TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
PERNIKAHAN YANG GAGAL


__ADS_3

SEMINGGU SEBELUM PERTEMUAN


Setelah menyelesaikan kuliahnya di Australia, Lenka kembali ke Jakarta seorang diri. Putranya Kenzio tidak mau ikut dengannya ke Jakarta. Karena dia lebih senang tinggal bersama Jovan yang sudah dia anggap Daddy-nya.


"Zio, Mama harus ke Jakarta sayang, Zio ikut ya!" bujuk Lenka.


"No, Mama! Zio ingin tinggal disini bersama Daddy, dan grandma, grandpa juga," kata bocah itu mendekap kedua tangannya di dada sambil cemberut.


"Biar saja, Val, aku akan mengawasinya, jangan khawatir," kata Jovan.


"Baiklah, kalau Zio berubah pikiran, kamu antar Zio ke Jakarta ya, Van!" pinta Lenka.


"Sip," Jovan mengacungkan jempolnya.


"Zio, mama sedih nih, harus pisah sama putra tampan Mama," Lenka pura-pura menangis.


"Don't cry, mama! I love you!" katanya memeluk Lenka erat.


"Oke, tapi jangan nakal ya, jangan bikin Grandma dan Grandpa susah," kata Lenka.


"Of course not, Mama. Zio hanya akan merepotkan Daddy saja," katanya tertawa.


"Mm, baiklah, Mama pergi ya, nanti kalau Mama kangen angkat telpon Mama!" kata Lenka.


Ditempat inilah, Lenka sekarang. Begitu sampai di Jakarta, dia langsung diterima bekerja di Rumah Sakit Darya Medika, yang notabene milik calon mertuanya.


Bertemu kembali dengan Lenka, membuat Denis ingin kembali mengulang kisah lama mereka. Dia meminta ayahnya untuk melamar Lenka menjadi istrinya. Kedua orang tua mereka setuju, dan Lenka hanya mengikuti kemauan ayahnya. Karena tidak ingin di cap anak durhaka.


Denis sendiri, bekerja di Rumah sakit itu, di Bagian Manajemen Rumah sakit. Karena dia hanya tamatan SMA, dan tidak berniat meneruskan kuliahnya. Dia mau bekerja di Rumah sakit itu, hanya karena Lenka bekerja di sana sebagai dokter anak.


Malam ini adalah malam pertemuan keluarga antara keluarga Valen dan keluarga Denis. Mereka akan membicarakan persiapan pernikahan keduanya yang tinggal menghitung hari.


Ayah Lenka, Budi Santoso sejak lama menjodohkan Lenka dengan Denis, putra Daniel dari istrinya Maria. Karena mereka sudah berteman sejak di bangku kuliah.


Daniel Aryadinata telah menyiapkan pernikahan mewah untuk putranya dan Valen. Pernikahan itu di adakan di sebuah hotel berbintang di ibu kota.


Hari yang di nantikan pun tiba, Valen sudah tampil anggun dengan gaun pengantin berwarna putih, yang bertaburkan permata berkilauan. Kedua orang tua mereka, sudah duduk di tempat yang telah disediakan. Denis tampak gagah dengan balutan tuxedo yang berwarna senada dengan pengantin wanitanya.


Zeehan duduk di bangku paling belakang, dengan wajah yang masih di balut masker. Ingin rasanya dia meneriakkan pada dunia bahwa pengantin perempuan di depan itu adalah miliknya. Namun, Zeehan tidak ingin mengacaukan suasana, yang tampak begitu hening.

__ADS_1


Valen dan Denis, sudah berdiri di depan seorang pendeta yang akan membimbing mereka mengucapkan janji suci pernikahan.


"Hentikan!" Suara seorang perempuan memecah keheningan di dalam ruangan itu. Semua mata tertuju pada seorang wanita yang sedang hamil, berdiri sambil memegang perutnya yang membesar.


"Clarissa!" Teriak Denis marah. Valen menatap Denis dengan penuh tanda tanya.


"Dengar kalian semua, Denis adalah suamiku, kami telah menikah 6 bulan yang lalu, dan aku sedang mengandung anaknya Denis," teriak wanita itu sambil menangis.


"Omong kosong apa yang kau katakan, Clarissa," Bentak Denis.


"Kau pikir aku berbohong, Denis, kau yang berbohong, kau pikir perempuan itu lebih baik dariku," Wanita bernama Clarissa menunjuk Valen dengan tatapan tajam.


"Ya, dia lebih baik darimu, Clarisa, setidaknya dia bukan pembohong sepertimu," bela Denis, menggenggam tangan Valen erat.


Zeehan berdiri dari tempatnya hendak meninggalkan drama yang sedang di pertontonkan Denis di depan semua tamu.


"Hah, kau bodoh Denis, kau mau saja di bohongi perempuan itu, asal kau tahu wanita itu telah mempunyai seorang anak yang sekarang tinggal di Australia.


