
Sesampainya mereka di apartemen, Yoga langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh badannya. Selagi ia mandi, ia mengingat masa lalunya ketika membunuh orang untuk mendapatkan uang.
Leon, Bryan, Jonathan dan Rian telah sampai di apartemen. Mereka juga membeli beberapa makanan ketika di jalan. Tak lama kemudian, Luna dan Nita juga baru pulang dari kuliah.
Karena Luna dan Nita sudah datang, mereka membuka makanan yang tadi dibeli dan menyiapkan di meja makan. Yoga lalu keluar dari kamar mandi dan langsung menuju meja makan karena sudah dua hari, ia belum makan nasi sama sekali.
Jonathan dan Bryan yang tadinya rebahan langsung pergi ke meja makan dan duduk disebelah Yoga.
" Mmm... Yoga. Kau tak apa? " Tanya Bryan yang khawatir dengan keadaan Yoga selama dua hari belakangan ini.
" Ahaha... jangan mencemaskan aku. " Jawab Yoga dan menyantap makanannya.
" Tampaknya kau gelisah. " Ucap Jonathan.
" Nggak kok. " Balas Yoga.
Leon yang dari kamar langsung mendekati Yoga dan menepuk pundaknya.
" Yoga, kau tak membunuh seseorang kan? " Tanya Leon sambil tersenyum.
Yoga hanya geleng-geleng sambil tersenyum. Leon pergi ke kursi yang masih kosong untuk menyantap makanan. Luna keluar dari dapur dan membawa beberapa hidangan penutup mulut. Dan mereka semua senang kecuali Yoga yang wajahnya terlihat gelisah.
...****************...
Malam hari telah tiba. Jonathan pamit ke teman-temannya dikarenakan ingin menjenguk ibunya yang berada di rumah. Ibu Jonathan jatuh sakit, secara tidak langsung Jonathan sebagai anak satu-satunya harus melihat keadaan ibunya saat ini.
Jonathan lalu pergi menggunakan motor matic milik Yoga, sedangkan mobilnya ia tinggal untuk teman-temannya jika ada keperluan mendadak seperti pergi bersama.
Setelah kepergian Jonathan, kini Joseph datang ke apartemen bersama Vulkan yang masih dalam masa penyembuhan.
" Abang, kenapa kau mengajak Bang Vulkan? Dia kan belum sembuh. " Seru Bryan yang melihat Joseph dan Vulkan masuk ke dalam apartemen.
" Aaa... Maaf, aku sendiri yang mau. " Sahut Vulkan dan duduk di sofa.
Bryan mengambil air minum untuk diberikannya ke saudaranya yang datang ke apartemen.
" Bryan, aku keluar dulu. " Bisik Yoga yang memakai baju serba hitam.
" Mau kemana? Jangan membuat ulah lagi. " Ucap Bryan yang khawatir kejadian kemarin terulang kembali.
" Ahaha, hanya ke minimarket kok. Mau beli soda, soalnya di kulkas habis. " Ucap Yoga seraya menepuk dahi Bryan.
" Aduh... Yaudah, jangan buat ulah lagi, ya. " Ucap Bryan yang sudah mengisi dua gelas dengan air.
Yoga mengacungkan jempol dan segera keluar dari sana. Ketika menuju pintu keluar, ia dan Joseph saling menatap. Yoga langsung menundukkan kepala dan keluar dari apartemen.
" Bos, kau mau kemana? " Tanya Arthur yang ternyata keluar dari apartemen yang dipakai untuk kantor.
" Keluar sebentar, mau nyari angin. " Jawab Yoga dan melanjutkan jalannya.
__ADS_1
" Aku ikut. " Ucap Arthur dan mengikuti Yoga dari belakang.
" Yasudahlah.... " Batin Yoga.
...----------------...
Sesampainya mereka di minimarket, Yoga langsung mengambil beberapa minuman soda yang berukuran besar. Sesudah membayar, ia pergi keluar dan menyimpan soda tersebut di inventori miliknya.
" Arthur, kamu diam-diam aja, ya. Kita bakalan mencari orang yang kemarin. " Ucap Yoga sambil berjalan merangkul pundak Arthur.
" Begitu, ya. " Balas Arthur dan mengikuti Yoga.
Yoga memesan taksi online untuk menuju pusat kota. Taksi yang dipesan Yoga akhirnya datang dan mereka berdua langsung masuk ke dalam.
" Kenapa kita ke pusat kota? Bukankah tadi gedungnya berada di pesisir pantai? " Tanya Arthur yang bingung.
" Aku sedang mengikuti ingatan masa lalu. Entah mengapa ingatan ini selalu muncul. " Jawab Yoga yang sedang memeriksa beberapa berkas dokumen penting yang diperoleh dari pencarian Leon.
" Darimana kamu mendapatkan berkas itu? " Tanya Arthur yang kemudian mendekat Yoga untuk melihat dokumen yang bertuliskan Black Dragon.
" Aku hanya menduplikatnya, jadi file asli masih berada di sana. " Jawab Yoga dan menemukan dokumen yang dicarinya.
...----------------...
Akhirnya mereka sampai di pusat kota, tidak seperti di sekitar apartemen yang dihuni mereka. Pusat kota sangatlah ramai, bahkan tengah malam juga masih banyak orang yang beraktivitas.
Yoga dan Arthur langsung turun dari taksi dan Yoga langsung membayar ongkosnya. Yoga mengajak Arthur untuk pergi ke suatu tempat yang dimana didalam tempat tersebut banyak sekali pria dan wanita yang sedang menari.
