
Di perjalanan, mobil polisi yang membawa Handika dan lainnya pergi menuju ke kantor polisi. Beberapa helikopter dan wartawan mengikuti mereka.
Di dalam mobil, Handika berbicara dengan beberapa polisi, sedangkan Leon dan lainnya hanya diam dan merenung.
" Maaf Ketua, eh... Handika. Aku bukan anggotamu lagi semenjak dirimu berkhianat dengan negara. Kenapa kau malah membantu para buronan ini? " Ucap seorang polisi yang mengawal mereka.
" Sialan kalian semua... " Ponsel Handika lalu berbunyi, polisi yang mendengarnya langsung mengambil dan melihat Joseph yang sedang menelpon.
" Ahaha... Joseph si penjilat jabatan. Oh iya, jika Joseph mengetahui dirimu tertangkap. Mungkin dia akan mencoba melepaskan dirimu. Maka dari itu, kami juga akan menangkapnya. " Ucap polisi itu dan tertawa terbahak-bahak.
" Cih, dasar polisi pemakan uang rakyat. " Ucap Arthur yang mendengar percakapan mereka berdua.
Polisi itu lalu menampar Arthur dan membuat Arthur marah.
" Kenapa? Tanganmu itu diborgol, kau mau melawan ku? " Ucap polisi itu yang meremehkan Arthur.
" Cukup... tapi, apakah kalian sanggup melawan anggota terakhirku? " Ucap Handika lalu terkekeh.
" Anggota? Siapa? Kau tak memiliki anggota lagi. Bahkan anakmu saat ini sedang ada di sel tahanan. " Bentak Polisi tersebut.
" Hehe... terserah kalian. Mungkin kalian bakal kelewatan dengan satu orang ini. " Handika yang terkekeh.
" Terserah, setelah ini. Aku akan memukuli kalian, pegang ucapanku... hahaha.... "
...----------------...
Di Hidden Bar, Yoga sedang melakukan push up untuk meningkatkan stamina. Entah ada apa dengan dirinya, ketika minum satu obat. Tiba-tiba ia menjadi sehat kembali, bahkan tubuhnya menjadi lebih segar.
Tak lama kemudian, Budi membuka pintu kamarnya dengan keras dan membuat Yoga kaget.
" Ada apa? " Tanya Yoga lalu berdiri dan mengelap badannya yang penuh keringat menggunakan handuk.
" Mereka... mereka... " Budi masih ngos-ngosan.
" Mereka? Kenapa mereka? " Tanya Yoga lalu mendekati Budi.
" Mereka ditangkap polisi! " Ucap Budi dengan keras.
" Sudah kuduga, polisi pasti ikut campur dengan urusan ini. " Ucap Yoga lalu pergi ke kamar mandi.
" Tidak, tidak itu aja. Tapi.... " Ucap Budi yang sebenarnya juga tak percaya dengan apa yang ia lihat.
" Apa? Kalau ngomong jangan setengah-setengah! " Bentak Yoga lalu membuka pintu kamar mandi.
" Pemilik perusahaan Angry Bull Group adalah seorang Walikota. " Ucap Budi yang gemetaran.
Yoga tiba-tiba merasakan rasa sakit di kepalanya, ia seketika mengingat suatu hal. Ternyata ia menjadi pembunuh bayaran karena ditawari uang yang cukup banyak dengan Walikota. Bukan Logan, Logan hanyalah mafia yang mencari anggota. Sedangkan sangat Walikota memperkerjakan pembunuh bayaran untuk membunuh orang-orang yang penting waktu itu.
" Yoga, kau tidak apa-apa? " Tanya Budi yang khawatir melihat Yoga yang tiba-tiba memegang kepalanya.
" Tidak, tunggu aku sampai selesai mandi. " Ucap Yoga lalu masuk ke kamar mandi.
Selang beberapa menit, Yoga keluar dari kamarnya dengan memakai jas hitam dan memegangi masker gas yang ia dapat dari mesin gacha.
Budi yang melihat Yoga terpesona dan segera berdiri menuju pintu keluar.
" Kau mau ikut? Sebaiknya kau tunggu disini saja sambil menunggu bar. " Ucap Yoga seraya menepuk-nepuk pundak Budi.
" Sebenarnya aku mau ikut, tapi kalau dipikirkan lagi. Aku hanya menjadi beban, karena aku tak bisa bertarung. " Ucap Budi yang menyadari kekurangannya.
