
Setelah mengetahui bahwa Natalia adalah wanita simpanan Logan dan Handika adalah seorang Ketua Polisi. Mereka berdua saling musuhan dan memalingkan pandangan.
Yoga dan teman-temannya beristirahat di bangku sambil mengobrol dan bercanda. Handika lalu duduk bersama mereka lalu membicarakan kerjasama mereka.
" Baiklah, aku akan ikut rencana kalian. " Seru Handika kepada mereka semua.
" Hmm... bagaimana mulai besok kita beraksi? " Ucap Arthur yang memberi saran.
" Heh... Belum juga ada persiapan. " Ucap Handika.
" Bukan kamu Pak tua, tapi kami berempat yang beraksi. " Ucap Arthur yang menunjuk Yoga, Leon dan Jonathan.
" Jangan panggil aku Pak tua, umurku masih 38 tahun. " Ucap Handika yang geram akibat dipanggil Pak tua.
" Tidak, kalian rencanakan dulu. Sepertinya aku sedang tidak enak badan. " Ucap Yoga lalu pergi dan masuk ke kamar.
" Kok tiba-tiba gitu. " Ucap Natalia yang mendengar pembicaraan mereka.
" Sebenarnya Kak Yoga udah sakit dari kemarin. Cuma dia selalu bohong, padahal udah disuruh istirahat, masih aja keliaran. " Lanjut Luna yang menjelaskan.
" Owh... begitu, ya. Dari awal sih, dia juga gak mau kerjasama dengan aku. Tapi aku bersyukur bisa bertemu dengan anak itu. " Ucap Handika lalu menitiskan air mata.
" Paman, bagaimana rencananya? " Tanya Arthur yang tidak sabar.
" Baiklah, aku akan membuat beberapa rencana. " Ucap Handika lalu mengeluarkan buku dan pulpen dari jaketnya.
Di kamar, Yoga berbaring di kasur sambil menatap layar sistemnya sambil menggacha beberapa kupon di mesin gacha. Ia mendapatkan 100 Kupon Gold dan 796 Kupon Silver.
Ia mendapatkan beberapa pisau belati dengan tingkat level SSR dan jaket berwarna hitam yang levelnya tidak diketahui dari kupon silver. Sisanya ia hanya mendapatkan uang sebesar
Rp. 39.700.000 dan beberapa aksesoris seperti gelang, jam, cincin dan kalung.
Tak hanya itu saja, ketika menggacha menggunakan Kupon Gold. Ia mendapatkan masker gas, sarung tangan listrik dan sepatu anti licin. Sisanya ia mendapatkan koin lalu menukarkan menjadi uang sebesar Rp. 5.000.000 dan kini saldonya menjadi Rp. 1.045.200.000.
Ia lalu membeli beberapa skill di toko seperti
[ Zoom Vision ], [ Pendeteksi Ancaman Bahaya ] dan [ Pendeteksi Hawa Panas ]
Setelah membeli tiga skill, ia kemudian menukarkan senjata api yang ia punya menjadi laptop yang mempunyai spek tinggi. Kemudian ia menghilangkan tampilan layarnya dan memejamkan mata.
...----------------...
Keesokan harinya, Leon, Jonathan dan Arthur pergi bersama Handika menaiki mobil. Sedangkan Nita, Rian dan Luna menjadi tim support yang membantu dari jauh dan dipimpin dengan Natalia. Mereka menaiki sebuah van yang disetir dengan barista bar.
Sedangkan Yoga, sedang beristirahat. Entah mengapa berkali-kali ia memakai skill [ Regenerasi ] ia tetap tak bisa menghilangkan panas tubuhmya. Ia juga melihat indikator yang bergambar manusia bahwa kondisi Yoga berada di 43%.
...----------------...
Di depan gedung perusahaan Angry Bull Group, ada sekitar sepuluh penjaga yang sedang menjaga pintu gerbang. Tak hanya itu saja, kini pintu gerbang dilapisi kawat penghantar listrik. Jadi mereka tak bisa masuk sebelum mematikan saklar yang membuat listrik itu menyala.
