
Setelah kejadian di apartemen, Yoga memutuskan untuk tinggal sementara di Hidden Bar milik Natalia. Yoga yang sedang berbaring di kamar bersama Leon dan Luna, dikejutkan dengan Handika dan Natalia yang masuk ke kamar.
" Yoga, bagaimana kerjasama kita? " Tanya Handika yang berdiri di depan pintu dengan tangan melipat.
" Terserah, yang penting jangan beritahu bahwa kami disini. " Jawab Yoga lalu duduk melihat jam di ponselnya
" Leon, Luna... kalian belum makan? " Tanya Yoga.
" Belum.... " Sahut mereka berdua.
Yoga kemudian berdiri dan berjalan mendekati Handika.
" Belikan kami makanan.... " Yoga lalu mengambil uang dari dompetnya. " ... nih uangnya, karena kami buronan. Kami tak bisa keluar sembarangan. " Ucapnya lalu mendekati Natalia.
" Kami akan tinggal disini selama beberapa hari, bolehkan? " Tanya Yoga ke Natalia.
" Terserah, yang penting jangan membuat ulah. " Jawabnya lalu keluar dan menuju meja bar.
" Yoga, sebenarnya aku tak ingin membicarakan hal ini, tapi kau benar-benar sama seperti orang itu. " Ucap Handika lalu keluar dari sana untuk membelikan makanan.
" Eh... Pak tua, pintu keluarnya lewat sini. " Teriak Yoga lalu membuka pintu menuju dapur.
" Ooo... aku kira pintu keluarnya sama seperti tadi. " Ucap Handika dan langsung keluar.
Yoga lalu duduk di kursi bundar dan meminta segelas soda. Natalia menuangkannya lalu menatap Yoga.
" Teman-temanmu saja minum bir, kenapa kau minum soda? " Tanya Natalia yang penasaran.
" Aku tak suka bir.... " Yoga meletakkan gelasnya di hadapan Natalia. "... berikan aku susu. " Ucap Yoga lalu melipat tangan di atas meja.
Natalia lalu menuangkan susu sapi murni lalu memberikannya ke Yoga. " Namamu Yoga, sifatmu juga sama seperti dia. Apakah kau mempunyai garis keturunan dengannya? " Tanya Natalia yang memandangi wajah Yoga yang tampan.
" Siapa? Pembunuh itu? Banyak sekali orang yang menyamakan aku dengan dirinya. " Jawabnya lalu meneguk segelas susu sampai habis.
" Sebenarnya memang Yoga pembunuh sih. " Batinnya sambil terkekeh.
" Kenapa kau tertawa? " Ucap Natalia yang heran.
" Tidak, hanya saja kalian menyamakan diriku dengan pria bodoh itu. " Ucap Yoga yang terkekeh dari tadi.
" Aku akui dia memang bodoh, tapi kalau masalah membunuh. Dia paling pintar, bahkan menjadi pembunuh yang ditakuti diseluruh kota ini. " Ujar Natalia yang kagum.
__ADS_1
" Begitu, ya? Bagaimana dengan diriku yang mampu membunuh Logan? " Ucap Yoga lalu membuat Natalia berdiri kaku seperti tak percaya dengan apa yang diucapkan Yoga.
" Apa yang barusan kau katakan? " Tanya Natalia untuk memastikan.
" Aku membunuh Logan, berita di televisi itu hanyalah kebohongan. Yang membunuh Logan sebenarnya adalah aku. " Ucap Yoga lalu tersenyum lebar.
" Aku percaya, kau juga memintaku memberitahu posisi Logan waktu itu. Tapi kau punya hubungan apa dengan Logan sampai kau membunuh dia? " Tanya Natalia lalu mendekatkan wajahnya ke hadapan Yoga.
" Karena dia mafia yang disegani dengan seluruh kota ini. Jadi jika aku membunuhnya, aku bisa menduduki posisinya. Tapi ternyata tidak.... " Yoga memasang wajah sedih. " ... aku malah dikejar-kejar dengan pembunuh yang asli. " ucapnya dan meletakkan kepalanya diatas meja.
" Hanya seperti itu? " Tanya Natalia yang masih tak percaya.
" Iya, mau bagaimana lagi. Dan dirimu pasti istri, tidak, kau masih muda. Kau adalah wanita simpanannya Logan. " Ucap Yoga dan menunjuk ke arah Natalia.
Natalia lantas terkejut dengan ucapan Yoga kemudian menarik kerah baju Yoga.
" Bagaimana kau tau itu? Kau pasti ada hubungan dengan Logan. " Ucapnya yang marah.
Yoga melepaskan tangannya dan menjauh dari Natalia. " Itu karena aku melihat fotomu dengan Logan. " Ucap Yoga lalu menujukan fotonya bersama Logan.
