
A Lin begitu bahagia mendengar Yan Hao menghilang, segera dia menyusun strategi untuk menjebak Xin Ji dalam pernikahan.
Saat tau Xin Ji pergi ke daerah pesisir, A Lin dengan senang hati menyusul. Menurutnya, ini lokasi yang tepat untuk menjebak Xin Ji
Dia akan mengundang Xin Ji makan malam romantis dengan Yacht ditengah laut, dan akan menghabiskan malam dengan bercinta dengannya karena wine yang akan diminum Xin Ji akan dicampur dengan afrodisiak dengan kualitas terbaik.
Namun, ekspektasi nya terlalu tinggi, dia malah bertemu dengan Xin Ji di arena bermain anak-anak bersama bocah kembar yang wajahnya sangat identik dengannya.
Tersadar dari lamunannya, A Lin mengambil tas tangannya dan berjalan keluar menuju garasi, mobil Porsche putihnya terparkir di garasi dan tidak pernah digunakan semenjak kecelakaan yang menimpanya.
Mengendarai Porsche, A Lin melaju ke arah luar kota, tepatnya ke Vila tepi laut milik keluarga Shin, tiba disana A Lin di sambut oleh seorang lelaki muda tinggi dan gagah. Dia memeluk A Lin dan mengecup bibirnya mesra. Lama mereka berpagutan liar, hingga A Lin kehabisan napas.
Damian Chou, telah menjadi kekasih A Lin selama beberap tahun belakangan ini, dia sangat tau obsesi besar di hati A Lin adalah Gu Xin Ji, saat A Lin mengalami depresi dan harus di rawat di Inggris, Damian adalah salah satu orang yang berkontribusi atas kesembuhan A Lin. Dia selalu berharap, A Lin bisa menghilangkan obsesinya pada Xin Ji, namun sepertinya itu masih jauh. Karena rasa cintanya yang besar pada A Lin dia rela membantu A Lin mendapatkan Xin Ji, baginya kebahagiaan A Lin adalah yang utama.
Damian membopong A Lin dan membawanya ke kamar, sepanjang jalan menuju kamar bibir mereka tak henti berpagutan. A Lin memeluk leher Damian erat, ada kepuasan dalam hatinya saat dia bisa menghirup aroma tubuh Damian yang jantan dan penuh dengan hormon testosteron.
.........
Jiang Shan tiba di bandara. Melangkahkan kaki keluar bandara, matanya menangkap seorang pria yang berdiri santai di samping Bentley hitam sambil merokok.
"Apa kabar?" tanyanya, mereka melakukan adu tos seperti layaknya teman lama
"Masuk!" perintah Xin Ji dengan menggerakkan kepala ke arah mobil.
Jiang Shan duduk di co pilot, sedangkan Xin Ji masuk dan duduk di belakang kemudi. Mobil itu akhirnya bergerak keluar bandara.
Mereka bertukar pembicaraan ringan selama beberapa saat sebelum masuk ke pembicaraan inti tentang Sanbao.
"Aku akan melihat kondisi paru-paru dan saluran pernapasannya." ujar Jiang Shan, pria berkacamata itu memang adalah ahli dalam pengobatan tradisional dan modern.
"Jika hanya karena lendir biasa, itu tidak memerlukan penanganan khusus, hanya memerlukan sedikit therapy pada titik-titik akupunturnya untuk menghilangkan lendir, namun jika paru-parunya bermasalah, maka aku akan memberikan penangan khusus." Jelasnya lebih lanjut.
"Untuk itu, aku harus terlebih dahulu berkenalan dengan keponakanku yang pastinya cantik." kekehnya bahagia. Mnedengar ucapan Jiang Shan, sudut mulut Xin ji terangkat, wajahnya menampilkan kelembutan.
Ddrrtt....ddrrtt...
__ADS_1
Suara hp Xin Ji berbunyi, dengan sebelah tangan dia mengambil hp nya dan menekan tombol jawab.
"PAMAAANNNNN........!" Suara Seorang anak laki-lak terdengar dari seberang.
Tubuh Xin Ji menegang.
"YI'ER... ADA APA..!" Xin Ji bertanya Panik.
"PAMAAANNN....TOL.... AAAHHHHHH" tut...tut...tut...
"YI'ER...YI'ER....YIBAOO.....!!!" Tangan Xin Ji bergetar hebat.
Jiang Shan yang juga mendengar suara teriakan minta tolong dari seberang, tanpa sadar ikut menegang.
Ciiitttttt...suara ban berputar cepat memekakkan telinga. Xin Ji dengan kecepatan penuh berbalik, dan melajukan mobil hitamnya ke arah berlawanan menuju ke luar kota.
--------
Dipinggiran kota Guangzhou.
