
Keesokan harinya Yoga terbangun dan langsung pergi mandi. Setelah itu, pergi ke ruang santai dan tak ada seorangpun disana.
Ia lalu pergi ke kantor dan melihat mereka sedang bekerja disana. Mereka semua menyapa Yoga lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
" Apa aku harus bekerjasama dengan Handika, ya? " Gumam Yoga lalu duduk di kursi kerjanya.
" Jonathan, bagaimana kerjasama dengan Handika? " Tanya Yoga dan menyalakan komputernya.
Jonathan lalu menoleh, " Katanya sih, minggu depan kami akan pergi ke Angry Bull Group. " Ucap Jonathan dan kembali ke pekerjaannya.
Yoga lalu membuka browser di komputernya dan melihat ada sebuah artikel berita yang sedang trending. Berita itu adalah kejadian kemarin tentang ledakan dari Dragon Cage. Di artikel tersebut tertulis bahwa ledakan tersebut berasal dari bom yang telah diletakkan di setiap sudut penjara.
Namun diberita itu juga ditulis bahwa orang yang melakukan pengeboman itu adalah empat remaja yang masih belum diketahui dengan siapapun.
Bahkan ada juga artikel yang menulis tentang pengejaran empat orang ter-or-risme yang diduga meledakkan penjara Dragon Cage kemarin. Hingga saat ini polisi sedang menyelidiki kejadian tersebut hingga menemukan jejak dari sang ter-or-is yang meledakkan seluruh penjara Dragon Cage.
" Kalian sudah membaca artikelnya? " Tanya Yoga dengan suara yang keras.
Mereka semua hanya mengangguk dan fokus kembali bekerja. Yoga lalu berdiri menyalakan proyektor lalu menyambungkan ke komputer miliknya.
" Oke semuanya, karena aku belum sarapan. Semuanya perhatikan aku sebentar.... " Mereka semua langsung menghadap ke Yoga yang berdiri di depan. " Baiklah, mohon kerjasamanya. Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, barulah kita ke restoran dan ku traktir makanan.... " Ucap Yoga lalu menjelaskan kejadian kemarin.
...----------------...
Yoga menjelaskan beberapa hal yang ia ketahui kemarin. Jadi sebenarnya para relawan bom bunuh diri adalah seorang tahanan level rendah di Dragon Cage. Yoga mengetahui itu dari gelang yang dipakai dengan mereka, gelang para tahanan. Sedangkan semua orang yang dibunuh adalah tahanan level tinggi. Tidak, yang dibunuh adalah semua tahanan yang disana.
Mereka membuat sebuah video perkelahian antar geng untuk memancing Gangster Slayer kesana. Mereka sedang mencari seseorang yang telah membunuh mafia disegani peringkat kedua, yaitu Stephen Logan.
Karena kejadian itu, entah siapa yang berpikir kalau anggota Gangster Slayer lah yang melakukan hal itu. Itulah mengapa mereka menjadikan tahanan sebagai aktor di video perkelahian antar geng.
Disanalah mereka akan mengetahui orang yang membunuh Logan sebenarnya. Jika Gangster Slayer bukanlah orang yang membunuh Logan, maka mereka tidak akan pergi ke Dragon Cage karena pasti mereka tak tahu tempatnya.
Tapi karena kecerobohan dari Yoga yang tanpa berpikir dan langsung pergi kesana. Akhirnya musuh tahu tentang orang yang membunuh Logan, benar, Gangster Slayer yaitu Yoga.
__ADS_1
Beberapa orang yang mengejar Yoga adalah pembunuh bayaran yang sebenarnya. Bahkan yang memberi tempat penginapan adalah pembunuh bayaran itu sendiri. Yoga mengetahui ketika ia mengeluarkan dompet dan terlihat kartu nama Yoga yang bertuliskan Gangster Slayer.
Maka dari itu, sudah dipastikan mereka akan menyerang Gangster Slayer beberapa hari ke depan.
...----------------...
Yoga lalu mematikan layar proyektor kemudian mengajak mereka semua untuk makan bersama di restoran, untuk merayakan hari terakhir mereka bersenang-senang.
