadapan Xin Ji dan Jiang Shan.


"Katakan."


"Saudara-saudara saya di sekap di pulau paling utara, terakhir san'er menemukan sinyal mereka menghilang disana."


"Kita dimana? Apakah masih jauh dari pulau utara?"


"kita berada dipersimpangan jalur utara. Ayah bisa menggunakan transportasi udara untuk secepatnya kesana sebelum terlambat. Gelombang elektromagnetik yang terpancar dari chip yang ada di gelang mereka semakin melemah, pertanda tubuh mereka juga melemah."


"Xiao Shan, aku butuh kendaraan tercepat sekarang."


Tanpa banyak bicara Jiang Shan menghubungi pangkalan militer yang terdekat dengan tempat mereka sekarang.


Selang beberapa menit, pesawat tempur dengan kemampuan ditching switch yang bisa mengubah bagian bawah badan pesawat menjadi seperti kapal mendarat dengan mulus di atas laut


Gu Xin Ji dan Jiang Shan yang telah siap melompat ke dalam pesawat dan pesawat kembali terbang dengan kecepatan super.


Hanya butuh beberapa menit untuk mencapai pulau paling utara yang dimaksud Sani.


Salju yang tebal tidak memungkinkan pesawat untuk melakukan pendaratan.


Berbekal parasut pada masing-masing, Jiang Shan dan Gu Xin Ji melompat dari ketinggian pesawat terjun ke bawah dan melakukan Skydiving. Titik penghentian mereka telah ditandai oleh Sani sebelum mereka melompat turun.


Saat waktunya untuk membuka parasut. Parasut Jiang Shan mengalami kemacetan hingga gagal terbuka, melihat keadaan yang tidak baik, Xin Ji dengan berani mempercepat laju kejatuhannya agar bisa mendekati Jiang Shan, begitu tangannya dapat menggapai Jiang Shan, dia memeluknya dan menarik tali parasutnya dan..


Whoosshh.... parasut terbuka dan membawa mereka melayang turun ke tanah bersalju.

__ADS_1


Lanjut besok.......


__ADS_2