System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 51 - Menyelamatkan teman


__ADS_3

Yoga yang tadinya ingin melarikan diri, sekarang malah dikelilingi dengan banyaknya polisi. Yoga lalu disuruh duduk di kursi untuk diinterogasi dengan ketua polisi baru.


" Langsung aja kita ke pembicaraan nya. Sedang ada urusan apa kamu kesini? " Tanya Ketua polisi tersebut.


" Mengunjungi seseorang. " Jawab Yoga.


" Siapa? " Tanya nya lagi.


" Emm... Agung, Agung Setiawan. " Jawab Yoga yang mengasal.


" Agung Setiawan... hmm.... " Polisi itu berpikir sejenak dan Yoga sebenarnya ketakutan, tapi akibat skill [ Refresh ] ia jadi tenang.


" Ooo... Agung Setiawan, saya turut berduka cita. " Ucap Ketua Polisi itu lalu memegang tangan Yoga.


" Pasti berat ditinggal dengan teman baikmu. " Ucapnya yang sedih.


Yoga hanya bingung dan mengikuti alurnya.


" Saya juga tak tau... hiks, kenapa ia seperti itu... hiks. " Ucap Yoga yang berakting menangis.


" Tapi, kau melihat pembunuhnya? " Tanya Ketua Polisi itu yang melepaskan tangan Yoga.


" Tidak, aku tidak melihatnya. " Jawab Yoga lalu berakting mengelap air matanya.


" Tapi saya curiga denganmu, kenapa kau selamat. Dan kenapa bajumu penuh dengan bercak darah. " Ucap Ketua Polisi itu dengan memandangi Yoga dengan tatapan mencurigai seseorang.


" Hah! Oh iya, saya... saya juga diserang dengan pembunuh itu. Saya dikejar dan teman saya menghalangi pembunuh tersebut. Akhirnya temanku dibunuh dengannya dan darahnya muncrat ke tubuhku. " Ucap Yoga yang membuat cerita.


Kling!!!


{ Anda mendapatkan skill [ Penipu ] }


Karena penasaran, Yoga langsung memakai skill tersebut untuk mencobanya di hadapan Ketua polisi yang menginterogasinya.


" Ah, begitu... baiklah saya percaya. Tapi karena di ruangan ini ada cctv. Jadi saya hanya perlu mengeceknya kembali. Hei, kamu yang disana—" sambil menunjuk polisi yang berjaga tak jauh dari mereka. "—jangan biarkan dia kemana-mana. Kalau bisa, borgol sekalian juga. Aku akan pastikan dengan mataku sendiri agar bisa mempercayainya. " Ucap Ketua Polisi tersebut lalu pergi ke ruangan CCTV.


Yoga yang mendengar itu tak tinggal diam saja, ia mengambil satu bom asap yang tersisa di penyimpanan sistemnya. Setelah Ketua polisi itu masuk ke dalam ruang CCTV, ia segera berdiri dan menendang tangan polisi yang hendak memborgol nya.


Polisi yang menyadari tersebut langsung menodongkan pistol ke arah Yoga secara bersamaan.

__ADS_1


" Angkat tanganmu—" menodongkan pistol ke arahnya "... Pak, tersangka telah ditemukan. " ucapnya melewati handy talkie.


Sebelum mengangkat tangan, Yoga melepaskan pengunci bom asap terlebih dahulu dan menjatuhkannya di dekat dirinya.


Bssssttt...


Bom itu langsung menyebar mengelilingi Yoga, ia langsung menggunakan masker gasnya dan berlari menuju sel tahanan.


" Tersangka membawa bom asap, tersangka melarikan diri. " Ucap polisi itu melewati handy talkie.


" Sistem, nyalakan skill [ Assassin ] sekarang juga. " Batin Yoga yang berlari.


[ Perintah diterima, sistem mengaktifkan skill [ Assassin ] ]


Yoga tersenyum kemudian membalikkan badan dengan kedua tangan yang telah memegang dua bilah pedang katana.


" Eh, jika aku membunuh semuanya. Nanti di kota ini nggak ada polisi. " Gumam Yoga lalu mengembalikan pedang satunya.


Kemudian ia memakai sarung tangan listrik di tangan kirinya dan memegang katana di tangan kanannya.


Polisi datang menghampiri Yoga, kemudian mereka menembak Yoga secara acak. Yoga bersembunyi di balik tiang dan berlari lalu sembunyi lagi hingga mendekat ke arah mereka.


Ketika salah satu dari mereka sedang lengah dan sedang mengisi amunisi, Yoga melemparkan pedang ke arahnya dan disambut dengan dirinya yang melompat dan menyetrumkan listrik ke teman disampingnya.