__ADS_1
" Tetaplah disini hingga aku kembali lagi. " Ucap Yoga lalu keluar dari sana.
Budi hanya tersenyum lalu menutup pintunya.
" Si Psikopat yang kejam terlahir kembali di dunia ini. " Gumamnya lalu mengeluarkan motor sport dari penyimpanan dan segera melaju menuju kantor polisi.
...----------------...
Di sel tahanan, mereka dijadikan satu disana. Disana juga ada Joseph dan Bryan yang ternyata tertangkap saat di pulang dari Jakarta.
Arthur sebenarnya bisa membuka sel tahanan dengan mudah, tapi jika mereka melakukan itu. Mungkin akan membuat kerusuhan bahkan terlihat tidak normal. Karena seluruh tubuh mereka sudah diperiksa tidak terdapat barang yang mencurigakan.
" Aku buka, ya? " Ucap Arthur lalu mengangkat tangannya seperti ingin mengeluarkan pedang.
" Jangan, bisa-bisa kekuatan kita ini terungkap di hadapan mereka. " Bisik Jonathan.
Mereka lalu duduk sambil menunggu Yoga dan lainnya datang.
...----------------...
Sesampainya Yoga di depan kantor polisi, ia segera masuk ke dalam dan melemparkan bom asap ke arah mereka.
" Ter-or-ris!!! " Teriak salah satu polisi lalu menekan bel darurat.
Yoga berlari dan menyetrumkan mereka menggunakan sarung tangan listrik. Dengan mudah ia melumpuhkan beberapa polisi dengan cepat.
Ia lalu ditembaki dengan beberapa polisi, Yoga menghindari peluru sambil berlari menuju mereka. Yoga mengarahkan telapak tangannya ke wajah kedua polisi yang menembaki nya kemudian langsung menyetrumnya.
" Segampang ini ternyata, jadi aku tak perlu mengeluarkan tenaga yang banyak untuk mengalahkan kalian semua. " Ucap Yoga yang berdiri di atas meja.
Beberapa polisi lainnya datang berbondong-bondong memasuki kantor dan melihat seorang pria ber masker gas sedang berdiri di atas meja.
Tanpa banyak pikiran, Yoga berlari dan langsung melompat ke hadapan mereka.
" Aku ingin bertanya, polisi yang hanya memikirkan uang segera memisahkan diri. " Ucap Yoga lalu melepaskan sarung tangannya.
" Itu pertanyaan? " Tanya seorang polisi yang dihadapannya.
" Bagimu itu apa? Jika kau seorang polisi badungan, segera memisahkan diri. Karena polisi badungan tidak melayani warganya. " Ucap Yoga yang sebenarnya ia tak tahu bicara apa.
" Kau bicara apa? Kami ini polisi, kau tak melihatnya? Dasar bodoh. " Ucap polisi itu lalu mundur ke posisinya.
" Jangan menyesali perkataanmu. " Ucap Yoga tersenyum dari balik maskernya lalu mengeluarkan pedangnya.
" Tembak!!! " Ucap polisi tadi yang melihat Yoga mengeluarkan pedang entah darimana.
Yoga dengan cepat menghindari tembakan polisi dan melemparkan beberapa bom asap ke arah mereka.
Satu persatu polisi ia habisi dengan mudah, bahkan kali ini Yoga tak main-main. Ia membelah ataupun memenggal kepala mereka tanpa ampun.
Polisi yang berjumlah dua puluh orang sekarang tersisa tiga orang. Dari banyaknya gumpalan asap yang menutupi pandangan mereka, Yoga melompat dan menebas tiga kepala secara langsung.
Tidak, hanya dua kepala yang ia tebas. Ia menyisakan satu polisi yang berbicara dengannya tadi. Polisi itu hanya menatap Yoga dan tak berani bergerak. Yoga kemudian memegang kepalanya lalu bertanya kepadanya.
" Kenapa kalian bekerjasama dengan Angry Bull Group? " Tanya Yoga yang meletakkan pedang di leher polisi tersebut.
" A-aku... Aku hanya mengikuti saja. Pak Walikota, iya benar. Dia yang menyuruh kami untuk melakukan semua ini. Dia bilang, dia ingin merubah kota ini menjadi kota yang lebih baik. " Ucapnya sambil gemetaran.
" Cih... dimana dia sekarang? " Tanya Yoga lalu menggoreskan pedangnya sedikit ke leher pria tersebut.
