SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 41. Kejadian di Pet Shop


__ADS_3

Hari ini, keluarga berjumlah lima orang makan malam di luar, mereka makan di salah satu restoran mewah di ruang VIP. Suasananya nampak sangat harmonis dan penuh kehangatan, tiba-tiba


"Dasar Bodoh! Apa matamu buta! tidak liatkah kau kami sedang duduk disini!" Suara melengking datang dari arah luar.


Yan hao mengernyit, tapi karena itu bukan urusannya wajahnya kembali biasa lagi.


"Apa kamu tau berapa harga gaun ini?" Wanita itu semakin arogan mencaci sang pelayan.


Pelayan itu membungkuk berkali-kali meminta maaf pada wanita yang arogan itu.


"Maafkan saya, nyonya, saya akan membayar biaya londry baju anda." ucapnya sambil memohon ampun


Menampar....menampar....


Tanda merah bekas lima jari tangan wanita itu menempel dengan mencolok di pipi pelayan itu,


"Mengganti... ! Heh...sampai mati pun kamu tidak akan pernah bisa mengganti biaya bajuku, bahkan untuk biaya londry nya sekali pun. Jal*ng!" emosi wanita sombong itu semakin menjadi-jadi


"Dimana menejer disini? Suruh kemari!" parintahnya arogan


"Mommy, Bolehkan aku ke kamar kecil?" San'er bertanya


"Boleh. ayo mommy antar.' ucapnya sambil berdiri menggandeng tangan San'er


Mereka berdua keluar, mata Sanbao dengan tenang memandang wanita yang arogan itu dan si pelayan yang masih menangis.


"Mommy, Nyonya itu terlalu sombong." Bisik San'er "Mommy...Bolehkah aku memberinya pelajaran?" lanjutnya


"Jangan berlebihan."


Sanbao menjentikan jarinya begitu ibunya memberi persetujuan, dan...


Whoosss....


Jarum kecil melayang secara diam-diam dan menembus baju wanita itu, awalnya dia merasa sedikit sakit di bagian punggungnya, rasana seperti digigit semut, dia mengabaikan rasa sakit itu, lalu beberapa menit kemudian badannya mulai mati rasa, kemudia da terjatuh dengan mulut mulai bengkok ke arah kanan, dan matanya seperti akan terbalk.


"tolong...tolong...!" teriak wanita muda yang sepertinya adalah anak dari sang nyonya sombong


Sang pelayan bertindak cepat, dia segera menelpon panggilan darurat untuk memanggil ambulan,

__ADS_1


Yan Hao mendekat, "Ada apa?" tanyanya.


"Tolong ibu saya, tiba-tiba terjatuh dan bibirnya miring."


Yan Hao memeriksa dan menemukan jarum kecil di belakang punggung sang wanita, dia diam-diam menyembunyikan jarum itu, dan mulai memberikan perawatan akupuntur pada sang nyonya.


Tak lama berselang datang ambulan, mereka membawa tandu dan mengangkat nyonya sombong itu ke ambulan. Sang pelayan merasa lega, setidaknya dia terbebas dari tamu yang menggertaknya.


Setelah itu, Yan Hao dan Sanbao menuju toilet.


Di kamar VIP tempat mereka makan, Xinji sedang menerima telp, yibao dan Dabao serius melihat hp mereka, tangan mereka dengan lincah bergerak di layar,


"Kamu bisa menyerangnya, tembak!" perintah Dabao


"Baik." Yibao meluncurkan tembakan cepat, musuh yang bersembunyi di gedung terjatuh.


Mereka berdua tos, do layar nampak banyak sekali komen yang wara wiri.


Yibao dan Dabao terlibat dalam permainan PUBG. Tidak ada yang tau umur mereka berdua, mereka juga memakai aplikasi pengubah suara sehingga suara mereka yang masih kekanakan tidak bisa ditangkap oleh teman atau lawan main mereka.


Xin Ji berbalik bertepatan dengan kedua putranya yang melakukan tos dengan wajah bahagia.


"Kami memenangkan pertempuran online ayah." jawab Yibao tenang.


"Jangan terlalu serius, kalian akan ayah masukan sekolah beberapa hari ke depan."


"Apakah kami masih harus duduk di taman kanak-kanak, ayah?"


"Kalian harus." ucap Xinji serius. "Ayah tahu, kalian sudah melampaui itu, tapi kalian masih perlu bersosialisasi dengan teman-teman sebaya, ayah dan ibu tidak ingin kalian kehilangan masa kenak-kanak." Xinji menjelaskan dengan lembut kepada anak-anaknya.


