System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 43 - Dragon Cage berdarah (Bagian 1)


__ADS_3

Setelah mendapatkan sistem baru, Yoga keluar dari kamarnya dan menemui teman-temannya. Ia membuka pintu dan meminta relawan yang ingin mengikutinya ke Dragon Cage.


Tentu saja Leon, Jonathan dan Arthur angkat tangan, sedangkan Rian dan Nita hanya diam saja.


" Rian, kenapa kau tak mengangkat tangan? " Tanya Leon.


" Ahaha... maaf, anu... sebelumnya.... " Hendak ingin menjelaskan sesuatu, perkataan Rian dipotong dengan Arthur. " ... Dia belum sepenuhnya bisa bertarung, karena memang dia dulu sebagai support di tim kami. " Ucap Arthur dan senyum kepada Rian.


" Baiklah, hanya tiga orang yang mengikuti ku? " Tanya Yoga yang memastikan.


Mereka hanya menganggukkan kepala.


" Luna, mau ikut nggak? " Ucap Yoga yang menggoda.


Leon lalu melempar Yoga dengan pulpen. " Aneh-aneh aja. " Ucapnya.


Mereka berempat Yoga, Leon, Arthur dan Jonathan berangkat menggunakan motor sport masing-masing. Tak hanya itu saja, kali ini Yoga seperti benar-benar memiliki aura yang kuat. Bahkan ia menggunakan kostumnya, jas hitam dan topeng putih yang masih terikat di lengannya.


" Yoga, aku melihat sesuatu yang aneh di dalam penglihatan ku. Entah itu kabar baik atau buruk, aku benar-benar tidak bisa melihat selebih itu. " Gumam Leon yang menatap Yoga.


Mereka berempat melajukan motornya hingga sampailah ke dermaga. Karena lama menunggu, Jonathan pergi sebentar dari antrian mereka.


" Mau kemana? " Tanya Leon.


" Sebentar doang. " Jawab Jonathan dan meninggalkan motornya.


Selang beberapa menit, " Ayo ikut aku. " Jonathan kembali lagi dan menyuruh mereka segera mengikutinya.


Mereka bertiga lalu mengikuti Jonathan hingga sampailah mereka ke sebuah sebuah speedboat yang sedang terparkir di pinggir pembatas laut.


" Kita naik ini? " Tanya Leon.


" Iya, kalian bawa motor ke gudang sana..., " menunjukkan gudang yang kosong, " ... lalu simpan motor kalian di penyimpanan kalian. " Ucap Jonathan lalu naik ke speedboat duluan.


Yoga, Leon dan Arthur lalu pergi ke gudang kosong tersebut, lalu menyimpan motor mereka di penyimpanan sistem. Setelah itu mereka berdua kembali dan langsung menaiki speedboat.


" Kau menyewa nya? " Tanya Leon yang kagum.


" Aku membelinya. " Jawab Jonathan lalu menyetir speedboat ke arah pulau Dragon Cage.

__ADS_1


Leon yang tadinya tertawa karena kagum, malah diam perlahan karena tak percaya semua barang apapun bisa dibeli Jonathan. Yoga dan Arthur menikmati angin laut, bahkan mereka berdua sampai tertidur karena angin laut berhembus kencang membelai mereka.


Tak lama kemudian dari kejauhan, Jonathan melihat pulau Dragon Cage yang sebentar lagi akan mereka injak. Jonathan lalu memberhentikan speedboat sekitar 80 meter dari pesisir pantai lalu membangunkan mereka bertiga yang tertidur.


" Bangun, bangun... udah sampai, nih. " Seru Jonathan lalu mencipratkan air laut di wajah mereka.


Yoga, Leon dan juga Arthur terbangun dari tidurnya. Jonathan sedang memakai drysuit beserta peralatannya. Karena mereka akan berenang hingga ke pesisir pantai.


" Kenapa kau memakai itu? " Tanya Arthur lalu mencuci mukanya menggunakan air dari botol minum.


" Kita akan berenang, karena kita tak bisa terus membawa perahu ini hingga ke tepi pantai. Coba lihat di sana.... " Jonathan menunjuk ke arah dermaga. " Ada dua polisi yang berjaga disana. "


Tanpa berpikir panjang, Yoga melompat ke laut dan berenang hingga ke tepi pantai. Sebenarnya mereka sudah disediakan drysuit oleh Jonathan. Tapi Yoga berpikir jika memakai pakaian itu akan memakan waktu yang lama, itulah mengapa ia langsung melompat tanpa layaknya orang yang melarikan diri.


Mereka melewati hutan bakau agar tidak ketahuan hingga sampailah mereka ke daratan. Yoga sudah lebih dulu disana sambil membersihkan pakaiannya dari rumput dan dedaunan yang menempel.


Mereka bertiga yang baru sampai langsung melepaskan pakaiannya sambil meratapi pakaian Yoga yang tak basah.


