suamiku warewolf

suamiku warewolf
30. Thirty


__ADS_3

Mark hanya mampu, menatap dan binggung.


"Udahlah, gak usah bingung. Aku sudah sadar, posisiku cuman Tumbal. Aku mau tidur, udah malam.Bye"ucap lily, lalu mendorong Mark, keluar kamar. Dan menutupnya.


Lily pun kembali keranjangnya, lalu merebahkan tubuhnya. Bodo amat, aku gak perlu sikap sok kasian, apalagi sifat sok peduli Mark.


Dia kira siapa coba, dasar manusia srigala gak punya hati. Umpat lily.


Tumbal, huh. Jauh-jauh aku, ngikutin dia, cuman dijadi'in tumbal. Nyesel kalau, Pada akhirnya cuman pelampiasan semata.


Menghitung hari kematian. Ironis kali hidup ini. Biasanya tuh istri kalau lagi hamil, dimanja-manja. Disayang-sayang, bahagia dapet anak. Ini malah, gak peduli, minta diundur waktu, ampe melahirkan aja gak bisa.


Tidur aja lah, besok pagi mau ku jual tuh barang ama perhiasan. Sekarang kita tidur ya nak, biarkan saja semua tidak menginginkan kita. Yang penting ibu akan selalu bersamamu.


Lily pun mengelus-elus perutnya dan terlelap.


🌹🌹🌹🌹🌹


Pagi hari.


Lily pun menguap, dan terbangun. Lalu membuka cendela, berjalan menuju kamar mandi untuk mandi.


Selesai mandi, Lily pun memakai daster . Dilemari hanya tersisa 5 daster. Lily pun melangkah keluar kamar menuju meja makan, disana ada John, Mark, yang sedang sarapan.


"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Mark"sapa Lily lalu duduk dan mengambil nasi goreng dan memakannya, seperti tidak terjadi apa-apa.


"Selamat pagi Lily"ucap Ayah john. Mark hanya diam, memakan sarapannya. Terlihat Mark engan berkomentar apapun.


Lily bersikap sok cuek, peduli amat Mark gak peduli. Sebentar lagi juga aku dibunuh dijadi'in tumbal. Nikmati makanan ini selagi hidup.


"Selamat pagi Om, selamat pagi Mark"ucap Evelyn yang baru datang, lewat ruang tamu.


Lily pun menoleh kearah Evelyn, lalu melanjutkan makannya lagi. Mark pun menyambut Evelyn, lalu mengundurkan kursi untuk diduduki Evelyn. Dan duduk disampingnya.

__ADS_1


Sikap Mark yang seolah mencintai Evelyn sangat terlihat dari sikap Mark. Lily hanya mampu melihat, dan seolah tidak peduli, padahal didalam hati Lily sakit sekali seperti tertusuk ribuan jarum. Sakit tapi tak terlihat.


"Silahkan sarapan Evelyn"ucap Ayah John.


"Terimakasih, Om"jawab Evelyn sambil tersenyum cantik.


Lily hanya berusaha tegar, dan bersikap cuek. Melanjutkan memakan nasi goreng dan minum susu hingga tandas.


"Aku sudah selesai, aku pamit pergi dulu kekamar, Mari Ayah,Mark, Evelyn"ucap Lily sopan lalu beranjak dari kursi.


"Kamu Lily kan"tanya Evelyn.


Lily pun menoleh" Iya".


"Bisakah aku berbicara padamu"tanya evelyn cangung.


"Boleh, Dimana?"


"Sebaiknya, kita berjalan-jalan keluar sambil ngobrol, bagaimana menurutmu"tawar Evelyn.


"Menjual baju dan perhiasan untuk apa??"tanya Evelyn lagi.


"Untuk ku jadikan uang, aku mau memberi santunan sebelum aku mati"jawab lily jujur.


"Maaf, aku gak bermaksud-"belum selesai Evelyn berkata Lily sudah memotongnya.


"Enggak Apa-apa kog, gak usah canggung"ucap lily enteng.


"Ya udah biar nanti aku temani kamu, gimana kamu setuju?"tawar Evelyn.


"iya, boleh, Aku mau siap-siap dulu"jawab lily.


"Aku juga ikut"kata Mark.

__ADS_1


"terserah"ucap lily pergi tanpa peduli.


Beberapa pelayan membawa baju serta kotak perhiasan lily yang akan dijual.


Mereka memasukkan di mobil, di ikuti lily. Mark satu mobil dengan Evelyn, lily memilih satu mobil dengan barang-barangnya di mobil lainnya.


Akhirnya lily pun menjual baju dan perhiasan. Lalu menyumbangnya ke gereja serta dinas sosial.


Tak ketingalan Yayasan anak yatim piatu.


"Kamu baik sekali ya ly"ucap Evelyn.


"Engak, aku biasa-biasa aja, lagian setiap manusia yang tau, akan meninggal. Pasti akan berbuat sama sepertiku"kata Lily.


"Tak terasa udah sore, tadi karena seru menemanimu jadi gak ingat makan siang, kamu pasti lapar kan ly. Gimana kalau kita makan dilestoran faforitku?"tawar Evelyn.


"Iya,aku mau"jawab Lily.


"Itu bukan cuman lestoran faforitmu, faforitku juga"imbuh Mark.


Lily merasa seperti Obat nyamuk, ketika melihat kemesraan Mark dan Evelyn. Seperti tercabik-cabik hati Lily.


Apalagi Mark sangat perhatian, sayang kepada Evelyn. Ingin rasanya Lily teriak sekencang-kencangnya.


Lily hanya mampu diam, dan terlihat baik-baik saja. Mereka pun selesai makan dan keluar dari lestoran.


"Aduh mark, perutku sakit sekali" Evelyn memegang perutnya.


"Pasti ini Maagmu kambuh, sebaiknya aku mengantarmu kedokter, Lily kamu pulang duluan, Aku akan mengantar Evelyn"suruh Mark.


"iya"ketus lily.


Mark pun pergi dengan Evelyn, tinggalah Lily dan dua pengawal serta satu supir.

__ADS_1


Baru lily melangkah masuk mobil, tiba-tiba ada beberapa orang menculiknya. Dengan sapu tangan obat bius, Lily pun hilang kesadaran. Perlahan-lahan lily lemas dan dibawa penculik pergi.


__ADS_2