SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 55. Mata Ini...?


__ADS_3

"Kakak, Apakah kalian ingin membeli roti?"


Gadis kecil cantik itu bertanya dengan malu-malu, dia menunjuk keranjang roti yang dengan susah payah dibawahnya.


"Apakah kamu berjualan roti?" Dabao menunduk memandang gadis kecil dihadapannya. Tatapannya melembut, entah mengapa sebersit rasa sakit hati menyelip dalam hati melihat gadis kecil ini membawa sekeranjang roti yang bahkan lebih berat dari tubuhnya.


Sanbao duduk, menarik gadis kecil itu kehadapannya.


Mata ini... ?


Mata ini sangat familier, dia seperti melihat mata ibunya pada mata gadis kecil ini.


Sanbao, Yibao dan Dabao adalah kembar identik, wajah mereka bertiga adalah cerminan dari wajah Gu Xin Ji, ayah mereka. Tak ada yang mengambil raut wajah ibu mereka.


Mereka terkadang kesal dengan ayah mereka. Mengapa mereka memiliki ayah yang terlalu mendominasi bahkan wajah mereka mirip dengannya, dan itu membuat mereka kesal.


Mereka sangat mencintai ibu mereka, mereka ingin wajah mereka seperti ibu, ibu mereka sangat cantik, siapa pun yang melihat ibu pasti akan jatuh cinta, tapi yang terjadi, wajah mereka mirip ayah, menyebalkan.


Sekarang, ada seorang gadis kecil yang amat cantik, dan matanya.... mata ini...?


Sanbao memandang ketiga saudaranya dengan mata terbelalak lebar.


Ketiganya juga melihat gadis kecil ini, mereka paham arti pandangan San"er.


"Berapa harga rotinya, adik kecil?" Yibao bertanya lembut.


1 dolar kak, tapi kalau kakak ambil 3 harganya cuma 2 dolar. Anak itu semangat menjelaskan.


"Siapa namamu, dik?"


"Yasmin, kak"


"Namamu indah, seindah wajahmu." Sanbao menimpali.


"Kakak beli semua rotimu?"


Dabao memberi uang 100 dolar untuk Yasmin. Yasmin melongo liat uang sebanyak itu.


"Yasmin nggak punya kembalian, kakak." Yasmin berkata lemah, dia takut ketiga kakak ini tidak akan jadi membeli rotinya jika tidak ada kembalian, Yasmin hampir menangis.


"Nggak papa, ambil aja untukmu kembaliannya." Sanbao meletakkan uang itu dalan genggaman kecil Yasmin.

__ADS_1


Sanbao tertegun merasakan telapak tangan Yasmin.


Tangan kecilnya seharusnya lembut dan lmut, namun telapak tangan Yasmin, kasar dan kapalan, sepertinya anak sekecil itu bekerja sangat keras. Sanbao merasa sedih.


"Adik, dimana kamu tinggal?" Yibao bertanya santai.


"Yasmin tinggal di panti asuhan St Maria, kakak."


Ketiga bocah yang beranjak dewasa itu langsung terdiam.


Emosi mereka tergerak, mereka merasa Yasmin tidak cocok tinggal di panti, Yasmin seharusnya berada di rumah yang hangat dan dilimpahi kasih sayang kedua orang tua dan saudara, Bukan di panti.


"Apakah kamu ingin kakak antar pulang?" Sanbao bertanya, seaungguhnya dia sangat ingin melihat panti asuhan St. Maria. Apakah panti asuhannya layak, atau apakah pantu asuhan itu. memperlakukan Yasmin dengan baik.


Emosi yang ada di hati mereka bertiga sangat rumit.lMereka sendiri tidak mengerti mengapa mereka merasakan emosi seperti itu.


"Yasmin...!" Seorang gadis remaja berusia 8 atau 9 tahun berlari menghampiri Yasmin.


Dia sudah melihat Yasmin dikerubungi oleh 3 bocah dengan penampilan luar biasa, dia takut Yasmin akan diganggu oleh mereka, jadi begitu jualannya habis, dia bergegas menghampiri Yasmin.


"Kakak..!" Yasmin memanggil kakaknya dengan semangat.


