
Awal musim semi di Australia, Katrine mengajak Zeehan ke Melbourne untuk mengunjungi Kerabatnya. Saudara sepupu Katrine menikah di sana.
Pesta di adakan disebuah hotel berbintang di kota itu. Pesta itu berlangsung cukup lama dan membuat Zeehan merasa bosan. Dia duduk di sudut ruangan yang tidak terlalu ramai. Sementara Katrine berdansa bersama teman-temannya.
Kepalanya bertambah sakit, saat melihat anak-anak kecil berlarian di area pesta.
"Papa...!" Zeehan seolah mendengar suara anak laki-laki yang memanggilnya.
"Argh..!" Zeehan merasa frustasi. Dia lupa membawa obatnya. Tanpa sepengetahuan Katrine, Zeehan keluar hotel untuk menghirup udara segar. Dia berjalan menyusuri trotoar sambil memegang kepalanya yang seperti mau pecah.
Dia masuk kedalam sebuah restoran, dan memesan kopi di sana.
"Cappucino satu Tuan!" Katanya tanpa menoleh.
"Maaf Tuan, restoran saya mau tutup!" Kata Pria itu, mematikan sebagian lampu restoran.
"Maaf, kepalaku sakit, Tuan. Apakah anda punya obat penghilang rasa sakit?" Tanya Zeehan menatap pria pemilik restoran itu.
"Sebentar, saya ambilkan!" Namun belum sempat, pria itu pergi, Zeehan jatuh tak sadarkan diri.
"Ada apa Dad?"
"Ada orang yang tadi minta kopi, tapi Daddy bilang sudah tutup, dia meminta obat penghilang rasa sakit, belum sempat Daddy ke belakang, dia sudah jatuh pingsan."
Pria itu kembali menyalakan lampu.
"Oh My God, Daddy... Dia Zeehan!" Seru pria muda itu.
"Benarkah !?" Pria yang dipanggil Daddy itu mengamati wajah Zeehan.
"Ya, dia Zeehan Dad, suaminya Valencia, ayo kita bawa kita bawa dia ke rumah!" Kata Jovan. Pria itu ternyata Jonathan, suaminya Bibi Julia.
"Ayolah, Daddy akan menutup pintu dulu, tunggu Daddy di mobil,"
Jovan buru-buru membawa Zeehan ke rumahnya. Seisi rumah kaget, saat Jovan berteriak memanggil Lenka.
"Ada apa Jovan, kamu membangunkan seisi rumah?" Keluh Bibi Julia, keluar dari kamarnya.
"Lihat Mom, siapa yang aku bawa, mana Vallen?"
"Vallen sedang menidurkan Samudera, di lantai atas. Siapa dia?"
"Dia Zeehan Mom, Papanya anak-anak,"
"Apa??" bibi Julia menutup mulutnya tak percaya. "Sungguh sebuah keajaiban," erangnya.
"Ada apa Uncle, Jovan? Kenapa ribut-ribut?"
"Val, lihat! DIa suamimu kan?" Jovan menunjuk wajah Zeehan yang terbaring di sofa dengan mata terpejam.
"Zeehan," Lenka tak percaya dengan penglihatannya, wanita itu pingsan seketika.
"Val...!" Jovan menahan tubuh Lenka agar tidak jatuh. Kenzio keluar dari kamarnya saat mendengar gaduh di ruang tamu.
"Ada apa dengan Mama, Daddy?" Kenzio mendekati lenka. Nanum matanya tertuju pada sosok yang sudah lama dia rindukan.
"Papa!" Kenzio mendekati pria itu dan memeluknya erat.
Zeehan membuka matanya, semuanya kembali asing. "Papa, ini aku Kenzio anak papa!" Ujar Zio menggoyang tangan Zeehan. Pria itu bingung.
"Kalian mengenalku, maaf aku tidak bisa mengingat kalian!" Kata Zeehan lirih.
"Zeehan, kami adalah keluargamu, aku bibi Julia, bibinya Lenka, ini Kenzio putramu dan yang pingsan itu Lenka istrimu,"
Zeehan menoleh ke arah seseorang yang berbaring di sofa. Tidak ada reaksi dari zeehan, dia hanya memandang Lenka datar.
"Sepertinya dia kehilangan ingatan" kata uncle Jonathan.
"Ya, saya tidak bisa mengingat apapun, Tuan, maaf!"