" Darimana kau mendapatkan itu? " Tanya Natalia yang penasaran.
" Dari saku celana milik Logan. " Jawabnya dan melemparkan foto itu ke Natalia.
...----------------...
Di tempat yang berbeda, sebuah mobil van berwarna hitam sedang terparkir di jalan. Lalu muncul beberapa orang membawa tiga perempuan dan langsung memasukkannya ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Tapi, sebuah mobil Alphard sedang terparkir di jalan dan orang yang di dalamnya sedang memandangi mereka.
" Bingo. " Ucap Handika yang melihat langsung kemudian menyalakan mobilnya dan kembali ke bar.
...----------------...
Natalia yang melihat Handika kembali langsung pergi ke kamar untuk membangunkan Yoga. Namun ketika membuka pintu, kamarnya sudah tertata rapi layaknya sebuah dan ada tiga komputer disana.
" Yoga, bangun. "
Yoga lalu terbangun dari tidurnya lalu membangunkan Leon dan Luna yang masih tertidur. Mereka bertiga lalu keluar dan melihat mereka sudah berkumpul untuk makan.
Yoga, Leon dan Luna segera mencuci muka dan langsung duduk bersama mereka untuk menyantap makanannya. Handika lalu menatap Yoga dan membuka percakapan.
__ADS_1
" Yoga, aku tadi melihat sesuatu yang benar-benar membuatku tidak percaya.... " Handika mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan ke Yoga. " Ternyata Angry Bull yang menculik anak-anak perempuan akhir-akhir ini. " Ucapnya dan mengambil kembali ponselnya.
Jonathan yang melihatnya seketika kaget, Natalia yang sudah tahu dari awal hanya diam saja. Sedangkan yang lainnya hanya diam karena tak tahu permasalahan awal.
" Aku sudah mengetahuinya. " Ucap Yoga lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.
Mereka yang mendengarnya langsung terkejut dan mereka semua menatap Yoga secara bersamaan.
" Kenapa kalian kaget? Bukankah hal itu wajar, aku juga dulunya bekerja disana. " Ucap Yoga yang tak sadar kalau dirinya keceplosan.
" Hah! Kau pernah bekerja disana? " Tanya Handika yang tak percaya.
" Siapa kau sebenarnya? Dari awal aku mencurigai dirimu. " Sambung Natalia lalu menodongkan pistol ke wajah Yoga.
" Darimana kau mendapatkan pistol? Letakkan itu sekarang juga! " Ucap Handika yang menatap tajam ke Natalia dan Yoga.
" Eh... aduh keceplosan. Huft... " Yoga memandangi Leon dan Luna, mereka hanya mengangkat bahu dan melanjutkan makannya. " Baiklah... percaya atau tidak, aku adalah Yoga, Yoga Maharaja seorang pembunuh bayaran yang menjadi psikopat. " Ucap Yoga lalu meletakkan sendoknya di piring.
" Apa!? " Natalia dan Handika kaget mendengar itu.
" Jangan asal bicara, bagaimana bisa orang mati hidup kembali. " Ucap Handika lalu berdiri dan mendekat ke Yoga.
" Jadi itu alasanmu untuk bisa membunuh Logan. " Ucap Natalia dan kembali menodongkan pistol ke Yoga.
" Hei... aku sudah bilang kan, kalau aku Yoga. Kenapa kalian masih tak percaya? " Ucap Yoga lalu berdiri dan merampas pistol dari Natalia lalu menodongkannya kembali.
Kemudian Yoga menjatuhkan Handika yang hendak memukulnya dan langsung mengeluarkan pedang kemudian menodongkan ke wajah Handika.
" Kalau kalian tak percaya, aku akan menunjukkan sifat asli ku ke kalian. " Ucap Yoga lalu mengangkat pedangnya lalu mengayunkan ke Handika.
" Tapi aku sekarang sudah berubah.... " Ucapnya lalu mengembalikan pedangnya. " ... sekarang aku bukan Yoga Maharaja tapi Yoga Hari Wibowo. " Lalu Yoga membantu Handika untuk bangun.
Mendengar Yoga menyebutkan nama panjangnya, Natalia dan Handika langsung percaya dan menatap Yoga seperti menatap orang yang sudah lama pergi.
" Bagaimana kau bisa hidup kembali? " Tanya Handika yang ingin tahu.
" Berikan kami penjelasan dan pak tua itu siapa? " Lanjut Natalia dan menunjuk ke Handika.
" Hah!? Bukannya aku yang seharusnya menanyakanmu. Siapa kau sebenarnya, ada hubungan apa dirimu dengan Logan? " Tanya Handika ke Natalia.
" Ah... sudahlah. " Gumam Yoga lalu melanjutkan makannya sambil menikmati Handika dan Natalia yang membuat keramaian.
__ADS_1
...****************...