"Ini kakak saya, kak April." yasmin memeprkenalkan kakaknya dengan antusias.


Sanbao dan kedua saudaranya tersedak liur mereka.


Mereka tidak menyangka kalau uang hasil penjualan roti untuk membeli obat ketua panti yang sakit.


"Apakah ketua panti kalian sakit?" Sanbao bertanya prihatin.


April ingin menjawab tapi ada rasa malu di hatinya melihat ketiga remaja di depannya yang sangat tampan dan sepertinya dari kalangan bangsawan.


"Apakah kalian akan kembali? bisakah kami mengantar?" Sanbao kembali bertanya, ada rasa tidak rela di hatinya membiarkan gadis kecil ini pergi begitu saja, dia takut dia tidak akan bisa menemuinya.


April melihat mereka bertiga kemudian melihat Yasmin yang kurus dan kecil.


April sebenarnya sangat kasihan pada yasmin, dia begitu kecil namun sudah bersikap seperti orang dewasa, tangannya bahkan kasar tidak seperti tangan anak bayi seusianya.


Yasmin memandang April dengan mata penuh harap. April tidak tega menolak saat melihat mata itu.


"Baiklah, kalau kalian ingin mengantar."

__ADS_1


Mendengar itu, Sanbao segera menghubungi Pamn Lin.


"Paman, siapkan mobil, kami ingin jalan-jalan." sanbao berkata dengan tenang.


Beberapa menit kemudian, empat anak setengah remaja dan seorang bayi dibawah lima tahun telah berada di mobil Lincoln panjang dan mewah.


Sepanjang jalan menuju panti, yasmin sangat bahagia, dia berceloteh panjang lebar dengan kakak-kakak yang baru dikenalnya, April diam mendengar celotehan Yasmin, sejujurnya dia baru pernah melihat Yasmin seperti ini.


Anak ini biasanya sangat pendiam, bahkan cenderung takut dengan orang asing, selama ini dia sangat ingin di adopsi, namun setiap kali ada keluarga yang datang ingin mengadopsi anak, dia selalu kalah dengan yang lain, karena dia tidak pernah bicara, dia hanya diam melihat keluarga yang ingin mengadopsinya.


Lama-lama mereka mengira dia bisu dan akhirnya mereka membatalkan rencana adopsi itu dan bahkan mengganti ke anak yang lain.


Yasmin akan duduk dikamar sambil memeluk boneka kecil yang sudah menemaninya sejak dia bayi, dia duduk sendiri dan menangis dalam diam.


Sekarang Yasmin seperti hidup. dia begitu riang dan bahkan tertawa sepanjang jalan, kelihatan sekali dia sangat bahagia, dan memang hari ini dia patut merasa bahagia, karena:


Dia bisa membeli obat untuk kepala panti,


Naik mobil mewah untuk pertama kalinya


kakak-kakak ini sangat tampan dan kelihatannya sangat menyukainya.


April tersenyum melihat senyum merekah Yasmin.


Saat mobil melewati restoran, Sanbao meminta supir untuk berhenti.


Sanbao dan kedua saudaranya membawa Yasmin dan April masuk ke restoran untuk makan.


Yasmin tentu saja sangat antusias, dia belum pernah makan di restoran sebelumnya, dia sering kali melihat orang makan dari luar, dia sering berdiri berlama-lama di depan kaca besar itu untuk hanya melihat mereka makan.


Yasmin yang polos selalu berdoa agar suatu hari nanti dia bisa makan di Restoran seperti mereka. Doanya begitu sederhana.


Yasmin tidak pernah menyangka kalau doanya segera terkabul begitu dia bertemu dengan kakak-kakak tampan ini.


Matanya berbinar melihat menu makanan di daftar menu.


"Yasmin mau makan yang mana?" Sanbao bertanya lembut, disampingnya Dabao sedang mengelus rambut yasmin yang halus, sedangkan Yibao menunjukkan menu-menu yang menurutnya enak dan pasti di sukai Yasmin.


Di samping April memandang mereka dengan heran. Dia memandang mereka bergantian dengan Yasmin.


'Mengapa wajah mereka terlihat mirip?" April berpikir dalam hati

__ADS_1


Lanjut Besok....@@@


__ADS_2