System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 65|S3


__ADS_3

Sore hari, Oga melakukan lari-larian kecil di jalan. Ia melakukan itu karena esok hari ia akan menjadi seorang pembunuh. Tak heran jika Oga memilih pekerjaan itu, karena sistem miliknya selalu mengarah ke sana.


Meski tak biasa berlari terlalu jauh, Oga memaksakan dirinya hingga ia tak bisa lagi bernafas dengan tenang. Wajahnya terlihat sangat memerah, matanya terpejam dan ia nampaknya akan terjatuh di jalanan.


Tapi semua itu hanya menjadi hal remeh bagi Oga. Karena ia bisa meregenerasi atau merestorasi stamina yang telah hilang. Ketika hendak terjatuh, ia menekan tombol [ Regenerasi ] pada tampilan sistem.


Ia berlari cukup jauh dari tempat tinggalnya, ia memakai tank top berwarna abu-abu, celana training berwarna hitam dan sepatu olahraga bermerk berwarna hijau. Meski sepatunya terlihat mencolok untuk dilihat semua orang. Ia tak menghiraukan pandangan orang sekitar dan tetap fokus untuk berlari.


Sudah tiga puluh menit ia berlari mengelilingi kota. Dia melakukan peregangan tubuh lalu beristirahat di tanah. Ia terlentang di atas tanah dengan kaki yang diluruskan. Matanya menatap ke atas langit yang akan mendung. Matahari mulai terbenam, awan mulai menutupi langit.


Karena akan hujan, Oga beranjak dari sana dan segera pulang. Ia berjalan kaki melewati gang yang sangat sempit. Karena jalan itu adalah jalan alternatif satu-satunya untuk cepat sampai ke cafe Mikayo.


Hujan turun rintik-rintik, gemuruh mulai bergema. Suara langkah kaki tak lagi terdengar di telinga, karena suara bising dari rintikan hujan. Namun ada satu suara yang sangat mengganggu di telinga Oga. Suara yang ia dengar seperti suara seseorang yang sedang meminta tolong.


Namun Oga berpikir mungkin hanya suara hujan yang membuatnya berhalusinasi. Namun seiring berjalan, suara itu kian membesar. Karena merasa terusik dengan suara yang cukup mengganggu mentalnya. Oga mencari asal suara tersebut untuk membuat rasa penasarannya hilang.


" Tolooong!!! " Suara teriakan seorang wanita, mungkin usianya sekitar delapan tahun ke atas.


Oga mencari suara tersebut, lalu ia menghentikan langkahnya. Ada sebuah pagar dinding yang menghalangi jalannya dan suara seorang wanita itu berasal dari balik dinding ini.


Dengan tubuhnya yang cukup tinggi untuk meraih ujung pagar, Oga melompat dan menggapai ujung pagar itu lalu memanjat nya. Sistem memberikan sebuah notifikasi dan menampilkan layar tampilannya.


[ Anda telah membuka skill [ Parkour ] yang terkunci. ]


Dengan lihainya, Oga memanjat lalu melompat ke balik dinding. Dia melihat tiga pria masih muda yang sedang memeras seorang wanita. Mereka bertiga menyudutkan wanita itu hingga ke pojok dinding lalu mengambil semua barang dari sang wanita.


Oga memegang kerah belakang salah satu pria dan langsung menariknya hingga ia terjatuh ke bawah. Dua pria tersisa langsung menoleh ke arah Oga dengan raut wajah yang kesal.


" Hei... bedeb-ah, kenapa kau ikut campur urusan kami? " Ucap seorang pria di sebelah kanan yang memakai topi.


Oga memegang kepalanya sendiri lalu menata rambutnya.

__ADS_1


" Bocah-bocah ini memang tak sepatutnya untuk diberi kebebasan hidup. " Kata Oga, ia menarik lengan wanita itu untuk mengajaknya pergi dari sana.


" Jangan ganggu wanita ini, jika ingin uang akan ku berikan. " Lanjut Oga, ia lalu mengeluarkan dompetnya.


" Satu juta yen, bagaimana? " Ucap pria yang di sisi kiri memakai hoodie berwarna hijau tua.


" Huft... kecil-kecil udah jago malakin orang. " Ucap Oga, ia mengambil beberapa lembar uang yang tak sampai satu juta yen.


" Ambil uang ini, pergi sana. " Oga memberikan lima lembar sepuluh ribu yen.