Lenka bangun dari pingsannya. Dia duduk bersimpuh didepan Zeehan dengan air mata yang berlinangan.
"Zeehan, kau benar-benar tidak mengingat kami, aku Lenka istrimu,"
"Aku bukan Zeehan, namaku Gerald, ini kartu identitasku, istriku bernama Katrine dia bekerja di rumah sakit di kota Canberra. Kebetulan ada pesta keluarga di hotel dekat restoran paman ini."
Lenka melepaskan pegangan tangannya, dia tampak syok dengan pengakuan Zeehan. Lenka terduduk lemas di lantai.
"Zeehan, kamu harus tahu, kamu adalah Zeehan Aryadinata, kamu mengalami kecelakaan speedboat di pantai Wane, kota Bima, tempat kelahiranmu. Kamu hilang saat badai sekitar 2 tahun yang lalu." Ujar Jovan geram.
Zeehan menatap Jovan dengan nanar.
"Dan ini adalah Valencia Kaynara, istri yang sangat kamu cintai, kamu memiliki tiga orang anak, kenzio, Zevanina dan Samudera!"
"Samudera?"
"YA, SAMUDERA, bukankah kau yang ingin memberi putramu nama itu, sehari sebelum kamu menghilang." Ujar Jovan menaikan nada suaranya.
Zeehan mengusap wajahnya kasar, dia berdiri dengan gelisah.
"Tuan, tolong antar aku kembali ke hotel tadi, istriku bingung karena kehilanganku,"
"Telpon saja dua kemari, kamu punya nomor ponselnya kan?" Jovan makin kesal.
Zeehan mengeluarkan sebuah kartu nama, dan menyerahkannya pada Jovan.
Dengan wajah kesal, Jovan menelpon nomor yang diberikan Zeehan.
"Selamat malam, dengan nyonya Katrine? Saya Jovan, apakah anda kehilangan suami anda,"
"Iya Tuan, apakah dia bersama anda?"
"Iya, dia di rumahku sekarang, apakah dia bernama Gerald?"
"Iya , Share Lock Tuan aku akan kesana,"
Jovan melemparkan ponselnya ke atas sofa. Di mengangkat tubuh Lenka untuk duduk di atas bersamanya. Jovan merangkul pundak Lenka erat.
Semua yang ada di ruang tamu itu terdiam membisu. Tidak ada yang bicara, sampai Lenka pun sulit untuk bernafas.
Sesekali Zeehan menatap ke arah Lenka, semuanya terasa asing. Namun, hatinya bergetar menatap wanita yang terisak-isak itu.
Zeehan melangkah mendekati Lenka.
__ADS_1
Kemudian duduk bersimpuh di depan Lenka.
"Maafkan aku, aku belum bisa mengingat apapun saat ini, aku sudah menikah dan berjanji akan setia pada Katrine. Tapi akan berusaha mengingat jati diriku,"
Katrine masuk ke ruang tamu, dia kaget melihat Zeehan bersimpuh di kaki wanita yang begitu dikenalnya dengan baik.
"Valencia!" Panggil Katrine. Lenka menoleh ke arah Katrine.
"Katrine, kau istrinya Zeehan?" Tanya Lenka tak percaya.
"Dia Gerald suamiku!"
"Dia Zeehan, suamiku Katrine, dia hilang setelah kecelakaan di laut, satu tahun yang lalu. Aku tidak akan salah mengenalnya,"
"Maaf Valencia, kami harus pergi sekarang, ayo Gerald kita pergi!" Katrine menarik tangan Zeehan dan membawanya keluar dari rumah Bibi Julia.
"Katrine, tolong jangan bawa Zeehan, biarkan dia bersama kami, kami akan mengobatinya," kata Lenka memohon.
"Tidak Valencia, kau salah orang, dia Gerald Wilson, kami sudah menikah setahun yang lalu." Katrine tidak rela, jika Zeehan harus kembali pada keluarganya.
Dengan terburu-buru, Katrine membawa Zeehan ke dalam mobil, dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan berkecamuk.
Jovan keluar dari rumah dan diam-diam mengikuti Katrine dengan mobilnya dari jarak aman.
Tujuan Jovan hanya satu, untuk mengetahui tempat tinggal Katrine. Setelah mengetahuinya, Jovan kembali ke rumahnya.
Kenzio memeluk ibunya hangat, "Jangan menangis mama!"