Langkah Zeehan terhenti, saat mendengar ucapan perempuan yang bernama Clarisa, Zeehan berbalik, seseorang menghampiri Clarissa dan membenarkan ucapannya.


"Ya, Clarisa benar, perempuan ini memiliki seorang anak yang tidak jelas siapa ayahnya," kata wanita itu kasar.


"Sherly, kenapa wanita itu ada di tempat ini," tanya Zeehan dalam hati.


"Aku, aku istri dari mantan kekasih wanita ini, yang dia tinggalkan begitu saja di kampung, karena pria itu hanya seorang nelayan yang miskin, dan kami sudah memiliki seorang anak perempuan," kata Sherly tersenyum samar.


Valen menatap Sherly dengan tajam. Dia menggeleng, air mata mengalir deras dari sudut matanya yang indah, Valen berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan pesta pernikahannya dengan membawa luka yang sangat pedih.


Luka bukan karena gagal menikah dengan Denis, tapi luka karena mendengar kalau Zeehan memiliki seorang anak dari wanita yang bernama Sherly.


Valen terus berlari keluar dari hotel tempat pesta pernikahannya akan berlangsung. Tak peduli Denis dan orang tuanya yang memanggil namanya.


Valen masuk ke dalam sebuah mobil yang dia sangka taksi.


"Cepat jalan Pak!" Perintahnya pada sang pengemudi mobil.


"Mau kemana, Nona" tanya pengemudi itu tanpa menoleh ke belakang.


"Ke klub,"

__ADS_1


"Apa tidak terlalu bahaya, anda pergi ke club' sendirian nyonya, "


"Siapa kau yang mau mengaturku, terserah aku mau kemana, cepatlah, nanti ku bayar ongkosmu, dua kali lipat," ketus Valen marah.


Mobil itu berhenti di sebuah club malam, Valen segera masuk, dan memesan minuman beralkohol. Dengan sekali teguk, Valen menelan minumannya hingga mabuk.


"Cukup Lenka, kau sudah terlalu banyak minum, " seseorang menjauhkan botol minuman wanita itu.


"Siapa kau? Kau mengenalku," Lenka menatap samar wajah pria di depannya. Kepalanya terasa berat.


"Ayo pulang!" Pria itu mengangkat tubuh Lenka seperti karung beras dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Aku tidak mau pulang, bawa aku ke Apartemenku," Lenka memejamkan matanya dan tengkurap didalam mobil.


Pria itu adalah Zeehan, dia mengikuti Lenka saat keluar dari gedung hotel. Dan menunggunya di depan hotel.


Zeehan membawa Lenka masuk ke apartemennya. Dan menjatuhkan tubuh ramping itu di atas ranjang.


Lenka menggeliat, "Terimakasih sudah mengantarku, ini bayaranmu," Lenka mengeluarkan dua helai uang kertas ratusan ribu ke tangan Zeehan.


Zeehan tidak bergeming.


"Kenapa kurang?" Lenka mengeluarkan uang miliknya 300 ribu lagi.


"Istirahatlah, Lenka, kau mabuk!" Zeehan menaruh kembali uang itu di atas nakas.


"Kau, kenapa suaramu seperti suara Zeehan, wajahmu juga, tapi…tidak, kau bukan Zeehan. laki-laki itu sama saja, pengkhianat, kau mengkhianati aku Zeehan," Lenka menangis dan bergelung di balik selimutnya.


Zeehan menatap wajah Lenka dengan sedih, "Aku tidak pernah mengkhianatimu, Lenka,"


"Kau menjawab ku, ayolah kau bukan Zeehan, laki-laki itu pecundang,...ya…Zeehan pecundang…Zeehan pecundang," Lenka terus meracau tidak jelas. Tiba-tiba, wanita itu berbalik dan mencium Zeehan dengan kasar, Zeehan kaget, tapi dia tidak menolak perlakuan Lenka.


"Aku juga ingin mengkhianatinya! Maukah kau bercinta denganku, aku akan membayar mu, berapa pun yang kau minta," Lenka menarik kasar kemeja yang dipakai Zeehan, hingga kancing-kancing bajunya terlepas berserakan.


Lenka menciumi dada Zeehan dengan penuh gairah.


"Tubuhmu bagus, kau pasti rajin olah raga,"


"Lenka, …" Zeehan tidak dapat menguasai dirinya, saat wanita yang di cintainya itu telah melepaskan seluruh pakaiannya.

__ADS_1


Suasana di kamar apartemen Lenka menjadi hening seketika, yang terdengar hanya erangan dan ******* Lenka yang sudah terbakar api gairah. Kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakan. Keduanya berpacu dalam irama asmara yang menggetarkan jiwa. Sama-sama melepaskan hasrat yang telah lama terpendam.


(Skip).


__ADS_2