SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 39. Kebahagiaan


__ADS_3

Setahun kemudian.


Tiga bocah berusia kurang lebih empat tahun berlari dengan gembira di atas pasir putih di tepi pantai yang berlatar aurora yang indah.


Tawa mereka yang ceria bahkan bisa menulari sepasang insan yang duduk bersisian melihat mereka berlarian di tepi pantai.


Dalam setahun, banyak yang terjadi. Setelah kejadian penculikan itu, ketiga bocah kembar itu bukan saja harus menjalani perawatan intensif, namun mereka juga mengalami trauma yang cukup parah.


Mereka tidak bisa mendengar suara keras, mereka akan mulai mengamuk dan berteriak histeris jika ada suara yang membuat mereka tidak nyaman. Mereka bahkan ketakutan jika bertemu orang asing, hanya berada di dekat kedua orang tuanya mereka bisa merasa nyaman.


Sanbao bahkan harus menjalani serangkaian perawatan karena paru-parunya mengalami infeksi yang parah, dia juga mengalami gejala yang sama dengan kedua saudaranya.


Untuk menyembuhkan penyakit ketiga anaknya, Xin Ji membawa mereka ke New York untuk menjalani perawatan paska trauma dan mengobati penyakit Sanbao, dengan Jiang Shan sebagai dokter utama. Butuh waktu lumayan lama hingga mereka bisa mulai normal kembali


Karena ketergantungan ketiga anaknya dengannya, bahkan melebihi ketergantungan mereka pada ibunya, Gu Xin Ji menjalankan perusahaannya dari jarak jauh.


Afasia yang diderita Yan Hao perlahan mulai sembuh, dengan telaten Xin Ji merawat ketiga anak dan istrinya hingga mereka perlahan-lahan mulai membaik.


Xin Ji memandang Yan Hao dari samping, melihat senyumnya yang lebar dan wajahnya yang kecil dan cantik, membuat dia ingin mengurungnya dalam pelukannya. Xin Ji menarik pinggang Yan Hao mendekat ke arahnya, Yan Hao yang kaget melihatnya dengan tatapan penuh tanya. Kepala Xin Ji mendekat, Yan Hao memejamkan mata, pipinya memerah hingga ke telinga.


Xin Ji terkekeh pelan, dia kemudian menempel bibirnya ke kening Yan Hao dengan sayang. Pipi Yan Hao semakin merah seperti akan mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Kenapa pipimu memerah?" Xin Ji bertanya lembut di telinganya, lidahnya bahkan tak tinggal diam, dia menelusuri bentuk telinga Yan Hao hingga Yan Hao kegelian dan swgera menjauh. tangan Xinji dengan kuat menahan kepalanya.


"Apakah kau mengharapkan kegiatan yang lain?" Lanjut Xinji dengan suara serak.


Dengan malu Yan Hao mendorong Xinji, dia kemudian berdiri dan berlari ke arah anak-anaknya. Xinji cuma tertawa, dia akhirnya berdiri dan mengejar Yan hao, segera dia menangkap Yan Hao, mengangkat dan memutarnya hingga Yan Hao tertawa terbahak-bahak, anak-anaknya yang melihatnya pun ikut tertawa.


Setelah puas bermain, Xin Ji tiba-tiba berlutut di hadapan Yan Hao, dia mengeluarkan sebuah cincin dengan berlian merah muda yang sangat indah di tangannya.


"Hao"er, Jadilah istriku selamanya."


Dihadapkan pada suasana romantis, Yan Hao hanya bksa tersipu.


"Mommy, terimalah ayah," Sanbao berkata dengan gembira, badannya yang gendut dan bulat melompat-lompat kegirangan.


"Ayah, pasang cincin di jari mommy!" Dabao menyarankan sang ayah yang masih berlutut.


Yan Hao sangat malu, dia tidak menyangka akan mendapat kejutan dari lelakinya, tentu saja dia akan menerima lamaran lelaki ini, terlalu lama kesalahpahaman terjadi diantara mereja.


"Baiklah," jawabnya lembut


Xin Ji mengambil tangan Yan Hao memasangkan cincin dan akhirnya, dia mencium lembut bibir istrinya.

__ADS_1


Melihat sang ayah mencium ibu mereka ketiga bocah itu menutup mata kemudian berlari kembali ke arah laut sambil tertawa.