Satu orang berhasil terbunuh dan satu orang lagi berhasil dilumpuhkan. Polisi yang terkena setruman dengan Yoga malah memegang teman disampingnya. Alhasil dua orang berhasil dilumpuhkan dengan mudah oleh Yoga.


Karena masih banyaknya polisi yang mengejar dirinya. Ia mengaktifkan skill [ Parkour ] agar bisa menghindari peluru dan menyerang mereka secara bersamaan.


...----------------...


Di sel tahanan, mereka semua mendengar suara kegaduhan dari luar. Mereka berpikir kalau polisi sedang memukuli tahanan.


" Kalian dengar suara itu? " Tanya Handika yang terus mendengarkan suara menggunakan getaran dinding.


" Pak Handika, meskipun kau menjauh dari sana. Masih tetap kedengaran kok. " Ucap Joseph yang berbaring di lantai.


" Ah, Luna dan yang lainnya gimana, ya? Aku khawatir dengan mereka. " Ucap Leon yang mengkhawatirkan adik kesayangannya itu.


" Kan ada Natalia dan Budi, mereka pasti aman kok. " Ucap Jonathan lalu mengelus punggung Leon.

__ADS_1


Leon dan Jonathan saling tersenyum, Arthur yang ingin keluar dari sel menggoyangkan pintu sel berkali-kali namun semua itu sia-sia.


Suara kegaduhan itu semakin mendekat lalu terdengar suara pintu terbuka. Tiba-tiba seorang polisi melayang ke arah mereka dengan keadaan darah melumuri tubuhnya.


Mereka yang melihat itu hanya terdiam dan sedikit terkejut karena mereka semua tahu bahwa ini adalah ulah Yoga.


Suara besi sel yang berbunyi dari ujung ke ujung. Lalu suara itu berhenti tepat disebelah sel tahanan mereka. Suara langkah kaki pun menghilang seketika.


Lalu tiba-tiba...


Yoga terlempar entah darimana, Yoga yang melihat teman-temannya langsung mencoba untuk berdiri dan segera menyelamatkan mereka.


Namun, ada tiga orang bertubuh kekar datang menghampiri Yoga. Entah mengapa ketiga pria tersebut tak mempan dengan setruman bahkan tebasan dari pedang milik Yoga.


Arthur yang melihat tersebut tak perlu memikirkan apa-apa lagi lalu muncul pedang katana dari tangan kanannya dan memotong sel itu dengan mudah.


" Kenapa kau tak melakukan itu dari tadi? " Tanya Joseph lalu berdiri dari tidurnya.


" Leon, Arthur, Jonathan. Bantu Yoga menyerang monster itu. Joseph, Alex, Bryan. Ikut aku mengambil senjata. Ayo!!! " Ucap Handika yang memberi perintah dan mereka langsung melaksanakannya.


Yoga berkali-kali menusuk dan menebas ketiga pria itu, namun entah mengapa tubuh mereka seperti terbuat dari baja. Bahkan pedang milik Yoga hampir patah akibat menebas tubuh pria tersebut.


Leon dan Jonathan langsung bergabung di pertempuran dan menyerang ketiga pria tersebut dari belakang. Arthur memasang kuda-kuda dan langsung berlari dengan cepat ke arah mereka dan merosot lalu menancapkan pedangnya tepat di bagian ketiak salah satu pria dibagian kanan kemudian menariknya kembali.


Darah mengalir dari bekas tusukan pedang Arthur dan membuat ia mengamuk lalu mengejar Arthur.


Yoga yang sebenarnya tak paham maksudnya, ia mencoba menusukkan pedang ke arah ketiak mereka, namun dengan mudah mereka tangkis.


" Hmm... ada apa dengan ketiak? " Batin Yoga yang bertanya tanya.


" Ah... aku tau. " Gumam Yoga lalu berlari ke arah mereka.


Leon dan Jonathan yang dari tadi menyerang mereka dari belakang malah kelelahan. Musuh saja tak merasakan pukulan dari mereka, menengok pun tak mau.


Yoga yang berlari langsung merosot dan membelakangi mereka melalui celah diantara keduanya. Lalu Yoga menendang sendi lutut mereka kemudian menusuknya.


Kedua pria itu langsung jatuh bersamaan, namun berbeda dengan Arthur yang masih dikejar dengan monster tersebut. Arthur berlari ke arah Yoga dan Yoga langsung memutar badannya menghindari pria itu, lalu menebas sendi lututnya.


Ia lalu terjatuh dan tak bisa bangun lagi. Yoga lalu menusuk kedua lengan mereka dan akhirnya mereka dapat ditusuk dengan mudah.

__ADS_1


Yoga dan teman-temannya lalu keluar dari sana untuk menyusul Joseph dan lainnya.


...****************...


__ADS_2