
Setelah berbelanja dengan Luna, aku mengantarkannya ke apartemen. Sesampainya disana aku segera membersihkan badanku dan makan malam. Leon dan lainnya sudah berada di meja makan untuk makan bersama.
Aku duduk disebelah Jonathan lalu didepanku ada Leon yang sedang membagikan makanan, ia berbicara kepadaku. " Kenapa kau membunuh mereka semua? " Ucapnya seraya membagikan lauk kepadaku.
" Bukankah mereka berbahaya. Kau bilang mereka ter-or-is, itulah mengapa aku membunuh mereka. " Jawab Yoga yang bersikeras.
Jonathan yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua, memperlihatkan video yang baru saja viral di semua media sosial.
" Jas hitam, topeng putih. Siapa lagi kalo bukan superhero. " Seru Jonathan.
Arthur, Nita dan Rian mulai menatap Yoga dengan takjub. Luna yang sudah tahu dengan hal itu hanya tutup mulut dan menyantap makanannya. Sedangkan Leon hanya cuek dan tak banyak bicara.
" Yaudah maaf, aku telah melarang kalian untuk tidak terlalu mencolok saat menggunakan kekuatan ini. Tapi aku malah mengingkari omonganku sendiri. Sekali lagi maaf. " ucap Yoga kemudian meninggalkan tempatnya lalu menuju atap apartemen sambil membawa makanannya.
Tak lama kemudian Yoga disusul dengan Luna dan duduk disebalah Yoga sambil makan.
" Kak, kok kamu ngambek. " Ledek Luna.
" Berisik.... " Ucap Yoga yang dan melemparkan tulang ayam ke jalanan.
" Eh kak, kena orang tuh. " kata Luna yang melihat tulang yang dilempar Yoga mengenai kepala pria dibawah.
Luna lalu menoleh ke arah Yoga dan melihat ia sudah tak ada disana.
" Untung ada skill menghilang. " Batin Yoga lalu berdiri di tepi penghalang.
Yoga menonaktifkan skillnya lalu merentangkan tangan sambil menikmati angin malam yang bertiup kencang.
Luna yang mencari keberadaan Yoga dan melihat ia muncul di tepi penghalang langsung berlari dan menariknya.
" Jangan bunuh diri! " ucap Luna yang khawatir.
Yoga hanya tersenyum dan mengajak Luna kembali ke apartemen.
...----------------...
Keesokan harinya Yoga berangkat bersama teman-temannya menggunakan mobil karena motor antik nya tidak mau menyala.
Di perjalanan Yoga melihat pria yang selalu ia lihat dari kemarin. Dan kali ini pria itu didampingi dengan dua orang laki-laki berbadan kekar. Tapi Yoga tak menghiraukan mereka dan memejamkan mata karena jarak mereka ke kampus masih lama.
Kling!!!
{Anda mendapatkan skill [Insomnia]}
Yoga yang awalnya berniat untuk memejamkan mata terganggu dengan notifikasi dari sistem.
" Insomnia, ya. Berapa lama durasinya? " Batin Yoga lalu menekan icon (i) untuk melihat informasi skill nya.
[Insomnia]
Skill ini bersifat aktif.
Skill ini dapat membuat pengguna untuk tidak merasakan kantuk selama 7 hari.
Durasi dapat ditambah dengan mengupgrade skill ini di menu [Skill]>[Upgrade]>Lalu pilih skill yang akan diupgrade. Upgrade bisa menggunakan uang dan kupon gold atau silver.
Karena Yoga sudah tahu informasi dari skill yang baru saja ia dapatkan. Yoga memejamkan mata kembali dan mulai tidur perlahan-lahan hingga mobil sampai ke parkiran kampus.
" Yoga, Yog, Bangun eh... udah sampai di sekolah nih. " Leon yang membangunkan Yoga.
" Heem... bentar lagi, tinggalin aja. " Jawab Yoga yang masih tidur.
Arthur lalu menyiram Yoga menggunakan air AC yang ia dapat dari jeriken penampungan dekat jendela belakang kantor.
Untung saja Arthur hanya menyiram menggunakan gelas kemasan yang ia dapat dari tong sampah. Yoga terbangun dan melihat hanya ada Leon dan Arthur disana.
__ADS_1
Dengan wajah yang masih kusam, Yoga duduk sejenak dan menyuruh Leon untuk membawakan tasnya sedangkan ia akan pergi ke toilet untuk membasuh muka.
Ponsel Yoga berdering, ia segera mengambilnya dari saku dan melihat Handika menelpon dirinya. Yoga mengangkat telponnya sambil berjalan ke toilet.