Yan Hao dan Gu Xin Ji menikah di sebuah gereja kecil di sebuah pedesaan yang indah, dengan ketiga anaknya sebagai penabur bunga. Pernikahan mereka hanya dihadiri segelintir orang yang dekat dengan mereka, termasuk kakek Gu yang baru saja sembuh dari sakit. Seorang pendeta tua menuntun mereka untuk mengucapkan janji suci sehidup semati di hadapan Tuhan.


Selama ini, sang kakek memang sakit di pulau pribadinya, dia tidak mengijinkan seorang pun mengatakan tentang penyakitnya kepada cucu mantunya dan cicit-cicit kesayangannya, kondisi si kembar yang sempat di culik pun ditutup rapat dari pendengaran sang kakek. Hingga mereka menetap di New York dan keadaan si kembar tiga membaik, barulah sang kakek di beritahu.


Kakek Gu sangat marah, namun melihat ketiga cicitnya sehat dan cucu mantunya mau memaafkan cucunya yang bodoh, kakek Gu akhirnya berkompromi. Dia tidak akan mengungkit kejadian itu dengan syarat mereka harus menikah kembali dan bukan cuma sekedar mendaftarkan pernikahan keduanya saja.


Air mata Yan Hao tak henti mengalir, tatkala pendeta menyuruh mereka masing-masing mengikrarkan janji menerima kekurangan pasangan saat sehat atau sakit, senang atau pun susah, hingga maut memisahkan. Tak pernah terbayang di benaknya bahwa dia akan kembali menikah dengan pria yang telah membuatnya menderita tapi telah memberinya tiga orang anak yang sangat tampan dan baik.


Kebahagiaan itu akhirnya datang, semua orang bahagia, mereka merayakan pernikahan Xinji dan Yan Hao di vila mereka yang tak jauh dari pusat kota New York. Semuanya duduk bersama, makan dan minum bahkan sampai mabuk, terkecuali sang pengantin yang tentu saja sudah melarikan diri ke kamar pengantinnya.


Si kembar yang mengerti bahwa orang tuanya sedang membuat adik untuk mereka, menghabiskan malam bersama sang kakek. Bibi wang dan Butler Li juga di terbangkan dari Guangzhou ke New York, guna menjaga anak-anak itu.


Bibi Wang tak bisa berhenti tersenyum, dia tak pernah menyangka, akan datang hari dimana dia akan menggendong anak dari Tuan mudanya bersama nyonya yang sudah dia anggap anak. Hidupnya terasa lengkap, hingga mulutnya tak bisa menutup.


Lin Chao dan Gong Yu yang awalnya mengira Gu Xin Ji telah mati terkena ledakan bom, akhirnya bisa bernafas lega. Saat itu semuanya kacau, tidak ada yang bisa berpikir jernih, anak buah mereka dengan paksa mengirim mereka pulang kembali ke darat karena keadaan mereka yang tragis, mereka berdua terpapar pecahan ledakan susulan dari kapal yang meledak sehingga harus di rawat di rumah sakit. Pada saat itulah mereka menerima kabar penyelamatan heroik antara tuan mudanya dengan Jiang Shan, ketiga bocah kembar itu berhasil di selamatkan sang ayah walaupun akhirnya mereka mengalami trauma yang serius. Mereka lega sekaligus sedih karena tidak ikut merasakan aksi penyelamatan majikan muda mereka.


Di kamar pengantin, Xinji sudah menggendong sang istri masuk ke dalam Jacuzzi yang berisi mawar mewah, gelembung sabun dengan aroma teraphy menutupi tubuh Yan Hao yang polos hingga ke batas lehernya, Xinji menyusul. Dia menarik tubuh sang istri hingga bersandar di dadanya. Kemudian dia menciumnya hingga Yan Hao kehabisan napas dan menjadi linglung. Mereka memulai petualangannya hingga air berjatuhan dari kolam jacuzzi dan suara-suara ambigu membuat telinga orang yang mendengar menjadi merah.


Di sisi lain. pada salah satu gedung pencakar langit, nampak seseorang dengan teropong sedang mengawasi vila kediaman Gu Xin Ji. Sudah sejak lama dia mengikuti aktivitas Gu Xin Ji dan keluarganya. Dia mempelajari pola hidup Xin Ji, si kembar dan Yan Hao mulai dari pagi hingga malam hari. setelah itu dia membuat catatan-catatan kecil pada buku saku yang selalu dia bawa. Ada senyum puas terukir di bibirnya.

__ADS_1


"Xin Ji... aku datang." Ujarnya.


__ADS_2