
Yoga dan Arthur langsung melompat ke tengah lalu melumpuhkan mereka dengan cepat. Yoga melirik ke arah Arthur yang tidak menggunakan katana yang asli, melainkan yang terbuat dari kayu.
Yoga juga menyerang mereka menggunakan tangan kosong untuk menghindarinya dari membunuh seseorang.
" Sistem, berapa jumlah musuh yang dapat kau hitung. " Gumam Yoga seraya menumbangkan musuh satu persatu.
[ Menurut hawa panas yang diberikan, mereka hanya tiga ratus orang. ]
Yoga tersenyum lalu menendang lima orang sekaligus hingga terpental jauh.
Yoga lalu melihat Leon dan juga Jonathan, ternyata mereka juga tak berniat untuk membunuh. Bahkan pistol yang dipegang Jonathan adalah pistol mainan. Leon berhasil menumbangkan sepuluh musuh menggunakan tongkat baseball.
Yoga yang melihat temannya tidak memerlukan bantuan, ia segera pergi lebih dalam untuk segera menumbangkan mereka semua.
Satu orang menuju Yoga dan langsung menangkapnya, namun dengan cepat. Yoga melepaskan tangannya dan membanting orang itu dengan keras.
" Arrrggghhh. " Pria itu yang merintih kesakitan
Yoga lalu terkejut melihat sebuah tato blue shark di tangan pria itu. Lalu Yoga segera membuat pria itu pingsan dengan memukul hidungnya dengan keras.
" Oi!!! Mereka ini gangster.... " Teriak Yoga dari kejauhan.
Leon, Jonathan dan juga Arthur lalu tersenyum karena mereka tak perlu susah susah lagi untuk mencari mereka.
Yoga yang sedang menikmati pertarungan, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia segera mengangkatnya sambil menyerang mereka.
" Halo paman tua, ada apa lagi? " Ucap Yoga sambil menghindari pukulan.
" Anggota ku sebentar lagi akan datang. Jadi kumohon agar dirimu segera melarikan diri. " Ucap Handika dari telepon.
" Okay paman tua, aku juga berhasil menumbangkan mereka sekitar lima puluh tiga orang. " Ucap Yoga lalu mematikan telpon dan menendang seorang yang ingin menusukkan pisau ke Yoga.
" Lima puluh empat. " Gumam Yoga lalu pergi.
Dengan santainya ia berjalan, ia menginjak semua orang yang tergeletak di tanah. Bahkan ia seperti tak memiliki dosa hingga wajah pun ia lewati.
Sesampainya ia di hadapan teman-temannya, " Kembali ke apartemen dan bawa barang kalian seperlunya. Karena polisi akan datang ke tempat ini. " Ucap Yoga lalu turun dari atas tubuh seseorang.
" Ketika kau bilang mereka adalah gangster, aku langsung menghajarnya. " Ucap Jonathan yang semangat.
" Tapi mereka benar-benar masih remaja. " Sambung Arthur.
" Benar, aku saja tak sanggup menghabisi mereka hingga pingsan. " Ucap Leon yang tersenyum.
Yoga hanya menggelengkan kepalanya dan melihat seseorang sniper diatas gedung dari pantulan kaca jendela, ingin menembak mereka berempat.
Dengan cepat, Yoga menjatuhkan ketiga temannya dan peluru langsung melesat dan memecahkan kaca jendela.
" Apa itu barusan? " Tanya Leon yang kaget.
" Kita benar-benar sedang diburu. " Ucap Yoga lalu mengintip sedikit untuk melihat sang sniper yang masih diatas gedung.
" Merangkak, kita harus merangkak. " Ucap Yoga kemudian ia langsung merangkak hingga ke kamar mereka.
Sesampainya mereka di depan pintu apartemen mereka, Leon mengetuk pintu dan menyuruh mereka yang didalam agar langsung menunduk.
Ceklek!
Pintu terbuka dan Rian berdiri di depan pintu secara terbuka, peluru langsung melesat kearahnya, namun yang terjadi peluru itu meleset tepat disamping kepala Rian.
" Mentang-mentang keberuntungan selalu memihakmu, kau jadi tenang seperti itu. " Ucap Leon yang khawatir.
Rian hanya tersenyum dan segera menunduk bersama mereka. Mereka berempat lalu masuk dan segera menutup pintu.
__ADS_1
" Baiklah, Yoga. Apa rencana kita sekarang? " Tanya Leon.
" Kabur dan cari tempat tinggal baru. " Ucap Yoga dengan santai lalu menyenderkan badannya ke pintu.
" Semudah itu kau bicara? Kita ini sedang dikepung. " ucap Leon yang geram.