__ADS_1
Di sisi lain, Rian sedang meretas website resmi dari Angry Bull Group dan menuliskan 'Bersiaplah Kalian Semua'. Tentu itu membuat heboh warga sosial media, yang dimana para pelanggan yang sering membeli bahan pokok melalui online menjadi kalang kabut karena melihat website itu hanya bertulisan 'Bersiaplah Kalian Semua'.
Tak hanya itu saja, Nita yang mempunyai skill sihir mencoba untuk menyerang para penjaga tersebut. Namun hal itu sia-sia, karena ia hanya punya skill untuk menyembuhkan orang, bukan untuk menyerang.
Luna yang tidak memiliki apa-apa hanya menggerakkan drone dan menyiarkan siaran live di akun YouTube nya, judulnya adalah 'Sisi Gelap di Balik Perusahaan yang Ternama'.
Siaran tersebut langsung mendapatkan banyak penonton sekitar satu juta views bahkan setiap menitnya akan bertambah sepuluh views.
Natalia sebagai pemandu mereka selalu menjaga mereka agar mereka selalu selamat dari misi ini.
Tiba-tiba, ada sebuah mobil Alphard yang langsung menabrak pintu gerbang tersebut dan membuat penjaga langsung menembakkan mobil itu menggunakan pistol.
Karena gerbang tersebut sudah terbuka, Leon, Arthur dan juga Jonathan keluar dari mobil menggunakan jaket berwarna hitam dan topeng berwarna putih.
Dengan cepat Arthur berlari menuju para penjaga lalu menumbangkan dua penjaga menggunakan tangan kosong. Leon dan Jonathan juga tak mau kalah, mereka langsung berlari menuju penjaga yang tersisa dan beradu kekuatan disana.
Sempat kewalahan dengan tenaga dari para penjaga, Jonathan sempat terkena pukulan berkali-kali di bagian perutnya. Untung saja Leon yang menyadari langsung membantunya dan menyerang bersamaan.
Handika yang masih didalam mobil langsung keluar menggunakan jas hitam dengan sebatang rokok di mulutnya. " Aku sudah merelakan mobil kesayanganku, jika misi ini gagal. Aku akan menggantung kalian. " Ucap Handika dan berjalan layaknya seorang mafia.
...----------------...
Di tempat lain yaitu di bar, Yoga kehilangan kontrol karena tak tahan dengan tubuh yang panas. Ia lalu keluar dari bar kemudian berjalan menuju rumah sakit yang jauhnya sekitar seratus meter dari bar.
Ia lalu mengambil nomer antrian dan menunggu di ruang tunggu. Selang beberapa waktu, akhirnya ia dipanggil dan masuk ke dalam ruangan. Ia melihat seorang dokter dan seorang suster sedang duduk menunggu pasien yang datang.
Yoga kemudian diperiksa.
Yoga lalu senyum kemudian menuju ke meja suster. Suster memberikan beberapa obat lalu Yoga keluar dari ruangan itu.
Di luar, Yoga yang sudah selesai memeriksa keadaannya. Ia segera kembali ke bar untuk beristirahat di sana. Namun ia melihat beberapa mobil polisi yang melaju entah ingin pergi kemana. Ia tak menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam bar lalu menutup pintu.
...----------------...
Pindah ke tempat lain yang dimana Leon dan lainnya sedang melakukan misi penyelidikan untuk mengetahui sisi gelap perusahaan Angry Bull Group.
Handika sedang berjalan ke pintu masuk perusahaan, sedangkan Leon dan teman-temannya berusaha melumpuhkan penjaga namun tak bisa.
...----------------...
Kemarin malam ketika mereka sedang berdiskusi tentang rencana yang akan mereka buat.
" Sebenarnya aku tak yakin dengan anak-anak remaja ini. Tapi setelah melihat insiden kemarin, aku semakin tak percaya bahwa kalian yang pergi ke Dragon Cage. " Ucap Handika.
