TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
Kekesalan Sherly


__ADS_3

Sementara Sherly berada di rumah Daniel Aryadinata, Zeehan dan keluarganya pergi berlibur ke kampung halaman Zeehan di pesisir pantai Wane, Bima.


Wanita itu kesal bukan main, karena Zeehan tidak datang menemuinya. Zeehan hanya mengirim pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Sherly yang ternyata tidak sampai di pengadilan, karena Sherly tidak mau menandatangi surat perceraian itu.


"Aku mau Zeehan berada disini, baru aku akan tanda tangan," kata Sherly egois.


"Maaf, Bu Sherly_ Pak Zeehan sudah menunjuk saya sebagai pengacara, dan saya punya wewenang untuk melanjutkan gugatan cerai terhadap anda," kata Johanes pengacara keluarga Aryadinata.


Sherly menarik nafas kesal. "Dasar tidak tahu diri," umpatnya. "Kalian semua tahu, kalau bukan karena uang dari keluargaku, Zeehan itu bukan siapa-siapa sekarang."


"Bu Sherly, kami punya bukti surat perjanjian kontrak pernikahan anda dengan Pak Zeehan. Dan kedua orang tua anda sepakat, jika anak anda lahir, Zeehan terbebas dari tanggung jawabnya menikahi anda, lalu apa lagi yang anda inginkan?" kata Pengacara.


Sherly hanya diam, "Pak Zeehan pun sudah membayar semua uang yang telah orang tua anda keluarkan selama dia kuliah, jadi klien saya sudah tidak terikat lagi dengan kontrak yang anda tawarkan, berapa uang yang anda inginkan, agar anda menandatangani surat perceraian ini."


"Saya tidak meminta uang Pak, saya hanya ingin pengakuan kalau saya adalah istri Zeehan dan putri saya adalah anaknya, itu saja," kata Sherly tanpa rasa sungkan.


"Maaf, kalau begitu kami tidak bisa mengabulkan permintaan anda," kata pengacara Johanes, sambil memangku kedua tangannya di dada.


"Maaf, nak Sherly, kalau menurut saya, kamu sudah tidak punya hak lagi untuk menuntut Zeehan, karena sudah ada perjanjian kontrak pernikahan, yang ditanda tangani oleh orang tua anda dan anda sendiri, lain halnya jika Zeehan yang ingin meneruskan pernikahan itu." Papa Zeehan, Daniel Aryadinata menambahkan.


"Saya akan menuntut Zeehan ke pengadilan," kata Sherly marah.


"Silahkan, kami akan menunggu anda di pengadilan," kata Pak Johanes tenang, membuat Sherly gentar.


"Nak Sherly, dari pada kamu capek-capek menuntut Zeehan, lebih baik kamu mencari ayah kandung anakmu, Kezhia_siapa tahu di mau bertanggungjawab setelah melihat putrinya yang cantik ini." Maria memberi nasehat pada Sherly, sambil melirik putri Sherly yang sedari tadi diam memandangi orang-orang yang berdebat dengan ibunya.


"Begini saja Sherly, kami akan menawarkan kamu uang, berapa uang kamu inginkan, setelah itu menjauh lah dari keluarga Zeehan, karena Zeehan sangat mencintai istri dan anaknya," kata Daniel.


"Aku akan menunggu Zeehan," kata wanita itu keras kepala.


"Sebentar, saya akan menelpon beliau," kata pengacara Johanes. Pria bertubuh tambun itu menghubungi Zeehan lewat ponselnya, namun ponsel Zeehan tidak aktif.


"Maaf Bu Sherly, ponsel Zeehan tidak aktif, mungkin mereka sudah berada di luar negeri, Karena kemaren Pak Zeehan bilang, mereka akan pergi berbulan madu," kata Johanes.


Sherly mendengus kesal, dia merasa di tipu oleh Zeehan. Tujuan utama Sherly sebenarnya hanyalah untuk memisahkan Zeehan dan Lenka, seperti keinginan Denis. Tapi ternyata Lenka tidak terpengaruh dengan kehadiran Sherly, Karena Zeehan sudah menceritakan hubungan mereka sebelumnya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan menandatangi surat cerai itu, tapi imbalannya, beri saya uang 1 M." Sherly tampak tersenyum samar.


"Anda ingin memeras klien saya, Bu Sherly? Anda bisa saja saya pidanakan!" kata Johanes geram. Sherly pun menjadi ciut, jika pengacara itu menuntut balik dirinya, dia akan kehilangan segalanya. Termasuk putrinya.


Dengan berat hati Sherly akhirnya menandatangani surat cerai itu. Pak Daniel berjanji akan menjamin pendidikan putrinya Kezhia, hingga anak itu selesai kuliah.


Sehari sebelum hari pernikahan Zeehan dan Lenka, Sherly bertemu dengan Denis secara tidak sengaja di rumah Clarissa. Mereka sama-sama mencari Clarissa yang tiba-tiba menghilang dari rumahnya.


