System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 35 - Aksi Yoga dan Arthur


__ADS_3

Malam hari pun tiba, Jonathan dan Leon pergi ke alamat sesuai dengan kartu nama yang diberikan Yoga. Sedangkan Yoga mempersiapkan diri untuk melakukan aksi serangannya ke beberapa gangster malam ini.


Tak pergi sendirian, Yoga ditemani dengan Arthur karena ia keras kepala dan ingin mengikuti Yoga membersihkan gangster.


Bryan seminggu ini sampai bulan depan sedang pergi ke Jakarta untuk menemani Joseph yang dipanggil oleh Menteri keamanan karena berita kematian Logan. Joseph menjadi penanggung jawab dalam hal ini, sebenarnya sih tidak sampai sebulan. Mereka hanya ingin liburan dan bebas dari segala hal yang selalu mendatangi mereka.


Kembali ke Yoga dan Arthur yang sedang mengendarai motor kawasaki ninja. Mereka menuju tempat geng Eagle berada sesuai dengan tempat yang diberikan Luna dan Nita.


Karena Yoga kemarin melakukan kesalahan sewaktu melabrak geng Eagle, kali ini dia tak menyamar lagi melainkan langsung masuk di area terbuka.


Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Yoga dan Arthur memberhentikan motor mereka dan memasukkan ke dalam penyimpanan sistem masing-masing. Yoga menyuruh Arthur untuk pergi dulu karena Yoga akan mengganti pakaian yang ia dapat sewaktu mengamuk.


Arthur mengendap-endap di atas atap pabrik tua dan melihat geng Eagle sedang bersantai disana. Tak sengaja, Arthur menginjak atap yang rapuh dan membuat ia terpleset lalu jatuh kebawah.


Geng Eagle lalu melihat Arthur yang sedang berbaring kesakitan. Lalu seseorang mendekatinya sambil membawa besi panjang.


" Hei... siapa kau? Penyusup, ya. " kata seorang pria yang mendekati Arthur.


Arthur yang sudah meregenerasi tubuhnya langsung berdiri dan mengeluarkan katana.


Zing!!!


Suara pedang yang memotong besi membuat mereka mundur beberapa langkah.


" Apa masalahmu kesini? " tanya ketua geng Eagle yang duduk di singgasana nya.


" Aku dari Gangster Slayer.... " Arthur mengeluarkan kartu namanya dan melemparkan ke ketua geng Eagle. " Kedatangan ku kesini, untuk membubarkan geng kalian. " ucap Arthur dilanjutkan dengan mengarahkan katana ke arah ketua geng Eagle.


Seluruh anggota berjumlah 100 orang langsung menyerang Arthur bersamaan. Karena tak ingin membunuh, Arthur mengganti katana nya menjadi bokken. Melihat Arthur yang bisa menghilangkan senjata dan memunculkan senjata lainnya menjadi heran.


Ketua itu lalu pergi dari sana untuk keluar dan mencari tempat yang aman ditemani dengan beberapa ketua devisi yang lainnya.


Yang menyerang Arthur hanyalah anggota mereka, jadi mereka tidak ada apa-apa nya bagi Arthur yang seorang diri.


Di luar, ketua geng Eagle beserta wakil dan lima ketua devisi menaiki motor dan pergi dari pabrik tua itu. Namun, terjadi ledakan dan muncul seorang berjas hitam panjang dan memakai topeng berwarna putih sedang menghalangi mereka.


" Siapa kau? Minggir atau ku tabrak. " Ancam ketua geng Eagle.


Yoga berjalan perlahan lahan sambil membawa tongkat baseball yang menyentuh tanah.


" Di-dia... Dia psikopat. " kata seorang ketua devisi dan turun dari motornya.


" Psikopat!!! " Sahut mereka bersama-sama.


Karena Yoga sudah menguasai skill [Illusioner] ia menghilangkan motor yang mereka naiki dan merubah tempat menjadi sebuah arena pertarungan.

__ADS_1


" Dimana kita? Kemana motor kita? " ucap wakil geng Eagle yang kebingungan.


" Sihir, dia penyihir. Sama seperti orang yang didalam tadi. " kata ketua geng Eagle yang menyamakan Yoga dengan Arthur.


" Berikan aku pisau. " lanjut ketua itu dan mengambil pisau dari wakil.


Ketua itu berlari ke arah Yoga sambil mengayunkan pisau secara acak. Tapi karena level bertarung yang sangat jauh, Yoga hanya menghindari dan tak melakukan serangan balasan. Bukan berarti Yoga mengasihi mereka, melainkan membawa ketua itu mendekat ke teman-temannya.


Ketika ketua itu menusukkan pisau ke arah Yoga, Yoga lalu menghindar dan menghilang menggunakan skill [Invisible] kemudian berdiri tepat di belakang mereka semua.


" Tadaaa!!! " Yoga yang mengagetkan mereka semua.


Yoga lalu mengganti tempat menjadi sebuah tempat yang dikelilingi oleh api. Meski hanya ilusi, dampak yang diberikan adalah nyata. Mereka merasa kepanasan dan keringat menyelimuti mereka.


Berbeda dengan Yoga yang justru bermain api dan membuat pasukan petarung yang terbuat dari api menggunakan ilusi nya.


Karena merasa tertekan dan tak sanggup untuk melawan. Mereka semua meminta ampun dan memohon kepada Yoga untuk melepaskan diri mereka.


