
Pagi yang cerah, Gangster Slayer beserta anggotanya akan pergi ke acara pengadilan untuk menghadiri sidang kasus Yoga yang telah membunuh seseorang. Joseph sebagai mantan polisi khusus dan juga saat ini menjadi anggota intelijen ditugaskan untuk menangani kasus ini agar dipastikan tidak ada lagi seseorang yang ada didalam kasus ini.
Joseph pergi ke apartemen untuk berbicara kepada Bryan. Sesampainya disana, ada seorang pengacara dan seorang hakim yang sedang duduk di ruang tamu bersama Jonathan.
Jonathan ingin meringankan hukuman Yoga dengan menyuap hakim dan pengacara. Arthur juga sudah menyuruh Jonathan untuk tidak ikut campur dalam urusan ini, tapi Jonathan masih tetap bersikeras untuk menyelamatkan Yoga.
Bryan lalu keluar dari kamar dan menemui Joseph di depan pintu apartemen.
" Sedang apa mereka? " Tanya Joseph sambil menyalakan rokok.
" Jonathan ingin menyuap hakim dan pengacara. " Jawab Bryan lalu mengambil sebungkus rokok dari saku Joseph.
" Haruskah kalian menyewa pengacara dan hakim? Bukannya Yoga tak memintanya? " Tanya Joseph dan jongkok sambil menikmati rokoknya.
" Kami sudah menahannya, tapi dia terlalu keras kepala. " Jawab Bryan sambil melihat pemandangan.
" Eh... Om Joseph. " Sapa Luna yang baru datang berbelanja bersama Leon.
" Hai Luna, habis belanja apa tuh? " Tanya Joseph.
" Mmm... sayuran dan daging untuk sarapan. Om mau makan bersama? Ditunggu ya, aku masak dulu. " Jawabnya dan berlari ke dalam apartemen.
Leon menatap dingin ke Bryan dan Joseph, lalu memalingkan pandangannya dan masuk ke dalam apartemen.
" Kenapa Leon begitu? Tak seperti biasanya ia begitu. " Ucap Joseph yang bingung dengan tatapan dingin Leon.
" Ahaha... tau sendiri kan Leon itu teman pertama Yoga. Dia pasti kehilangan teman terbaik, semalam ia sampai membanting ponselnya mendengar Yoga membunuh orang. " Balas Bryan.
Joseph berpikir sebentar dan berdiri disamping Bryan.
" Aku tau apa yang akan dilakukan setelah ini. "
...----------------...
Di sel tahanan Yoga sedang ditanyai dengan seorang penyidik laki-laki. Yoga menceritakan bahwa ia sedang membela diri untuk selamat dari ancaman pembunuh. Ia juga mengatakan bahwa Dio adalah seorang pembunuh dan juga mengeluarkan berkas tentang Dio ke si penyidik.
Awalnya penyidik itu tak percaya dengan perkataan Yoga, namun ketika melihat berkas dokumen yang berisi tentang Dio. Ia mulai percaya, ditambah lagi dengan sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan Yoga diajak keluar dari restoran bersama Dio.
Sebenarnya, CCTV itu sudah direkayasa dengan Arthur sebelum ia pulang. Arthur merubah semua rekaman dan menghilangkan dirinya di rekaman itu. Di rekaman yang direkayasa oleh Arthur, Dio yang memegang pisau sedangkan Yoga yang membela diri. Dan setelah itu rekaman mati ketika Yoga menendang Dio.
Penyidik itu membawa semua berkas dari Yoga sebagai barang bukti agar Yoga bisa diberikan sanksi hukuman yang ringan. Penyidik itu lalu keluar dan pamit dengan Yoga. Penjaga sel tahanan mengunci sel dan menunggu hingga Yoga dipanggil untuk melakukan persidangan.
" Sama seperti waktu itu, bedanya dulu calon istri ku yang jadi penyidik. Huft... semoga aja nggak dihukum mati. " Batin Yoga sambil menatap langit-langit sel.
__ADS_1
...----------------...
Di apartemen, Jonathan membatalkan keinginannya untuk menyogok seorang hakim dan pengacara. Karena tiba-tiba ia mendapatkan pesan dari Yoga untuk tidak berbuat apa-apa. Ternyata Yoga menyimpan ponselnya di penyimpanan sistem, meski sudah diperiksa ketika memasuki sel tidak ada barang apapun di tubuhnya.
Sebelum pulang, hakim dan pengacara dijamu untuk makan bersama. Setelah itu, Jonathan memberi amplop coklat kepada mereka berdua untuk tidak membuka mulut tentang hal yang mereka lakukan pagi ini.
...----------------...
Gang slayer beserta anggotanya pergi ke tempat persidangan Yoga ditemani dengan Joseph yang memakai motor polisi.
Sesampainya disana, mereka melihat Yoga turun dari mobil polisi dengan memakai baju tahanan. Mereka melambaikan tangan ke Yoga dan Yoga hanya tersenyum.
