System Sang Psikopat

System Sang Psikopat
EPISODE 36 - Jalan-jalan bersama Luna


__ADS_3

Peringatan!!! Episode ini terdapat banyak adegan romantis. Diharapkan bagi yang jomblo untuk tidak baperan.


Selamat membaca.


Episode 36 - Jalan-jalan bersama Luna


Seperti biasanya, Yoga berangkat ke kampus sendirian dan bertemu lagi dengan pria yang diludahi nya. Kali ini Yoga berhenti karena melihat logo Angry Bull Group di dada sebelah kanannya.


Yoga turun dari motor vespa nya dan menstandar motor di tepi jalan. Yoga kemudian memotret pria itu menggunakan ponsel dan mengirim foto ke Kapolri yaitu Handika.


Setelah mengirim beberapa foto, ia segera ia pergi dari sana untuk bergegas berangkat ke kampus karena jam pelajaran sudah dimulai.


Sesampainya di kampus, Yoga lalu memarkirkan motor di tempat parkir dan segera masuk ke kelas. Langkahnya berhenti ketika melihat Angelita dan beberapa perempuan lainnya menghalangi jalan Yoga.


" Maaf, bisa minggir nggak. Kelasku udah dimulai. "


Yoga lalu melanjutkan jalannya dan menerobos mereka, namun Angelita menarik lengan Yoga dan mereka berdua langsung bertatapan.


Yoga memalingkan pandangannya ke arah lorong yang menuju kelasnya dan melihat Luna sedang berdiri melihat mereka berdua.


Yoga mendorong Angelita dan melepaskan tangannya, kemudian ia berjalan menghampiri Luna. Luna yang membawa buku pelajaran milik Yoga langsung memberikannya kepada Yoga tanpa basa basi.


Dilihat dari raut wajah Luna, ia nampak cemburu. Yoga memanggilnya berkali-kali namun ia nampaknya cuek. Yoga lalu mengikuti Luna dan memegang tangannya.


" Luna cemburu, ya? "


Luna lalu menghentikan langkahnya dan menatap Yoga.


" Nggak kok, kak. Luna masih bisa senyum. nih. " Sambil memaksa untuk tersenyum.


Yoga kemudian tertawa kecil dan menarik tangan Luna untuk segera masuk ke kelas.


Kling!!!


[Anda mendapatkan kharisma], [Skill pasif : Rayuan] dan [Skill pasif : Gombal]


" Heh... ada skill gituan? "


Sambil berjalan, Yoga mencoba menyalakan kedua skill itu. Dan ia langsung menarik dan menggendong Luna layaknya seorang putri.


" Kak Yoga ngapain? " tanya Luna yang kaget saat Yoga menggendong dirinya.


" Jika kau seorang putri, maka aku adalah pangerannya. Itulah mengapa sang putri harus dimanja dengan seorang pangeran. " jawab Yoga yang ngelantur.


" Heh... turunin. Buru, nanti dilihat banyak orang. " ucap Luna dan memukul pundak Yoga berkali-kali.


Yoga lalu tersadar dan segera mematikan skillnya lalu menurunkan Luna.


" Kak Yoga ngapain, sih. " kata Luna dengan wajah yang memerah karena malu.


" Nggak tau, pokoknya gitu deh. " ucap Yoga yang juga malu.


Karena keduanya malu, mereka saling menghindari tatapan mata dan masuk ke dalam kelas bersama.


...----------------...


Sepulang dari kampus, Yoga pulang ditemani dengan Luna. Angelita yang melihat Yoga membonceng Luna merasa cemburu. Ia juga berkali-kali menghentakkan kaki di lantai karena kesal.


Yoga yang melihat dari kaca spion hanya tertawa kecil dan melanjutkan perjalannya ke supermarket.


Supermarket di dekat apartemen mereka sedang ada diskon akhir bulan, maka dari itu Luna mengajak Yoga untuk menemaninya ke supermarket untuk membeli beberapa barang.


Sesampainya disana, Yoga memarkirkan motor antik nya di parkiran lalu mengambil kartu parkir di penjaga parkir.


Kemudian mereka menuju pintu utama lalu masuk ke dalam supermarket. Ramai sekali orang yang sedang berbelanja disana. Luna lalu menarik tangan Yoga ke tempat penjualan kosmetik, Yoga mengikutinya sambil melihat barang-barang diskon disana.


Disana Luna membeli berbagai macam kosmetik seperti krim tidur, masker, sabun wajah, lotion, parfum dan lain sebagainya.


Luna yang mengambil parfum lalu menyemprotkan ke baju Yoga.


" Wangi nggak, kak? "


Yoga mencium bajunya dan tiba-tiba ia tak bisa melepaskan hidungnya dari baju.