Pria yang memakai topi menarik baju Oga, " Kau pikir kami bermain-main? Kami bisa membunuhmu disini lho. " Ucapnya yang mengancam.


Pria yang terjatuh akibat Oga tadi, ia berdiri dan berdiri di belakang Oga. Lalu pria yang memakai Hoodie mengeluarkan cutter lalu menodongkan ke arah Oga.


" Kau pilih pergi dari sini sendirian atau—"


Brak!!!


Pria yang berada di belakangnya menarik baju Oga hingga tersungkur di tanah. Kemudian pria yang memakai topi mengambil balok kayu dan ingin memukul wajah Oga. Namun wanita itu menghalanginya dan malah terkena kepala si wanita.


Balok yang dipegang pria itu terjatuh, pria yang memakai topi tubuhnya gemetaran. Ia tak sengaja memukul si wanita dan membuatnya pingsan seketika. Darah mengucur dari kepalanya, rambutnya dibasahi dengan darah yang pekat.


Pria bertopi itu ingin melarikan diri namun kakinya tak ingin bergerak sama sekali. Pria yang di belakang Oga tadi melarikan diri terlebih dahulu.


Dengan emosi yang dipendam, Oga berdiri dan langsung mengejar pria yang lari tadi. Kecepatan mereka sangat jauh berbeda, Oga lebih mengungguli pria itu dan langsung menangkapnya.


Oga membanting pria tersebut lalu memukulnya berkali-kali hingga tak sadarkan diri. Lalu ia kembali ke tempat tadi dengan membawa pria tersebut. Sesampainya disana, pria bertopi dan pria ber hoodie masih berada disana.


Nampaknya pria yang memakai hoodie tak sanggup bergerak akibat banyaknya kaca di seluruh tubuhnya. Dan untuk pria bertopi, sepertinya ia baru pertama kali terlibat dengan hal yang seperti ini. Ia mungkin mengalami trauma atau bisa saja ia memiliki mental yang rendah.


Oga melemparkan pria yang dipukulinya ke hadapan mereka lalu menggendong wanita itu untuk dibawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


" Kalau aku lihat kalian semua berbuat hal yang seperti ini, aku benar-benar tak menahan hasrat membunuhku. " Ucap Oga lalu meninggalkan mereka semua.


.....


Oga sedang menunggu di luar ruang IGD, ia sedang memikirkan nasib wanita itu. Jika saja ia tak menahan emosinya, mungkin wanita itu tak akan bernasib seperti ini.


Namun jika ia mengeluarkan sosok asli dirinya, bisa saja tak hanya ketiga pria itu yang mati. Wanita itu mungkin juga akan ikut mati, karena Oga paling suka dengan organ tubuh milik wanita.


Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan tersebut. Oga lalu menanyakan keadaan dari wanita itu.


" Bagaimana dok kondisinya? "


" Sepertinya pasien tidak mengalami apa-apa, hanya saja luka di kepalanya cukup besar sehingga kami perlu menjahit lukanya agar bisa menutup. "


" Silahkan dok, demi kondisi yang baik. Saya akan menanggung biayanya. "


" Baiklah, kalau begitu anda bisa urus pembayarannya di administrasi. Kami akan memberitahu jika pasien telah kami tangani. "


" Terima kasih, dok. "


" Sama-sama. "


Dokter itu pun kembali ke dalam ruangan, Oga pergi ke ruang administrasi untuk melakukan pembayaran. Biayanya cukup mahal, tapi itu tak ada apa-apanya bagi Oga. Oga segera melunasi pembayarannya lalu meninggalkan ruangan tersebut.


" Huft... semoga tak terjadi apa-apa lagi setelah ini. " Gumam Oga, ia berjalan keluar dan meninggalkan rumah sakit.


Ketika melakukan pembayaran, Oga meminta secarik kertas dan sebuah pulpen untuk menulis sebuah surat untuk wanita itu. Lalu Oga menitipkan surat itu kepada seorang administrasi lalu keluar dari ruangan.


Di perjalanan ingin pulang, Oga selalu berpikir ingin pulang ke Indonesia. Tapi kelihatannya ia akan membuat kekacauan jika kembali kesana. Apalagi ia harus menaklukkan Orochi-kai terlebih dahulu.


Oga hanya tersenyum dan berharap ia bisa dengan cepat menyelesaikan misi ini lalu kembali lagi ke Indonesia.

__ADS_1


...#### System Sang Psikopat ####...


__ADS_2