" Persiapkan barang-barang kalian, pergi ke basement dan tunggu aku disana. " Seru Yoga lalu berdiri dan masuk ke kamar untuk mengambil barang-barang yang penting baginya.
" Kau serius? " Tanya Leon lalu ia segera membereskan barangnya.
Setelah itu mereka menyimpan barang di penyimpanan sistem mereka dan kembali ke ruang santai. Lalu Leon datang dan bertanya kepada Yoga. " Bagaimana dengan mereka? " Sambil menunjuk ke apartemen yang dihuni perempuan.
" Sudah ku beritahu lewat chat. Mereka juga sudah menuju basement. " Ucap Yoga lalu membuka pintu.
Tidak ada tanda-tanda dari sniper, dan juga suara sirine polisi pun semakin terdengar dari apartemen mereka.
" Ayo! " Ucap Yoga lalu mereka langsung berlari menuju basement.
Sesampainya mereka di basement, mereka langsung menaiki mobil dan Yoga langsung menyuruh mereka untuk segera jalan.
" Bagaimana denganmu? " Tanya Jonathan yang duduk di bangku setir.
" Pergilah ke pusat kota dan.... " Yoga menunjuk Arthur. " Arahkan Jonathan ke bar yang kemarin. " Ucapnya lalu melambaikan tangan ke mereka.
"Kalian mau melihat aksiku? Akan ku perlihatkan sekarang. " Gumam Yoga lalu memakai topengnya.
Mobil yang dikendarai Jonathan sempat dihadang dengan polisi, namun dari dari halaman apartemen terlihat seseorang berjas hitam menggunakan topeng putih sedang memegang senjata api dan menembaki gangster yang masih ada disana.
Itu adalah Yoga.
Tak sampai disitu saja, Yoga melemparkan bom asap agar polisi tak dapat melihatnya. Ia juga melemparkan sebuah granat hingga menyebabkan ledakan dan membuat polisi yang baru datang langsung terpental begitu saja.
Yoga memberikan isyarat kepada Jonathan untuk segera pergi meninggalkannya. Lalu Yoga melanjutkan aksinya dengan naik ke atas mobil lalu tertawa sambil menembaki semua orang yang berada di depannya.
Lalu datang dua helikopter yang akan menembaki Yoga. Karena bantuan sistem yang dapat mendeteksi bahaya, ia segera pergi dari tempat itu seraya mengambil RPG dari penyimpanannya.
" Siapa orang itu? " Ucap Handika yang ternyata tak jauh dari tempat dan melihat Yoga memunculkan RPG dari tangannya.
" Bagaimana ia melakukannya? " Ucap Handika yang terheran-heran.
Yoga lalu mengarahkan RPG nya dan langsung menembak ke arah helikopter yang mengejarnya. Beruntungnya ia bisa mengenai dua helikopter sekaligus dalam sekali tembakan.
Yoga lalu melihat ada mobil yang sudah tak asing lagi baginya dan ia segera menaiki mobil itu dan duduk di kursi depan.
" Antarkan aku ke pusat kota, paman tua. " Ucap Yoga lalu membuka topengnya.
Handika yang melihatnya lantas terkejut melihat Yoga yang akan bekerjasama dengan dirinya melakukan hal yang sangat berbahaya. Bahkan sampai membunuh orang yang tak bersalah sekalipun.
" Hei Bocah! Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan hal seperti ini? " Tanya Handika dengan marah.
" Mereka polisi suap, kau juga tak memanggil mereka untuk datang kemari. " Ucap Yoga lalu melepaskan jasnya dan menaruh di penyimpanan.
" Heh? Bagaimana kau melakukannya? " Tanya Handika yang heran.
" Ini hanya sulap.... " ucap Yoga. " ... dan ayo pergi ke pusat kota sebelum mereka mengejar kita! " Sambungnya lagi.
Handika lalu membelokkan mobilnya dan langsung pergi ke pusat kota. Diperjalanan mereka berdua selalu saja berdebat di dalam mobil.
" Bagaimana kau bisa membunuh mereka semua? " Tanya Handika yang marah.
" Mereka orang suruhan Angry Bull, kok. " Ucap Yoga lalu menyenderkan badannya.
" Bagaimana kau tau mereka orang suruhan Angry Bull Group? " Tanya Handika yang geram.
__ADS_1
" Aku hanya menebak. " Jawab Yoga yang polos.
" Huft... mereka itu anggota ku, setelah masalah ini selesai. Kau akan ku gantung di dekat pagar rumahku. " Ucap Handika.
" Coba saja kalau berani. " Ledek Yoga.
" Jelaskan, bagaimana kau tau mereka dari Angry Bull Group? " Tanya Handika yang ingin tahu.
