System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 44 - Dragon Cage berdarah (Bagian 2)


__ADS_3

Sore menjelang malam, nampak empat pria remaja sedang berhadapan dengan dua puluh pria dewasa yang memegang senjata tajam di kedua tangan mereka.


Empat remaja tersebut nampak sudah sangat berpengalaman dengan dunia bertarung, meski harus berhadapan dengan dua orang pembunuh, mereka tak gentar sama sekali.


" Yoga, mungkin aku tak ingin melihat dirimu membunuh orang lebih banyak lagi. Tapi sekarang, itu terserah padamu. Karena hidupmu bergantung pada dirimu, bukan pada diriku. " Ucap Leon yang sedang mencari beberapa senjata dari penyimpanan miliknya.


Yoga lalu mengembalikan dua bilah pisau karambit milik Leon yang sempat ia pakai waktu membunuh anggota geng White Cobra.


" Thanks, Yoga. " Leon lalu mengambilnya dan senyum ke Yoga, begitu juga dengan Yoga yang sudah senyum dari tadi.


" Aku mungkin tak tahu cara beladiri, tapi kalau cara bertarung, aku sudah sering. " Gumam Jonathan yang didengar dengan mereka semua.


Yoga dan Arthur menggunakan katana sebagai senjata mereka, Leon menggunakan dua pisau karambit, sedangkan Jonathan memakai rantai yang sangat panjang.


" Hei anak muda, kalau mau main pedang-pedangan jangan disini. Ini tempatnya orang dewasa. " Teriak salah satu pembunuh disana.


" Ayo!!! " Ucap Yoga lalu berlari ke arah mereka lalu memakai topengnya.


Mereka bertiga berlari mengikuti Yoga menuju ke dua puluh pembunuh bayaran tersebut.


" Ooo... kalian mau main pedang sama om, ya? " Gumam pria gendut sambil menjilati sabit yang berlumuran darah.


Yoga mengambil lima orang dibagian sisi kanan, begitu juga dengan mereka yang mengambil sisanya. " Sistem, nyalakan [ Assassin ] mode. " ucap Yoga kemudian layar tubuhnya bergerak sendiri, namun masih dalam kondisi sadar.


Awalnya Yoga ingin menebas mereka menggunakan pedangnya, namun ketika diayunkan. Mereka tak berniat ingin menyerang, bahkan menangkis pun tak pernah.


Kemudian Yoga mengembalikan pedangnya dan menyerang mereka dengan tangan kosong. Dalam beberapa menit, ia mampu mengalahkan lima orang dengan mudah hingga membuat mereka semua pingsan kecuali satu orang, lalu ia menoleh ke arah teman-temannya untuk melihat keadaan.


Yoga merasa bingung dengan lawan yang dihadapinya kali ini. Mereka seorang pembunuh, namun nampaknya mereka tak terlihat seperti pandai bertarung. Jonathan yang jarang bertarung saja mampu mengalahkan mereka dalam sekejap.


Bahkan Leon dan Arthur sudah terlebih dahulu istirahat, Yoga yang menyisakan satu orang yang belum ia buat pingsan langsung menendangnya hingga jatuh.


" Siapa kalian? Kemana pembunuh yang sebenarnya? " Tanya Yoga dengan menarik kerahnya.


" Tidak, bukan aku. Aku hanya mengikuti perintah mereka. " Jawabnya dengan tubuh yang gemetar.


Yoga menghilangkan pedang dari tangannya lalu merubahnya menjadi pistol.

__ADS_1


Dor!


Yoga menembakkan satu peluru ke tanah tepat disamping pria yang dicekik nya.


" Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu? " Tanya Yoga lalu merobek baju pria itu.


Krak!


Leon dan lainnya lalu pergi mengecek keadaan sekitar sesuai dengan tujuan mereka awal, mencari orang yang masih hidup.


Sedangkan Yoga masih sibuk menginterogasi pria yang diduga seorang pembunuh.


" Hei, kau dari organisasi mana? Jika kau memang seorang pembunuh bayaran cepat katakan organisasinya. Jika bukan, cepat katakan siapa yang membuat ini semua! " Ucap Yoga yang semakin kesal lalu membeli pisau dapur dari [ Toko ] sistem.


" Kau ingin disiksa atau ingin langsung mati? " Tanya Yoga lalu mengelus pipi pria itu menggunakan pisau dapur.


