
Yasmin bingung mau pesan apa, semua gambar menu dalam daftar menu nampak sangat enak, Yasmin ingin makan semua, tapi dia malu.
Yibao yang sedari tadi diam melihat Yasmin, tersenyum kecil, dia memanggil pelayan.
"Pesankan semua yang ada di sini." Ucapnya acuh.
April terbelalak, dalam daftar menu ini ada kurang lebih 500 ratus jenis hidangan, bagaimana cara mereka memakannya, dan harganya...harganya bisa menembus ribuan dollar.
"Jangan... kami akan pesan secukupnya saja." ucap April hati-hati
Yasmin bingung, dia memandang bergantian antara kak April dan kakak-kakak yang lain
Sanbao memutar matanya.
"Kakak laki-laki memang tidak bisa diandalkan, sekali buka mulut malah bikin pusing." batinnya kesal
"Miss, kami pesan ini...ini...ini...dan beberapa menu lainnya, yang semua ditunjuk.
Tak lama kemudian, pelayan datang dengan makanan yang membuat Yasmin dan April menelan liur, ada Lobster asam manis, kepiting rebus saos tiram, Ikan bakar pengemis, Steak, abalon, Udang goreng keju, Sup daging sapi,Pangsit ketan isi daging, Bakso ikan, Bakso udang, bakso daging sapi, telur orak arik bawang putih cincang, sayur cap chay telur puyuh, Brokoli saos keju, beraneka rasa es krim, dan makanan penutup lain.
Sanbao tersenyum melihat mata Yasmin tidak berkedip melihat pemandangan spektakuler dihadapannya, April pun tak beda jauh.
"Ayo makan." ucapnya renyah
Yasmin dan April masih tak bergerak, mereka masih takut apakah ini mimpi ataukah kenyataan.
Seumur hidup mereka yang muda ini, baru pernah melihat makanan yang begitu mewah, selama ini mereka masih bisa makan aja sudah sangat bersyukur, walaupun lauknya kadang ada tapi lebih banyak tidak ada.
"Kakak, apakah boleh dibawa pulang saja? ketua panti harus makan sebelum minum obat, adiksama kakak yang lain juga pasti senang melihat makanan ini." Yasmin bertanya dengan matanya yang bulat besar, berair dan polos.
Sanbao hampir menitikkan air mata, dia sendiri saja belum makan tapi dia masih memikirkan orang lain, sungguh anak yang baik.
"Makan saja, nanti kakak bungkus untuk orang di panti." Dabao menjawan, tanganna bergerak mengisi mangkok Yasmin dengan nasi, udang yang sudah dikupas, Kepiting yang sudah dikeluarkand ari cangkang, bakso dan lain-lain.
__ADS_1
Mangkok Yasmin sampai penuh.
Mata Sanbao melotot pada saudaranya yang tidak bisa diandalkan.
"Saudaraku, bagaimana adik Yasmin bisa makan jika semua kau isikan ke dalam mangkoknya?"
Wajah Dabao memeah ditegur Sanbao.
Mangkok April juga diisi sampai penuh oleh Yibao, April malu, dia tidak berani mengangkat mukanya.
Mereka makan dengan lahap, Yasmin awalnya masih malu-malu, belakangan dia mulai lahap hingga wajahnya tercoreng bumbu dari udang maupun kepiting, Yibao dan kedua saudaranya merasa terhibur melihat gadis kecil itu.
Dengan penuh kasih sayang, Dabao mengusap sisa makanan di wajah gadis kecil itu dengan tisue yang diambil, Yibao menuangkan air pada gelas yasmin, sedangkan sanbao melayani April.
Dia takut April akan malu dan tidak leluasa makan, jadi ia selalu memasukkan makanan di mangkok April.
April dan Yasmin makan dengan lahap, dibawah asuhan tiga saudara kembar.
Saat mereka keluar dari Restoran, wajah kelima anak itu berseri-seri. di belakang mereka sebaris pelayan mengikuti dengan tangan penuh belanjaan yang dibungkus dengan rapi, berisi makanan yang telah dipesan untuk anak-anak panti
Sementara itu, di Kota Pantai, Yan Hao sedang duduk di balkon, matanya menerawang jauh, hatinya terasa kosong.