"Ya sayang, mama tidak akan menangis lagi, mama bersyukur, Papamu masih hidup, walau dia tidak mengenal kita. Mama berdoa, semoga Papa bisa kembali ingatannya."
"Ya Ma,... Sekarang mama tidur ya!" Kenzio mengantar Sang Mama ke kamarnya.
Setelah menyelimuti Lenka, Kenzio kembali ke kamarnya.
Lenka benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan Zeehan. Dia tidak sanggup membayangkan Zeehan hidup bersama dengan Katrine teman baiknya saat kuliah di Universitas Melbourne dulu.
"Apakah Katrine yang menyelamatkan Zeehan?" Batin Lenka.
"Kalau memang benar Katrine yang telah menyelematkan Zeehan, aku harus merelakan Zeehan, tapi Zeehan harus dirawat dirumah sakit, untuk memulihkan ingatannya."
******
Sementara itu di rumah Katrine, Zeehan tampak melamun sendiri di Balkon kamar mereka. Katrine berdiri berpangku tangan, sambil menatap kearah Zeehan.
"Gerald, kau sudah memakan obatmu?" Tanya Katrine.
"Belum, nanti akan aku makan, biarkan aku sendiri, Katrine!"
"Baiklah, tapi pastikan kau mengingat obatmu, jika kamu tidak mau kepalamu sakit,"
"Ya!" Jawab Zeehan singkat.
Zeehan menatap obat-obatan yang berada dalam botol di tangan nya. Dan membuangnya ke tempat sampah.
Zeehan keluar dari rumah, dan berjalan menuju pantai, yang terletak tidak jauh dari rumah Katrine.
Dia berdiri dibibir pantai, membiarkan air laut menyentuh kakinya. Kilasan tentang kapalnya yang pecah kembali bermain dalam pikirannya. Kepalanya makin terasa sakit, setiap kali mencoba untuk berpikir keras
"Argh!" Zeehan berteriak sekencang-kencangnya melampiaskan amarahnya. "Oh, tidak....aku harus mengingat semuanya, harus!" Batinnya bergejolak dengan hebat.
Zeehan mengerang, saat rasa sakit itu semakin lama semakin terasa menyiksa. dia mencoba menahan rasa sakit itu.
"Papa, ini Kenzio,...Kenzio anak Papa?" Suara anak kecil itu bermain di pikirannya.
"Kenzio! Kenzio!" Panggilnya. "SAMUDRA!" Teriak Zeehan risau. Air mata tumpah membasahi Pipinya. Terbayang dimatanya tatapan sedih Lenka melepaskan pegangan tangannya.
"Lenka...!" Nama itu terucap begitu saja dari bibirnya.
Katrine menatap Zeehan iba, selama ini dia telah bersikap egois dengan membiarkan Zeehan agar tidak mengingat siapa dirinya.
Wanita itu takut, Zeehan akan meninggalkannya setelah mengetahui siapa dirinya.
Zeehan berjalan ke dalam laut, membiarkan air laut membasahi tubuh nya. Tatapannya kosong.
"Gerald! Apa yang kau lakukan?" Teriak Katrine saat melihat pria itu hampir terbenam. Dia mengejar Zeehan kearah laut, dan menariknya ke tepi pantai.
"Biarkan aku pergi Katrine, agar aku bisa mengingat masa laluku!" Pinta Zeehan.
Katrine melongo mendengar kata-kata Zeehan. "Apakah kamu tahu, kamu bisa saja mati digulung ombak."
"Mungkin lebih baik, dari pada aku harus menyakiti banyak orang!"
"Gerald, aku membutuhkanmu!" Katrine memeluk tubuh Zeehan erat.
"Tidakkah kamu berpikir kalau anak-anakku membutuhkan aku!" Kata Zeehan datar.
Katrine menangis, apa yang dia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Zeehan ingin kembali pada keluarganya.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Kata Katrine.
"Tidak Katrine, kalau hanya semakin membuatku tidak bisa mengenali diriku lagi."
"Aku akan membuatmu sembuh, percayalah padaku!"
"Kau tidak menginginkan aku sembuh kan?"
Pertanyaan Zeehan membuat Katrine terdiam. Apakah dia begitu jahat sekarang? Demi cintanya pada Zeehan.
"Aku akan membiarkanmu pergi setelah kau mengingat kembali siapa dirimu!" Janji Katrine.