"Kak Sherly, kebetulan sekali aku bertemu dengan kak Sherly ini, aku mau minta bantuan kak Sherly," kata Denis menarik nafas lega, setelah bertemu dengan wanita itu.


"Ada apa, Denis, kamu mencari Clarissa juga,"


"Tidak juga Kak, aku mencari kak Sherly kemaren, aku hanya minta Kakak bersedia menghancurkan hubungan Zeehan dan Valen, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan besok,"


"Zeehan dan Lenka sudah menikah, kapan?' tanya Sherly penasaran.


"Aku tidak tahu kak, tolong kak Sherly datang ke pestanya mereka, dan bilang kalau kak Sherly masih istrinya Zeehan. Buat Lenka marah dan kecewa pada Zeehan, aku ingin memiliki Valen, dan kak Sherly bisa mendapatkan Zeehan kembali," kata Denis meyakinkan.


"Maaf Denis, aku tidak bisa.membantumu, aku sibuk," kata Sherly, mencoba menghindari Zeehan.


"Aku akan memberimu uang jika berhasil membuat mereka berpisah,"


"Kalau tidak berhasil bagaimana?" tanya Sherly ragu.

__ADS_1


"Ya, harus bisa, kalau tidak ada hasil, uang juga tidak ada, setidaknya Zeehan mengakui putrimu," tukasenka.


"Baiklah (⁷


******


Sementara itu, Zeehan dan Lenka beserta Kenzio, baru saja sampai di desa Tolotangga, kampung halaman Zeehan. Tempat pertama yang dituju adalah rumah Zeehan, yang sudah di renovasi dan di tempati bang Hery dan keluarganya.


"Zeehan, ...Lenka! Wah, tidak kusangka kalian akan datang kemari secepat ini, aku belum mempersiapkan apa-apa menyambut kedatangan kalian," ujar Bang Hery, merasa segan.


"Tidak perlu repot-repot, Bang! kami hanya beberapa hari di sini," kata Zeehan.


"Nggak enak aku, Han! Sekarang istirahatlah dulu, aku akan menyuruh istriku untuk memasak makanan untuk kalian," Bang Hery memanggil istrinya, meminta wanita itu untuk berbelanja.


"Nggak usah Bang, Kak Reva, kami bisa makan di warung," kata Zeehan. Dia tidak ingin merepotkan bang Hery dan keluarganya.


"Nggak repot kok Han, kalian tunggu saja, Kak Reva akan masak buat kalian," kata Hery lagi.


"Ya udah, kami keliling-keliling dulu ya bang, anakku ingin bermain di pantai," kata Zeehan.


"Baiklah, nanti makan malam di rumah ya!" kata Hery.


"Oke Bang, aku mau ikan Bakar buatan kak Reva," ujar Zeehan.


"Oke, sip," Bang Hery mengacungkan jempolnya.


Setelah menyimpan tas bawaan mereka, Zeehan mengajak Lenka dan Kenzio ke dermaga.


Beberapa orang pemuda menyambutnya dengan ramah, "Hai, Zeehan...!" panggil seseorang dari pos dermaga. Zeehan menoleh kearah sumber suara.


"Hei, Dayat...kamu bekerja di sini sekarang?"


"Iya Han, Wah! Kamu udah sukses ya sekarang, hebat," puji Dayat.


"Berkat doa kalian semua, o ya, kenalkan ini istriku Lenka, dan anakku Kenzio," Zeehan memperkenalkan Lenka dan anaknya pada orang-orang di sana.


"Aku tahu, tidak kusangka kalian berjodoh juga," Dayat menyalami Lenka dan Kenzio bergantian. "Kalian mau ke pulau?"


"Ya, anakku ingin naik kapal, dan kami akan bermain di pulau sampai sore," kata Zeehan.


"Kalau begitu, aku akan menyiapkan Speedboat buat kalian," kata Dayat. Pria bertubuh kurus itu memerintahkan anak buahnya menyiapkan Speedboat untuk Zeehan dan Lenka, "Kalian mau di antar?" tanya Dayat lagi.


"Nggak usah, aku akan membawanya sendiri, makasih ya Yat." Zeehan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan Dayat.


"Nggak usah, Han! Nggak enak aku menerima uangmu, kamu sudah banyak membantu membangun dermaga ini," kata Dayat, menolak pemberian Zeehan.


"Nggak papa, buat kalian semua, buat beli rokok atau apa," Zeehan tersenyum lebar. Beberapa anak muda itu menerimanya dengan senang. "Ayo Zio." Zeehan menarik tangan putranya ke arah speedboat yang tertambat di dermaga.


"Kita mau kemana Pa?" tanya Zio antusias melihat laut di hadapannya.


"Zio mau naik kapal kan?" Zeehan membantu Kenzio dan Lenka naik ke atas speedboat.


