Suamiku Arogant

Suamiku Arogant
Novel Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-Bar


__ADS_3


Saat ini di sebuah rumah sederhana seorang gadis dengan potongan ala mullet sedang memikirkan cara untuk mengadukan perbuatan om-nya kepada kakek tercinta. Namun, gadis itu tak ingin jantung kakeknya kambuh setelah mendengar kabar buruk ini.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak tega melihat raut wajah kakek. Bujang sialan itu benar-benar menyusahkan!


"Ada apa cucuku?" Gunawan bersuara setelah pria senja itu melihat raut wajah sang cucu dengan tatapan sulit diartikan. "Kamu melamunkan apa, Nak?"


"Kakek membuatku terkejut." Berpura-pura kaget untuk menutup kegundahan hati bayi mungilnya si bujang lapuk, sambil berbohong dengan mengatakan bahwa gadis itu tidak sabar berkunjung ke makam. "Tidak ada yang sedang kulamunkan, hanya saja cucumu sudah tidak sabar mengunjungi mereka."


"Tidak menunggu om-mu dulu?" Sejak berdebat dengannya semalam sang putra bungsu, tak menampakkan diri dan hal tersebut membuat pria senja terganggu.


"Tak perlu menunggunya karena cucumu harus kembali ke rumah," ucap Araela sembari berbohong kembali karena gadis tersebut akan menemui seseorang.


"Baiklah kita berangkat!"


Sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh kakeknya gadis itu mati-matian menahan amarah, di ubun-ubun karena perbuatan dilakukan oleh sang bujak lapuk tak pernah mendapat maaf sedikit pun darinya.


Ketika dirinya akan menutup mobil dari arah lain terdengar suara bariton panggil yang memanggilnya.


"Why, Baby? Kenapa tidak menungguku dulu?" Morgan begitu bingung dengan tingkah laku yang dilakukan oleh bayi mungil-nya.


"Aku akan berangkat bersama kakek saja ... kau bisa naik kendaraan lain."


Terdengar dentuman keras yang berasal dari suara pintu mobil dibanting dan membuat, sang kakek terkejut dengan tingkah laku yang dilakukan olehnya.


Apa yang terjadi dengan mereka? Mengapa perang dingin sejak semalam semakin menjadi? Aku harus mencari sesuatu yang membuat mereka berhenti perang dingin ini.


"Maaf."


Sudut bibir Gunawan berkedut ketika dirinya mendengar kata maaf yang diucapkan oleh sang cucu. "Maaf untuk apa, Nak?"


"Pintu mobilmu pasti rusak karena aku membantingnya."


"Tidak apa-apa ... kakekmu tak pernah mempermasalahkannya."


*


*


*


Morgan yang tertinggal jauh mengusap kasar wajah tampannya karena dia merasa ada yang berbeda dengan tingkah laku dari bayi mungil-nya.


Ada apa denganmu Baby? Tingkah lakumu membuat pikiranku terganggu. Arrghh ... sialan!


Tanpa membuang waktu lagi Morgan bergegas menyusul kedua orang itu, sambil meminta penjelasan atas sikap yang dilakukan oleh bayi mungil-nya.


Sementara itu, mobil yang dikemudikan oleh Prasetya telah sampai di sebuah pemakaman tak lupa di tangan pria baya itu, menggenggam sebuah bunga yang dipersembahkan untuk seseorang yang menjadi penyesalan terdalam pria itu.


Maafkan aku! Karena luka yang kutorehkan telah kamu bawa pergi bersama cintamu dan aku menyadari separuh hatiku terbawa oleh jasadmu di sini.


Sambil menaruh bunga yang dipersembahkan untuk mendiang istri pertamanya. Air mata pria baya itu semakin mengalir sendiri dan tidak ada seorang pun mengetahui tangis diamnya.


Menumpahkan semua kekhilafan yang pernah dilakukannya sambil menggumamkan kata cinta untuk mendiang sang istri yang statusnya sebagai putri mahkota dari kerajaan di negara lain.


Bahkan Prasetya sama sekali tak mengetahui darah biru yang mengalir di tubuh putri kandungnya, sedangkan dia tak menyadari dari arah belakang terdapat seseorang yang menatap sendu ke arahnya.


Araela yang baru sampai di sebuah makam terkejut melihat keberadaan seseorang yang selama dirindukan oleh gadis itu.


