
Yoga dan teman-temannya lalu keluar dari sel tahanan. Teman-temannya terkejut melihat semua polisi tergeletak, ada yang masih hidup dan ada yang tewas akibat terkena tebasan pedang Yoga.
Handika dan yang lainnya lalu keluar dari ruang persenjataan lalu mendekat ke Yoga dan lainnya.
" Apa rencanamu sekarang? " Tanya Handika ke Yoga.
Yoga berpikir sejenak sambil memandangi satu persatu temannya, namun masih ada yang kurang.
" Kemana perginya Luna, Nita, Rian dan Natalia? " Tanya Yoga ke mereka semua.
" Lah, bukannya bersama kamu. " Ucap Leon lalu mendekati Yoga.
" Nggak, yang datang cuma Budi doang. " Balas Yoga lalu membuang kedua pedangnya yang sudah rusak.
Lalu televisi menayangkan sebuah berita yang dimana Walikota membicarakan tentang Handika yang telah diturunkan jabatan bahkan dipecat akibat telah membantu buronan polisi.
" Taman Kota, pergilah ke taman kota. " Ucap Yoga ke Handika.
" Tapi, bukankah kalau aku kesana bakalan menjadi buronan. " Balas Handika mengerutkan dahinya.
" Bukan, tapi ikuti mereka. " Ucap Yoga lalu berdiri diatas meja.
Tak lama kemudian, Budi datang menemui mereka dengan keadaan yang tidak stabil. Ia lalu duduk di kursi dan menangkan dirinya.
" Kenapa? Kenapa kau kesini? " Tanya Yoga lalu melompat ke meja di dekat Budi.
" A-aku... Aku lupa memberitahu mu, ka-kalau... kalau Natalia dan mereka. Ditangkap, tidak, tapi dibawa dengan beberapa orang yang memakai jaket naga dan ular. " Ucap Budi lalu mengatur nafasnya.
" Sial... " Gumam Yoga. " Baiklah, Bryan. Kau tau dimana letak markas Black Dragon dan White Cobra berkumpul kan? " Ucap Yoga lalu turun dari atas meja.
Bryan mengangguk lalu mendekati Yoga.
" Kau, dan Leon pergi ke markas Black Dragon... " Yoga yang menunjuk mereka berdua. " ... lalu Jonathan dan Arthur pergi ke markas White Cobra. " Ucap Yoga yang menunjuk mereka berdua.
" Lalu Pak tua, Alex dan Joseph pergi ke taman untuk mengikuti kemana perginya Walikota. Dan Budi, pergilah bersama mereka... " Menunjuk kelompok Handika.
" Lalu kau akan kemana? " Tanya Handika.
" Oh iya, aku lapar. Aku ingin makan sebentar. " Ucap Yoga lalu pergi meninggalkan mereka.
" Sebenarnya apa yang dipikirkannya? " Gumam Handika lalu berjalan keluar.
Yoga lalu memberhentikan langkahnya lalu membalikkan badan ke mereka.
" Satu lagi, habisi para gangster itu. Jika tak menemukan Luna dan yang lain. Pergilah ke Angry Bull Group, kita berkumpul disana tepat jam tiga sore. " Ucap Yoga lalu melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Mereka semua lalu melihat jamnya masing-masing dan ternyata sekarang telah menunjukkan jam satu lebih tiga menit.
Handika langsung mengambil mobil polisi yang terparkir disana, sedangkan sisanya menggunakan motor mereka masing-masing kecuali Bryan yang dibonceng Leon. Mereka segera pergi sesuai dengan arahan Yoga.
Yoga lalu duduk di depan pagar kantor polisi sambil memegangi masker gasnya.Tak lama kemudian muncul beberapa polisi yang tadinya pingsan lalu duduk di samping Yoga.
" Sekarang kau ingin kemana, Psikopat? " Ucap salah satu polisi yang bernama Bima.
" Ah, lama tidak bertemu. Sudah berapa tahun, ya? " Tanya Yoga lalu menoleh ke Bima.
" Aku tak mengerti kenapa kau bisa hidup lagi. Yang jelas, aku sudah berhutang nyawa kepadamu. " Ucap Bima lalu berdiri.
Yoga lalu berdiri dan memeluk teman lamanya, teman sewaktu masih SMA.
" Aku sebenarnya tak percaya ketika kau berteriak bahwa kau adalah Yoga Pembunuh. Tapi setelah melihat kebrutalan mu, aku jadi percaya dan membantumu melumpuhkan semua polisi. " Ucap Bima lalu menepuk pundak Yoga berkali-kali.
" Sekarang bagaimana Ketua? " Tanya beberapa polisi ke Bima.
" Kita akan menangkap Walikota dan membuka semua identitas aslinya. " Ucap Bima lalu melepaskan pelukannya dari Yoga.
" Hei, bukannya kau dulu itu paling sering dibully dengan anak-anak? Sekarang malah ngebantai pasukan polisi... haha... " Ucap Bima yang tertawa terbahak-bahak mengingat masa lalunya.
" Ya, setidaknya ketika aku dibully dengan mereka. Aku mentalku menjadi lebih kuat. Dan aku juga tak percaya bahwa temanku yang sok kuat ini jadi polisi. " Ucap Yoga yang menyindir.
" Cih... kalau dulu aku tak membantumu berkelahi dengan anak itu. Mungkin sekarang kau membunuhku. " Ucap Bima melihat langit yang mulai mendung.