__ADS_1
" Tidak, aku tidak tahu. Tolong jangan bunuh aku. Aku masih memiliki istri dan tiga anak. " Ucapnya yang memelas.
Yoga yang kasihan melepaskan dirinya lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Namun, sebuah peluru melesat tepat mengenai kepalanya. Yoga kemudian menoleh ke polisi tadi dan melihat ia yang telah menembak Yoga.
Yoga hanya terkekeh dan mendekati polisi itu.
" Kau tau, aku paling membenci dengan orang yang sepertimu. Sudah diberi kesempatan untuk hidup, tapi malah membuat kesalahan. " Ucap Yoga lalu mengambil pisau belati yang ia dapat dari mesin gacha.
" Ba-bagaimana bisa kau tidak mati? " Tanya polisi itu yang heran melihat Yoga masih hidup meski darah terus mengalir dari kepalanya.
" Yang pertama, aku adalah pembunuh. Yang kedua, aku adalah psikopat. Dan yang ketiga, aku takkan mati sebelum bisa mengubah diriku. " Yoga lalu menancapkan pisau ke mata polisi itu lalu mencabutnya kembali.
" Aaarrrrggghhh.... " Teriak polisi itu yang merintih kesakitan.
" Ahaha... teriak lebih keras lagi. Aku sudah lama tak berbuat seperti ini. " Ucap Yoga yang merobek mulut polisi itu hingga lebar menggunakan pisau.
" Jangan mati terlebih dahulu, aku hanya ingin bersenang-senang. " Ucap Yoga lalu mengarahkan pisaunya ke perut pria malang itu.
Pria itu menepuk lantai berkali-kali karena kesakitan, ia juga berusaha melepaskan diri dari Yoga. Tapi Yoga menariknya kembali dan memotong otot kaki agar ia tak dapat menggerakkan kaki.
Ia juga memotong otot tangan sehingga pria malang itu dapat memukuli Yoga lagi.
Yoga mulai dari membelah perut, kemudian mengeluarkan semua isi perutnya dan memotong hingga beberapa bagian. Melihat tidak ada tanggapan dari pria itu. Yoga beberapa kali membangunkan pria itu namun juga tak bangun.
Yoga mengecek detak jantung dan urat nadinya, ternyata ia sudah mati. Yoga lalu berdiri dari duduknya dan pergi dari sana tanpa membersihkan mayatnya.
" Apa itu tadi, kenapa tubuhnya berserakan di lantai. " Gumam Yoga lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan pakaiannya dari darah.
Drap! Drap! Drap! Drap!
Yoga mendengar suara beberapa orang yang sedang berlari di luar. Ia kemudian mengintip dari balik pintu dan melihat pasukan polisi khusus sedang berbaris di luar. Yoga segera menutup kembali dan memikirkan cara untuk kabur dari mereka.
Ia kemudian duduk di wc duduk sambil memikirkan cara. Kemudian ada seseorang yang masuk ke dalam toilet dan membuka semua pintu kamar mandi dengan tendangan.
Yoga yang berada di kamar mandi paling pojok merasa panik dan segera menyiapkan posisi untuk menyerang.
Hingga sampailah orang tersebut sampai di kamar mandi paling ujung. Ia menendang kamar mandi itu namun terkunci, bodohnya Yoga tak membuka kamar mandi itu.
" Siapa di dalam? " Tanya orang tersebut dengan suara yang lantang.
" Pengunjung. " Ucap Yoga yang menggema.
" Kau sedang apa? " Tanya orang itu.
" Buang air. " Jawab Yoga.
" Masih lama? " Tanya nya lagi.
" Sebentar lagi. " Jawab Yoga lalu menyiram wc nya.
" Baiklah, kalo sudah selesai. Segera keluar, karena ada seorang pembunuh disini. " Ucap orang tersebut dan pergi keluar.
Yoga menghela nafas lalu keluar dari kamar mandi.
Ketika di luar, ia melihat banyaknya polisi sedang mengevakuasi tempat ini. Bahkan diberikan pembatas kuning mengelilingi gedung. Yoga lalu berjalan seakan-akan tidak memiliki dosa. Kemudian tangannya ditarik dengan seorang polisi. Yoga menoleh ke arahnya dan melihat para polisi sedang memandangi nya.
" Oh tidak. " Batin Yoga lalu berjalan mengikuti polisi yang menariknya.
...****************...
__ADS_1