Namun ketika membuka pintu, apartemen mereka sudah dikepung dengan banyaknya polisi dan reporter. Yoga kembali menutup pintu dan mematikan lampu.
" Bagaimana bisa mereka mengetahui tempat ini? " Ucap Yoga lalu melihat layar komputer Arthur yang aneh. Ketika ia mendekat, kursor milik Arthur bergerak sendiri dan ternyata semua barang elektronik mereka sedang disadap.
" Matikan semua komputer kalian, semua ponsel kalian. Semua barang-barang yang dapat menghantarkan sinyal. " Ucap Yoga dengan suara yang keras.
" Sial, bagaimana ini bisa terjadi. " Gumamnya lalu mengambil ponselnya yang berdering.
Handika sedang menelponnya, Yoga segera mengangkat dan berbicara kepadanya.
" Oi, paman tua. Kenapa polisi mengepung apartemen ku? " Tanya Yoga sambil berjalan mondar-mandir.
" Paman tua, akan ku beri pilihan. Aku melarikan diri atau ku bunuh mereka semua. " Ucap Yoga yang mengintip keluar.
" A-apa yang kau maksud, aku sudah sampai di tempat ke—" Handika lalu menjeda bicaranya. " Apa pilihannya tadi? " Tanya Handika yang terdengar seperti panik.
" Hehe... Kau mau aku meratakan anggotamu, atau aku tidak akan bekerjasama denganmu. " Ucap Yoga yang terkekeh.
" Mohon kerjasamanya, mereka bukanlah anggota ku. " Ucap Handika.
" Baiklah... " Yoga mematikan telponnya. " Setelah berhasil mengalahkan mereka semua, aku akan mentraktir kalian, eh bukan aku, tapi Jonathan. " Ucap Yoga lalu membuka pintu dan mengenakan kostumnya.
" Yoga, kita harus mengganti nama kelompok ini. " Ucap Jonathan lalu memakai pakaian yang sama seperti Yoga, jas hitam dan topeng putih.
" Murderer. " Seru Yoga lalu melompat dan terjun ke bawah.
__ADS_1
" Rian, Nita. Kumohon jaga Luna. " Ucap Leon lalu berlari dan melompat mengikuti Yoga.
Rian dan Nita mengacungkan jempol. Lalu Jonathan dan Arthur menyusul mereka berdua melewati tangga, karena mereka tak punya skill untuk parkur.
" Gila kau Yoga, aku mengikutimu melompat karena kukira kau tak punya persiapan. " Ucap Leon yang terbaring di lantai dan meregenerasi kakinya yang patah.
" Salah sendiri, sistem memberiku skill [ Parkour ], emang kau tak punya? " Tanya Yoga dan membantu Leon untuk berdiri.
" Barusan dapat. " Jawab singkat Leon.
Mereka berdua lalu berdiri dan berhadapan langsung dengan banyaknya orang yang mengenakan seragam polisi.
Lalu Arthur dan Jonathan turun dari tangga dan langsung bergabung bersama Yoga dan Leon.
" Apa kabar kakimu Leon? " Tanya Jonathan yang terkekeh.
" Sehat, untung saja aku bukan orang biasa. "Jawab Leon lalu menyiapkan posisi bertarungnya.
" Kali ini berbeda dari yang kemarin, ya. " Ucap Arthur kemudian mengambil kedua pedangnya.
" Aku sudah tidak sabar melihat aksi Yoga. " Lanjut Jonathan lalu mengeluarkan dua pistol berjenis Desert Eagle.
Yoga hanya tersenyum dari balik topeng, " Kalau kalian mati disini, aku takkan mentraktir kalian. " Gumam Yoga, lalu berlari. " Ayo. " Ucapnya.
Mereka berlari mendekati musuh, begitu juga dengan musuh yang mendekati mereka dengan senjata tajam.
Jonathan memberhentikan langkahnya lalu mengambil posisi untuk menembak, Yoga dan Arthur langsung melompat ke dalam pertarungan sedangkan Leon mengambil posisi untuk bertarung satu lawan satu.
...****************...
...Ilustrasi Mereka Berempat...
Note : Hanya Ilustrasi, bukan berarti mereka seperti ini.
__ADS_1