
Sudah seminggu setelah Yoga dibebaskan dari penjara. Kini Yoga sering berangkat ke kampus untuk mempelajari pelajaran yang ketinggalan. Tak seperti biasanya, Yoga berpenampilan culun memakai kacamata, rambut rapi, memakai kemeja putih dan jelana hitam.
Semua itu dilakukannya selama seminggu ini, teman-temannya juga kebingungan dengan perubahan sikap Yoga yang berubah drastis. Dari anak remaja yang suka berkelahi menjadi anak remaja pendiam dan sering sendirian.
Yoga membeli sebuah motor antik dari seorang kolektor yang terkenal. Motor yang dibelinya itu adalah motor vespa keluaran tahun 90an. Anak-anak kampus yang melihat Yoga memakai motor itu bukannya mengejek, melainkan kagum dengan motor antik yang sudah lama tak dilihat.
" Yoga.... " Sapa seorang mahasiswa perempuan jurusan tata boga yang bernama Angelita.
" Ah... Lita, ada apa? "
" Bisa temani aku nggak, ke perpus. " Ucapnya dan mengalungkan tangannya ke leher Yoga.
Yoga melepaskan tangan Angelita. " Tidak, aku sedang sibuk. " Lalu memakai helm.
Angelita berdiri di depan motor Yoga sambil memegang pundak Yoga.
" Please... aku nggak ada temen, lho. "
Tak banyak pikir, Yoga menstarter motornya dan menurunkan dari standard. Yoga menggeser Angelita dan meninggalkan nya begitu saja.
" Yoga... kamu dingin banget, sih. " Gumam Angelita seraya menghentakkan kaki di tanah.
Suara knalpot vespa milik Yoga menjadi pusat perhatian bagi seluruh mahasiswa yang ingin pulang. Ketika sedang santai dan menikmati angin sepoi sepoi yang sejuk. Sebuah mobil Alphard menghalangi dirinya dan membuat Yoga untuk menekan rem mendadak. Alhasil motornya mogok dan harus diengkol untuk menyalakan nya kembali.
" Mobil, sialan. Kenapa berhenti di tengah-tengah jalan? "
Yoga yang kesal mendatangi mobil yang menghalanginya dan mengetuk kaca pintu mobil.
Tok!!! Tok!!! Tok!!!
" Paket!!! "
Kaca pintu mobil bagian belakang terbuka, Yoga mendatanginya dan berdiri disana.
" Pak, bisakah Bapak tidak berhenti di tengah jalan. "
" Nak, aku ingin bekerja sama denganmu. " Ucap Pria berjanggut yang memakai kacamata hitam.
" Hah? "
Pria berjanggut itu memberi kartu namanya dan pergi meninggalkan Yoga.
" Maksudnya? " Yoga yang kebingungan sambil mengangkat kedua tangan.
...----------------...
Malam hari pun tiba, sesuai kata pria yang menghalangi Yoga sore tadi. Yoga pergi ke alamat rumahnya sesuai dengan alamat di kartu nama yang diberikan sore tadi.
Sesampainya di perumahan yang mewah, Yoga mendatangi alamat yang sama seperti kartu nama pria itu. Setelah menemukan alamat yang dicari, Yoga melihat rumah besar nan mewah sedang berada di hadapannya.
__ADS_1
Yoga menuju pagar rumah itu dan menekan belnya. Karena lama menunggu dan tak kunjung dibukakan. Yoga memainkan bel itu seperti memainkan alat musik. Ia menekan bel dengan mengikuti irama musik 'Giorno Giovanna Theme'.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik berseragam pelayan membukakan pintu pagar dan menyambut Yoga.
Yoga hanya menatap heran dan meletakkan motor sport nya di halaman rumah itu. Lalu ia diajak masuk dengan wanita itu menuju ruang tamu.
Sesampainya di dalam, Yoga duduk di bangku sambil menunggu pria pemilik rumah. Tak lama kemudian, wanita tadi membawakan teko berisi teh dan dua cangkir kosong.
Wanita itu meletakkannya diatas meja dan menuangkan teh kedalam dua cangkir itu.
" Kemana pemilik rumah? " tanya Yoga yang bosan karena lama menunggu.
" Sebentar, ya. Saya panggilkan dahulu. " Wanita itu lalu pergi meninggalkan Yoga sambil membawa nampan.
Karena bosan, Yoga dengan jahilnya ia melihat miniatur yang berada di lemari koleksi. Yoga mengambil satu buah keris dan melihatnya. Karena penasaran dengan keaslian keris itu, Yoga mengeluarkan katana nya dan mengadukan keris dan katana secara bersamaan.
Klotak!!!
Keris itu patah dan langsung dikembalikan dengan Yoga ke lemari koleksi. Yoga kembali duduk dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Tak lama kemudian, pria berjanggut datang dan langsung duduk di bangku yang berhadapan dengan Yoga. Lalu ada seorang pemuda tinggi berkacamata dan memiliki postur tubuh yang bagus kemudian duduk disebelah Yoga.
" Alexander, panggil aja Alex. " sambil mengulurkan tangan.
" Yoga Hari Wibowo, panggilannya Yoga. " menjabat tangannya.
" Yoga, kau sudah tahu namaku bukan. Sesuai dengan kartu namaku. " Kata pria berjanggut itu.
