
Sebelum Lenka dan keluarganya pindah ke pulau Sumbawa. Mereka sempat datang ke kediaman Daniel Aryadinata. Pak Daniel mengadakan acara pesta perpisahan dengan sahabatnya itu di sebuah hotel dan restoran, yang dihadiri keluarga teman-teman terdekat mereka. Rekan sesama dokter dan juga pengusaha lainnya.
Lenka hadir di pesta itu, dengan hanya memakai gaun sederhana, karena dia merasa malas untuk bergabung dengan yang lainnya. Lenka duduk menyendiri di sudut ruangan pesta sambil bermain ponsel.
Denis menghampiri Lenka dan duduk disampingnya. Lenka hanya menoleh sesaat, kemudian kembali memainkan ponselnya, tanpa bicara.
"Jadi, kamu akan pindah lusa?" Denis membuka pembicaraan mereka.
"Ya, kenapa? Kamu senang kan sekarang, nggak ada gue!" kata Lenka ketus.
"Bukannya Lo yang senang, bisa jauh dari gue?" sahut Denis tersenyum tipis.
"Benar juga Lo, gue jadi merdeka sekarang, Lo juga bebas mau cari cewek lain," kata Lenka.
"Sorry Val, gue rasa Lo nggak bakalan bisa jauh dari gue, sekarang atau nanti, Lo akan tetap jadi milik gue, karena kita udah dijodohkan dari kecil," Denis tertawa samar.
"Kita lihat saja nanti, Denis! Sebaiknya lu mencoba berkenalan dengan cewek lain, selain gue, biar Lo tahu, perempuan seperti apa yang Lo inginkan."
"Sayang sekali, gue hanya menginginkan Lo, Val, karena cuma Lo cewek yang mengerti diri gue. Gue nggak percaya yang namanya cinta sejati, semua itu omong kosong. Cewek hanya mendekat jika kita punya uang, tapi jika kita tidak punya uang, mereka tidak akan bertahan."
Lenka hanya tersenyum samar. "Tapi, gue percaya cinta sejati itu ada, dan gue akan menemukannya," kata Lenka optimis.
"Hah, ya sudahlah, terserah Lo, nanti juga lo nggak bakalan bertahan, jika cinta sejati lo itu nggak punya uang. Hidup harus realistis, Val. Seberapa besar pun cinta Lo, jika nggak ada uang, apa Lo bisa bahagia? Apa Lo kenyang hanya makan cinta, bullshit!" Denis tertawa lepas.
"Yah, kita lihat saja nanti Denis, jika gue harus berakhir dengan Lo, gue harus mempersiapkan mental gue, biar kuat menghadapi sikap sombong Lo itu,"
"Ha..ha..Val...Val, oke, kita taruhan, jika Lo benar-benar menemukan cinta sejati lo, gue bakal mundur, tapi jika tidak, mau nggak mau, Lo harus jadi milik gue."
"Sorry Denis, gue nggak janji, kita ini cocoknya menjadi teman, bukan pasangan, gue ngertiin Lo juga karena terpaksa, karena bokap Lo yang meminta."
Denis menatap Lenka lekat, mereka memang sering bersama. Denis terbiasa hidup mewah dan dimanjakan orang tuanya. Hingga setiap keinginan Denis selalu dipenuhi, anak itu tidak menerima penolakan. Sering berbuat sesuka hati, tak peduli jika ada yang tersakiti.
Namun, dengan Lenka, Denis sedikit berbeda, dia tidak akan berani marah pada gadis itu, jika keinginannya di tolak Lenka, karena hanya Lenka satu-satunya teman Denis, baik di rumah maupun di sekolah. Denis menyukai Lenka, karena gadis itu cantik, pintar dan humble. Namun, Denis gengsi jika harus menyatakan perasaannya duluan. Dia ingin Lenka yang terlebih dahulu menyatakan cinta, namun Lenka tidak pernah melakukannya. Karena memang, Lenka tidak pernah mencintai Denis.
__ADS_1
Pesta perpisahan itu berlangsung hingga larut malam, membuat Lenka bosan. Walau Mamanya Denis, Maria menyuruhnya beristirahat di salah satu kamar hotel. Lenka menolaknya.
Pembicaraan yang tidak begitu penting dengan Denis, membuat Lenka jengah dan ingin segera pergi dari tempat itu.
