
Cinta pada pandangan pertama membuat Lenka begitu mencintai Zeehan, hingga dia dengan rela menyerahkan diri seutuhnya pada Zeehan. Tanpa mereka sadari, benih-benih cinta itu telah tumbuh bersemayam didalam rahim Lenka, namun ia menyembunyikannya dari Zeehan.
Di penghujung akhir sekolah, Lenka masih menyempatkan diri untuk bertemu Zeehan, untuk terakhir kalinya, sebelum dia pergi ke Australia untuk melahirkan bayinya dan melanjutkan studi disana.
Pagi itu, sebelum acara Prom night, Lenka masih menyempatkan diri untuk pergi bersama Zeehan ke pulau kecil yang diklaim sebagai miliknya, yang mereka beri nama pulau cinta.
Dengan menggunakan speedboat mereka sampai di pulau kecil yang tidak jauh dari dermaga.
"Hoek...Hoek,"
Lenka memuntahkan seluruh isi perutnya, karena tidak tahan lagi menahan mual, begitu menginjakkan kakinya di Pulau cinta.
"Lenka, kamu sakit sayang!" Zeehan merasa khawatir, dengan pelan dia mengusap punggung Lenka agar kekasihnya tenang.
"Cuma masuk angin, Han," Lenka menjatuhkan tubuhnya di atas pasir putih yang indah.
Angin laut berhembus dengan kencang, Lenka merasa tubuhnya semakin meriang.
"Sebaiknya kamu istirahat di atas rumah pohon saja," kata Zeehan. Lenka menurut, perlahan dia naik keatas rumah pohon, di ikuti Zeehan. Zeehan duduk bersandar dan meminta Lenka berbaring di pangkuannya.
Kepalanya yang tadinya berat, mulai merasa nyaman, menikmati belaian lembut tangan Zeehan di kepalanya. Mata itu mulai terpejam, Lenka tertidur dengan nyenyak.
Zeehan ikut berbaring dan memeluk Lenka erat. Lenka merasa nyaman saat menghirup aroma tubuh sang kekasih.
Entah sudah berapa lama, Lenka tertidur dalam pelukan Zeehan, yang pasti tubuhnya sekarang terasa lebih ringan dan nyaman. Zeehan masih memejamkan mata disampingnya. Lenka mengusap lembut wajah tampan itu.
"Maafkan aku Zeehan, aku harus pergi dari hidupmu," batin Lenka. Zeehan menggenggam tangan itu dan mengecupnya dengan mesra.
"Kamu sudah bangun?" Lenka menatap bola mata Zeehan dalam.
"Mm, sudah merasa lebih baik?" tanya Zeehan.
"Lumayan, Zeehan…!" panggil Lenka lirih.
"Mm," jawab Zeehan singkat.
"Kamu jadi kan, kuliah di Jakarta ?" tanya Lenka.
"Iya, ini kesempatan bagiku untuk merubah nasib, Lenka. Kamu juga mau kuliah di Jakarta, kan? Kita masih bisa sama-sama," kata Zeehan.
"Aku belum tahu Zeehan, " Lenka bangkit dari tidurnya.
"Kenapa?"
"Papa akan mengirim ku untuk kuliah di luar negeri," Lenka memandang Zeehan sendu.
"Kita bisa berkomunikasi lewat Video Call, Lenka,"
Lenka hanya mengangguk mengiyakan.
Zeehan mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas milik Lenka.
"Sayang, tuliskan sesuatu yang ingin kamu tulis untuk hubungan kita ke depan," kata Zeehan.
"Untuk apa?" Lenka tampak bingung.
"Untuk menjadi kenangan kita nanti, aku akan menguburnya di dalam kotak besi, di bawah pohon ini dan kita akan membukanya lima tahun dari sekarang," Zeehan mengambil sehelai kertas dan menuliskan tentang keinginannya.
__ADS_1
"Kamu nulis apa?" tanya Lenka.
"Rahasia dong, kita akan membukanya nanti, lima tahun lagi," Zeehan melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam sebuah botol kecil yang sudah dia siapkan dari rumah.
"Mm, baiklah!" Lenka pun menuliskan sesuatu di sobekan kertas buku, dan melipatnya.
"Udah," Lenka memberikan kertas itu pada Zeehan pun memasukkan kertas itu ke dalam botol yang sudah berisi kertas miliknya.
"Nanti malam, malam perpisahan sekolah kita, aku sedih Zeehan," Lenka memeluk cowok itu erat. Air mata mengalir di sudut matanya yang bening.
"Kita bisa komunikasi lewat Ponsel, Sayang,"
Lenka hanya diam, Dia ingin mengatakan tentang kehamilannya, tapi mulutnya terkunci rapat. "Kita pulang Zeehan, sudah keburu siang, kita juga harus bersiap-siap untuk Prom Night nanti," kata Lenka.
"Baiklah, turunlah! Hati-hati," Zeehan membantu Lenka untuk turun ke bawah rumah pohon.
Setelah berada di bawah. Zeehan mengubur kotak yang terbuat dari besi ke dalam tanah di bawah pohon.
Lenka menarik nafas panjang, " Biarlah dia akan menjadi rahasia di bawah pasir putih ini," batin Lenka.
"Ayo kita pergi!" ajak Zeehan. Cowok itu membantu Lenka untuk naik ke atas boat. Dan kembali ke rumah.
Sherly, tetangga depan rumah Zeehan, masih berada di rumah bersama Ibunya.
"Makasih ya kak, udah menemani ibu," ucap Zeehan tulus.
"Nggak apa-apa, Han...kebetulan Kakak lagi nggak ada kerjaan,"
"Ya udah, aku akan mengantar Lenka pulang dulu ya kak!"
