
"Kita mau kemana, Mama?" tanya Kenzio saat, semua orang sudah bersiap untuk pergi.
"Kita akan kembali ke rumah Grandma, sayang," jawab Lenka.
"Tidak sekarang, Mama," tolak Zio.
"Kenapa sayang?" Lenka mengusap wajah putranya itu lembut.
"Aku sudah berjanji sama Uncle Han, untuk bermain bersama," katanya dengan raut wajah cemberut.
"Sayang, uncle Han itu Dokter, dia pasti sibuk sekarang, kita bisa kembali lagi nanti,"
"Aku tidak mau, bukankah kata mama, kita tidak boleh melupakan janji kita," protes Zio.
Lenka menghela nafas berat, Kenzio sekarang tumbuh menjadi anak yang kritis dan lebih pintar dari yang Lenka bayangkan.
"Sayang, Grandpa dan Daddy harus bekerja, mereka tidak bisa libur terlalu lama sayang," bujuk Lenka.
"Kalau begitu, biar grandpa dan Daddy saja yang berangkat duluan," Lenka tidak bisa berkata-kata lagi, jalan satu-satunya hanya memaksa Zio untuk naik ke mobil.
"Baiklah, sekarang Zio masuk ke mobil, kita mampir di rumah sakit sebentar, Zio boleh pamit sama Uncle Zeehan, " kata Lenka kesal.
Akhirnya Kenzio menurut, sesampai di rumah sakit, Jovan mengantar Kenzio ke ruangan Zeehan, namun pria itu tidak ada disana.
"Maaf, nona apa Dokter Zeehan belum datang," tanya Jovan.
"Dokter Zeehan, mendadak pulang ke kampungnya semalam, Tuan, Ibunya sakit," kata seorang perawat yang berada di luar ruang kerja Zeehan.
"Oh ya, terimakasih kalau begitu, permisi, ayo Zio, Uncle Zeehan tidak ada," Zio mengikuti Jovan dengan wajah kecewa.
"Kenapa Van," tanya Lenka, melihat Jovan kembali ke mobil yang membawa Zio dengan wajah cemberutnya.
"Zeehan, tidak ada, kata Perawat, dia mendadak pulang ke kampungnya, ibunya sakit," jawab Jovan.
"Zio nggak mau ke rumah Grandma," kata Kenzio kembali merajuk.
"Sayang, jangan begitu!" Lenka berusaha membujuk. Anak itu diam di tempatnya.
"Aku mau bertemu dengan uncle, mama!" Kenzio menangis sedih.
"Baiklah, kita tidak jadi ke Australia, nanti kita kembali ke Melbourne, jika uncle sudah pulang," kata Lenka akhirnya mengalah.
Akhirnya Jovan dan keluarganya kembali ke Australia tanpa Lenka dan Kenzio. Sedang Lenka berusaha mencari cara agar bisa menghindari Zeehan.
Lenka kembali ke rumah orangtuanya, Iseng-iseng Lenka mencari lowongan kerja secara online, dia menemukan sebuah lowongan kerja di kota Surabaya, sebagai dokter anak di Rumah sakit ternama di kota itu. Dengan gaji yang lumayan menggiurkan.
Lenka segera menghubungi bagian personalia rumah sakit itu.
"Selamat siang, apakah masih ada lowongan untuk dokter anak di rumah sakit ini," tanya Lenka.
"Pendaftaran masih dibuka hingga pukul 00.00, silahkan masukkan data dan semua berkas yang di minta, kami akan menyeleksinya besok, mudah-mudahan anda diterima," kata bagian personalia Rumah sakit itu.
"Baiklah, saya akan mencobanya," kata Lenka.
Lenka memasukkan semua persyaratan yang diminta pihak rumah sakit, saat itu juga.
Keesokan harinya, Lenka mengajak Kenzio ke Surabaya. Untuk mencari tempat tinggal dan berjaga-jaga seandainya lamaran kerjanya diterima. Tujuan utama Lenka hanya satu, untuk menghindari bertemu dengan Zeehan.
Lenka mendatangi rumah sakit Ibu dan Anak, tempat dia memasukkan lamaran kerja. Hanya sekedar untuk melihat-lihat rumah sakit megah itu. Seandainya dia diterima.
Lenka juga mencari sekolah yang bagus untuk Kenzio. Sekolah bertaraf internasional.