" Handika Sutomo, umur 47 tahun dan seorang duda yang mempunyai anak satu. Disebelah ku ini adalah anakmu bukan? Istrimu keturunan Amerika dan kau asli Indonesia. "
" Cukup, berarti aku tak salah lagi memilih dirimu. " Handika lalu berdiri dan mengambil koper yang berisi dokumen dan meletakkannya di atas meja.
" Apa ini? " tanya Yoga yang melihat beberapa dokumen berisi tentang kelompok gangster.
Handika menyuruh Alex mengambil koper satunya, karena ia salah mengambil koper.
" Ada apa menyuruhku untuk datang kesini? Dan juga siapa dirimu? " Tanya Yoga lalu menyeruput tehnya.
" Aku ingin bekerjasama dengan dirimu. Kau tau orang ini bukan.... " Handika menunjukkan foto Logan di ponselnya. " Seorang mafia, pembunuh, penyelundup, buronan. Kau ingin tau siapa bos dari organisasi ini bukan. " Menunjukkan logo organisasi yang bergambar banteng menyeruduk naga.
" Logo itu, siapa kau sebenarnya? "
" Keterlaluan kau tak kenal aku, aku ini seorang Kapolri. "
Yoga membuka ponselnya dan mencari Kapolri yang menjabat di tahun 2029. Lalu ia menyandingkan foto di ponselnya dan pria yang dihadapannya.
" Hmm... mencurigakan. Di gambar ini, tak memiliki janggut sedangkan dirimu berjanggut dan beruban lagi. " Yoga yang bersikap polos masih saja menyandingkan foto itu dengan aslinya.
" Itu foto sewaktu aku baru menjabat sebagai Kapolri. "
__ADS_1
Yoga memasukkan ponselnya ke saku dan menaikkan kakinya ke atas meja.
" Apa yang harus ku lakukan? " ucap Yoga sambil memainkan alis mata.
" Bagaimana jika kau... "
" Tidak-tidak, aku tak mau berurusan dengan mereka lagi. Aku ingin hidup tenang dan berkuliah bersama teman-teman ku. "
Yoga lalu berdiri meninggalkan Handika seorang diri.
" Jika kau berubah pikiran, datanglah kerumah ini. Aku akan selalu menyambut mu dengan senang hati. "
Yoga hanya mengacungkan jempol dan keluar dari rumah besar itu. Ia menyalakan motornya dan segera pulang ke apartemen.
" Ayah, koper mana yang kau cari? " Tanya Alex yang membawa empat koper ke ruang tamu.
" Kembalikan saja. " Jawab Handika dan menutup pintu.
" Kemana Yoga? " Alex yang sedang membawa kembali koper koper itu.
" Sepertinya dia tak ingin membantu kita. "
...----------------...
Di perjalanan, Yoga mengendarai motor sportnya dengan laju. Ia mengingat organisasi yang diperlihatkan Handika tadi. Organisasi itu bernama Angry Bull Group, organisasi terbesar di surabaya. Organisasi itu adalah sebuah perusahaan yang memproduksi sembako bagi masyarakat Surabaya.
Tapi di sisi gelapnya, sebenarnya organisasi itu bergerak dibidang pencucian uang gelap. Tak hanya itu saja, tepat dibawah gedung perusahaan mereka terdapat sebuah ruang bawah tanah yang memiliki tiga lantai.
Ruang bawah tanah di lantai pertama digunakan sebagai tempat penyimpanan barang illegal yang akan dijual. Di lantai kedua adalah tempat prostitusi dan sebuah studio untuk merekam adegan prostitusi. Sedangkan di lantai ketiga atau yang terakhir adalah tempat yang dimana pembunuh bayaran berkumpul disana.
Karena mengingat hal itu, Yoga menjadi tak fokus berkonsentrasi saat mengendarai motor dan malah menabrak sebuah mobil sedan berwarna hitam.
Yoga lalu bangun dan segera mendirikan motornya. Pemilik mobil itu keluar dan menendang Yoga. Yoga melepaskan motornya dan meminta maaf kepada sang pemilik mobil.
" Maaf, tuan. Aku tak sengaja. "
Pria itu bukannya memaafkan tapi malah meludahi Yoga tepat diwajahnya. Dengan amarah yang dipendam, Yoga menendang pria itu hingga terpental di mobilnya dan meludah pria itu berkali-kali.
Lalu Yoga merobek baju pria itu untuk membersihkan wajahnya. Kemudian ia kembali menaiki motor dan melambaikan tangan ke pria itu.
" Ah... sial. Padahal aku sudah minta maaf, kok malah diludahi. " Gumam Yoga dan melajukan motornya.
Pria yang tadi ditendang Yoga berdiri dan melepas pakaiannya, terdapat tato berlogo Angry Bull Group dibagian dadanya. Pria itu lalu masuk ke mobil dan membersihkan tubuhnya.
" Siapa anak itu? Beraninya ia berbuat seperti itu kepadaku. "
Pria itu mengambil baju dari kursi belakang kemudian memakainya. Lalu ia menyalakan mobil dan pergi ke sebuah tempat yang dimana tempat itu adalah gedung perusahaan Angry Bull Group.
...****************...
__ADS_1