System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 68|S3


__ADS_3

Oga tersenyum miring dengan tatapan yang mengarah ke secarik kertas yang terjatuh dari saku seorang yakuza. Setelah kepergian yakuza ke toko lain, Oga mengambil kertas tersebut dan ternyata itu adalah kartu nama seorang yakuza tadi.


Logo unik yang tergambar di kartu nama tersebut membuat Oga menggelengkan kepalanya berkali-kali. Logo itu bergambar bintang yang bertuliskan Kobayama Clan.


Oga memasukkan kartunya ke dalam saku jasnya lalu mengajak Naoki dan Megumi ke alamat yang sesuai pada kartu nama tersebut.


" Kita akan pergi kemana? " tanya Naoki.


" Kobayama Clan, " ucap Oga, ia lalu merapikan rambutnya.


Gaya jalan mereka bertiga layaknya seorang preman yang akan menagih setoran. Warga yang melihat mereka bertiga, seketika memberi jalan sembari menundukkan kepala.


" Sebegitunya mereka hanya dengan yakuza. " Oga melambaikan tangan kepada warga yang memberikan jalan. Oga lebih terlihat kharismatik dibandingkan dengan Naoki dan Megumi.


Setelah lama menyusuri jalan, akhirnya mereka berhenti tepat di depan club yang bernama Butterfly Club. Ada dua pria yang berjaga di depan pintu masuk. Dan banyak juga anak-anak muda yang mengantre masuk ke dalam sana.


Oga menarik lengan Naoki dan Megumi untuk segera menyerobot masuk ke dalam. Namun kedua penjaga itu justru menghalangi mereka.


Oga melihat sorot mata kedua penjaga itu yang mencurigai Oga. Dengan berakting seolah-olah ia tamu seseorang di club itu, Oga mengeluarkan kartu nama yang ditemuinya tadi.


Oga memberikannya kepada penjaga dengan raut wajah kesal.


" Aku ingin bertemu dengan seorang di club ini, " ucap Oga dengan mata yang melototi mereka berdua.


" Ah … kami tak tau kalau anda tamu orang itu. Silahkan masuk, " ucap seorang penjaga lalu mengembalikan kartu nama tadi ke Oga.


Dengan santainya Oga, Naoki dan Megumi masuk ke dalam tanpa mengantre sedikitpun. Bahkan identitas mereka tak diperiksa oleh penjaga tadi.


Oga tersenyum kecil menatap Naoki dan Megumi. Naoki dan Megumi membalas senyuman Oga lalu memalingkan pandangan ke depan.


Dari lantai dua, terlihat seorang pria berjas hitam sedang mengawasi mereka. Pria itu lalu masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Oga mengajak mereka untuk duduk terlebih dahulu sambil menunggu waktu yang pas untuk melakukan pertunjukan. Oga dan Megumi mengambil tempat duduk sofa yang empuk di pojokan. Naoki memesan beberapa minuman kepada pelayan club.


" Kakak mabuk juga? " tanya Megumi ke Oga.


" Tidak, aku tak suka minuman beralkohol, " jawab Oga.


Ada seorang wanita dengan pakaian seksi mendatangi Oga. Ia lalu duduk di samping Oga dan merayunya.


" Hai kak, aku baru pertama kali lihat kamu kesini.Baru pertama kali kesini, ya? " Dia adalah hostess di club ini.


" Kakak seorang model, ya? " tanya wanita itu.


Megumi nampak cemburu ketika Oga dirayu dengan wanita malam itu. Melihat ekspresi cemburu yang diberikan Megumi. Oga menyuruh hostess tersebut untuk pergi darinya.


" Emm … maaf, aku sudah punya pacar. Jangan ganggu kami berdua, " ucap Oga dengan wajah sedikit malu.


Entah apa yang dipikirkan Oga, yang jelas itu adalah jalan satu-satunya tanpa membuat keributan sedikitpun. Megumi yang mendengarnya langsung duduk di sisi kanan Oga lalu menyenderkan kepala di bahu Oga.


" Nggak …." Oga mengembalikan posisi kepala Megumi ke posisi awal. " Kenapa kamu sesenang itu? " tanya Oga.


" Eh …." Wajah Megumi memerah, ia membuang tatapannya menuju Naoki yang membawa dua botol dan tiga sloki.


" Jangan terlalu dekat denganku, soalnya aku bisa membunuh siapa saja, " ucap Oga yang menegaskan.


Megumi tak mendengarkannya, Naoki meletakkan dua botol bir dan tiga sloki. Naoki lalu menuangkan bir ke ketiga sloki itu lalu memberikannya ke Oga dan Megumi.


" Minumlah, ini mahal tau, " ucap Naoki yang sebenarnya tak tahu jika Oga tak suka minum-minuman beralkohol.


Glek!!!


Oga meneguk segelas kecil bir tersebut lalu mengisi kembali. Oga berkali-kali meneguk bir sampai-sampai membuat Naoki dan Megumi tak percaya. Padahal katanya tak suka minum, tapi malah satu botol dihabisin sendiri.

__ADS_1


Oga lalu mabuk dan pingsan di atas meja. Naoki dan Megumi saling bertatapan lalu saling tersenyum.


Brak!!!


" Aku tak bisa mabuk! Pesan tiga botol bir lagi, kalau bisa dengan kadar alkohol yang kuat. " Oga menegakkan punggungnya lalu mengangkat kedua kaki ke atas meja.


" Kalian ingin berbuat sesuatu kepadaku kan? " tanya Oga yang ragu dengan mereka berdua.


Naoki sedikit tersenyum mendengar hal itu.


" Tidak, kami tak ada maksud apa-apa. Hanya saja kamu tak memiliki ekspresi ketika sedang mabuk, " ucap Naoki dengan jujur. Keringat mulai bercucuran membasahi keningnya. Itu tandanya antara ia memang berkata jujur tapi takut dimarahi atau malah sebaliknya.


" Benarkah begitu, Megumi? " Oga menatap tajam ke arah Megumi dengan sorot mata yang mengerikan.


" I–iya … kami tak ada maksud apa-apa. Tapi yang disamping kamu siapa? "


Naoki menatap pria yang disamping Oga, tentunya ia sangat mengenalinya.


Akan tetapi Oga belum pernah bertemu dengannya. Tubuh kekar, berambut panjang, memakai jas hitam yang rapi sedang berdiri tepat di sisi kanan Oga.


" Apakah saya membuat kesalahan? " tanya Oga.


" Tidak, justru aku yang membuat kesalahan, " jawab pria tersebut.


" Yaudah, aku maafin. " Oga duduk kembali di tempat duduknya lalu memalingkan pandangan dari dirinya.


" Tidak, tidak … maksud ku bukan itu, tapi sejak kapan kita berbicara formal seperti ini? Kau masih ingat aku Yoga Hari Wibowo. "


...### System Sang Psikopat ###...


__ADS_1


__ADS_2