Zeehan menatap wanita yang telah menyelamatkan hidupnya dua tahun yang lalu. Mencoba menyelami netra kehijauan itu. Zeehan tidak menemukan kebohongan di sana. Hanya air mata bergenang di pelupuk mata Katrine. Dan itu membuat Zeehan lemah.
Zeehan memeluk Katrine dengan erat.
"Ayolah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit!" Kata Katrine akhirnya.
"Terimakasih Katrine!" Ucap Zeehan tulus.
Katrine mengangguk sambil melepaskan pelukannya. Kemudian keduanya kembali ke rumah.
"Mau kemana Katrine?" Tanya Tuan Scott saat melihat putrinya mengemasi pakaian Zeehan ke dalam sebuah koper kecil.
"Ke rumah sakit Daddy, sudah saatnya Gerald mendapatkan pengobatan di rumah sakit, agar ingatannya kembali."
__ADS_1
"Kau yakin?" Sang Ayah menatap Katrine nanar.
Katrine mengangguk, "Aku yakin, Daddy! Aku merasa egois jika terus membiarkan Gerald tetap bersamaku, dia memiliki tiga anak yang masih kecil, mereka membutuhkan ayah mereka Dad."
"Dia sudah bertemu keluarganya?"
"Ya, keluarganya ada Melbourne, istrinya Valencia Kaynara, teman kuliahku saat di Universitas Melbourne dulu Dad."
Pria itu menarik nafas panjang, "Daddy harap, kamu bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada, Katrine!"
"Ya Dad, aku akan berusaha,"
Katrine mengantar Zeehan ke sebuah rumah sakit besar di kota Melbourne. Tempat Zeehan akan menjalani terapi dan pengobatan untuk mengembalikan memorinya yang hilang.
Katrine menghubungi Lenka begitu operasi pada kepala Zeehan selesai. Lenka datang bersama Jovan.
Cukup lama Lenka menunggu Zeehan bangun dari lelapnya, pasca operasinya selesai.
Lenka duduk di sisi ranjang tempat Zeehan di rawat. Mata Zeehan terbuka perlahan, hingga melebar. Netranya mengitari sekeliling ruangan.
"Katrine," panggilnya lirih.
Lenka menahan rasa sakit di dadanya, mendengar suaminya menyebut nama wanita lain.
"Anda melihat istriku, nyonya?"
Lenka menengadahkan wajahnya, agar air matanya tidak tumpah. Buru-buru di keluar dari ruangan itu. Dan menumpahkan tangisnya di dada Jovan.
"Apa yang terjadi Val? Dia tidak mengenalmu?" Jovan mengusap punggung Lenka.
"Ayo kita pergi, Jo! Percuma kita berada disini, dia hanya mengingat Katrine sebagai istrinya."
"Sabar Val, " bisik Jovan. Kemudian membawa Lenka keluar dari area rumah sakit itu.
Papa Daniel datang dari Jakarta, setelah mendengar bahwa Zeehan sudah ditemukan. Dia datang ke rumah sakit, untuk melihat keadaan putranya.
Cukup lama Daniel berbicara dengan dokter yang menangani Zeehan.
"Saya rasa, Zeehan akan cepat pulih, jika dia berada di lingkungan keluarganya, dok!" Kata Daniel pada dokter Joseph.
"Saya rasa begitu Tuan, tapi sekarang, terpulang pada pasiennya. Apakah dia mau ikut bersama anda, atau tidak?"
Memang cukup sulit mengambil keputusan. Di Satu sisi, Zeehan merasa tidak tega meninggalkan Katrine yang telah berjasa dalam hidupnya. Di sisi lain, dia ingin hidup normal seperti semula.
"Katrine, maukah kamu mengantar Zeehan ke Jakarta, mungkin jika bersamamu, dia bersedia untuk berangkat ke Jakarta," kata Papa Daniel lembut.
"Saya akan melakukannya, Tuan Daniel, jika itu yang terbaik buat putra anda."
"Apakah kalian mempunyai anak?" tanya Papa Daniel.
"Tidak Tuan, aku tidak bisa memiliki anak," kata Katrine sedih.
"Maaf, aku hanya tidak ingin jika Zeehan sembuh, dia meninggalkan tanggung jawab yang lain di kota ini,"
Papa Daniel membawa Zeehan ke Jakarta, bersama Katrine. Lenka menolak untuk ikut, karena tidak ingin melihat kebersamaan Zeehan dengan Katrine. SEBAGAI WANITA normal, jujur Lenka cemburu.
