TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Lenka menghempaskan tubuhnya di ranjang kamar apartemennya dengan perasaan gelisah. Dia membiarkan air matanya jatuh berlinangan di ujung bantal. Dulu saat meninggalkan Zeehan di kampungnya, Lenka tidak gelisah seperti sekarang. Keegoan dan kebencian telah menguasai hatinya.


Lenka tetap tidak bisa menerima hinaan yang telah di ucapkan Zeehan beberapa waktu yang lalu. Hatinya sakit, dia masih ingat kata-kata Zeehan yang mengatakan bahwa dia adalah seorang j****g.


"Dan kau tidur dengan ****** ini berkali-kali, Zeehan, aku membencimu, aku benci," Lenka menangis terisak-isak, hatinya teriris. Sudah hampir larut malam, Lenka masih saja bergulingan di tempat tidur, hingga dia memutuskan untuk meminum obat tidur agar terbebas dari pikiran yang membuat kepalanya mau pecah. Setelah efek obat itu bekerja, akhirnya Lenka tertidur dengan nyenyak.


"Mama, bangun! Sudah siang, aku mau berangkat sekolah," suara imut Zio membuat Lenka terlonjak kaget. Dia melirik jam dinding yang ada di kamar, pukul 07.15. Kenzio sudah rapi dengan pakaian seragam dan tas sekolahnya.


"Ya ampun, nak, mama kesiangan, Zio jadi ketinggalan bis sekolah, Zio naik ojek online saja ya," Lenka tampak bingung. Tidak biasanya dia bangun kesiangan. Semua gara-gara kepalanya pusing memikirkan Zeehan, yang membuat hidupnya berantakan.


"Nggak usah Ma, papa ada di depan." kata Kenzio hendak mencium tangan Lenka untuk pamit. Lenka terperangah,"Ngapain dia datang kemari pagi-pagi atau jangan-jangan dia tidur disini," gumam Lenka pad dirinya sendiri.


"Oh, Zio belum sarapan ya, Zio...."


"Udah Ma, Papa bawain ayam goreng, buat Mama juga ada di meja, Zio pergi dulu ya ma," potong Kenzio, sembari berlari ke luar rumah.


"Ya udah, hati-hati ya!" teriak Lenka mengingatkan, walau anak itu tidak mendengar. Lenka mengusap wajahnya yang tampak kacau, dia bangun dari tempat tidurnya. Duduk di depan cermin, ada lingkaran hitam di sekitar matanya, pertanda dia sudah tidak tidur beberapa hari. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, Lenka kembali ke tempat tidur, membaringkan tubuhnya di sana. Lenka mengerang, tubuhnya terasa lunglai. Semuanya tampak gelap.


Lenka tidak ingat sudah berapa lama dia tertidur atau pingsan, yang jelas, saat membuka mata, dia sudah berada di ruangan serba putih. Samar-samar dia melihat sosok yang tidak ingin dia temui belakangan ini, Zeehan. Pria itu duduk di sofa, sambil menatap laptopnya dengan serius, sepertinya dia sedang bekerja, batin Lenka.


Lenka kembali memejamkan matanya, tidak ingin Zeehan melihatnya bangun. Tak lama, Lenka merasakan langkah kaki mendekat pelan ke arahnya. Duduk disisi ranjangnya sambil menggenggam jemari Lenka lembut. Detak jantungnya kembali berdebar kencang.


"Lenka, maafkan aku," bisiknya lembut di telinga Lenka. Lenka meremang. Aroma wangi parfum pria itu sangat mengganggu akal sehatnya. Ingin rasanya berada dalam pelukan Zeehan. Bersandar manja di dadanya yang bidang. Berkeluh kesah tentang masalah yang sekarang menderanya.


Lenka masih setia memejamkan mata. Lenka merasakan wajah Zeehan begitu dekat, hembusan nafasnya terasa begitu hangat. Hingga Lenka merasakan dinginnya bibir pria itu menyentuh bibirnya. Lenka menahan nafas agar tidak mendesah.