Tepat pukul 12.00 malam, pesta berakhir dan Lenka bisa bernafas lega. Karena terbebas dari Denis, yang tidak mau jauh darinya.
"Val, nanti kalau Lo udah nyampe di tempat yang baru, jangan lupa Video Call ya!" kata Denis berharap.
"Ya!" jawab Lenka singkat, Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Denis, Lenka segera naik ke mobil mendahului papa dan mamanya.
*******
Hari terakhir Lenka berada di SMA di Jakarta, sahabatnya Stella dan Della serta Maya, mengadakan perpisahan kecil-kecilan dengan hangout seharian di pusat perbelanjaan.
Saat ini mereka duduk bersama disebuah cafe kekinian yang menyajikan makanan Nusantara.
Lenka dan Della memesan bakso dan es teh, sementara Stella dan Maya memesan Nasi soto dan jus jeruk.
"Lo sama Denis, udah pamitan Val?" tanya Della, sambil menyesap es teh didepannya.
"Trus, dia ngomong apa?" tanya Stella, penasaran.
"Nggak ngomong apa-apa," Lenka menyantap bakso kesukaannya.
"Jika nggak ada Lo, dia nggak punya teman dong!" kata Maya.
"Biarin aja, nanti kalau dia butuh teman, dia pasti bakal usaha sendiri," kata Lenka.
"Nanti Lo deketin dia Del, siapa tahu dia suka sama Lo," kata Maya.
"Malas gue, yang ada gue bakal sakit hati, Lo ingat nggak, waktu gue minjam catatan fisika sama dia,....!" Della menjeda ucapannya.
"Emangnya kenapa Del?" tanya Lenka.
__ADS_1
"Dia buang bukunya itu, dan dia ulang bikin catatan dibuku baru, anjir! Sejak saat itu gue bersumpah nggak bakalan berurusan sama dia," Stella tertawa ngakak.
"Masa sih segitunya!" ujar Maya
"Iya, rusuh memang tuh anak!" kata Stella.
Lenka hanya tersenyum tipis, sambil menyesap minumannya sampai tandas.
Bicara tentang Denis, memang tidak akan ada habisnya. Seisi sekolah tahu siapa Denis.
Tanpa mereka sadari, orang yang mereka bicarakan berada tak jauh dari mereka. Denis berada di cafe yang sama dengan memakai topi dan masker hitam, biar Lenka tidak melihatnya.
"Kita lihat saja nanti, Val! Lo pasti akan menjadi milik gue, gue akan meminta Papa untuk tidak mengizinkan Pak Budi merestui Lo dekat dengan cowok lain," gumam Denis.
"Besok Lo berangkat ke kota Bima pukul berapa, Val?' tanya Stella.
"Pagi-pagi sekali, gue pake mobil Papa, karena banyak barang yang di bawa," jawab Lenka.
"Nggak capek apa, Val, kalau nggak salah, Lo udah sering pindah-pindah sekolah kan, karena ngikutin bokap Lo?"
"Iya, capek banget malah, Del, menyesuaikan diri dengan tempat baru itu tidak mudah, apalagi kalau di sekolah itu orangnya pada cuek, makan hati." keluh Lenka.
"Kita doain semoga, di tempat yang baru Lo bertemu dengan teman-teman yang baik kayak kita, ya nggak!" kata Maya melirik teman-temannya.
"Iya Val, semoga juga Lo bertemu cowok yang keren abis dan juga baik, setidaknya tidak membuat Lo makan hati," doa Della.
"Aamiin!" Lenka mengusap wajah dengan kedua tangannya, sambil tertawa.
"Ntar jika Lo ketemu cowok yang bikin Lo klepek-klepek, kabarin kita ya!" ujar Stella.
"Sip!" Lenka mengangkat Ibu jarinya.
"Kita foto yuk! buat kenang-kenangan." Della mengambil ponselnya dan berselfie ria bersama teman-temannya.
__ADS_1
"Gue bakal kehilangan teman terbaik gue!" Stella memeluk Lenka sebelum mereka pulang kerumah masing-masing. Begitu juga dengan Maya dan Della.
"Jangan gitu dong, kalian semua adalah teman terbaik, begitu gue sampai, gue akan mengabari kalian di grup chat kita." janji Lenka.