Yoga dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, namun karena adanya barang bukti dan saksi maka ia dijatuhi hukuman 5 tahun penjara.
Yoga dibawa keluar didampingi dengan dua polisi lalu Joseph meminta waktu sebentar untuk berbicara kepada Yoga.
" Kau yakin dia ada disana? " Bisik Joseph yang bertanya sambil berjalan perlahan-lahan.
Yoga menganggukkan kepala dan melihat sekitarnya dikelilingi dengan wartawan.
" Kenapa aku tak mengetahui kalau dia ada disana, ya? " Bisik Joseph yang kebingungan.
" Dari informasi yang kudengar, dia telah operasi plastik. Foto yang kau tunjukkan kemarin adalah foto tiga tahun yang lalu. " Ucap Yoga dan menundukkan kepala.
" Aku percayakan kepadamu, jika misimu selesai. Aku akan membebaskan mu dengan cara apapun. " Ucap Joseph dan memberikan tangan untuk berjabat.
Yoga langsung menghampiri teman-temannya dan memeluk mereka.
" Hei Leon, aku takkan lama dipenjara. Jadi jangan bersedih, kau kira aku membunuh orang tak beralasan? Jangan buat aku memikirkan adikmu. " Ucap Yoga dan menepuk pundak Leon.
Leon meneteskan air mata dan memeluk Yoga.
" Jangan menangis, sudah kubilang aku takkan lama. " Bisik Yoga sambil menjitak kepala Leon.
Leon tersenyum dan melepaskan pelukannya dari Yoga. Kemudian Yoga ke Bryan dan Jonathan.
" Kerjakan misi kalian untuk membasmi para gangster, aku dapat info bahwa seminggu lagi mereka akan kembali seperti biasanya. Karena ternyata mereka sedang liburan. " Ucap Yoga ke mereka berdua.
" Ahaha... aku sempat berpikir tidak-tidak. Jaga dirimu baik-baik, ya. " Ucap Bryan sambil memukul perut Yoga.
" Kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan uang, jangan sungkan menghubungiku. " Ucap Jonathan dan memeluk Yoga.
Yoga lalu ke Arthur dan Rian, lalu mendekati Arthur dan membisikkan suatu hal. " Terima kasih udah merekayasa cctvnya. "
__ADS_1
Arthur hanya tersenyum dan menarik rambut Yoga. " Bos, kau berhutang kepada ku dua kali. Setelah bebas nanti, ajak aku ke dojo tempat mu belajar taekwondo. " Balas Arthur dan melepaskan tarikannya.
" Rian, berikan aku keberuntunganmu. " Yoga menjabat tangan Rian dan Rian mengaktifkan skill keberuntungannya.
" Thanks Rian... makasih juga dengan beberapa dokumen yang menjadi bukti hari ini. " Ucap Yoga sambil menepuk pundak Rian.
Kemudian Yoga bertatapan langsung dengan Luna, Luna hanya tersenyum malu dan tak tahan dengan tatapan Yoga.
" Ish... jangan natap gitu kak Yoga. " Ucap Luna seraya memukul pelan dada Yoga berkali-kali.
Yoga memegang tangan Luna dan senyum kepadanya.
" Abangmu bilang, kamu nangis, ya. Waktu aku ditangkep polisi. " Ejek Yoga dan tersenyum.
Luna secara tiba-tiba memeluk Yoga dengan erat, Yoga melihat Leon menatap dirinya hanya tersenyum.
" Hei Luna, lepaskan. Waktu ku udah habis. "
Luna tak menjawab apa-apa, ketika Yoga melepaskan sendiri, ia melihat Luna menangis. Yoga mengusap air matanya sambil mengatakan sesuatu. " Kalau kamu menangis, nanti aku kepikiran lho. "
Seketika Luna berhenti menangis dan memberikan jari kelingking untuk berjanji kepada Yoga.
" Kenapa? " Tanya Yoga yang bingung.
" Janji gak bakal masuk penjara lagi. " Jawab Luna yang polos.
Yoga menepis jarinya dan mencium kening Luna.
" Aku tak mau berjanji, soalnya aku bukan orang yang suka menepati janji. " Ucap Yoga yang terkekeh.
Yoga melepaskan tangannya dari Luna dan pergi berbicara dengan Nita.
" Aku ada satu hal yang ingin ku bicarakan. "
" Apa itu? "
" Apa kau punya skill Necromancer atau yang sejenisnya? "
" Ah... sihir itu hanya ada untuk kalangan penyihir yang memiliki perjanjian dengan iblis. Emang ada apa? "
" Eng-enggak ada apa-apa kok, tapi aku punya skillnya. "
Yoga mengedipkan mata ke Nita dan pergi meninggalkan mereka semua, Yoga dibawa dengan polisi yang mendampinginya tadi dan dimasukkan ke mobil polisi. Mereka melambaikan tangan ke Yoga hingga Yoga tak terlihat lagi.
__ADS_1
Mereka lalu pulang ke apartemen dan menjalani hidup seperti biasanya, namun tanpa Yoga.
...****************...