" Maafkan kami... aku berjanji tidak akan menjadi gangster lagi. " Ucap ketua geng Eagle diikuti dengan mereka semua.


Yoga mengembalikan mereka ke tempat semula dan menghilangkan ilusi nya.


" Sebenarnya aku ingin membunuh kalian, tapi karena kalian masih dibawah umur. Cepatlah berubah dan jangan mengulangi kesalahan yang sama. " Yoga lalu berjalan menuju pabrik untuk menemui Arthur yang didalam.


Yoga berlari kesana kemudian masuk dan melihat Arthur telah menumbangkan setengah anggota geng Eagle hanya dengan bokken.


Yoga menyuruh Arthur berhenti dan melihat sekitaran pabrik yang dimana terdapat bekas gesekan pedang di langit-langit pabrik.


Yoga segera menghampiri Arthur kemudian menyuruh anggota geng Eagle yang tersisa untuk tidak bergabung dengan geng apapun. Mereka semua mengangguk dan pergi dari sana.


" Arthur, kau tadi menggunakan bokken? " tanya Yoga yang penasaran dengan kekuatan Arthur sesungguhnya.


" Iya, emangnya kenapa. Kan kau sendiri bilang jangan membunuh. " ucap Arthur dan mengembalikan bokkennya.


" Ahaha... pabrik ini akan rubuh. Sebaiknya kita pulang ke apartemen untuk beristirahat. " ajak Yoga dan menarik tangan Arthur.


Yoga masih saja melihat langit-langit pabrik yang dikelilingi dengan bekas gesekan pedang. Mana mungkin manusia biasa dapat melakukan itu, apalagi dengan langit-langit yang setinggi delapan meter.


Tak hanya langit-langit saja, beberapa dinding dan pilar juga terdapat bekas gesekan pedang. Yoga hanya terkekeh dan melanjutkan jalannya hingga keluar dan pabrik itu langsung rubuh di belakang mereka.


...----------------...


Di tempat yang berbeda, Jonathan dan Leon sedang berdiskusi dengan Handika mengenai kerja sama yang mereka buat.


Sebenarnya Handika ingin Yoga seorang diri untuk datang kesana, tapi karena Yoga menyuruh temannya mau tidak mau harus diterima juga.

__ADS_1


" Jadi kita akan menyelidiki perusahaan itu sampai kedalam? Kenapa tidak bapak dan anggota polisi yang lainnya? Bukankah ini misi yang berbahaya bagi anak remaja seperti kami. " ucap Leon yang telah mendengar misi mereka.


" Kalian pasti tau polisi yang hanya memikirkan uang dan polisi yang memang benar-benar bertugas. Di kota ini hanya 30% anggota polisi yang menjalankan tugas dengan baik, sisanya? Mereka hanya memikirkan uang dan uang. " kata Handika dengan tegas.


" Benar sekali Leon, bahkan aku meminta polisi untuk mengusir para gangster yang mengancam para karyawan ku. Tapi sekarang.... " Jonathan mengangkat kedua pundaknya. " Tak ada satupun yang datang, itulah mengapa aku lebih memilih berteman dengan kalian. "


" Sebentar Jonathan, kalau mereka menginginkan uang. Bukankah dirimu bisa membayar mereka. " kata Leon yang mengetahui suatu hal.


" Iya, aku sudah memberikan uang tip kepada mereka. Hah! Jangan-jangan.... "


" Sesuai tebakan ku, mereka adalah tangan suruh dari mereka. " lanjut Leon.


" Baiklah, kalian menyetujuinya? " Tanya Handika sambil tersenyum.


" Baiklah, mohon bantuannya. "


Jonathan dan Handika bersalaman yang berarti mereka menyetujui kerja sama itu.


Alasan Handika bekerja sama dengan Yoga karena Handika tak bisa memercayai anggota polisi lainnya kecuali Joseph. Tapi karena Joseph pergi ke luar kota, Joseph menyuruh Handika untuk berbicara dengan Yoga.


Mulai sekarang Gangster Slayer bekerjasama dengan seorang Kapolri untuk melabrak organisasi Angry Bull Group.


...----------------...


" Begitu, ya. Kalian menyetujuinya? Hmm... yaudah, kalian istirahat sana. " ucap Yoga dan pergi keluar dan menuju ke atap apartemen.


Di atap apartemen, Yoga mengingat masa lalunya dan tertawa kecil. Sebenarnya ia sudah tahu dengan isi didalam perusahaan Angry Bull Group. Tapi Yoga hanya tutup mulut, agar Handika tak mencurigai Yoga.


Sedang asyiknya mengingat masa lalu, Luna tiba-tiba duduk disamping Yoga sambil membawa roti bakar.


" Kak Yoga, nih roti bakar. " ucap Luna yang memberikan roti bakar rasa coklat keju.


" Tumben banget... makasih, ya. " kata Yoga dan mengambil roti bakar itu.


" Kak, kenapa kamu mengizinkan mereka buat pergi ke tempat berbahaya sana? " Tanya Luna dengan raut wajah yang kalem.


" Hmm... aku tak mengizinkan mereka. Mereka sendiri kok yang mau. Tapi kalau mereka kenapa-kenapa, aku bakal datang kayak pahlawan. Kan pahlawan datang di akhir. " Jawab Yoga dan mengelus rambut Luna.


" Eh... kak, tanganmu berminyak. "


" Eh... maaf. "


Yoga dan Luna tertawa bersama dan melihat bintang jatuh dilangit.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2