" Halo Yoga. " Sapa Handika dari telpon.
" Iya, ada apa? " Jawab Yoga lalu membasuh mukanya.
" Kau sedang kuliah, ya? " Tanya Handika.
" Iya, ada urusan apa menelpon ku. " Ucap Yoga.
" Sepulang nanti, temui aku di jembatan suramadu. " Ucap Handika dan mematikan telponnya.
Yoga yang tengah merapikan rambutnya merasa bingung dengan Handika yang langsung menutup telponnya. Yoga lalu menuju ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
...----------------...
Jam pelajaran telah berakhir, Yoga dan teman-temannya segera pulang. Yoga lalu memberhentikan langkahnya lalu berbicara ke teman-temannya. " Kalian duluan, ya. Aku ada urusan sama seseorang. " Yoga lalu berlari meninggalkan mereka menuju ke jalan raya.
" Kemana dia? " Tanya Rian.
" Entahlah, kalau bikin ulah lagi kita usir aja. " Lanjut Nita dan menaiki mobil.
...----------------...
Di tempat yang berbeda, Yoga sedang memesan ojek online untuk pergi ke tempat yang Handika katakan. Lalu ojek online datang ke Yoga dan segera Yoga menaikinya.
Sesampainya disana, Yoga melihat pria tua yang sedang berdiri melihat pemandangan di tepi jembatan sambil menghisap sebatang rokok yang ada di tangannya.
Yoga menyuruh berhenti sang ojek lalu turun dan membayar ongkosnya.
Dengan perlahan Yoga berjalan, ia lalu menyenderkan dadanya ke pagar penghalang di samping pria tua itu.
" Huft, enak ya jadi orang tua. Bisa merokok, bisa menyuruh anak yang lebih muda darinya. " Gumam Yoga lalu mengambil sebotol soda di penyimpanan sistem.
" Kau memanggilku kesini hanya untuk menemanimu melihat sunset? " Ucap Yoga dan meneguk soda sedikit demi sedikit.
" Iya, aku tak punya teman untuk menemani ku. " Jawab Handika lalu menoleh ke Yoga.
" Bagaimana kerja samanya? Berjalan lancar? " Tanya Yoga kemudian membuang botolnya ke tong sampah.
" Hmm... sebenarnya aku ingin bekerjasama denganmu. Karena Joseph memercayaimu. " Jawab Handika seraya menepuk punggung Yoga.
" Ahaha... ada apa dengan diriku? Bukankah teman-temanku lebih membutuhkannya daripada aku. " Ucap Yoga sambil melihat kendaraan yang lalu lalang.
" Ya, begitulah. Aku juga kaget sewaktu Jonathan datang ke rumahku. Ku kira dia sedang mencari pengawal untuk perusahaannya. Ternyata dia orang suruhanmu. " Ucap Handika.
Yoga terkekeh mendengar ucapannya lalu mengambil batu kerikil dan melemparkannya ke laut.
" Aku tidak akan ikut dalam permasalahan ini. Karena dari awal aku hanya ingin memberantas Gangster, bukan perusahaan besar seperti mereka. "
Perkataan Yoga membuat Handika menolehkan kepala ke Yoga.
" Jadi kau tak ikut dalam kerja sama ini? " Tanya Handika dengan wajah yang khawatir.
" Bukankah aku sudah bilang dari awal. Aku takkan berhubungan dengan organisasi itu. Aku punya firasat tak enak ketika melihat logonya. " Jawab Yoga dan mengambil jaket dari tasnya kemudian memakainya karena dingin.
" Kau punya alasan apa selain ingin tahu isi dari perusahaan itu? " Lanjut Yoga.
" Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini. Tapi semoga ketika aku mengatakan ini, kau ingin bekerjasama denganku. "
" Sebenarnya aku mempunyai dua anak, Alexander adalah anak bungsu sedangkan anak sulung ku adalah Natasya Nabila. " Ucap Handika yang mengeluarkan foto keluarganya.
Melihat dan mendengar itu Yoga langsung menatap Handika seperti tak percaya. Ia lalu mengingat ingatannya lalu teringat ketika Yoga meminta restu ke ayahnya. Natasya Nabila masuk ke akademi polisi karena suruhan ayahnya sendiri.
__ADS_1
Yoga kemudian menarik kerah Handika.
" Yoga, sedang apa kamu? " Tanya Handika yang bingung.
Yoga lalu sadar dan melepaskan tangannya dari kerah baju Handika. " Maaf, aku hanya terbawa suasana. " Ucap Yoga dan kembali ke posisi awal.
