
Sepulang dari kuliah, hari ini aku pergi ke rumah Leon lagi karena telah berjanji untuk membantunya. Aku langsung masuk ke rumahnya tanpa permisi, karena dia memang tinggal sendirian, sebelumnya bersama adiknya.
" Oyyy... Leon, sudah siapkah? " Tanya Yoga yang menunggu di depan pintu kamar.
" Sebentar, peralatannya sedang ku siapkan. " Jawab Leon.
" Ku tunggu di luar ya... " Teriak Yoga kemudian turun menuju keluar.
" Ya... "
Beberapa menit kemudian, Leon keluar dari rumah membawa tas berisi pistol, pisau, bom asap dan ammo. Yoga hanya tersenyum kecil dan menyalakan motornya, kali ini ia membawa motor sport, sama seperti Leon, motor sport mereka berwarna hitam.
" Motormu ternyata sama sepertiku. " Ucap Leon yang kagum.
Yoga hanya mengangguk dan langsung pergi ke tempat yang telah dibagikan oleh Leon. Mereka pergi ke pabrik terbengkalai yang tak jauh dari kota.
Pabrik itu sudah tak dipakai selama dua tahun, namun diambil alih dengan para gangster bernama White Cobra.
White Cobra adalah salah satu geng terbesar kedua setelah Black Dragon, White Cobra sendiri sangat agresif dan selalu menindas orang lemah. Mereka juga sering menjual berbagai macam obat-obatan terlarang dan juga menjual belikan wanita.
" Ini tempatnya? " Tanya Yoga dan mengerem motornya.
" Iya, sesuai peta kan? " Jawab Leon.
" Kenapa kau tak kesini sendirian? " Tanya Yoga lagi.
" Sudah ku bilang, sistem milikku ini bukan untuk bertarung. " Jawab Leon lagi.
Mereka berdua turun dari motor dan langsung menyiapkan diri mereka. Leon memakai rompi anti peluru untuk berjaga-jaga, mungkin saja mereka diserang secara mendadak.
Sedangkan Yoga, hanya mengambil dua pisau karambit berwarna silver dan mengayunkan dikedua tangannya.
" Itu doang yang dibawa? " Tanya Leon yang ragu dengan Yoga.
" Iya. " Jawab Yoga dengan percaya diri.
Mereka masuk layaknya seorang pahlawan yang akan menyelamatkan seseorang, namun sialnya mereka sudah dihadang dengan dua puluh gangster. Mereka seperti sudah tahu kalau mereka berdua sudah datang, jadinya mereka sudah menyiapkan diri masing-masing.
Tanpa berpikir panjang, Yoga berlari ke arah mereka semua dan dengan brutalnya, ia mencabik-cabik tubuh beberapa gangster tanpa ketakutan sekalipun.
Gangster yang lainnya melihat temannya dicabik-cabik dengan Yoga, merasa takut, mereka seperti melihat seorang psikopat yang mendapatkan mangsanya.
Meski memang seorang psikopat.
" Siapa dia sebenarnya? Tanpa ragu ia mencabik-cabik lawannya. " Ucap seorang gangster.
" Sebaiknya kita lari dari sini sebelum —" Sempat ingin berlari, Yoga melemparkan satu karambit dan langsung menancap di leher gangster yang ingin melarikan diri.
Leon yang melihat Yoga melakukan aksinya, hanya mampu berdiri dan termenung, dipikirannya hanyalah jika kemarin Yoga dalam keadaan marah, mungkin ia sudah mati. Untungnya kemarin Yoga dalam keadaan tenang dan mampu mengendalikan emosinya, sekarang? Yoga hanya mengerjakan misi bulanan. Itulah mengapa ia menerima kesepakatan tersebut.
__ADS_1
" Sudah selesai, masuk yuk. " Ucap Yoga yang bersimbah darah mendatangi Leon.
Leon mengangguk dan melemparkan bom asap agar tidak ketahuan dengan anggota yang masih ada didalam.
...----------------...
" Apakah ada orang disini? " Teriak Yoga.
" Hallo!!! " Teriak Leon.
Mereka sudah berkeliaran dari pintu depan hingga pintu belakang, mereka sudah mengecek berbagai ruangan namun tak ada seorangpun didalam. Mereka juga mengecek semua lemari dan kota penyimpanan yang mampu dimasuki orang, namun juga tak ada.
Yoga dan Leon kembali keluar, kini perasaan mereka membara. Yoga menyisakan seorang gangster untuk ditanya paksa. Yoga memberi dua pilihan, yaitu memberitahu semua anggota yang lain atau mati. Tidak, bukan anggota lain yang ia cari. Tapi adik perempuan Leon yang diculik dengan mereka.
Gangster tersebut ketakutan dan langsung memberitahu mereka, gimana tidak takut. Melihat Yoga yang menyiksa lawannya tanpa ragu saja sudah membuat ia merinding, apalagi merasakannya.