Untunglah seorang perawat masuk, untuk mengecek keadaan Lenka, Zeehan berdiri menghindar dan bersandar didinding, sambil memandang Lenka dengan sedih.


Pria itu melirik jam tangan mahalnya, sudah hampir pukul 02.00 siang.


"Suster, aku titip istriku sebentar ya, aku mau menjemput anakku ke sekolah!" kata Zeehan buru-buru keluar dari kamar. Tanpa menunggu jawaban perawat itu.


Lenka membuka matanya setelah Zeehan pergi. Hatinya terenyuh, Zeehan begitu peduli pada dirinya dan Zio. Tapi untuk menerima Zeehan kembali, itu tidak mudah.


Memang benar kata-kata bijak yang pernah dia dengar, bahwa memaafkan itu mudah, tapi untuk melupakan kata-kata yang menyakitkan itu sangatlah sulit.


Belinda datang ke kamar Lenka, setelah mengetahui temannya itu dirawat di rumah sakitnya.


"Kamu kenapa, Val?" tanya Belinda heran "Kelelahan."


"Sepertinya begitu, Bel,"


"Ada gosip yang mengatakan bahwa kamu lagi hamil," Ungkap Belinda.


"Iya, Bel, sudah hampir 5 bulan," jawab Lenka jujur.


"Suamimu tidak datang?"

__ADS_1


"Ada, dia lagi menjemput Zio ke sekolah," jawab Lenka.


"Oh," jawab Belinda singkat.


Tak lama Kenzio masuk ke dalam ruangan Lenka bersama Zeehan.


"Mama, kenapa mama bisa sakit?" tanya Zio cemas.


"Mama hanya lelah sayang, "


"Pak Zeehan, anda masih disini?" Belinda kaget dengan kehadiran Zeehan di ruangan Lenka.


"Iya Bu Belinda, aku tidak bisa meninggalkan istriku, jika dalam keadaan sakit seperti ini," Zeehan menghampiri Lenka dan duduk disisi ranjangnya.


"Oh, jadi kalian suami istri, tapi kenapa Lenka tidak pernah memberitahu saya," katanya penasaran.


"Ada kesalahpahaman di antara kami, Bu Belinda, hingga kami harus berpisah, dan kami bertemu lagi disini, dan aku tidak akan melepaskan Lenka lagi, Oh ya, aku juga akan mengajak Lenka ke Jakarta, aku akan membuat surat pengunduran diri Lenka dari rumah sakit ini,"


"Maaf, Pak Zeehan, Lenka baru bekerja di rumah sakit ini, dia tidak bisa seenaknya mengundurkan diri," kata Belinda marah.


"Saya mengerti, saya akan membayar biaya Pinalti jika itu yang anda inginkan."


Wajah Belinda tampak masam, dia keluar dari ruangan Lenka, tanpa bicara sepatah katapun.


"Kenapa kamu bicara seperti itu pada Belinda, Zeehan?" Lenka membesarkan bola matanya.


"Kalau aku tidak mau?"


"Aku tidak menerima penolakan, Lenka!"


"Aku tidak mau ikut denganmu ke Jakarta Zeehan, aku ingin di sini," kata Lenka kesal.


Kesal karena Zeehan mulai memaksakan kehendaknya.


"Kamu akan ikut, Lenka, karena Kenzio akan ke Jakarta 2 hari lagi,"


"Kenapa kamu yang mengatur hidupku Zeehan, ingat! kamu bukan siapa-siapa bagiku,"


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin kebahagian untuk Kenzio, keselamatan bagi bayi yang sekarang kamu kandung, dan kamu tidak boleh menolaknya,"


Lenka diam, kenapa Zeehan tiba-tiba begitu menyebalkan, dan pemaksa.


"Aku sudah membereskan semua barang-barang mu di apartemen, dan mengirimnya ke Jakarta,"


"Kamu!" Lenka hendak marah, namun kepalanya kembali merasa pusing. Untuk berdebat dengan Zeehan percuma. Pria itu tidak akan pernah mengalah.