Yoga tak menjawab dan menarik tangan Arthur agar lebih cepat berjalan. Mereka berhenti di meja barista, kemudian Yoga menyebutkan satu kalimat. " Lemon rasa pedas. "
Seketika barista itu mengajak mereka ke gudang dan memencet tombol yang tersembunyi. Terbukalah sebuah pintu rahasia untuk menuju ke ruang bawah tanah.
Yoga menarik Arthur untuk masuk ke ruang bawah tanah itu, namun Arthur merasa cemas dengan ruangan tersebut. Yoga langsung mengangkat tubuh Arthur dan langsung masuk ke dalam ruang bawah tanah. Ketika sudah berjalan ke bawah, pintu tadi tertutup otomatis dan menjadi gelap. Satu persatu lampu mulai menyala dari ujung ke ujung.
" Sekarang kita kemana? " Tanya Arthur sambil berjalan mengikuti Yoga.
" Kita akan keujung sana. " Jawab Yoga dan menunjuk pintu yang berada diujung tak jauh dari mereka.
Yoga lalu membuka pintu itu dan melihat beberapa orang sedang bermain judi disana. Arthur cuma bisa bingung dan hanya mengikuti Yoga yang pergi menuju perempuan yang sedang duduk di atas meja kasir.
BRUK!!!
Suara orang yang dibanting di atas meja, hal seperti itu sudah biasa di tempat ini. Yoga lalu menendang wanita tersebut dan ditangkis dengan mudah.
" Siapa kau? " Tanya wanita itu.
" Tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas beritahu aku dimana orang ini sekarang. " Jawab Yoga dan memberi Foto Stephen Logan beserta dokumen yang dibawanya.
" Ahaha... siapa dirimu yang datang langsung menyuruhku. " Ucap wanita itu dan turun dari meja yang didudukinya.
__ADS_1
" Teman-teman!!! Kita kedatangan dua orang pecundang, silahkan bersenang-senang!!! " Teriak wanita itu dan masuk ke dalam ruangan yang mungkin itu adalah sebuah kamar.
Seluruh orang yang di ruangan itu langsung menyerang Yoga dan Arthur. Tak pikir panjang, mereka berdua memasang kuda-kuda dan bersiap untuk membalikkan serangan.
...----------------...
Lima menit telah berlalu, didalam ruangan ternyata benar ruangan ini adalah sebuah kamar untuk melakukan hubungan. Wanita tadi yang ditemui Yoga sedang bermain ponsel sambil melakukan hal yang tak senonoh.
BRAK!!!
Wanita itu langsung membalikkan badannya dan segera memakai rok. Melihat Yoga yang langsung masuk ke dalam, ia merasa bahwa Yoga benar-benar seseorang yang sangat familiar baginya. Dan ia juga kaget kalau Yoga bisa mengalahkan orang-orang yang berada diluar.
" Natalia, please bantu aku. " Ucap Yoga yang memohon bantuan.
" Hah? Kau bilang apa tadi? " Tanya Wanita yang bernama Natalia.
" Bantu aku. " Ucap Yoga. " Bukan itu, sebelumnya kau memanggilku apa? " Tanya Natalia lagi.
" Natalia, emangnya kenapa? " Jawab Yoga. " Oh tidak, aku lupa kalau sekarang aku bukanlah Yoga yang dulu. " Batin Yoga.
" Darimana kau tahu namaku? " Tanya Natalia yang turun dari kasur.
" Ahaha... Bantu aku. " Ucap Yoga yang memaksa dan menatapnya dengan tatapan tajam.
" Okay, tapi ada syaratnya. " Seru Natalia dan mendekati Yoga sambil mengelus pipi Yoga.
" Kau butuh uang? Mau berapa? " Tanya Yoga dan menjauhkan tangan Natalia dari pipinya.
" Bagaimana dengan kau bermain denganku untuk satu malam ini. " Jawab Natalia dan mengambil berkas yang berada di tangan Yoga.
" Untuk itu, aku tak bisa (Meski sebenarnya mau), tapi aku bisa membayar sebagai gantinya. " Ucap Yoga dan duduk di kasur.
Natalia lalu duduk disamping Yoga dan memberikan lokasi Stephen Logan. Tanpa banyak bicara, Natalia menarik tubuh Yoga mendekat ke dirinya.
BRAK!!!
" Bos, sudah selesai semua! " Teriak Arthur yang baru saja membereskan orang yang tersisa dan mendobrak pintu. Arthur yang melihat Yoga bersama Natalia seperti ingin melakukan sesuatu, Arthur keluar dan kembali menutup pintu.
" Arggghhh... Maafkan aku bos, aku tak bermaksud mengganggumu. " Gumam Arthur yang berdiri di depan pintu.
" Oi, Arthur.... " Teriak Yoga dan melepaskan tangan Natalia.
Yoga langsung mengambil berkas yang diberikannya ke Natalia tadi dan pergi keluar. Ia menceritakan kejadian yang dialami waktu didalam, namun Arthur tak percaya dan akan mengadu ke Luna.
Yoga yang kesal memukul kepala Arthur. Arthur langsung percaya dan meminta maaf. Natalia yang melihat kekonyolan mereka berdua hanya bisa tersenyum dan kaget melihat pelanggannya tergeletak tanpa mengalami luka ataupun memar.
" Siapa sebenarnya mereka itu? " Batin Natalia yang penasaran dengan sosok Yoga.
Yoga dan Arthur keluar dari pintu rahasia lainnya bukan dari pintu awal untuk mereka masuk. Mereka keluar melewati sebuah lorong dan sampai di dapur bar tersebut.
__ADS_1
Yoga dan Arthur keluar dari bar itu dan berjalan mengelilingi pusat kota untuk bersenang-senang.
...****************...