" Terbawa suasana? Maksudnya? " Ucap Handika yang masih bingung.
" Oh... eumm... ini. Kau awalnya bilang hanya punya anak satu. Tapi kau membohongiku dan disini malah bilang mempunyai dua anak. " Jawab Yoga agak sedikit berkeringat.
" Oh... maaf masalah itu. Ku kira kamu kenal dengan dia. " Kata Handika dengan nada kecewa.
" Sekarang dimana Nana? "
Mendengar panggilan anaknya yang tak biasa, Handika lalu membalas menarik kerah Yoga.
" Hei pak tua, sedang apa menarik kerah ku? "
Handika lalu melepaskan kerah baju Yoga dan meneteskan air mata.
" Siapa kau? Kenapa kau memanggil nama anakku seperti dia? " Tanya Handika yang menangis tersedu sedu.
" Aku Yoga, aku memanggilnya Nana karena aku mengambil dua kata Na dari nama depan dan belakang nya. " Jawab Yoga sambil mengingat kenapa ia memanggil Nana.
" Kau, kau. Siapa kau sebenarnya? Jawabanmu benar-benar sama sepertinya. "
" Heh, Siapa? Aku kan anak remaja. Kau tau sendiri kan. "
Handika lalu mengontrol nafasnya dan memberhentikan tangisannya.
" Namamu persis seperti dirinya. Yoga, Yoga Maharaja. Seorang dokter spesialis bedah. Namun ia diculik dan menjadi seorang pembunuh bayaran, karena seringnya ia membunuh. Dia menjadi terobsesi dengan organ tubuh manusia.
Kasusnya juga sempat viral dan aku yang belum menjabat menjadi ketua polisi juga sempat mencarinya. Setengah bulan aku mencari, aku lalu dipanggil dengan ketua polisi yang dulu untuk menjadi kandidat calon Kapolri.
Lalu Natasya atau biasa dipanggil dengannya Nana, menelpon diriku untuk membantu Yoga agar tidak dieksekusi mati. Tapi apalah diriku yang tidak memiliki apa-apa, aku juga sedang berada di Jakarta untuk dilantik menjadi Kapolri.
Nana menelpon ku berkali-kali hingga akhirnya Yoga dieksekusi bertepatan dengan waktu pelantikan diriku. Karena melihat ayahnya tak bisa berbuat apa-apa, dia menghapus namanya dari anggota keluarga dan hidup sendiri. " Handika yang menceritakan tentang Yoga dan Nana.
" Begitu, ya. " Ucap Yoga dan mengambil bolpoin dari saku Handika lalu melemparkan ke laut.
Handika yang melihatnya, seketika marah. " Kenapa kau membuangnya? "
Yoga hanya tertawa kecil dan menjawab. " Sesuatu yang berharga bagimu pergi takkan bisa kembali lagi. Nana kehilangan kekasihnya dan dirimu kehilangan anakmu. "
Jawaban dari Yoga membuat Handika berpikir sejenak. Yoga lalu membeli sebuah pulpen yang sama persis dengan yang dibuangnya tadi di menu [Toko]. Yoga lalu memberikannya ke Handika.
" Tapi, jika kau mengakui kesalahan mu dan menebus dosa-dosamu. Sesuatu yang berharga akan kembali lagi. "
Handika lalu mengambil pulpen itu dan menatap Yoga sambil tersenyum.
" Tapi orang yang sudah mati, takkan bisa hidup kembali. Jadi di dunia tidak ada yang abadi, dan Nana harus merelakannya. " Lanjut Yoga dan mematahkan pulpennya itu.
Handika yang tadinya senyum perlahan lahan memudar dan menatap rembulan yang telah muncul.
" Meskipun kau anak muda, sepertinya kau telah mengalami fase kehidupan yang sulit. "
" Tapi apa alasanmu selain ingin melabrak perusahaan itu? " Tanya Yoga yang kesal karena jawabannya tak dijawab dari tadi.
" Oh iya, Aku ingin membalaskan dendam kepada orang yang telah membuat anakku koma. " Jawab Handika yang geram dan menggenggam tangannya.
" Ahaha... berjuanglah. " Lanjut Yoga dan berjalan menuju mobil Handika.
" Ayo pak tua, antarkan aku pulang. Anak remaja tak boleh keluar malam. "
Mereka lalu berjalan ke mobil yang tak jauh dari sana.Yoga melihat geng Blue Shark yang ramai sedang mengendarai motor melewati mereka. Yoga dan Handika hanya melihatnya lalu Yoga diantarkan pulang dengan Handika ke apartemen.
__ADS_1
...****************...