" Hah? Abang pergi kesana? " Tanya Luna ke Leon.
" Eh... Iya, kan abang nemenin Yoga. " Jawab Leon.
" Untung gak kenapa-kenapa. Kalo ada apa-apa kan, Luna lagi yang susah. " Ucap Luna lalu memasang wajah cemberut.
__ADS_1
" Tapi, bukan kami yang memasang Bom. " Lanjut Jonathan.
" Aku tau, karena itu aku percayakan ke kalian. Satu lagi, beberapa penjaga yang kalian lumpuhkan adalah anggota ku. Dan orang yang mengejar kalian juga anggota ku. " Ucap Handika lalu tersenyum.
" Kenapa kau melakukan ini! " Ucap Leon.
" Yang membunuh tahanan bukan kami, entah siapa yang melakukannya kami juga tak tau. Yang jelas, kami melakukan itu kepada kalian agar terjadi apa-apa kepada kalian. Mungkin saja ketika kalian tidur di penginapan itu, tiba-tiba meledak. " Ucap Handika.
" Jadi, yang dikatakan Yoga belum tentu benar? " Tanya Arthur ke semuanya.
" Mungkin ada yang benar, tapi tak semuanya. " Jawab Leon.
" Jadi kalian jangan membunuh, tapi hanya melumpuhkan. " Ucap Handika.
" Jika ada pembunuh yang asli bagaimana? " Tanya Leon.
" Tenang saja, aku juga punya beberapa anggota pembunuh. " Jawab Handika.
...----------------...
Leon, Jonathan dan Arthur berhasil melumpuhkan sepuluh penjaga kemudian mereka langsung melepaskan topeng mereka dan menyusul Handika yang sudah berada tepat di depan pintu utama perusahaan.
Pintu tersebut terbuka lalu muncullah seorang pria berpakaian rapi dan didampingi dengan tiga orang bodyguard.
Handika dan yang lainnya terkejut melihat pria yang keluar dari perusahaan tersebut. Saking terkejutnya, siaran langsung yang direkam dari drone milik Luna langsung dihentikan.
Handika lalu menundukkan kepala. " Selamat siang Pak Walikota. " Sapa Handika.
" Ooo... Pak Handika, ada apa ribut-ribut di perusahaan saya? " Ucap Walikota tersebut yang bernama Irfan.
" Saya hanya mencurigai perusahaan ini, tapi ternyata pemilik perusahaan ini adalah anda. " Ucap Handika lalu mengangkat kepalanya.
" Ah... ada Jonathan juga, seorang remaja yang sukses dan Owner dari perusahaan Neptunus. Ada perihal apa kamu datang kesini? " Tanya Irfan ke Jonathan.
" Eee... tidak, saya hanya ingin bertamu ke—" Tiba-tiba ucapan Jonathan terpotong akibat suara sirine dari mobil polisi.
" Pak Handika, mulai saat ini anda diberhentikan menjadi seorang Kapolri. Meski bukan saya yang mengatur anda, tapi dengan apa yang anda perbuat hari ini. Semuanya telah menjadi bukti. Saya harap anda tidak menginjakkan kaki anda kesini lagi. " Ucap Irfan lalu berjalan menuju polisi yang datang.
" Angkat tangan!!! " Teriak seorang polisi
Leon, Jonathan dan Arthur mengangkat tangan kemudian Handika hanya berlutut seperti sedang memikirkan sesuatu.
...----------------...
Di lain sisi dimana kelompok Natalia menghilang begitu saja, yang tersisa hanyalah sang barista yang bernama Budi sedang pingsan di kemudi mobil.
Para polisi yang telah membawa mereka semua langsung meninggalkan tempat dan pergi menuju kantor polisi.
" Skakmat!!! Kalian ingin melawan perusahaan yang didirikan dengan pemerintah? Dasar manusia sampah. " Ucap Irfan lalu masuk ke dalam mobil entah pergi kemana.
__ADS_1
...****************...