Hati wanita mana yang tidak sakit, apabila suami tercintanya menikah dengan orang lain, walaupun Zeehan hilang ingatan.
Dua tahun kehilangan Zeehan, tapi hatinya tidak sesakit sekarang. Hanya bisa memandang tanpa bisa meraihnya.
Lenka meratap dalam sepi, dia ingin ingatan Zeehan kembali, namun bagaimana dengan Katrine, apakah mereka tega "membuang" wanita itu? Tentu saja tidak, walau bagaimanapun, mereka masih memiliki hati nurani.
Sudah hampir sebulan Zeehan di Jakarta, namun belum ada tanda-tanda ingatannya kembali.
Papa Daniel memaksa Lenka ke Jakarta bersama anak-anaknya. Satu-satunya cara adalah membiarkan Zeehan berkumpul bersama keluarganya. Mau tidak mau, lenka berangkat ke Jakarta bersama putra-putrinya.
Tinggal di rumah utama, bersama Kedua orang tua Zeehan dan tentu saja ada Katrine disana. Yang setia mendampingi Zeehan kemana pun pria itu pergi.
Lenka seolah menjadi orang asing di rumahnya sendiri. Makan malam adalah saat yang sangat memuakkan bagi Lenka. Katrine dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Zeehan tanpa memikirkan perasaan Lenka. Mereka seperti pasangan yang sedang berbulan madu.
Kalau sudah begitu, Lenka mengajak Kenzio untuk pergi meninggalkan meja makan, walaupun sangat tidak sopan.
"Sayang, kamu mau buah, biar aku potong!" Kata Katrine mengambil sebuah apel dan mengupasnya. Kemudian memotong apel itu kecil-kecil!, Lalu menyuapkannya untuk Zeehan.
Lenka masih sempat melirik Zeehan yang senang membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari Katrine.
Katrine seolah tidak memberi kesempatan pada Lenka untuk berbicara hanya berdua dengan Zeehan. Mama Maria menyadari itu, dan mencari akal agar Katrine kembali ke Australia.
Tengah malam, lenka turun ke dapur untuk mengambil apel segar di kulkas karen perutnya terasa lapar karena tidak sempat makan malam.
Dia duduk sendiri di mini Bar dengan apel dan segelas air mineral.
"Apakah disini ada minuman bir kaleng?" Tanya Zeehan, saat muncul di dapur dan membuat lenka kaget.
"Oh, tentu saja ada, ambil sendiri di kulkas," kata Lenka merasa canggung.
Zeehan melangkah ke kulkas, dan mengambil sekaleng bir, kemudian meminumnya sampai tandas.
"Valencia, apakah anak-anak sudah tidur?" Tanya Zeehan, lembut.
"Ya! Maaf, aku sudah selesai, aku mau ke atas," Lenka mencuci gelas yang dipakainya. Zeehan menarik tangan lenka hingga tubuh mereka begitu dekat, nyaris tidak ada jarak. Lenka bisa merasakan hangatnya hembusan nafas pria itu. Keduanya saling bertatapan dan saling mengunci.
"Lepaskan aku Zeehan, nanti Samudra bangun, dia akan menangis jika aku tidak ada disampingnya," lenka menarik diri dari pelukan Zeehan.
"Valencia, jika benar kamu adalah istriku, kenapa kamu menjaga jarak denganku,"
Lenka menelan Saliva nya kasar, "Aku tidak menjaga jarak, hanya menjaga perasaan Katrine, dia sangat mencintaimu."
"Dan kamu tidak mencintaiku?"
Lenka menatap ke atas langit-langit, menahan air mata untuk tidak tumpah.
"Semua orang tahu, seperti apa cintaku padamu Zeehan, kita memiliki tiga orang anak, dan itu cukup membuktikan bagaimana cinta kita selama ini,"
"Aku akan berusaha keras untuk sembuh, Valencia. Tunjukkan padaku, dimana tempat kita bisa bersama, tanpa.di ketahui Katrine." Bisik Zeehan.
"Bagaimana dengan rumah kita, besok pagi pergilah kerumah kita dengan Taxi, aku akan menunggu mu di sana, setelah mengantar Kenzio dan Zee ke sekolah. Aku akan menuliskan alamatnya."
"Baiklah!" Zeehan mengangguk.
Lenka segera keluar dari dapur dan bergegas ke kamarnya. Dia seperti seorang selingkuhan yang takut tertangkap basah.
Bersambung.
__ADS_1