Keesokan harinya, Lenka sudah merasa lebih baik, dia ingin secepatnya meninggalkan rumah sakit itu. Karena merasa tidak enak dengan Belinda.

__ADS_1


Apalagi setelah melihat reaksi Belinda yang


marah saat, Zeehan mengatakan Lenka akan mengundurkan diri.


Lenka masuk ke ruangan Belinda, untuk pamit. Namun, Belinda tampak tidak mengacuhkannya.


"Maaf Belinda, aku sebenarnya ingin tetap disini, tapi Zeehan memaksaku untuk pergi," kata Lenka merasa bersalah.


Belinda masih fokus dengan pekerjaannya, tak menjawab perkataan Lenka.


"Baiklah, terimakasih telah menerimaku bekerja di sini, Belinda, aku permisi," Lenka akhirnya berbalik, namun Belinda menahannya.


"Tunggu,...ini surat pemecatan mu," kata Belinda kesal. Lalu meninggalkan Lenka sendiri di ruangannya. Lenka menarik nafas panjang. Dia merobek surat pemecatan itu dan membuangnya.ke dalam tong sampah.


Lenka berjalan gontai ke arah Parkiran. Zeehan dan Zio sudah menunggunya di mobil.


"Mama duduk di depan," kata Zio beralih ke bangku belakang mobil.


"Mama sama Zio aja," Lenka duduk di bangku belakang, bersama Zio. Wajahnya masih saja kesal melihat Zeehan. Pria itu telah mengosongkan apartemennya, dan sekarang, mereka akan langsung berangkat ke Jakarta, menggunakan pesawat terbang. Sementara mobil Lenka akan di kirim melalui jasa pengiriman barang, yang sudah menunggu di Bandara.


"Ma, mama marah ya sama Papa?" ujar Zio, begitu mereka duduk di ruang tunggu Bandara. Anak itu memandang Lenka dengan lekat.


"Ya, mama kesal, kenapa kita harus pindah ke Jakarta, mama kan baru kerja di Surabaya," ketus Lenka.


"Ma, kalau ada Papa, mama tidak perlu lagi repot-repot kerja, tugas mama hanya menjaga Zio dan adik bayi," kata Kenzio sembari mencium perut Lenka yang mulai buncit.


Lenka memandang putra kecilnya yang tampak senang mengelus perutnya. "Zio nggak Pa-pa sekolah di Jakarta?" tanya Lenka.


"Nggak masalah Mam, aku akan ikut olimpiade sains di Jakarta, tapi masih membawa nama SD di Surabaya," kata Zio.


Lenka mengangguk, "Zio memangnya senang tinggal di Jakarta," tanya Lenka lagi.


"Zio senang sekolah di mana saja, Ma, asalkan tinggal bersama Papa dan Mama," kata Zio polos. "Zio ingin tinggal bersama Papa dan juga mama." pinta Zio.


Pesawat yang mereka tumpangi sampai di Jakarta dengan selamat. Lenka bersikeras untuk tinggal di rumah orang tuanya. Sementara Zeehan mengajak mereka tinggal di rumah yang baru di belinya.


"Aku akan tinggal di rumahku, Zeehan, kamu bukan suamiku, jadi kamu tidak berhak mengatur hidupku," kata Lenka ketus.


Zeehan akhirnya mengalah, dia mengantar Lenka ke rumahnya. Setidaknya saat ini, dia sudah membawa Lenka dan Zio kembali ke Jakarta. Sementara Kenzio mengikuti Zeehan ke rumahnya.


Lenka membaringkan tubuhnya di kamarnya saat masih tinggal bersama orang tuanya.


"Mama, Papa...aku merindukan kalian," batin Lenka menatap foto kedua orang tuanya di dinding kamar.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ma, Pa? Apakah aku harus menerima lamaran Zeehan demi Zio dan anak yang sedang aku kandung?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2