
"Lily..... bangun!!!! huh harusnya aku membiarkan mu masuk pagi saja."ucap Pakyuki yang menepuk bahu Lily.
"Aku mencintaimu Asahi!!!!!" teriak Lily, bangun dari tidurnya dan terlihat terkejut menatap Bosyuki.
"Dah bangun?...siapa Asahi?"tanya Pakyuki.
"Ehh bos yuki, bukan siapa-siapa bos. Cuman mimpi"jawab Lily.
"Ya sudah, cuci muka sana. Kamu tidur tadi, besok masuk pagi saja. Biar aku yang menjaga warnet malam"Suruh Pak yuki.
Lily pun menuju kamar mandi dan mencuci mukanya, sambil mengingat-ingat kejadian lalu.
Bukankah aku berciuman dengan Asahi digoa, lalu kenapa aku ada disini?. Kalau hanya mimpi, kenapa seperti jelas seperti kenyataan?.
Apa aku terlalu tertekan karena jomblo?dan berfikir bertemu bule tampan dan menikahinya. Mungkin itu hanya impianku. Setidaknya aku tidak menjadi Vampir.
Lily pun menata rambutnya lalu keluar dari kamar mandi, berjalan menuju depan. Lily pun duduk dan berusaha membuka billing komputer, melihat beberapa pemain. Dan memandang ke arah jalan.
Nampak seorang lelaki berjalan mendekat, berpakaian rapi dan terlihat seperti Mark.
OMG, aku tidak mimpikan sekarang. Lily mengusap-usap kelopak matanya, dan mencubit tangannya sendiri. Sakit cubitanku sendiri, berarti ini tidak mimpi. Sepertinya aku mengulang kejadian. Atau aku melakukan perjalanan lintas waktu.
Apa yang harus aku lakukan?"Lily kamu harus menolaknya. Cinta Mark itu tidak tulus". Aku pun mengingatkan diriku sendiri.
__ADS_1
"Permisi.....bisa ngeprint?"tanya Mark.
"hemm Bisa-bisa, berapa lembar?"jawab Lily canggung.
"20 lembar, ini flashdisknya." Mark pun menyodorkan flashdisknya kepada Lily.
"Data yang mana? yang mau di print bang?" tanya Lily (padahal dalam hati Lily pasti data MM 2019)
"proposal Grup MM 2019" jawab Mark.
Lily pun mengklik data tersebut dan mengeprintnya. Sambil melirik kearah Mark.
Mampus dah, sepertinya aku mengulangi hal yang sama. Sepertinya aku berjalan melintasi waktu. Aku harus pura-pura tidak mengenalinya dan terus menjaga jarak.
"ada, itu dishowcash. Silahkan ambil sendiri dan bayarnya disini"jawab Lily gugup.
Mark pun mendekati Showcash lalu mengambil sebuah minuman dan meminumnya, dan seperti awal bertemu Lily. Nampak terlihat tampan dalam meminumnya.
Lily pun mengalihkan pandangannya, lalu cepat-cepat merapikan kertas printnan tadi.
Aku pasti bisa mengubah takdirku jika aku menolaknya dan menjauhinya. Lily semangat. Ini kesempatan, tidak boleh aku sia-siakan.
Mark pun berjalan mendekati Lily. Yang sedang gugup dan tampak salah tingkah.
__ADS_1
"berapa semuanya?"tanya Mark.
"lima puluh enam ribu, sama minumannya jadi enam puluh tujuh ribu." Sahut pak yuki.
"Bayar pake Atm bisa? saya tidak bawa uang, cash sebanyak itu." Tanya Mark.
"Lily, antar abang itu ke Atm dekat kafe sana". Suruh pak yuki.
"Aduh, maaf bos. Tiba-tiba perutku sakit pengen boker, gimana kalau bos sendiri yang mengantar?"ucap Lily sambil pura-pura kebelet boker.
"Memanglah, kamu ini gak bisa diandalkan. Mana kunci montormu?"Eluh pak yuki.
"Ini bos, maaf bos. Makasih ya bos"ucap Lily lalu pergi kearah toilet.
Terlihat Pakyuki mengantar Mark keAtm.
Lily pun bernafas lega, akhirnya aku bisa menolak permintaan pakyuki. Aku akan mencari alasan terus agar tidak bersama Mark.
Aku akan berusaha menghindar, aku yakin sebentar lagi mereka datang.
Beberapa menit kemudian Pakyuki dan Mark datang. Terlihat Mark berterimakasih pada Pakyuki. Dan Mark pun mengambil print lalu pergi, tanpa sepatah kata apapun.
Aman, dia gak curiga. Aku bisa bekerja dengan tenang. Lily pun bekerja seperti biasa dan pulang kerumah dengan selamat.
__ADS_1