Yoga lalu melepaskannya, namun tak segampang itu, ia menambak pistol yang dipegang Leon dan membuat gangster itu kesakitan.
" Bukankah aku sudah memberitahumu? " Tanya pria tua yang malang itu.
" Itu sebagai tanda Terima kasih. " Yoga.
Mereka berdua meninggalkan dirinya sendiri dan pergi ke tempat yang telah dia bocorkan.
...----------------...
" Berapa menit lagi? " Tanya Yoga.
" Lima menit lagi. " Jawab Leon.
Yoga meningkatkan kecepatannya disusul dengan Leon. Tanpa rasa takut, Yoga menerobos gerbang masuk kendaraan untuk masuk ke pelabuhan disusul dengan Leon yang melempar bom asap ke arah mereka.
Mereka berdua langsung ke dermaga dan melihat kapal yang mereka kejar akan berangkat.
Yoga mengerem motornya dan menaiki tangga kapal.
" Leon, kamu cari kesana aku cari kesini. " Ucap Yoga yang membagi arah pencarian.
Yoga dan Leon tak menemukan apa yang mereka cari dan bertemu di bagasi penyimpanan barang.
" Sudah ketemu? " Tanya Leon.
" Aku tak melihatnya. " Jawab Yoga.
" Para baji**an sialan. " Umpat Leon dan menendang kota kayu yang cukup besar.
" Mmm... mmmm... mmmm... "
" Kau dengar itu? " Leon.
__ADS_1
" Iya " Yoga.
" Mmmhhh... T-tolong... siapapun diluar... " Teriak seorang perempuan didalam kotak yang ditendang dengan Leon.
" Buka segera. " Ucap Yoga.
Leon membuka kota kayu tersebut dan melihat seorang perempuan yang tidak lain adalah adiknya.
" Abang... hiks... hiks... aku nggak akan keluar malam lagi... hiks. " Tangisnya dan memeluk Leon.
Yoga hanya bisa melihat mereka berdua dan membuka ponselnya.
TAP!!! TAP!!! TAP!!!
Suara jejak kaki yang turun ke bagasi kapal.
" Hei!!! Siapa kalian? " Teriak seorang gangster.
" Sial, kalian pergi dahulu. Aku yang akan menghadapinya. " Ucap Yoga memasang wajah seriusnya dan berlari ke arah gangster itu.
BUGH!!!
Suara hantaman keras yang ternyata Yoga terkena pukulan yang sangat kencang. Pukulan tersebut membuat tulang rusuk Yoga mengalami retak. Karena Yoga bisa meregenerasi tubuhnya seperti sediakala, ia lanjut berdiri dan menyerang gangster itu.
Yoga jatuh berkali-kali, sepertinya ia tak sanggup melawan gangster tersebut. Setelah amati, ternyata gangster tersebut levelnya lebih berbeda dari gangster yang ia hadapi sebelumnya. Gangster itu berambut hitam dan panjang, sepanjang pundak.
" Kau kuat juga setelah mendapat serangan dari tendangan ku ini. Biasanya orang lain langsung terkapar, namun dirimu seperti tak merasakan apa-apa. "
Yoga hanya berpura-pura untuk tidak mendengarkan dan menyerang orang itu dengan pisau karambitnya.
" Kenalkan dirimu dulu dong, sebelum menyerang ku. " Ucapnya dan dengan mudah menangkis ayunan pisau.
" Ahh... benar juga. Aku Yoga Hari Wibowo, senang bertemu denganmu. " Ucap Yoga yang memperkenalkan diri.
" Nah... gitu dong. Aku Bryan Mahardika. " Jawab Bryan dan berlari ke arah Yoga.
Yoga mengaktifkan skill ILLUSIONER miliknya, dan membayangkan ada naga yang melahap Bryan. Benar saja, imajinasi yang dipikirkan Yoga langsung terjadi, Seekor naga secara tiba-tiba menghancurkan kapal hingga terbelah. Ia mencari Bryan yang sembunyi dan menghancurkan seisi kapal.
Yoga keluar dari kapal dan menjauh agar tak terkena ledakan. Naga tersebut menghilang karena ternyata jarak yang dijangkau sangat jauh, sehingga Naga tersebut menghilang dengan sendirinya.
" Berarti jauhnya dua puluh meter ya... kalau lewat dari itu, bakalan hilang. " Gumamnya dalam hati.
Yoga lalu menemui Leon dan pulang bersama, tak lupa juga bersama adiknya.
...----------------...
" Argghh... kenapa bisa ada monster ditempat ini? Dan sialnya, anak itu lari. Awas aja kalau bertemu lagi, akan ku habisi dirinya. " Ucap kesal Bryan yang kesakitan akibat tertindih beberapa barang kapal.
...****************...
__ADS_1