"Mama, apa aku akan sekolah ditempat itu?" tanya Kenzio, saat Lenka membawanya ke sebuah Sekolah Dasar.
"Iya, Zio mau sekolah kan, lihat sekolahnya bagus,"
"Iya Mama, Zio suka!"
__ADS_1
Lenka memasuki ruang Tata Usaha sekolah itu, "Permisi, apakah disini masih menerima siswa baru?" tanya Lenka saat menemui seorang pegawai TU di sana.
"Oh anak ibu pindahan?"
"Tidak, dia baru masuk Sekolah Dasar, sebelumnya kamu tinggal di Australia, dia TK di sana, beberapa waktu yang lalu orang tua saya meninggal, saya belum sempat mendaftarkan anak saya ke sekolah yang baru," jelas Lenka.
"Baiklah, biar saya lihat dulu ya Bu," Wanita pegawai sekolah bernama Suci itu mencari sesuatu di layar komputernya.
"Masih ada Bu, kelas 1 A, masih ada satu kursi kosong, Boleh saya minta surat identitas anak ibu?" pinta Bu suci ramah.
"Ya, ini!" Lenka menyerahkan selembar Kartu Keluarganya.
"Baiklah Bu, anak ibu sudah terdaftar, untuk biayanya, ibu bisa baca rinciannya di sini," wanita itu menyerahkan selembar kertas berisi rincian biaya sekolah di SD Internasional itu.
"Saya akan melunasinya sekarang, saya kirim lewat mobile banking saja ya Bu," kata Lenka mengirimkan sejumlah uang ke rekening sekolah.
"Terimakasih ibu Valencia, ayo ikut saya, untuk mengambil pakaian seragam sekolah,"
"Ibu, apa aku bisa sekolah sekarang?" tanya Zio tampak bersemangat.
"Tentu saja Zio, sekarang Zio pakai seragamnya, ini tas dan buku, semua sudah kami sediakan, termasuk makan siang dan antar jemput anak ke sekolah." terang Bu Suci lagi.
"Hore, Zio sekolah..." anak itu tampak gembira memakai pakaian seragam merah putih dan tas di pundaknya.
"Nah, sekarang ayo ibu antar Zio ke kelas," kata Bu suci.
Lenka tersenyum melihat Kenzio bersemangat memasuki kelas. Dia duduk di luar untuk menunggu Zio hingga jam istirahat.
Anak itu tampak senang bermain dengan teman-teman sebayanya di sekolah.
"Mama, mama boleh pulang," kata Kenzio setelah mendapat teman baru di sekolah.
"Baiklah, nanti mama jemput, jangan nakal ya nak," kata Lenka mengecup kening putra kecilnya itu lembut.
"Zio nggak akan nakal, mama!" jawabnya pasti. Lenka tersenyum, " Bu guru, saya titip Zio ya!" kata Lenka pada guru kelasnya bernama Bu Marisa.
"Terimakasih," Lenka segera meninggalkan sekolah itu dan kembali ke apartemen yang baru saja di sewanya.
BIMA, 07.00 Am.
Zeehan baru saja sampai di rumah ibunya. Bang Heri dan Mamat tetangganya, menelpon Zeehan kemaren, Karena ibu Ratna sedang sekarat.
"Ibu, maafkan aku, baru saja menengok ibu sekarang," Zeehan menggenggam tangan kurus ibunya dengan erat.
"Ibu juga meminta maaf, Zeehan," katanya lirih.
"Ibu tidak salah, aku yang salah, aku hampir tidak punya waktu untuk mengunjungi ibu,"
"Sampaikan maaf ibu untuk Kekasihmu Lenka," kata wanita itu setengah berbisik.
"Kenapa? Aku sudah tidak bersamanya ibu,"
"Ibu telah mengusirnya saat dia datang mencari mu," Zeehan mengangguk. Wanita itu tersenyum dan diam tak bergerak.
"Ibu, ibu ,..." Zeehan merasakan denyut nadi ibunya sudah melemah, wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Zeehan mencoba untuk mengikhlaskan, walau hatinya merasa berat dan menyesal, karena tidak membawa ibunya tinggal bersama di Jakarta.
"Ibu sudah meninggal bang, " kata Zeehan saat Heri dan istrinya masuk ke rumah Zeehan.
"Sabar ya Han, ...sebaiknya segera kita urus jenazahnya, agar dapat segera di kebumikan,." kata Bang Heri.
