System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 53 - Codename Psycho


__ADS_3

Yoga berlari menuju para mafia, tapi ia lupa dengan pedangnya yang telah ia buang. Terpaksa ia harus menggunakan sarung tangan listrik untuk menyerang mereka.


Mereka memang tak menyerang menggunakan senjata, tapi kemampuan beladiri mereka sudah tak diragukan. Berbeda dengan para pembunuh bayaran dan para gangster yang hanya menggunakan senjata untuk melawan para musuhnya.


Untung saja Yoga di kehidupan masa lalunya pernah mempelajari beberapa beladiri, yang paling menonjol adalah Taekwondo.


Mafia yang sedang dihadapinya kali ini berjumlah tujuh orang. Karena memang, banyak mafia yang mengundurkan diri sejak kematian Logan.


Di lain sisi, Leon dan Arthur yang menyerang White Cobra telah menjatuhkan sepuluh orang dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Arthur menggunakan pedang kayunya karena melihat Yoga sendiri tak menggunakan senjata saat melawan mafia.


Begitu juga dengan Leon yang telah mengaktifkan skill [ Auto Fighting ] meski ia tak sepenuhnya pernah belajar beladiri sama sekali.


Bryan yang tengah menghadapi Black Dragon sedikit kewalahan dengan banyaknya lawan yang ia hadapi. Jonathan juga mendapatkan skill [ Auto Fighting ] ketika mengikuti beberapa gerakan beladiri yang keluar dari benaknya.


Kembali lagi dengan Yoga yang masih seimbang dengan tujuh mafia yang menyerangnya. Tak hanya pria, ada dua wanita dalam kelompok mafia tersebut. Meski begitu, kedua wanita itu bukanlah wanita biasa. Kemampuan bertarungnya bahkan bisa dibilang diatas kemampuan normal Yoga.


Yoga menghindari serangan mereka berkali-kali untuk membuat mereka kelelahan. Ia juga melihat teman-temannya yang telah menjatuhkan beberapa musuh dan ia berinisiatif untuk menyuruh mereka menyelamatkan Luna dan lainnya yang mungkin disandera.


Yoga segera mengelak dari tendangan lalu membalas tendangan ke wajah seorang pria yang menendangnya tadi. Yoga lalu berlari mendekati Bryan kemudian membisikkan sesuatu.


" Bryan, ajak mereka semua untuk menyelamatkan Luna dan yang lainnya. "


Yoga kemudian melompat dan memukul gangster yang mendekati dirinya. Kemudian Yoga mengangkat dan melemparkan ke arah mafia.


" Maksudnya? " Tanya Bryan yang menghindari serangan.


Yoga menundukkan kepala untuk menghindari serangan.


" Liat ke arah para pembunuh yang menjaga toilet, pergilah bersama mereka. Kemudian pecahkan cermin dan putar keran yang ada didalam cermin itu. "


Yoga menangkis tendangan dari dua orang mafia. " Terus masuk ke dalam lift dan pergi ke lantai dua basement. " Ucap Yoga lalu mencekik mafia yang ada didekatnya.


" Cepat!!! " Teriak Yoga lalu membanting mafia itu ke arah pembunuh yang berjaga di depan toilet.


Bryan lalu mengajak Jonathan, Leon dan Arthur menuju ke para pembunuh.


Yoga berlari dengan kencang dan langsung melompat ke arah pembunuh. Yoga membuka jalan bagi mereka lalu mereka semua masuk di toilet.


Bryan memecahkan cermin lalu melihat ada sebuah keran didalamnya. Ia lalu memutar dan terbukalah pintu rahasia dibalik dinding itu.


" Cepat!!! Masuk!!! " Ucap Yoga yang menahan pintu toilet.


Mereka semua masuk namun tidak dengan Leon dan Arthur. " Kamu bagaimana? " Tanya Leon yang mengkhawatirkan Yoga.


" Masuk aja, selamatkan Luna. " Jawab Yoga lalu tertusuk sebilah pisau di tangannya.


" Arrrgghh... "


Darah mengalir dari telapak tangan Yoga. Leon yang masih mengkhawatirkan Yoga, terpaksa mengikuti kata Yoga dan masuk mengikuti Bryan dan lainnya.


Setelah pintu rahasia tersebut tertutup, barulah Yoga menghindar dari pintu yang ia tahan dan segera meregenerasi tubuhnya yang mengalami luka.


Para pembunuh, mafia dan gangster yang tersisa langsung berdiri di depan pintu toilet. Ia melihat hanya ada Yoga disana, hendak ingin menyerang Yoga secara langsung. Ternyata Yoga telah membeli pedang katana dari [ Toko ] sistemnya.


