SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 30. Amnesia Parsial


__ADS_3

Xin Ji tiba di rumah sakit beberapa waktu kemudian


Melangkahkan kaki panjangnya menuju ruang VIP A Lin, Xin Ji melangkah masuk.


Tuan Shin dan Nyonya Kate masih setia menunggu A Lin, sedangkan kakek Shin sudah pulang beberapa waktu yang lain karena tidak bisa terlalu cape'.


Sejak melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, mata A Lin tidak pernah lepas memandang Xin Ji.


"Ayah, apakah dia kakak Ji, yang ayah ceritakan?" A Lin bertanya polos.


Xin Ji mengerutkan alisnya, memandang tuan Shin dengan mata penuh tanya.


"A Lin mengalami amnesia parsial, sebagian memorinya hilang, sebagian lagi tidak. Dia tau tentang kamu, tapi dia melupakan wajahmu." Tuan Shin menjelaskan dengan sedih.


"Bahkan kami selaku orang tuanya tidak diingatnya." Kate menambahkan


"Dia hanya mengingatmu." Lanjut Kate sedih.


"Kakak Ji...!" A Lin memanggil dengan suara bergetar, matanya yang indah memerah, air mata terkumpul di matanya dan siap meluncur turun, wajahnya yang cantik sungguh menarik iba orang yang melihat.


Tuan Shin menepuk bahu Xin Ji dan melangkah keluar, tak lupa ia juga menarik tangan istrinya untuk menunggu di luar bersama-sama, memberi ruang bagi Xin Ji dan putri kesayangannya.


Xin Ji mendekat, namun masih ada jarak di antara mereka, dia menarik kursi yang tersedia di ruangan itu dan duduk di hadapan A Lin.


"Bagaimana rasanya?" tanya Xin Ji


"Kakak Ji," Pertahan A Lin bobol, air matanya tumpah seperti bendungan yang pecah, dengan tenang Xin Ji memberi tisue untuk ia gunakan, tanpa repot-repot untuk menyeka air mata nya layaknya sang kekasih.


"Aku takut, aku terperangkap dalam kegelapan yang panjang, rasanya pingin keluar namun aku tidak bisa... Hiks..hiks..hiks.." A Lin menangis dengan sedih.


Xin Ji cuma menepuk-nepuk punggung tangannya, mencoba menenangkan.


"Sekarang sudah tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja." ucapnya lugas


"Aku takut, kita tidak akan bertemu lagi." A Lin memegang tangan Xin Ji, dan meletakkannya di pipi.


Xin Ji ingin menarik tangannya, namun melihat pipi A Lin dan matanya yang cekung, Xin Ji akhirnya membiarkannya.


"Kakak Xinji, bisakah pernikahan kita di percepat?" A Lin bertanya penuh harap pada pria di depannya dengan penuh harap.

__ADS_1


Tangan Xin Ji yang berada dalam genggaman A Lin menegang, perlahan tangan itu ditarik dari genggaman A Lin. Hati A Lin seperti teriris, ia tak pernah menyangka, sampai dirinya sudah seperti ini, Xin Ji masih belum mau menikahinya.


drrttt.. ddrrtt... suara telp seluler Xinji berbunyi.


Sebelum menjawab ia menoleh pada A Lin.


"Istirahatlah, kau baru saja sembuh." Xinji berdiri perlahan, dan melangkah mundur sebelum berbalik.


"Halo, Jiang Shan.... "


"Aaaaahhh...!" A Lin berteriak sambil memegang kepalanya.


"Gu Xin Ji, Kamu Kejam..! Aku akan mengambil semua yang kamu sayang, dan menghancurkan mereka termasuk perempuan pelac*r itu!" A Lin membatin penuh dendam.


Air mata dendam meluncur turun dari sudut matanya, tangannya mencengkram rambut dan menariknya dengan kuat, kemarahan membuatnya hampir gila.


Tuan Shin dan Nyonya Kate berlari masuk mendengar teriakan putri kesayangannya.


"Lin'er..!" Nyonya Kate memeluk putrinya, Tuan Shin segera menekan tombol memanggil perawat.


dokter bergegas masuk beserta tim nya, A Lin akhirnya tenang setelah diberikan injeksi penenang. Matanya menutup dan tertidur dengan tenang.


...........


Sementara itu, jalanan ditutupi salju seperti awan putih, Yan Hao memakai mantel panjang, dan syal rajut wool dililit ke lehernya, keluar dari toko bunganya hendak pulang ke rumah. Tanpa di duga, di depan tokonya tergeletak seorang lelaki tua yang wajahnya pucat pasi dan bibir yang membiru


"Pak...!" Yan Hao memanggil panik, mengambil nadinya dan memeriksa.


"uuffff.. hipotermia." desahnya.