" Kak? Kenapa kak? " Luna yang khawatir.


" Ahaha... wangi, kok. " jawab Yoga yang merapikan bajunya.


Luna tersenyum dan memasukkan parfum itu ke keranjang.

__ADS_1


Karena penasaran Yoga mengambil satu botol parfum yang bertulisan 'Christian Dior Eau Sauvage' kemudian mendatangi Luna.


" Mmm... Luna. Aku mau beli ini, sekalian ya. " ucap Yoga yang menunjukkan parfum tadi lalu memasukkan parfum itu ke keranjang yang dibawa Luna.


Setelah itu Luna mengajak Yoga untuk ke tempat penjualan busana.


Sesampainya disana, ada seorang karyawan perempuan yang mendatangi mereka berdua.


" Mas sama mbaknya mau beli apa? "


Luna lalu melihat-lihat baju pria yang berukuran dewasa.


" Mau buat pacarnya, ya? " ucap karyawan tersebut.


Luna lalu salah tingkah dan melepaskan baju yang dipegangnya itu.


" Eh... eng-enggak kok. Buat abang saya. " jawab Luna sambil menatap Yoga.


Yoga lalu mendekati Luna dan mengambil sehelai baju yang pas untuk dirinya. Lalu Yoga memberikannya kepada Luna.


" Nih, ukuran Leon sama aku sama aja. " kata Yoga dan mencari baju untuk dirinya sendiri.


Setelah membeli beberapa pakaian, sekarang Yoga yang mengajak Luna ke tempat penjualan alas kaki. Yoga ingin membeli sepatu, karena sepatu yang dikenakan sekarang sudah robek akibat sering dipakai untuk berkelahi.


Luna mengambil sepasang sepatu yang bermerek dan tentu itu sangat mahal.


" Nih kak, cobain " Luna meletakkan sepasang sepatu di dekat kaki Yoga.


Yoga melihat sepatu itu terdapat logo garis tiga, sepatu itu sudah terkenal dan harganya cukup mahal. Lalu Yoga memakai nya dan pas untuk ukuran kakinya.


" Luna kok tau ukuran kakiku? " ucap Yoga yang senang.


" Kan sama kayak Bang Leon. " jawab Luna dengan senyum.


Yoga membeli sepatu itu yang berwarna abu-abu dan juga membeli kaos kaki.


" Kak, ke cafe yuk. Di lantai atas. " ajak Luna yang memeluk tangan Yoga.


" Berdua aja nih? " ucap Yoga yang malu.


" Sama siapa lagi dong? Kan cuma berdua doang. " jawab Luna dan menarik tangan Yoga untuk pergi ke lantai atas.


" Luna.... " Panggil Yoga.


" Hmm.... " Gumam Luna.


" Luna dapat uang dari mana? " Tanya Yoga sambil memalingkan pandangan karena malu.


" Ihh... masa kakak nggak tau. Aku kan selebgram. " Jawab Luna lalu menggembungkan pipi.


Yoga yang melihatnya malah tertawa dengan wajah lucu Luna.


Mereka lalu duduk di meja untuk dua orang dan memesan minuman.


" Kak Yoga mau pesan apa? " Tanya Luna yang melihat menu cafe.


" Terserah deh, yang penting ada sodanya." Jawab Yoga yang memainkan jarinya diatas meja.


" Ihh... kak Yoga gak boleh minum soda terus. Nanti sakit lho, kopi mau? " Tawar Luna.


" Aku nggak suka kopi, anggur merah aja deh. " ucap Yoga yang menggoda.


" Ish... marah nih. " kata Luna kemudian memalingkan pandangan dari Yoga.


Yoga lalu mengambil menu cafe dari tangan Luna dan melihat beberapa menu kopi yang ada disana.


" Aku mau Arabica Coffe aja. " Ucap Yoga dan meletakkan menu di meja.


Luna lalu pergi ke barista dan memesan minuman mereka. Tak lama kemudian, Luna membawa dua cangkir kopi dan dua donat. Lalu Luna meletakkan di meja dan segera duduk di bangkunya.


Yoga lalu mengambil sendok dan mengaduk kopinya.


" Ihhh kok diaduk sih.... " Geram Luna yang melihat Yoga mengaduk kopinya.


" Lah, kan mau diminum. " Ucap Yoga yang polos.


" Seharusnya difoto dulu buat pamer, baru diminum. " kata Luna yang menasihati Yoga.


" Ooo... gitu, ya. "

__ADS_1


Yoga lalu menyeruput kopinya dan memakan donat yang dibawa Luna tadi.


" Kak, si Angelita tadi pagi ngapain meluk kakak? " Tanya Luna yang membuka pembicaraan.