Setelah selesai penyelenggaraan jenazah, Zeehan menyerahkan rumah ibunya pada Bang Heri untuk di tempati.
"Bang, dari pada Abang tinggal rame-rame di rumah ibunya Abang, Abang tinggal saja di rumah ibu, aku akan memperbaiki bagian-bagian yang rusak," ujar 1Zeehan.
"Terima kasih, Zeehan! kamu sebenarnya juga mau cari rumah, soalnya anak kami sudah bertiga, rumah sudah sempit," Ungkap Bang Heri.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Bang, aku hanya 3 hari disini, aku akan meninggalkan uang untuk Bang Heri, agar rumah ini bisa di renovasi,"
"Syukurlah, kamu sekarang sudah sukses Zeehan, Abang bangga padamu,"
"Bang, apakah orang tua kak Sherly sudah tidak tinggal disini?" tanya Zeehan.
"Tidak, Orang tua Sherly sudah meninggal, sementara Sherly ikut sepupunya ke Jakarta, namanya Clarisa, kalau tidak salah,"
"Oh, begitu ya Bang," Zeehan ingat, saat Sherly datang ke pesta pernikahan Lenka dan Denis, Clarisa datang dan mengaku anak yang di kandung Clarissa adalah anaknya Denis.
Zeehan berkeliling kampung kecilnya untuk bertemu teman-teman lamanya di sana. Setelah puas berkeliling, Zeehan menyempatkan diri mengunjungi rumah pohon di pulau kecilnya. Tapi sayang rumah pohon itu telah hancur tanpa bentuk. Mungkin hancur karena badai, pikir Zeehan.
Zeehan menggali tempat dimana dia mengubur kotak rahasianya bersama Lenka.
"Maaf Lenka, aku membuka kotak ini sendiri," gumam Zeehan. Kertas itu masih terlipat dengan utuh.
Zeehan menarik nafas panjang, Perlahan dia membuka tulisan tangan Lenka di kertas itu.
"Lenka, aku sudah menduganya," Zeehan melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam kantongnya. Buru-buru Zeehan meninggalkan tempat itu.
Zeehan kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan urusannya di Kota Bima.
Dia tidak sabar untuk mencari Lenka di rumahnya. Rumah orang tua Lenka tampak sepi.
"Pak, anda mencari siapa?" tanya tetangga sebelah rumah Lenka.
"Keluarga Lenka kemana ya Bu,"
"Oh, mereka sudah berangkat ke Australia, dua hari yang lalu," kata wanita itu.
"Terimakasih Bu, kalau begitu saya permisi," Zeehan menghembuskan nafas kasar.
"Lenka, kau kenapa kau lakukan ini padaku," geram Zeehan.
Zeehan memutar mobil yang di kendarainya kembali ke rumah sakit.
"Dari mana kamu, Zeehan?" tanya Pak Daniel Aryadinata.
"Papa ada disini? Maaf Pa, aku tidak sempat memberitahu Papa, ibu meninggal tiga hari yang lalu, aku pergi mendadak," jelas Zeehan.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Papa?"
"Maaf Pa, aku panik waktu menerima telepon dari kampung, aku langsung berangkat,"
"Ya sudah! Papa disini, karena Hendra bilang kamu menghilang sudah tiga hari, Papa pikir kamu kabur,"
Zeehan hanya tersenyum samar. "Pa, apa papa kenal saudaranya Pak Budi, ayahnya Lenka yang di Australia?" tanya Zeehan.
"Julia? Kenapa memangnya?" Pak Daniel mengerutkan dahinya.
"Aku mencari Lenka,. Pa,"
"Apa hubunganmu dengan Lenka?" tanya Pak Daniel bingung.
"Lenka adalah kekasihku, saat kami sama-sama duduk di bangku SMA," jawab Zeehan gusar.
"Lalu!" Pak Daniel memandang putranya yang tampak gugup, Zeehan duduk sambil menundukkan kepalanya kebawah dan *******-***** jemarinya.
"Aku bersalah, karena memecatnya dari rumah sakit, sementara dia membesarkan anak kami sendirian,"
"Zeehan, Papa tidak suka kalau kamu menyingkirkan Valen hanya karena masa lalu, kamu harus profesional dong," kata Daniel marah.
"Ya saya mengaku salah Pa, saya akan mencari Lenka dan meminta maaf padanya."
Apa Yang ditulis Lenka dalam tulisan singkatnya??
Bersambung.
__ADS_1