" Kau ingin pergi sendirian kesana? Bagaimana kalau beberapa anggotaku menemanimu kesana? " Ucap Bima yang menawarkan bantuan.
" Nggak, kalian fokus aja menangkap Baji**an satu itu. Kalian tau sendiri kan, kalau dia mempunyai hak kekuasaan yang besar. " Ucap Yoga lalu berjalan menuju motornya
" Siap, kami akan berusaha sebaik mungkin. Yang jelas, setelah semua ini. Pergilah kerumahku, karena kakakku ingin bertemu denganmu. " Ucap Bima dengan keras.
" Iya, jika aku tak kembali. Kirim salam buat kakakmu dari Yoga yang paling tampan. " Ucap Yoga lalu menutup kaca helmnya.
Bima dan para anggotanya melambaikan tangan ke Yoga. Lalu Yoga melajukan motornya menuju Gedung perusahaan Angry Bull Group.
...----------------...
Leon dan Bryan sudah sampai di markas milik Black Dragon, akan tetapi tidak ada satupun orang disana. Begitu juga dengan Arthur dan Jonathan, disana sangat sepi bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Mereka semua lalu menghubungi Yoga melalui telepon grup. Yoga yang sedang diperjalanan langsung menepi dan mengangkat telponnya.
" Ada apa? " Tanya Yoga ke mereka semua.
" Disini kosong, tidak ada seorangpun disini. " Ucap Leon.
__ADS_1
" Wah... sama dong, disini juga tak ada siapapun. " Ucap Jonathan.
" Pergilah ke tempat yang ku bicarakan tadi, secepatnya. " Ucap Yoga lalu menutup telponnya.
Mereka semua lalu pergi dari sana menuju ke gedung perusahaan Angry Bull Group. Leon dan Bryan bertemu dengan Arthur dan Jonathan di jalan. Mereka kemudian berangkat bersama-sama dan melihat Yoga masuk ke gerbang gedung perusahaan Angry Bull Group yang masih diperbaiki.
Yoga menabrak begitu saja dan langsung menghilangkan motornya. Beberapa pekerja yang melihat itu langsung berlari entah kemana.
Lalu teman-temannya datang menghampiri Yoga dan berdiri di depan pintu utama gedung.
" Di dalam masih banyak karyawan yang bekerja. Selamatkan semuanya jangan menggunakan kekerasan. Usahakan jangan terlibat pertarungan sebelum menyelamatkan orang-orang yang tak bersalah. " Ucap Yoga yang memberi arahan.
Mereka semua mengangguk lalu masuk ke dalam gedung bersama-sama. Yoga menggunakan topengnya kemudian menakut-nakuti mereka semua menggunakan pistol yang ia tembakkan ke langit-langit gedung agar mereka bisa keluar dari gedung dengan cepat.
" Katanya jangan menggunakan kekerasan. " Ucap Bryan yang agak bingung dengan Yoga.
" Oh iya, Bryan... gunakan masker ini. " Ucap Yoga yang memberikan masker gas ke Bryan.
" Untuk apa? " Tanya Bryan ke Yoga.
Yoga lalu menunjuk yang lainnya, Bryan lalu melihat Leon, Arthur dan Jonathan telah memakai topeng. Kemudian Bryan memakai masker gas tersebut dan mereka berakting menjadi ter-or-is.
Semua karyawan yang bekerja telah keluar dari gedung dan mungkin menyelamatkan diri masing-masing. Tak lama kemudian muncul seseorang pria memakai kacamata hitam dari pintu lift.
" Oh, ternyata mereka. "
Pria tersebut lalu berjalan mendekati mereka. " Aku seorang direktur dari perusahaan ini. Apa yang kalian inginkan? " ucapnya lalu melepaskan kacamata hitamnya.
" Meruntuhkan gedung ini. " Ucap Yoga yang spontan.
" Ahaha... mengejutkan, aku tau kalian ini masih remaja. Bagaimana kalau kalian mengalahkan mereka terlebih dahulu. " Ucapnya.
Lalu keluar beberapa orang berpakaian serba hitam dari tangga, itu adalah mafia dari perusahaan ini. Lalu ada geng Black Dragon yang keluar pintu sebuah ruangan dan bergabung dengan mafia.
Kemudian di luar dari pintu masuk muncullah White Cobra bersama anggotanya. Dan dari ruang rahasia, muncul para pembunuh bayaran yang siap membunuh mereka asal dibayar.
Yoga, Leon, Bryan, Arthur dan Jonathan dikelilingi oleh mereka semua. Mereka berlima langsung membelakangi badan masing-masing untuk menjaga jaga dari serangan mendadak.
Lalu direktur itu mendekati mereka lagi. " Bagaimana? Kalian masih ingin meruntuhkan gedung ini atau keluar dari gedung ini hanya dengan nama saja. " Ucap Direktur tersebut yang mengintimidasi mereka.
Yoga hanya tersenyum dari topengnya. " Siapa takut. " Ucapnya. " Pembunuh bayaran dan mafia serahkan padaku, sisanya kalian urus sendiri. " Bisik Yoga ke teman-temannya.
" Ayo!!! " Teriak Yoga lalu berlari ke arah pembunuh bayaran.
Leon dan Arthur langsung berlari menuju White Cobra sedangkan Bryan dan Jonathan berlari menuju Black Dragon.
__ADS_1
Pertempuran yang besar terjadi, meski tim Yoga hanya berjumlah lima orang termasuk dirinya. Tapi kemampuan bertarung mereka sudah setingkat dengan para mafia yang dihadapi Yoga saat ini.
...****************...