Karena kaget dengan ucapan Luna, Yoga tersedak dan batuk berkali-kali. Luna mengambil botol air minumnya dan memberikannya ke Yoga.


" Kak Yoga kenapa sih? Gitu aja sampai batuk. "


Yoga yang masih menenangkan diri menggunakan skill [Refresh] mencoba untuk tidak berbicara sebentar.


Setelah beberapa menit, ia lalu kembali ke posisi semula dan menyuruh Luna untuk mengulangi pertanyaannya.


" Apa tadi? Ulangi coba. "


" Tadi pagi, kak Yoga kenapa bisa berpelukan sama si Angelita itu. Kan tau sendiri dia itu kayak gimana. " Luna lalu mengambil tisu dan mengelap wajah Yoga.


Yoga memegang tangan Luna untuk mengambil tisunya dan mengelap nya sendiri.


" Aku gak sengaja, dia tiba-tiba narik. Ya pokoknya begitu. " Jawab Yoga dan mengambil ponselnya karena berdering.


Yoga mengangkat telpon dari Leon dan menanyakan adiknya. Karena tahu adiknya bersama Yoga, Leon mendapatkan informasi dari Handika bahwa beberapa orang yang dicurigai sebagai terorls sedang ada di supermarket.


Terorls itu berpakaian serba hitam dan sedang berada di lantai tiga tepatnya di cafe.


Yoga melihat sekelilingnya dan mencari keberadaan terorls tersebut. Tanpa ia sadari, ternyata terorls tersebut berada tepat bersebelahan dengan meja mereka. Yoga menutup telpon dari Leon dan mengajak Luna untuk keluar.


Karena gerak gerik Yoga yang mencurigakan, para terorls yang berjumlah delapan orang langsung mengangkat senjata mereka ke arah Yoga.


Seluruh orang yang berada di cafe itu langsung berteriak ketakutan.


Seorang terorls memperingati mereka untuk tidak bergerak atau menelpon polisi. Namun masih ada yang membantah peringatan dari mereka. Lalu ia ditembaki dengan dua orang terorls hingga tewas.


Yoga melihat Luna yang ketakutan kemudian memeluk Yoga sambil memejamkan mata.


Yoga yang tadinya berdiri langsung duduk karena merasakan tubuh Luna yang gemetaran.


" Pejam matamu sampai aku kembali lagi. " Bisik Yoga dan melepaskan pelukan Luna.


Luna masih saja memeluk dan menarik Yoga. " Jangan pergi, aku takut. "


Yoga mengelus kepala Luna dan melepaskan pelukan seraya berkata. " Tidak lama, kok. "


Luna melepaskan pelukannya dan bersandar di dinding cafe.


" Baiklah, delapan orang selesai dalam dua menit. "


Yoga lalu berdiri dan langsung berlari ke arah mereka. Seorang terorls yang melihatnya langsung menembaki Yoga dan pelurunya meleset ke arah Luna.


" Luna.... "


Lalu keluar dinding penghalang dan melindungi Luna dari peluru yang meleset. Yoga langsung menyadari bahwa kalung yang diberikannya kemarin bukanlah sembarang kalung.


Dengan cepat Yoga membuat kobaran api dan keluar menggunakan jas hitam panjang dan topeng smile putih.


Mereka menembaki Yoga berkali-kali namun peluru itu tak dapat menembus tubuh Yoga. Yoga mengambil pistol revolver dari penyimpanan dan menembaki dua orang terorls yang berada di hadapannya.


Dor!!! Dor!!!


Dua terorls itu tewas seketika, tersisa enam orang dan berlari meninggalkan Yoga.


Kling!!!


[Anda ingin mengaktifkan mode Assassin?]


Yoga menghiraukan nya lalu mengejar mereka semua.


" Dua menit apanya, ini udah tiga menit. " Gumam Yoga sambil mengejar mereka berenam.


Karena tak punya banyak waktu dan mungkin mereka akan berpencar. Yoga menggunakan skill [Illusioner] dan membuat ombak besar menuju ke arahnya.


Dengan mudah, Yoga menangkap mereka berenam dan menembaki mereka hingga tewas.


Semua orang yang melihat Yoga memberikan tepuk tangan dan sorakan terima kasih.


Yoga membuat sebuah asap menggunakan ilusi nya dan mengganti pakaiannya seperti semula.


Yoga lalu menghampiri Luna dan mengajaknya untuk segera pulang. Luna memeluk Yoga kemudian melepaskannya.


Karena banyaknya barang yang mereka beli, Yoga tak sanggup membawanya. Ia lalu menyimpan semua barang di penyimpan sistem dan membonceng Luna untuk pulang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2