Song Hyun 'suaminya' baru saja menelpon kalau dia akan datang dengan Yimei untuk menjemput Yan Hao sebentar lagi, perasaan Yan Hao begitu tidak nyaman mendengarnya, ada sesuatu yang berkecamuk dalam hatinya.
Yan Hao ingin menolak, tapi Song Hyun suaminya, apa alasan dia menolak, lagi pula sudah lebih dua tahun dia tidak bertemu Yimei 'anaknya', dia juga rindu padanya.
Saat dia sedang melamun, aroma cendana yang unik menyebar di udara dan masuk ke penciumannya.
Jantung Yan Hao berdenyut lebih cepat. Belum sempat dia menoleh, tubuhnya seperti melayang.
"Aah."
Bibirnya langsung dibungkam oleh bibir yang sangat maskulin.
__ADS_1
tanpa disadari, lengan Yan Hao memeluk leher Gu Xinji erat. Xinji mengerang, tubuh Yan Hao yang lembut bergesekan dengan tubuhnya yang kekar dan liat menimbulkan perasaan nikmat yang dalam.
Gu Xinji membawa Yan Hao ke kamarnya, bibrnya tak pernah lepas dari bibir Yan Hao.
Yan Hao yang merasa akan berpisah dengan Xin Ji seperti mencurahkan rasa yang tertahan.
Dengan liar dia membalas setiap pagutan bibir Xin ji dan larut dalam permainan, Saat tubuh mereka akhirnya menyatu, keduanya mengeluarkan suara kenikmatan duniawi yang akan membuat telinga merah. Mereka sama-sama terdiam dan tidak bergerak, seolah menikmati penyatuan cinta mereka
"Kakak Xinji." Yan Hao tanpa sadar mengucap nama itu.
Tubuh Xin Ji menegang, dia menghentikan permainannya sejenak dan menatap wajah istrinya lekat, Yan Hao yang masih belum sadar apa yang keluar dari mulutnya, mulai menggeliat, Sesaat kemudian Xin Ji mulai mengikuti arus permainan panas itu, dan gelembung-gelembung cinta itu mengudara dengan kuat.
Keempat anak setengah remaja dan seorang bayi bawah lima tahun dalam perjalana menuju panti, aroma makanan melingkupi mobil mewah yang mereka naiki. Selang beberapa saat mobil memasuki pekarangan rumah yang tidakl begitu besar. rumah itu nampaknya sudah tua, dindingnya sana sini sudah mulai terkelupas, bahkan di beberapa bagian ada yang sudah roboh.
Sanbao dan kedua saudaranya melihat sekeliling panti dengan pandangan prihatin.
'Apakah ini panti kalian?"
Mereka mengangguk bersamaan.
Dabao dan Yibao berpandangan, Panti ini seperti tak asing dalam pandangan mereka.
Sanbao sendiri melihat papan nama panti St. Maria yang nampak miring, wajahnya memucat.
Rumah ini..... seperti yang ada dalam lukisannya.
Bertahun-tahun yang lalu, Sanbao melihat sebuah rumah dalam mimpinya, awalnya dia tidak menganggapnya, namun rumah itu kerap muncul dalam tidurnya, sejurus kemudian, dia melihat sosok bayi kecil dibawa seseorang ke rumah itu dan diserahkan kepada seorang ibu tua yang menggunakan kerudung, wanita tua itu mengambil bayi kecil itu dan membawanya masuk.
Sanbao terbangun dengan keringat yang membanjiri badannya, mimpi itu terus berulang, Sanbao menceritakan mimpinya kepada dua saudaranya yang lain, dan mereka menganjurkan agar Sanbao melukis rumah itu dan mereka akan mencari dimana letak rumah itu, Karena selama ini, mimpi sanbao selalu memiliki arti,
Namun sampai hari ini mereka tidak menemukan rumah yang berada dalam mimpi Sanbao hingga hari ini mereka melihat rumah itu yang ternyata adalah panti asuhan.
Lanjut Besok.......@@@
__ADS_1