Bersamaan itu, di sebelahnya berdiri sang bujang lapuk yang sama terkejutnya dengan kedatangan kakak tak lain papa kandung bayi mungil-nya.


Ada apa dia datang menemuinya? Bukankah dia tak pernah sedikit pun menganggapnya ada? Jangan bilang dia mulai menyesali semua perbuatannya. Namun, itu tidak akan membuatku peduli karena penyesalanmu sudah terlambat kau sadari, dan dia sekarang tak akan pernah ada di sini kembali. Sebab, dia benar-benar berhasil membuatmu menyesal sedalam-dalamnya.


Baik Araela dan juga bujang lapuk serta tak lupa sang ayah menghampiri Prasetya yang masih membetah bersimpuh, di depan batu nisan bahkan ketiga orang itu terkejut mendengar penuturan yang diucapkan oleh pria baya itu.


"Rasa penyesalanmu tidak akan membuatnya kembali ... simpanlah rasa sesalmu untuk dirimu sendiri, Kak." Morgan berceletuk keras sehingga membuat sang kakak terkejut mendengarnya.


Akan tetapi, pandangan mata bujang lapuk itu meredup ketika dirinya mendapati, sorot mata dingin yang berasal dari bayi mungil-nya dan membuat pria itu takut.


"Kenapa ada di sini? Bukankah di mansion ada mereka menunggumu?" Setelah memberi tatapan maut untuk si bujang lapuk. Gadis itu beralih ke arah sang papa dengan nada tak kalah dingin.


"A ... ku hanya ingin berkunjung di sini ... apa tidak boleh?" Sama dengan sang adik Prasetya begitu takut melihat sorot mata mematikan dari putrinya ini.

__ADS_1


"Hei, istri dan anakmu ada di sana ... bukan yang ada di sini."


"Ta ... pi kamu dan mamamu sama seperti mereka."


"Mereka itu tidak ada hubungannya denganku. Jadi, jangan pernah membandingkan kami. Paham!"


"Maaf." Satu kata yang diucapkan oleh Prasetya membuat sang putri tak dianggapnya begitu murka.


Sebab, gadis tersebut enggan menerima kata maaf yang diucapkan oleh pria di depannya ini. "Maafmu tidak pernah bisa mengobati luka yang kau torehkan ... jangan pernah mengucapkan kata itu di depanku!"


Prasetya tersenyum kecut mendengar penolakan yang berasal dari putrinya ini dan pria baya itu, tak mengerti harus bagaimana lagi untuk mendapat maaf dari gadis tersebut.


"Aku harus apa dan bagaimana supaya kamu mau memaafkanku?" tanya pria baya itu dengan raut wajah frustrasi.


"Pergilah dari kehidupanku! Jangan pernah menampakkan diri di depan atau kau akan melihatku pergi jauh!" Tanpa sadar ucapannya mengandung makna lain dan, siapa yang menduga sang raja selalu siap menerima cucu kesayangannya ini.


Tak ingin putrinya marah dengan kedatangannya. Prasetya pun melangkahkan kaki meninggalkan makam, sambil menggumamkan kata maaf untuk mendiang istrinya dan membuat sang adik meradang karena cemburu.


Cinta bujang lapuk itu benar-benar bertepuk sebelah tangan karena sang kakak yang mendapatkan hati mendiang putri mahkota.


Kali ini kau menang kakak ipar dan lihatlah dia pertama kali datang mengunjungimu setelah sekian lama. Hatiku kembali kau patahkan karena cintamu telah bersemai di dalam diri kakakku.


Setelah tak melihat keberadaan Prasetya ketiga orang yang baru tiba itu mulai mencurahkan segala isi hati masing-masing dengan Gunawan memisah diri untuk mengunjungi makam wanita-nya.


Aku datang sayang. Lihat bukan kedua putramu benar-benar memperebutkan hati seorang putri mahkota. Aku harus berkata apa kepada raja itu sayang? Bahkan cucu kita sedang memulai perang dingin karena bujang lapuk itu terlalu posesif dengannya. Apa yang harus kulakukan? Selamat juga untuk kabar baik perjodohan yang sejak lama kita rencanakan telah diterima oleh cucu kita dan tenang saja nanti aku akan menjelaskan semua itu pada dirinya.


Hembusan angin menerpa kulit keriput tak membuat pria senja berhenti mencurahkan segala isi hati di depan batu nisan belahan jiwa-nya.