"Ibu, Kak..saya permisi dulu!" ucap Lenka memandang ke arah Sherly dan ibu Ratna. Keduanya hanya diam tak menjawab. Lenka mendengus kesal. Kemudian berbalik mengikuti Zeehan yang sudah menunggu di atas motornya.
******
Acara Prom night malam itu berlangsung meriah sekaligus kan mengharukan. Lenka memeluk Anita dan Davina bergantian, serta teman-teman sekelasnya yang lain.
"Kamu akan kuliah di Jakarta, Lenka?" tanya Anita.
"Tidak, An, papa menyuruhku kuliah di Australia, tapi aku belum nyari tempatnya," kata Lenka.
"Nanti kalau udah di Australia, kasih kabar ya?" kata Davina.
"Tentu," jawab Lenka tersenyum samar.
"Tuh, cowok lu nyariin," Anita menunjuk Zeehan yang berjalan ke arah mereka
"Sayang, kamu pulang sekarang, aku antar ya!" kata Zeehan meraih jemari Lenka dan menggenggamnya.
"Aku pulang sama Papa dan Mama, Zeehan. Terimakasih untuk semuanya," kata Lenka berusaha untuk tidak menangis.
"Hei, kenapa denganmu?" Zeehan mengusap wajah cantik itu.
"Aku hanya terbawa suasana, perpisahan ini, sangat mengharukan," Lenka menyeka air matanya dengan tisu, kemudian memaksakan diri untuk tersenyum.
"Boleh aku memelukmu?" Zeehan merentangkan kedua tangannya, Lenka menabrakkan dirinya dalam pelukan Zeehan.
"Jangan nangis dong, besok ku tunggu di pelabuhan, kita akan menghabiskan waktu seharian di rumah pohon," bisik Zeehan.
__ADS_1
"Lenka, ayo kita pulang nak!" ajak Mama Rekha. Yang sudah keluar dari gedung tempat acara perpisahan dilaksanakan.
"Ya ma," sahut Lenka. "Zeehan, aku pergi dulu, bye!" Lenka melambaikan tangannya. Zeehan menatap Lenka dengan bingung, tingkah Lenka sangat aneh malam itu.
Setelah acara perpisahan sekolah mereka malam itu. Lenka langsung berangkat ke Bandara Internasional Lombok, di antar oleh kedua orang tuanya.
Mama Rekha memeluknya erat.
"Hati-hati di sana ya, nak! Jika kamu sudah lahiran jangan lupa kabari mama!" pesan Mama Rekha.
"Ya Ma, Pa, Lenka pamit ya, jika Zeehan nyariin, jangan katakan apapun tentang kehamilan Lenka," kata Lenka sedih.
Papanya Lenka hanya mengangguk, tanpa banyak bicara.
Lenka masuk ke dalam gerbang keberangkatan dan duduk di ruang tunggu, sambil memainkan ponselnya. Pukul 06.00 pagi, Pesawat Komersial yang akan membawanya ke Australia sudah bersiap untuk lepas landas.
Lenka duduk di dekat jendela kaca, hatinya merasa kacau dan sedih.
"Selamat tinggal Zeehan, kamu akan selalu ada dalam hatiku, I LOVE YOU!" Bisik Lenka dengan berurai air mata.
"Butuh tisu nona?" tanya Seseorang menawarkan kotak tisu kecil miliknya.
"Terimakasih," Lenka mengambil tisu itu dan menyeka air matanya.
"Sepertinya ada yang lagi patah hati!" kata orang itu lagi. Lenka menoleh, seorang cowok bertubuh tegap duduk di sampingnya, dengan sebuah Headset di telinganya.
"Nggak usah sok tahu!" kata Lenka memalingkan wajahnya kesal.
"Maaf, kalau aku salah, kenalkan namaku David," pria berparas tampan itu mengulurkan tangannya.
"Lenka," balas Lenka mencoba untuk tersenyum.
"Tujuannya ke mana kalau boleh tahu?"
"Melbourne," jawab Lenka singkat.
"Melbourne ya, tujuan kita sama, kuliah atau liburan?" tanyanya sedikit kepo.
"liburan?" jawab Lenka singkat. Lenka menyalakan musik di ponselnya, dan menutup telinganya dengan Headset. Pria itu kemudian diam, sambil terus memperhatikan wanita yang telah mencuri perhatiannya.
Sesampainya di Melbourne, Lenka langsung ke Apartemen Bibinya Julia. Kebetulan Lenka sudah pernah datang ke unit Apartemen Bibi Julia setahun yang lalu.
"Halo Bibi!" Lenka memberi kejutan untuk bibinya.
"Lenka, hai sayang, apa kabarmu? Kenapa nggak bilang mau datang sekarang, kan Jovan bisa jemput ke Bandara,"
"Nggak apa-apa, Bi! Lenka masih ingat kok, tempat tinggal Bibi, cuma sekali naik bus. Oh ya, Jovan mana Bi?" tanya Lenka.
"Jovan lagi membantu Daddy-nya di Restoran, kebetulan restoran sedang ramai, sebentar lagi, bibi juga mau kesana, kalau kamu capek, istirahat saja dulu, atau kalau mau ikut ke Restoran, ayok!" Ujar Bibi Julia.
"Aku mau istirahat saja dulu ya Bi, capek soalnya," kata Lenka, masuk ke kamar yang sudah disediakan bibinya.
"Ya udah, bibi tinggal ya, jangan lupa kunci pintunya,"
"Baik Bi," Lenka menjatuhkan dirinya diatas kasur medium di kamar ukuran 4x4 Apartemen milik bibi Julia. Pikirannya tertuju pada Zeehan, ada rasa bersalah bergelayut di hatinya. "Maafkan aku, Zeehan, semoga suatu hari nanti, kamu mau memaafkan ku."
Bersambung
__ADS_1