Pria itu semakin gemetaran bahkan ia sampai mengompol saking takutnya.


" Ish... jorok banget, kau meremehkan aku, ya. " Yoga menusukkan pisau di telapak tangan pria itu hingga tembus. " Padahal tadi aku sudah bertanya dengan cara yang lembut. " menusukkan pisau itu berkali-kali ke tangan pria tersebut.


" Argghh... a-aku... tolong, tolong lepaskan aku. Aku a-akan mengatakannya. " Jawabnya yang merintih kesakitan.


" Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau sampai melakukan ini? " Tanya pria itu penasaran.


Yoga mencabut pisaunya dan mengarahkan ke mulut pria itu.


" Jangan banyak omong, salah sendiri mengapa kau tidak maju duluan. Kalau kau tadi maju duluan dan pingsan karena pukulan ku, mungkin kau takkan jadi seperti ini. " Ucap Yoga lalu mengelap pisaunya yang berlumuran darah ke baju pria itu.


Pria itu hampir kehabisan darah dan mungkin akan tergeletak setelah ini.


" Logan, Logan yang menyuruh kami. " Ucap pria itu yang membuat Yoga bingung.


" Logan? Maksudnya? Logan masih hidup? " Tanya Yoga yang penasaran dan sampai ia tak sadar mengiris tangannya sendiri.


" Tidak, dia tidak hidup kembali. Tapi ia mempunyai pesan kepada kami. Jika ia mati di tempat mana pun, maka kami harus membunuh semua orang yang disekitaran tempat itu. " Ucapnya lalu memejamkan mata.


" Sial, tidak mungkin. Kalian pasti menyembunyikan sesuatu.... " Yoga memukul kepala pria itu berkali-kali. " ... bangun pembohong, kau pasti menyembunyikan sesuatu kan. Benar, kan? " Tanya Yoga dan memukul pria itu berkali-kali.

__ADS_1


" Aaaa argghh. " Teriak Yoga yang mengeluarkan seluruh emosinya.


Tik! Tik! Tik!


Yoga mendengar suara yang sangat sering ia dengar, seperti suara bom waktu yang ingin meledak.


Tiga temannya sedang berlari keluar gedung lalu mengisyaratkan untuk segera berlari. Yoga yang tak faham lalu berjalan dengan perlahan mendekati mereka.


" Lari, Yoga!!! " Teriak Leon dari kejauhan.


Mendengar itu, ia langsung tersadar dan segera lari menuju gerbang masuk Dragon Cage.


Namun....


Blaarrr!!!


Ledakan terjadi begitu saja, Leon, Jonathan dan Arthur yang sudah diluar terlempar begitu saja. Leon lalu berdiri dan mencari Yoga yang belum keluar dari sana. Jonathan dan Arthur juga ikut berdiri dan melihat kobaran api yang membakar seluruh ma-yat yang ada disana.


" Kalian mengkhawatirkan aku? " Ucap Yoga yang di belakang mereka.


" Yoga!!! " Sahut mereka lalu memeluk Yoga.


" Ahaha... ternyata dua puluh orang tadi adalah tahanan yang disandera. Mereka dipaksa untuk menjadi bom bunuh diri dengan seseorang. " Ucap Yoga lalu melepaskan pelukan mereka.


" Bagaimana kau bisa selamat? " Tanya Arthur yang khawatir dengan Yoga.


" Hmm... sederhana saja, aku menggunakan ledakan sebagai menolak diriku keluar. Aku baru ingat, jas ini juga tahan dengan ledakan. " Jawab Yoga seraya menggaruk kepala.


" Wah... bilang dong dari tadi, kalau tau. Kami tak memberitahumu untuk lari. " Lanjut Jonathan dan mereka jalan menuju pantai untuk pulang.


...----------------...


Di tempat yang berbeda, terlihat beberapa orang mengawasi komputer mereka masing-masing. Lalu ada pria yang berjalan ke salah satu ruangan yang isinya hanya ada layar monitor yang sangat besar.


Ia menyalakan layar monitor tersebut dan yang mengejutkannya adalah, layar tersebut memperlihatkan Yoga dan teman-temannya sedang bertarung melawan dua puluh yang diduga pembunuh bayaran.


" Rencanaku berhasil, kita tunggu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. " Ucap pria itu lalu mematikan monitor dan keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2