Dengan susah payah, Yan Hao membawa lelaki tua itu kedalam toko, menyalakan pemanas ke mode full, memanaskan ramuan herbal untuk menghangatkan tubuh, dan memijat titik-titik akupuntur agar lelaki tua itu segera sadar.


Berangsur-angsur, wajah lelaki tua itu mulai memerah, pupil matanya bergerak-gerak, tak lama kemudian matanya terbuka.


Ketika melihat sekeliling, dia akhirnya tau, kalau dia sekarang berada di dalam toko bunga tempatnya berteduh dan akhirnya tidak sadarkan diri karena kedinginan.


"Trimakasih, Nyonya sudah menyelamatkan saya." ucap pak tua penuh rasa syukur.


"Tidak apa-apa pak," Yan Hao tersenyum.

__ADS_1


"Dimana bapak tinggal? saya akan mengantar bapak pulang." yan Hao menawarkan.


Lelaki tua itu nampak merenung dan menarik napas panjang.


"Saya hanya seorang pendatang, Nyonya. Saya menginap di penginapan kecil diujung jalan." matanya menerawang jauh.


Yan Hao tidak mengoreksi ucapan pak tua itu, dia cuma menemaninya dalam diam, mendengarkan cerita lelaki tua itu.


"Saya datang dari Indonesia." Ucap lelaki tua itu pelan.


Mendengar kata Indonesia, Yan Hao tercengang, "tempat itu sangat jauh, kenapa kakek ini bisa sampai disini, dan hanya sendirian." batin Yan Hao heran.


Seperti tau pikiran Yan Hao, pak tua tersenyum, "tempat yang jauh, namun sangat indah. Saya kesini ingin menjemput anak dan cucu saya, namun...... " menggeleng sedih, air mata lelaki tua itu menetes, "saya terlambat..." Ia menunduk sedih.


"Mereka kemana?"


Hening...... hanya terdengar suara napas... lelaki tua itu nampak rapuh, ada kesedihan yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang mulai keriput.


"Beberapa tahun lalu, ada kebakaran besar melanda sekitar tempat tinggalnya, tak terkecuali, apartemen tempat mereka tinggal. Kejadian itu terjadi pada malam hari. Saat api menyebar hingga ke lantai tempat mereka tinggal, anak, cucu dan menantu saya sedang tertidur. Mereka......... "


Pak tua terdiam lama, mencoba mengendalikan emosi, pak tua tersenyum, Yan Hao ingat, ada kejadian seperti itu beberapa tahun lalu, saat itu dia baru saja sampai di rumahnya sekarang dan tidak tau cerita aslinya seperti apa. Namun ada desas desus mengatakan bahwa kebakaran itu memang disengaja, karena pengusaha real estate yang memenangkan proyek pusat pembelanjaan terbesar di daerah pesisir tidak mendapat dukungan dari masyarakat pesisir hingga mereka tidak mau melepaskan tanah yang sudah ditinggali selama puluhan tahun meskipun dengan ganti rugu.


Jadi, untuk bisa membangun pusat pembelanjaan tersebut, pengusaha real estate membayar orang untuk membakar pemukiman penduduk.


Korban jiwa saat itu cukup banyak, karena terjadi pada malam hari, namun tak pernah ada yang curiga kalau kebakaran itu adalah hasil dari rekayasa sang pengusaha real estate.


"Terima kasih nak, kemurnian dan ketulusan hatimu akan melindungimu dari bencana." ucap sang kakek.


"Jiwa-jiwa tak bersalah, yang hilang dalam kebakaran itu, akan menuntut pelakunya, termasuk cucu, anak dan menantuku. Mereka akan memperoleh keadilan melalui kamu, nak."


Yan hao terperangah mendengar ucapan lelaki tua itu, namun sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, pak tua itu melanjutkan.


"Aku akan membuka mata batin kamu, agar kamu bisa melihat kejadian di depanmu, dan menyelamatkan hidupmu dan keluargamu."


"Mata lahirmu bisa melihat, namun terbatas, mata batinmu sebenarnya juga bisa melihat, namun tertutup kabut, sehingga kekuatan batinmu untuk melihat ke depan hanya bisa dirangsang saat kesadaranmu menghilang. Saat kabut yang menghalangi mata batinmu hilang, kamu bisa melihat jauh ke depan sehingga banyak nyawa akan terselamatkan.


Yan Hao semakin kaget, selama ini, jika dia dibawah pengaruh alkohol, atau kesadarannya berkurang, dia bisa menebak dengan jelas nomor undian yang akan keluar besok, dia juga bahkan bisa melihat kejadian yang akan menimpa seseorang, namun itu hanya terjadi sesekali, dan tidak ada yang tahu.


Tapi pak tua ini, bukan saja tau kalau dia bisa melihat yang akan terjadi tapi juga bisa memastikan dengan benar kalau semua itu hanya terjadi jika dia hilang kesadaran atau dibawah pengaruh alkohol.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya beliau" batin Yan Hao


__ADS_2