"Iya, Zio mau." Anak itu tampak senang. Kenzio bersorak saat Zeehan mulai menjalankan kapal cepat itu. "Pa, ini menyenangkan," teriak Zio merasakan hembusan angin laut yang menerpa wajahnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Zeehan mengkhawatirkan keadaan Lenka, yang sedang hamil besar.


"Ya, aku baik-baik saja, aku ingin melihat, seperti apa tempat itu sekarang," Lenka tersenyum penuh arti.


"Ya, kamu akan kaget melihatnya!" kata Zeehan sumringah.

__ADS_1


Kenzio bersorak kegirangan begitu menginjakkan kakinya di pasir putih pulau kecil itu. Dia berlarian kesana kemari dan kadang bergulingan di atas pasir putih. Lenka tersenyum melihatnya.


"Mama, ayo kita bermain pasir!" ajak Kenzio.


"Ayo," Lenka dan Zeehan ikut duduk di atas pasir. Tempat itu banyak berubah, sebuah gerbang kecil bertuliskan pulau cinta menyambut kedatangan mereka. Lenka mendongak ke atas pohon. Rumah pohon itu tampak lebih besar dari sebelumnya.


"Tidak ingin naik ke atas?" tanya Zeehan menunjuk rumah pohon diatas mereka. Kenzio mengikuti arah pandangan Papanya.


"Asyik, ada rumah pohon! Pa, boleh naik ke atas nggak?" tanya Zio.


"Boleh, ayo, Zio bisa sendiri nggak?" Zeehan membantu Zio untuk menaiki tangga ke atas rumah pohon.


"Bisa dong, Pa, mama tu pegangin, nanti jatuh, kasian adik bayinya," celetuk Kenzio.


"Iya, ini Papa pegangin," jawab Zeehan tersenyum sendiri melihat putra kecilnya itu, bersemangat menaiki rumah pohon. Zeehan membantu Lenka untuk naik.


"Wah, Papa...indah sekali, Zio bisa melihat lautan luas, semuanya biru," seru Kenzio senang.


"Zio suka tempat ini?"


"Suka sekali Pa! Tempatnya indah. Kok Papa bisa tahu ada tempat seindah ini," tanya Kenzio.


"Ya taulah, papa kan lahir disini, besar disini," kata Zeehan duduk di lantai rumah pohon. Yang kokoh.


"Sayang, kapan kamu merenovasi tempat ini?" tanya Lenka menyadari, ruangan itu telah diperbaiki dan di beri tikar dari permadani yang lembut.


"Saat pulang beberapa waktu yang lalu, kamu suka?" Zeehan merangkul Lenka dalam pelukannya.


"Aku suka kenangannya," Lenka menatap Zeehan mesra. Zeehan tersenyum, mengenang tempat itu, dimana pertama kali mereka bercinta, hingga membuahkan Kenzio, di usia Lenka yang masih 18 tahun.


"Pa, aku naik kapal nelayan itu boleh nggak?" pinta Zio, yang sedang memandang jauh kelaut lepas.


"Kalau nanti malam tidak ada badai boleh saja, Papa akan mengajak Zio melihat nelayan mencari ikan di laut," sahut Zeehan.


"Nggak...nggak, nggak boleh! Jangan ajak Zio dong Sayang, aku nggak mau kalian kenapa-kenapa," larang Lenka, khawatir.


"Nggak apa-apa, Sayang, biar Zio tahu, hidup nelayan itu seperti apa!"


"Iya Ma, ...Boleh ya, sekali ini saja please," Zio menatap mata Lenka dengan mata puppiesnya.


"Papamu ini, kok malah ngajakin ke tempat yang bahaya sih, mama nggak setuju," Lenka merajuk.


Zeehan tertawa melihat ekspresi muka Lenka yang cemberut. Zeehan mencium bibir Lenka yang sedikit manyun.


"Papa, Zio turun ya, enakan main pasir, Zio mau bikin istana pasir." Zio turun lagi dari rumah pohon tanpa menunggu persetujuan orang tuanya.


"Hati-hati ya!" Zeehan menatap mata Lenka dalam, keduanya saling beradu pandang dalam waktu beberapa detik. Hingga wajah keduanya begitu dekat, dan kemudian bibir mereka bertaut mesra. Keduanya saling tersenyum satu sama lain, jika saja tidak ada Kenzio, keduanya sudah mengulang masa lalu yang indah itu. Mengenang percintaan di rumah pohon, dimana Lenka harus menerima kenyataan kalau dia hamil.


"Sayang, dimana kamu.menyimpan surat rahasiaku," tanya Lenka saat membaringkan kepalanya di pangkuan Zeehan.


"Ada di dompetku,.aku sudah membacanya,"


"Curang, aku belum membaca tulisanmu," rengek Lenka manja. Zeehan mengeluarkan selembar kertas dari kantong celananya.


"Nih, bacalah!" Zeehan menyerahkan kertas itu ke tangan Lenka. Lenka membacanya dengan perlahan.


Aku mencintaimu selamanya, hingga nanti kita menua bersama.


*** Zeehan Aryadinata. ***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2