Mengingat semua kenangan tak akan pernah dilupakan oleh pria senja itu karena di titik ini dia ingin berjumpa bersama wanita-nya. Namun, masih ada sebuah janji dengan kedua sahabatnya.


Setelah berpuas-puas di depan makam wanita-nya. Pria senja itu meminta sang mata-mata untuk membawanya kembali ke makam menantu kesayangannya.


Masih ada sang bujang lapuk bersama cucunya yang tak berhenti menangis di depan makam putri mahkota.


Tak lama kemudian dia melihat sang cucu berdiri dan bersiap-siap meninggalkan makam dengan sang bujang lapuk terus mengekor di belakang. Namun, dia masih melihat perang dingin diantara cucunya dengan si bujang lapuk.


Begitu sampai di parkiran mobil pria senja itu berdehem keras untuk meredakan peperangan di dalam diri keduanya, yang membuat sang cucu pandai bersilat lidah karena gadis itu ingin membicarakan sesuatu dengan om-nya itu.


"Yakin kalian berdua tidak ada masalah?" Gunawan memastikan.


"Baik-baik, Kakek tidak akan mengganggu dan jangan lupa setelah urusan kalian selesai segera pulang ... bukankah kamu juga akan kembali ke rumah?" sahut Gunawan seraya balik bertanya.


"Terima kasih." Setelah memberi kecupan hangat di kedua pipi keriput itu.


Gadis itu menarik kasih tangan kekar yang sedari tadi ingin dilampiaskan oleh sebuah amarahnya di ubun-ubun.


Setelah sampai ke tempat sepi yang tak ada seorang pun mendengar obrolan mereka gadis itu benar-benar melampiaskan amarahnya dengan memberi tamparan keras yang diberikan kepada om-nya.


Membuat bujang lapuk itu terkejut ketika dirinya mendapati sebuah tamparan mendarat di kedua pipinya. "Ba ... by, mengapa kamu menamparku?"


"Kau telah membuat kesalahan besar yang tak akan pernah kumaafkan."


"Lalu ada di mana letak kesalahan Om-mu ini, Baby?" tanya bujang lapuk itu seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Bertanyalah sendiri pada hatimu dan aku benar-benar kecewa denganmu." Gadis itu enggan memberitahukan alasan dia menampar om-nya sendiri. Hal itu dilakukan agar sang bujang lapuk menyadari kesalahannya.


"Apa itu karena Om yang tidak rela dengan perjodohanmu?" Morgan memastikan.


Gelengan kepala menandakan bukan itu penyebab, tapi apa yang membuat bayi mungil-nya begitu marah.


Apakah dia? Itu tak mungkin ... bahkan aku sendiri tak mengenali gadis yang ku' renggut. Lalu bagaimana dia bisa mengetahuinya?


"Maaf aku khilaf, Baby." Menyesal itulah yang terucap dari bibir bujang lapuk itu.


"Mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah mencampuri urusan pribadiku sebelum kau menemukan kesalahanmu dan membawanya ke hadapanku! Kau tak akan mendapat maaf sebelum permintaanku dikabulkan dan itu berawal dari kesalahanmu."


Selesai mengatakan itu, Araela melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu dengan meninggalkan Morgan yang sedang melampiaskan amarahnya memukul dada.


Sebab, pertama kali bagi sang bujang lapuk melihat kekecawaan dari sorot mata bayi mungil-nya karena dia terpengaruh oleh sebuah tempat yang dibenci oleh sang bayi mungil.


Setelah itu, tatapan sang bujang lapuk menjadi dingin dengan gerakan cepat dirinya mengambil ponsel untuk menghubungi mata-mata dan meminta melakukan sesuatu untuk dirinya.


"Kau dan rekanmu sudah meletakkan barangku di sana?" Nada dingin dari Morgan, membuat arah seberang ponsel merinding.

__ADS_1


"Semua sudah kami letakkan sesuai intruksi dari Anda, tuan muda."


"Lalu hasil darahnya bagaimana?"


"Untuk hasil darah itu seratus persen berasal dari gadis baik-baik, tuan muda."


"Kalau begitu kau minta bantuan rekanmu untuk mendapatkan rekaman, yang terhapus dan aku akan membayar mahal untuk kerja kerasmu ini. Bisakah kau melakukannya?"


"Ta ....


"Jangan membantah apa pun itu ... kau harus bisa mendapatkan rekaman itu!"