" Aku ada bukti... " Yoga mengeluarkan kartu nama beserta ponsel dari seorang polisi. "... percaya atau tidak, itu terserah padamu. " Ucap Yoga yang telah lelah.
Handika lalu mengambil kartu nama beserta ponsel dari tangan Yoga dan melihat kartu nama itu berasal dari Angry Bull Group.
Sesampainya mereka di sebuah bar yang bernama Hidden Bar, mereka lalu memarkirkan tepat di depan bar tersebut dan bersebelahan dengan mobil milik Jonathan.
" Oi pak tua, sembunyikan tanda polisimu itu sebelum masuk. " Ucap Yoga yang mengingatkan.
" Hmm... aku menyembunyikannya juga mereka pasti mengenalku. " Ucap Handika lalu membuka pintu bar.
Mereka lalu masuk dan melihat bar benar-benar sepi, bahkan barista juga tak ada di mejanya. Yoga lalu mengajak ke gudang untuk pergi ke ruang bawah tanah.
Setelah menekan tombol dan tangga menuju ruang bawah pun terbuka. Yoga dan Handika langsung turun ke bawah dan segera menuju ke pintu sebuah ruangan rahasia.
Yoga lalu membukanya dan melihat para pelanggan beserta barista sedang terkapar di lantai. Handika juga kaget melihat Leon dan Jonathan sedang duduk di kursi bundar sambil meminum segelas bir.
Natalia yang melihat kehadiran Yoga lalu berdiri dan menyapanya. " Ketemu lagi kita, ohiya teman-temanmu cukup tangguh juga. " Ucapnya lalu menarik tangan Yoga menuju ke teman-temannya. Handika juga berjalan ke arah mereka dengan berhati-hati, karena banyaknya pelanggan yang tergeletak di lantai.
" Kenapa mereka semua? " Tanya Handika yang bingung.
" Ahaha... biasa, orang yang masuk tempat ini harus menunjukkan kekuatannya terlebih dahulu. " Ucap Sombong Jonathan.
Yoga lalu duduk di sofa bersama Natalia, Luna dan juga Nita. Natalia menggoda Yoga tepat di hadapan Luna.
" Hei... kau belum memberitahu namamu. " Ucap Natalia yang mengelus rambut Yoga.
Yoga menyingkirkan tangan Natalia dari rambutnya dan menggeser dirinya sedikit lebih jauh dari Natalia.
Handika, Leon, Jonathan, Arthur dan Rian lalu membawa kursi mereka dan duduk bersama Yoga.
" Hei Yoga, siapa dirimu sebenarnya? " Tanya Handika yang masih belum percaya dengan Yoga.
" Aaa... namamu Yoga, jadi bagaimana kau bisa tau tempat ini. Bukankah kau baru pertama kali, eh tidak, kedua kali kau kesini. Dan kenapa kau menanyakan informasi tentang Logan kepadaku? " Ucap Natalia lalu mengangkat kakinya ke atas kaki Yoga.
Yoga lalu melihat teman-temannya yang menatap dirinya semua. Yoga lalu menyuruh sistem untuk selalu menggunakan skill [ Refresh ] agar dirinya tak tertekan dengan kondisi saat ini dan menjaga dirinya agar tetap tenang.
Yoga menghela nafas lalu menegakkan badannya. " Baiklah, aku akan memberitahu siapa diriku sebenarnya. Aku adalah Yoga yang kehilangan kedua orang tua kemudian tertekan dan membalaskan dendam ke orang yang telah membuat hidupku menderita. "
Perkataan itu membuat Handika yang menatap Yoga dengan tatapan penasaran langsung buyar. Begitu juga dengan Natalia yang ingin mendengar sesuatu yang 'wah' dari Yoga.
Melihat ekspresi mereka yang tak menyenangkan, Yoga lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar dan berbaring disana. Sedangkan yang lainnya masih asyik minum dan mengobrol bersama.
Luna dan Leon menyusul Yoga yang berada di kamar dan duduk di sampingnya.
" Aku tau kau pasti ingin menceritakan kepada mereka, kan? Meski begitu, kau harus tetap menyembunyikannya. " Ucap Yoga kemudian berbaring di samping Yoga.
" Kak Yoga, kamu pasti kenal dengan perempuan itu. Kok kamu digoda sih. " Ucap Luna yang cemburu.
" Yah... sebenarnya dulu ini adalah tempat tinggal ku. Dia sudah seperti kakak bagiku. " Ucap Yoga yang mengingat masa lalunya.
" Begitu, ya. " Ucap Luna lalu baring di sisi kiri Yoga.
" Kuharap, kita bertiga bisa selalu bersama seperti ini. " Gumam Yoga dan meneteskan air mata.
...****************...
__ADS_1