"Kami akan mengikuti pengaturan ayah dan ibu, tapi ayah, bolehkah kami tetap bermain game online?" Dabao bertanya penuh harap


"Kalian boleh, tapi ayah tidak ingin kalian terlalu terpengaruh, umur kalian belum cukup untuk terlibat dengan kegiatan e sport."


"Kapan ayah?


"Setelah kalian cukup umur." ujarnya, "Jadilah baik, jangan membantah." Xin ji mengelus sayang kepala kedua putranya, dia sangat tau kemampuan anak-anaknya, anak-anaknya berbeda dari anak kebanyakan, mereka terlalu cerdas, sehingga memerlukan bimbingan dan arahan yang tepat, kalau tidak, mereka bisa keluar jalur. Dia cuma bisa menggeleng tak berdaya


Setelah kembali, Xin Ji membawa anak-anaknya ke klinik hewan tempat anjing dan kucing yang diselamatkan kemarin dirawat, Sanbao sangat bersemangat. Biar bagaimana pun dia sangat ingin memiliki hewan periharaan, dulu dia sakit, jadi mommy tidak menginjinkan mereka memelihara binatang, sekarang dia sudah sembuh jadi tentu saja dia sangat ingin memilikinya.

__ADS_1


"Ayah..ayah...apakah kita akan membawa mereka pulang?" ucapnya sambil meloncart-loncat kegirangan


"Selama kau mau."


"Horee....!" Sanbao berlari masuk sambil menarik tangan kedua saudaranya, mereka mengikuti dia dengan sukarela.


"Paman dokter, apakah mereka sudah sembuh? apakah mereka sudash bisa kami bawa pulang?" San'er berkata dengan antusias.


"Mereka sehat, kamu bisa masuk dan melihat mereka." dokter hewan tua itu membawa mereka masuk ke penangkaran.


Di dalam ada beberapa hewan yang di pajang di kotak kaca, ada yang masih sakit ada juga yang sudah sehat.


Sanbao melihat anjing dan kucing yang diselamatkan mereka di belakang rumahnya, dia dengan antusias membelai kotak kaca itu.


dokter mengeluarkan mereka dari kotak, keadaan mereka bersih dan sehat, bulu kucing itu lebat, warnanya campuran abu dan putih, ekornya panjang, hidung pesek, mukanya tak ramah, tapi sangat imut, ketiga anak itu langsung jatuh cinta padanya.


"Aku akan memberimu nama Mottie." ujarnya bahagia, matanya dipenuhi pijar membuat orang tanpa sadar ingin membelai kepalanya yang memiliki jepit rambut putri.


Kedua saudaranya cuma tersenyum memanjakan, bagi mereka selama adiknya senang mereka juga akan senang.


Anjing itu berbeda dari kucing, dia tidak imut, dia garang, bulunya campuran hitam dan tan, dia tenang dan keliahatannya tidak agresif, tipikal anjing penjaga rumah yang cerdas, dokter tua berkata anjing ini sejenis anjing Herder German, namun masih kecil. Jika di latih mereka akan menjadi anjing penjaga yang bisa diandalkan.


Yibao dan Dabao langsung jatuh cinta pada anjing itu. Namun untuk nama mereka menyerahkannya dengan bijaksana pada saudara mereka yang cantik.


"Baik, aku akan memberi mereka nama Gerry." ujarnya bahagia.


Yan Hao dan Xin Ji memandang ketiga anaknya dengan tak berdaya saat mereka mendiskusikan nama hewan-hewan itu.


"Selama kalian bahagia." ujar mereka.


Tanpa mereka sadari, seseorang dengan menggunakan topeng dan sarung tangan hitam diam-diam masuk dan melepaskan kunci kandang yang berisi ular belang kuning dan hitam, ular dengan panjang 6 meter itu secara perlahan keluar dari kandang, merayap perlahan dengan menjulurkan lidahnya yang bercabang.


Mottie yang merasakan bahaya mendekat langsung beraksi, bulu-bulunya berdiri tegak, dia juga ikut melenturkan badannya seolah akan bertarung sewaktu-waktu.


"Mottie, ada apa? Sanbao membelai bulu mottie yang berdiri, perasaannya jadi aneh, insting melindungi diri yang secara alami ada dalam tubuhnya langsung bereaksi.


Tanpa sadar dia berbalik dan menendang ular yang hendak menancapkan taringnya ke kaki mungilnya yang cantik dengan kuat, ular itu terpental jauh dan menabrak dinding.


Xin Ji, Yan Hao dan kedua saudara yang lain kaget, mereka terpana melihat ular yang melayang dihadapan mereka dan menghantam dinding.

__ADS_1


Lanjut besok....@@


__ADS_2