" Berhenti disitu dan menjauh beberapa langkah. " Ucap Yoga ke mereka semua.


Mereka hanya menyeringai seperti meremehkan Yoga. Lalu seorang mafia menghormati perkataan Yoga dan menyuruh mereka untuk menjauh beberapa dari pintu masuk toilet. Yoga kemudian bangun dari duduknya dan jalan menuju ke arah mereka.


" Kalian kenal codename, Psycho? "

__ADS_1


Yoga membuka topengnya lalu membuangnya ke arah mereka. Mereka lalu menatap kaget ke arah Yoga. " Hanya anak muda? " terdengar suara seseorang yang mengucapkannya.


" Siapa kamu? Aku kenal banyak dengan codename, Psycho. "


Mafia itu lalu mendekat ke arah Yoga lalu melakukan tendangan putar ke arah Yoga. Dengan cepat Yoga menghindarinya dan mengarahkan pedangnya ke arah mereka semua.


" Percaya tak percaya, akulah sang pemilik codename itu. "


Yoga lalu berjalan perlahan ke arah mereka dengan tatapan yang berambisi ingin membunuh.


" Sebenarnya aku tak yakin dirimu yang memiliki codename itu. Tapi dari tatapanmu itu, aku jadi ingat dan bersemangat untuk bertarung. " Ucap seorang mafia pria lalu mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.


Dengan cepat Yoga memotong tangannya dan terkekeh melihatnya. Melihat Yoga yang brutal, mereka semua tak segan-segan lagi membunuh Yoga. Mereka semua langsung bertindak untuk membunuh Yoga.


Yoga berlari sambil menghindari lemparan pisau dan tembakan pistol dari mereka. Bahkan ada yang memakai senapan mesin untuk menembaki Yoga. Yoga bersembunyi di balik tiang yang besar sambil mengaktifkan skill [ Assassin ] dan [ Psikopat ].


Karena kedua skill itu disatukan, Yoga menjadi tak terkendali bahkan ia sendiri tak tahu cara menonaktifkan skill nya bagaimana.


" Baiklah Caroline, meski aku tak bisa mengendalikan kekuatan ini. Tapi ada berapa musuh yang sedang ku hadapi saat ini? "


Sistem lalu mendeteksi hawa panas yang diberikan musuh.


[ Sistem mendeteksi ada 70 orang diantaranya 68 pria dan 2 wanita. ]


" Caroline, berikan aku akses penuh. Aku tak ingin mencederakan tubuhku. "


[ Permintaan diterima. ]


Yoga langsung tersadar dari lamunannya dan melihat beberapa gangster sudah ambruk di hadapannya. Ia menatap ke arah mafia yang sedang berjalan menembaki dirinya.


Yoga mengambil salah satu anggota gangster Black Dragon yang tergeletak dan menjadikannya sebagai perisai manusia.


Asap mengepul tebal dan membuat mereka tak bisa melihat keberadaan Yoga. Satu persatu mafia ia bunuh dengan mudah hingga asap yang menyelimuti mereka menjadi tipis dan samar-samar.


Ketika asap telah hilang sepenuhnya, kini tersisa dua wanita mafia dan delapan orang pembunuh bayaran. Sepertinya pembunuh bayaran mengejar Leon dan yang lainnya.


Namun Yoga tak perlu khawatir dengan mereka, yang jelas ia mengkhawatirkan para musuh yang sedang menghadapi Yoga kali ini. Sebenarnya Yoga tak ingin membunuh banyak orang, tapi melihat semua kekacauan yang ia buat. Ia tak bisa menghindarinya dan harus terus berjalan lurus sebelum semuanya berakhir.


" Sebentar sebentar, aku berikan sedikit keringanan. Bagaimana jika kalian menyerahkan diri kepada polisi saja. Karena aku juga tak ingin membunuh kalian. " Ucap Yoga lalu berjalan perlahan-lahan ke mereka.


Kedua wanita mafia tersebut mempertimbangkan pendapat Yoga sejenak. Sementara itu delapan pembunuh mendekati Yoga secara bersamaan.


" Apakah kau orang dengan codename Psycho? " Tanya seorang pria yang memasukkan pisaunya ke sarung pisau.


Yoga hanya tersenyum. " Terus kalau iya emangnya kenapa? " Lalu Yoga menghilangkan pedangnya dari tangan.


Mereka lantas terkejut ketika melihat pedang yang di tangan Yoga tiba-tiba menghilang. " Bagaimana kau melakukannya? "


" Maksudnya? " Tanya Yoga yang heran.