" Yoga, pakaianmu anti air, ya? " Tanya Jonathan.


" Iya, tak cuma anti air, tapi juga anti peluru. " Jawabnya lalu memakai topengnya.


Mereka berempat lalu memulai perjalanan mereka hingga ke Dragon Cage. Mereka berjalan kaki untuk pergi kesana, jika mereka menggunakan motor, tentu saja bakalan membuat mereka tertangkap.


Hingga akhirnya mereka melihat dinding yang besar, namun ada sesuatu yang aneh dari dinding itu. Tak biasanya diatas sana sepi dari penjagaan, bahkan penjaga yang biasanya lalu lalang sekitar dua puluh orang, tidak terlihat lagi.


Yoga memberhentikan langkahnya lalu menghadap ke mereka bertiga.


" Kalian tunggu disini hingga aku memberi aba-aba. " Ucapnya lalu melanjutkan langkahnya kembali.


" Yoga, aku ik—" lengan Leon ditarik kembali bersama Jonathan dan Arthur.


" Kenapa? Bukankah berbahaya jika dia sendirian? " Ucap Leon yang khawatir.


" Semakin berbahaya lagi, jika peramal kami mati duluan. " Jawab Arthur lalu melepaskan tangan Leon, begitu juga Jonathan.


" Mmm... Maaf, maaf aku terlalu kekanak-kanakan. " Ucap Leon lalu duduk dengan wajah yang cemberut.


" Tidak apa-apa, tetaplah bersama kami. " Ujar Jonathan lalu duduk di sebelah Leon.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Yoga datang kembali dan menyuruh mereka untuk berjalan perlahan-lahan. Mereka memahaminya lalu bergerak senyap mengikuti Yoga.


" Saatnya berpesta, " kata Yoga lalu berlari ke para penjaga yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.


Yoga lalu melompat dan mengeluarkan pedangnya dari penyimpanan. Melihat hal itu, Leon serta yang lainnya terkejut dan sempat ingin berlari menahan Yoga.


Tanpa disadari, dalam waktu lima detik Yoga mampu menumbangkan delapan orang tanpa membuat luka sedikitpun.


" Bagaimana bisa itu terjadi? " Gumam Leon yang bertanya kepada dirinya sendiri.


Karena gerbangnya tertutup, Arthur membukanya dengan sekali tebasan. Leon dan Jonathan hanya bisa dibuat terpukau tanpa perlu berkata apa-apa.


" Apa yang terjadi dengan mereka semua? " Tanya Leon yang melihat seisi gedung bahkan sekelilingnya dipenuhi dengan ma-yat yang tergeletak.


Mereka lalu berjalan perlahan-lahan menuju ke dalam untuk melihat dan mengecek apakah ada seseorang yang masih hidup. Namun tidak dengan Yoga, ia malah terpaku menatap sebuah tiang bendera. Bahkan kakinya tak bergerak sedikitpun.


Mereka yang melihat tatapan kosong Yoga mengarah ke sebuah tiang juga ikut melihat ke atas tiang. Terkejutnya mereka ketika melihat, teman yang menemani Yoga saat berada di penjara tertancap di atas tiang tersebut.


Bram, itulah namanya. Pria polos dan tak pandai bergulat tewas di atas tiang bendera dengan cara yang mengenaskan.


Seketika emosi Yoga ingin meledak, teman-temannya bahkan tak kuasa menahan amarah dari Yoga sudah memuncak. Yoga bahkan masih berpikir bahwa musuh masih berada tak jauh dari lokasi mereka.


Namun skill [ Refresh ] milik Yoga dapat menenangkan hati Yoga kembali, tapi emosi itu terpendam dan mungkin sewaktu waktu bakalan meledak dengan sendirinya. Yoga lalu berlutut kemudian mengembalikan pedangnya ke penyimpanan.


Ia menatap ke langit dengan senyuman yang tak biasa, bahkan teman-temannya dibuat takut dengan senyuman itu. Senyuman itu adalah senyuman iblis yang sedang mengamuk.


Tak lama kemudian, muncul dua puluh orang dari dalam gedung dengan membawa sabit yang berlumuran darah di kedua tangan mereka.


Mereka bertiga yang menyadari hal itu langsung menahan Yoga agar tidak gegabah untuk menyerang mereka. Yoga lalu menertawakan mereka bertiga dan melepaskan genggaman mereka dari tangannya.


" Kalian udah siap bertarung mati-matian? " Tanya Yoga dengan senyuman ke mereka bertiga.


Sempat ragu, mereka bertiga mengatakan " Siap!!! " secara serentak.


" Mereka itu pembunuh bayaran, lho. Level mereka berbeda jauh dari gangster. " Ucap Yoga yang meyakinkan mereka sekali lagi.


Mereka bertiga hanya diam lalu mengeluarkan senjata mereka masing-masing.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2