"Bawa ke tempat yang sudah di tentukan!" Perintah suara di ujung telp
Saat Yan Hao kembali dari toko, rumahnya dalam keadaan hancur, mainan-mainan anaknya nampak berceceran seperti abis dilemparkan sembarangan. alat nebu Sanbao hancur seperti abis diinjak-injak oleh seseorang. Terlihat bekas ban mobil di tanah yang hampir tertutup salju yang terus turun.
Yan Hao meninggalkan ketiga anaknya sebentar ke toko untuk mengambil herbal yang akan ia gunakan untuk Sanbao, karena serangan asmanya bisa kumat sewaktu-waktu. Jantung Yan Hao berdebar kencang, Telinganya berdengung hingga terasa sangat sakit. Kakinya lemas dan tak mampu menopang tubuhnya hingga dia terduduk ditanah. Mulutnya ingin memanggil nama anak-anaknya, namun karena terlalu syok tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, dia hanya bisa membisu dengan mata menatap nanar.
Pemandangan itulah yang dilihat Gu Xin Ji dan Jiang Shan saat mobil mereka dengan brutal masuk ke pekarangan rumah Yan hao
"Hao'er...!" Xin Ji memanggil Yan Hao
Yan Hao tetap diam, matanya kosong memandang rumahnya.
"Hao'er...Sayang..!" Xin Ji memanggil sekali lagi dan mengguncang tubuh Yan Hao, Melihat Yan Hao yang tak merespon, Xin Ji memeluknya erat.
Dia kemudian membawa tubuh Yan Hao ke dalam rumah, Keadaan rumah nampak kacau, Jam tangan pintar milik ketiga anaknya hancur dan dibuang dipojok rumah dekat kamar mereka. Jiang Shan mengambil nadi Yan Hao, dan kepalanya menggeleng
__ADS_1
"Dia terlalu syok." Bawa kerumah sakit
Xin Ji dengan sigap membopong istrinya dan membawanya ke mobil. Jiang Shan naik dan duduk dibelakang kemudi, kemudian melarikan mobil itu kerumah sakit dengan kecepatan tinggi.
........
Jiang Shan menunjukan tanda pengenalnya kepada direktur rumah sakit. Mata sang direktur menyala melihat nama yang tertera disana, sudah lama dia ingin mengundang dokter jenius Jiang Shan untuk memberikan seminar kepada para dokter tentang kasus-kasus yang sulit ditangani, namun dokter jenius ini sangat sulit dihubungi, sekarang sang dokter malah mengantarkan drimya sendiri ke pintu sang direktur.
Dengan senang hati sang direktur menerima kunjungan dokter Jiang Shan, bahkan mempersilahkan Jiang Shan merawat pasiennya. Jiang Shan dengan sigap merawat Yan Hao yang tetap tidak sadarkan diri, Xin Ji tidak meninggalkan sisi Yan Hao satu langkahpun, hingga Yan hao tertidur dengan tenang karena pengaruh obat yang diberikan.
Melihat Yan Hao tertidur. Xin ji segera berjalan keluar, raut mukanya sangat gelap, matanya penuh dengan kekejaman. Jiang Shan mengikutinya keluar dari rumah sakit.
"Titip istriku. Aku akan kembali." Ucapnya.
Jiang Shan sebenarnya ingin mengikuti, namun dia tidak ingin melawan ucapan sang sahabat yang sedang marah.
"Baik, Jangan khawatir."
Xin Ji berbalik dan masuk ke dalam mobil, dengan kecepatan penuh dia melarikan mobilnya kembali ke rumah Yan hao untuk memeriksa kembali situasi rumah itu.
Setelah Xin Ji pergi, Jiang Shan segera menghubungi seseorang.
"Halo." ucap suara di ujung sana
"Ke daerah pesisir sekarang!"
Gong Yu yang menerima telp dari Jiang Shan hanya terpana melihat telp nya, dia seperti mimpi saat menjawab telp Jiang Shan, tak lama kemudian hp nya kembali berbunyi tanda ada pesan masuk.
Ke alamat ini sekarang, darurat..!
Tanpa berpikir panjang, Gong Yu bergegas ke mobilnya. Dengan tenang dia mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya melayang ke alamat yang di berikan Jiang Shan sahabatnya, "Ini alamat kakak ipar, kalau aku tidak salah menebak." ujarnya di dalam hati. "Apa yang terjadi?"
Di rumah Yan Hao, Gu Xin Ji memeriksa secara teliti, dia tidak ingin menghubungi polisi terlebih dahulu untuk saat ini. Dia ingin mencari tahu lebih dulu apa sebenarnya yang sedang terjadi, mengapa anak-anak yang menjadi sasaran penculikan, tidak ada yang pernah tahu hubungan anak-anak itu dengan dirinya. Apakah ini musuh-musuh Yan Hao, atau musuhnya? pikirnya.
Apa yang terjadi....Lanjut besok
__ADS_1