Suamiku Arogant

Suamiku Arogant
Sandra dan Renita


__ADS_3

''Tapi Sandra adalah sahabat baikku, jika aku pergi maka sahabat baikku juga harus pergi,'' ucap Renita yang bersikeras ingin tetap di ruang perawatan VVIP.


"Maaf tuan besar, Nyonya besar dan tuan muda karena telah mengganggu istirahat Nyonya besar," ucap Sandra tidak enak hati dengan bosnya.


"Ayo kita pulang," ajak Sandra sambil menarik tangan sahabatnya yang membuat dirinya merasa malu sekali.


("Lain kali aku malas ngajak Renita, bikin aku malu sama bos ku," ucap Sandra dalam hati).


("*Si*l kenapa Sandra pakai ngajak ku pulang? kalau bertahan di sini kan aku bisa melihat ke tiga pria tampan," ucap Renita dalam hati*).


Sandra menundukkan kepalanya sebagai tanda permohonan maaf dan pamit pulang kemudian menarik tangan Renita untuk keluar dari ruang perawatan membuat daddy Richard menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Dasar perempuan yang tidak punya rasa malu," desis daddy Richard.


"Sudahlah dad, jangan sering - sering marah nanti tampan nya berkurang," goda mommy Rebecca.


"Mommy itu selalu bikin Daddy marahnya jadi berkurang," ucap Daddy Richard.


"Mommy dan daddy jangan romantis di depan Richardo dong," pinta Richardo.


"Kalau tidak mau lihat keluar sana, hush ... Hush ... Hush ...." usir Daddy Richard.


"Aish, Daddy memangnya Richardo anak ayam," ucap Richardo dengan wajah di tekuk sambil berjalan ke arah pintu ruang perawatan.


"Daddy, senang banget godain Richardo," ucap mommy Rebecca sambil menggelengkan kepalanya.


"Richardo mau kemana?" tanya mommy Rebecca.


"Mau nyari angin, Mom," jawab Richardo sambil membuka pintu.


"Awas masuk angin," goda Daddy Richard.

__ADS_1


"Kalau masuk aku kirim ke Daddy," jawab Richardo sambil keluar dari ruang perawatan.


"Itu anak," ucap Daddy Richard sambil ikut menggelengkan kepalanya.


"Lagian daddy senang banget godain putra kita," ucap mommy Rebecca.


"Hehehehe... Daddy merasa Richardo masih kecil karena itulah Daddy selalu menggodanya," Jawab Daddy Richard.


Mommy Rebecca hanya tersenyum begitu pula dengan Daddy Richard yang selalu menganggap Richardo masih kecil.


Di tempat yang berbeda Richardo berjalan ke arah taman depan dan tidak sengaja melihat Sandra dan Renita yang sedang bertengkar dan entah kenapa Richardo ingin mendengar percakapan mereka.


"Kenapa sih kamu menarik tanganku keluar dari ruang perawatan?" omel Renita.


"Renita, aku kan sudah bilang barusan mereka adalah keluarga bos ku dan aku tidak enak akan sikapmu yang memalukan," ucap Sandra dengan nada setengah oktaf karena dirinya kesal dengan sikap Renita.


"Aku memalukan? Justru kamu yang memalukan!!" teriak Renita.


"Apa kamu tidak melihat kalau tuan besar itu sudah mempunyai istri? Apa kamu siap di sebut pelakor?" tanya Sandra yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.


"Aku tidak perduli apa kata orang yang penting aku hidup enak. Jadi orang jangan munafik deh sebenarnya kamu juga inginkan menjadikan salah satu dari mereka menjadi kekasihmu?" sindir Renita.


"Aku bukan kamu yang gila akan kekayaan lebih baik aku sendiri daripada menyakiti perasaan perempuan karena aku juga seorang perempuan yang mempunyai hati nurani," ucap Sandra.


"Cihhhhh aku tidak percaya," ucap Renita sambil menatap Sandra dengan sinis.


Sandra menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil berjalan meninggalkan Renita yang masih mengomel.


"Aku belum selesai bicara!!" teriak Renita.


"Renita, apa kamu tidak berpikir dengan cara kamu berteriak itu saja membuatku malu," ucap Sandra sambil melanjutkan langkahnya yang tadi sempat berhenti.

__ADS_1


"Lebih baik kita putus persahabatan, rugi aku berteman denganmu," ucap Renita.


"Baguslah kalau kamu merasa rugi," jawab Sandra.


"Ingat persahabatan kita putus," ucap Renita.


"Terserah," ucap Sandra.


"Ok, persahabatan kita putus," ucap Renita.


"Aku sangat membencimu!!! Kamu memang sahabat tidak ada guna ..." ucapan Renita terpotong oleh dua orang sekuriti.


"Maaf nona di sini rumah sakit bukan pasar, kalau nona ingin berteriak silahkan teriak di gunung atau di hutan," ucap salah satu sekuriti.


"Memangnya ini rumah sakit kalian hah!!!" teriak Renita.


Dua sekuriti saling menatap kemudian menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


"Lepas!!!" teriak Renita ketika dua sekuriti tersebut menarik Renita.


bruk


"Mulai sekarang nona tidak diijinkan datang ke rumah sakit," ucap salah satu sekuriti sambil mendorong tubuh Renita begitu pula dengan temannya membuat Renita terjatuh di lantai.


"Kalian ...." ucapan Renita terpotong oleh sekuriti yang ke dua.


"Sekali lagi berteriak kami tidak segan - segan lapor polisi karena telah membuat keributan di rumah sakit," ancam sekuriti ke dua.


"Awas kalian," ucap Renita sambil berdiri dan berjalan meninggalkan rumah sakit sambil menahan amarahnya terhadap Sandra dan ke dua sekuriti.


"Awas kamu Sandra dan dua sekuriti aku akan membuat perhitungan dengan kalian," ucap Renita menahan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2