Morgan mematikan panggilan dengan raut wajah dinginnya tanpa memedulikan rasa kebas di kedua pipi sang bujang lapuk, memutuskan kembali ke rumah untuk menyimpan sebuah benda yang ternyata membuat bayi mungil-nya marah.


Aku pasti akan menemukan keberadaanmu dan membayar mahal atas tamparan yang kudapatkan dari bayi mungilku ... wahai kau gadis yang ku' renggut aku tak akan berhenti mencari keberadaanmu.


*


*


*


Sementara itu, di sebuah apartemen dengan Citra terbangun siang hari dikejutkan oleh suara bel yang berasa dari arah luar.


Selesai mencuci wajah tanpa memedulikan penampilannya dia mengarahkan langkahnya ke depan dan terkejut melihat kedatangan seseorang di apartemen tersebut.


"Kau, Alexa?" tanya Citra.


"Maaf dia bukan Alexa," sahut seorang pria berparas tampan dan gadis sebelah tak kalah jauh tampan darinya.


"Lalu?"


"Kami datang kemari atas perintah Kak Ivone dan juga Alexa ... apa kau sahabat yang diceritakan oleh dia?"


"Aku, Citra dan kalian siapa?"


"Albert dan ini kekasihku Araxi ... maaf sikap dinginnya."


Setelah mengetahui nama tamunya, Citra mempersilakan sang tamu masuk ke dalam apartemen.


"Mau minum apa?"


"Tak perlu aku langsung saja tujuanku ke sini!" Araxi yang sedari tadi bungkam, mengutarakan tujuannya datang ke apartemen tersebut.


Dia benar-benar gadis yang dingin sama dinginnya seseorang yang baru kukenal. Apa kabar dia? Maafkan aku yang harus menghilang Ra.


Seringai tipis tersungging di wajah paras tampan gadis itu ketika mendengar sesuatu yang membuatnya berdiam sejenak sebelum melakukan permintaan dari kakak angkatnya.


"Jangan terlalu dingin dong, Yank ... biarkan aku saja yang merasakan hawa dinginmu." Albert yang berada di sampingnya melontarkan sebuah gombalan.


"Pulang sana mengganggu saja!" Tanpa perasaan Araxi mengusir sang kekasih.


"Tidak mau."


"Diam dan jangan mengganggu konsentrasiku. Paham!"


Obrolan kedua tamu membuat si pemilik apartemen menggeleng kepala yang seumur hidup pertama kali melihat pertengkaran antara tamunya itu.


"Jadi, bagaimana kalian benaran tidak ingin kubuatkan minum?"


"Tak usah." Gadis berparas tampan itu, tetap menolak halus dibuatkan minum.


Sebab, ia dengan sang kekasih tak ingin berlama-lama di tempat asing.


Bersamaan itu, Araxi melakukan sebuah permintaan yang berasal dari sang kakak dan juga kembarannya dan dengan energi di dalam diri, dia melakukan semua tanpa terkecuali karena sebelum melakukan hal itu.


Di dalam bayangan dimensi gadis berparas tampan itu melihat seseorang yang begitu gigih ingin bertemu dan meminta maaf, atas kekhilafan dilakukan oleh keluarganya dan untuk itulah dia memberikan sisa aroma pemilik tubuh sebelum benar-benar tertutup sempurna.


Bahkan Araxi yang membiarkan dan hanya orang itu bisa bebas bertemu dengan sahabat kakak angkatnya.


"Maaf lama dan semua sudah selesai kulakukan dan bisakah kami pergi sekarang?"


"Baiklah aku tak akan memaksamu dan terima kasih atas bantuannya." Citra tak lagi memaksa kehendak karena dia sendiri tak terlalu mengenal kedua tamunya.

__ADS_1


Albert melihat kebungkaman sang kekasih memutuskan untuk mewakili dengan berpamitan kepada pemilik apartemen. "Maafkan atas sikapnya, Kak ... maklum dia hanya dingin ketika bertemu orang baru. Kami pamit dulu. Ayo, Yank atau mau kugendong?"


Kedua tamu itu menghilang dari balik pintu, dengan dia begitu lega karena berhasil menghilang dari pandangan mata. Namun, dirinya tak menyadari suatu hal gadis berparas tampan itu tidak menghilangkan aroma semua. Sebab, ia melakukan itu karena tak ingin membuat seseorang dilanda rasa bersalah.


__ADS_2