" Pedang, kemana pedangmu? " Tanya pria yang berbaju merah.


" Magic, aku seorang pesulap. " Ucap sombong Yoga.


Lalu wanita mafia yang sedang mempertimbangkan pendapat Yoga datang menghampiri Yoga.


" Baiklah, kami akan berserah diri ke polisi. Tapi yang jelas, jangan ganggu kami lagi. " Ucapnya lalu merobek surat perjanjian dari Angry Bull Group.


" Kami juga. " Ucap serentak para pembunuh.

__ADS_1


" Ke-kenapa kalian begitu? Bukankah kalian akan dimarahi dengan owner? Aku takkan bertanggungjawab atas semua kejadian ini. " Ucap direktur yang keluar dari ruangannya.


" Tidak, serang dia—" sambil menunjuk Yoga "—bunuh dia, aku perintahkan bu—" omongannya terhenti akibat Yoga melemparkan pedang tepat di mulutnya.


" Jackpot.... "


Yoga lalu berjalan mendekati Direktur dan menarik pedangnya kembali. " Maafkan saya pak direktur, saya hanyalah seorang anggota yang tidak becus. Bapak ingat dengan perlakuan bapak kepada ibu saya tiga tahun kemarin? "


Yoga memotong jari jemari direktur itu. " Sebenarnya aku tak ingin mengungkapkan identitas ku sebenarnya, tapi aku ingin kalian semua mengetahui diriku sebenarnya. "


Kedua mafia itu menatap kekejaman Yoga kepada sang direktur. Begitu juga dengan pembunuh bayaran.


" Namaku adalah Yoga, Yoga Maharaja. "


Mereka semua terkejut mendengar hal itu. Meski sudah dibilang berkali-kali dengan codename, Psycho. Mereka masih belum tahu dengan codename tersebut. Hingga ketika mendengar nama lengkap Yoga. Mereka semua teringat dengan Yoga sang psikopat.


" Tidak, tidak mungkin. Dia adalah senior ku. " Ucap pembunuh berbaju hitam.


" Ibuku kau siksa dengan kekejaman, bahkan aku padahal sudah bergabung dengan kalian. Tapi kenapa hari itu, kau malah menggoda ibuku. " Yoga menancapkan mata pedangnya di tulang kering direktur.


" Arrrggghhh.... "


" Tapi meski aku sudah membalaskan dendam mereka semua, mereka takkan hidup kembali. Berbeda halnya denganku. Aku ini seperti dikutuk dengan Sang Pencipta untuk menjadi malaikat maut didunia ini. " Ucap Yoga yang mencari kata-kata pas untuknya.


" Ah, tak peduli dengan kata ampun. Aku akan tetap menyiksamu. " Gumam Yoga yang didengarkan mereka semua.


Yoga yang mempunyai sedikit rasa kasihan, ia melepaskan direktur dan melemparkan direktur ke perapian.


" Selamat tinggal, direktur yang malang. Setidaknya kau bisa ku kremasi dengan cara yang tidak biasa. " Ucap Yoga lalu keluar dari ruangan tersebut.


Mereka yang melihat kekejaman Yoga hanya terdiam dan pergi dari sana. Yoga sempat menatap mereka, namun Yoga tersenyum dan masuk ke dalam toilet untuk menjemput teman-temannya yang masih di dalam.


Ketika membuka pintu rahasia, ia dikejutkan dengan Leon dan lainnya telah kembali.


" Tidak, tidak ada siapa-siapa di dalam. " Ucap Leon.


Yoga lalu berlari menuju para mafia dan pembunuh.


" Kemana? Kemana para sandera? " Tanya Yoga yang mengamuk.


" Eh, sandera? Kami tak pernah menyandera seseorang. " Ucap salah satu pembunuh yang berkata jujur.


Lalu Yoga mengambil ponselnya yang berdering dan melihat Joseph menelponnya.


" Ada apa? " Tanya Yoga.


" Mereka membawa Luna ke dalam kapal. Tidak hanya Luna, tapi dengan lainnya. " Ucap Joseph yang sedang berada di jalan.


" Bagaimana dengan Walikota? " Tanya Yoga.


" Dia juga menaiki kapal itu. Dia juga membawa beberapa barang mencurigakan di dalam peti kemas. " Ucap Joseph lalu telponnya terputus.


" Sial.... "


Yoga lalu mendatangi teman-temannya. " Ayo kita ke dermaga, mereka ada disana. "


Yoga langsung mengeluarkan motornya dan mengebut di jalanan. Lalu disusul dengan Leon, Jonathan, Arthur dan Bryan di belakang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2