TAK SANGGUP MELUPAKANMU

TAK SANGGUP MELUPAKANMU
KELAHIRAN BAYI PREMATUR


__ADS_3

Zeehan dan Lenka sampai dirumah mereka begitu malam mulai larut. Kenzio sudah tidur dikamarnya. Mbak Ida, asisten rumah tangganya, meminta izin untuk pulang.


Lenka membersihkan diri di kamar mandi, membersihkan dirinya yang lengket oleh sisa-sisa percintaan mereka. Di ikuti Zeehan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Zeehan, lepaskan, aku capek!" Lenka menyingkirkan tangan Zeehan dari tubuhnya.


"Sebentar sayang, aku masih pengen, sepertinya obat yang diberikan Sherly, dosisnya sangat tinggi."


"Tidak Zeehan, kamu tidak mau kan, anak kita kenapa-kenapa?" Lenka memelas. Kali ini Lenka benar-benar tidak ingin melayani Zeehan, setelah tadi sore menggempurnya habis-habisan. Pengaruh obat itu benar-benar membuat tenaga Zeehan beribu kali lipat, hingga Lenka kewalahan meladeninya.


"Tentu saja tidak, baiklah kalau begitu, biarkan aku memelukmu sebentar." Zeehan mengeratkan pelukannya.


"Udah Zeehan, aku mau keluar, dingin," Lenka mendorong tubuh Zeehan hingga terlepas dari pelukannya. Kemudian berlalu meninggalkan Zeehan yang memandangnya mesum sambil tersenyum menggoda.


Zeehan menarik nafas panjang, dia masih bersyukur karena Sherly tidak berhasil mendapatkan dirinya. Zeehan tidak dapat membayangkan jika dia tidur dengan Sherly, wanita itu dengan mudah akan memanfaatkan dirinya. Seperti halnya, saat mereka baru menikah, Sherly juga memberinya obat tidur, karena Zeehan terang-terangan menolaknya.


"Zeehan,....tolong!" teriak Lenka dari dalam kamar. Zeehan buru-buru keluar dari kamar mandi, dan menyusul Lenka yang meringis memegang perutnya. Darah segar mengalir disela pahanya.


"Kenapa sayang?"Zeehan tampak panik, buru-buru dia memakai pakaiannya.


"Sepertinya aku mau melahirkan," lirih lenka.


"Kita kerumah sakit sekarang, aku akan menyiapkan mobil." Zeehan segera keluar dari dalam kamar, ada kepanikan dalam nada bicaranya. Lenka hanya mengangguk, Kenzio terbangun dari tidurnya mendengar suara Lenka yang kesakitan.


"Mama,....mama kenapa? Adik bayinya mau lahir ya!" tanya Zio ikut mencemaskan ibunya.


"Iya sayang, sepertinya mama mau melahirkan, Zio ganti baju sana, ikut mama ke rumah sakit."


"Ya Ma, tungguin Zio!" Anak kecil itu kembali ke kamarnya dan tak lama kembali setelah berganti pakaian.


Zeehan mengendong Lenka keluar kamar dan membaringkannya di Jok belakang mobilnya.


"Mama, tahan ya!" Kenzio mengelus lembut kening Lenka, sementara Zeehan melarikan mobilnya ke rumah Sakit Darya Medika dengan kecepatan tinggi.


Beberapa orang paramedis, menunggu kedatangan bos mereka dengan sebuah brankar di depan ruang bersalin Rumah sakit itu. Setelah sebelumnya, Zeehan menelpon pihak rumah sakit, mengabarkan bahwa istrinya akan melahirkan.


"Dokter Via, tolong istriku, sepertinya dia kesakitan," Zeehan makin bertambah panik.


"Baik, Dokter Han! Tapi bukannya usia kandungan Dokter Valen baru 28 minggu," tanya dokter Via heran.


"Aku tidak tahu, dok, coba cek saja dulu!" kata Zeehan gelisah. Dia menemani Lenka di ruangan bersalin. Memperhatikan dokter Via memeriksa kandungan istrinya.


"Sepertinya dokter Valen mengalami sesuatu yang membuatnya harus melahirkan secara prematur, dokter Han."


"Lakukan yang terbaik, dokter Via!" Zeehan memandang dokter Via gugup. Kemudian pandangannya beralih pada Lenka yang terbaring lemah di tempat tidur sambil memegang tangannya erat. Wanitanya itu tampak kesakitan.


"Maafkan aku, sayang! Aku telah membuatmu kesakitan seperti ini," bisik Zeehan.


"Berdoalah, mudah-mudahan bayi kita tidak kenapa-kenapa," lirih Lenka. Zeehan mengangguk. Jantungnya berdebar kencang, gugup dan bingung, semua rasa bercampur menjadi satu, menciptakan rasa bersalah karena telah melampiaskan hasratnya secara bertubi-tubi. Semua karena obat sialan yang diberikan Sherly.


Melalui operasi Caesar, akhirnya bayi mungil Zeehan dan Lenka lahir ke dunia dengan bobot hanya 2,2 kg. Bayi berjenis kelamin perempuan itu, harus dirawat di dalam ruangan unit perawatan intensif Neonatal (NICU).


Zeehan tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Setiap kali melihat bayinya, terbaring lemah di dalam inkubator. Bayi itu harus berada dalam kotak kaca, sampai waktu yang bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, agar suhu tubuhnya tetap normal.

__ADS_1


Hatinya menjerit menyaksikan ditubuh lemah itu terpasang alat-alat sensor pendeteksi detak jantung dan yang lainnya. Satu set lampu bilirubin terpasang dalam inkubator. Menjaga agar tubuh sang bayi tidak menguning.


"Pa, adik bayinya sakit ya?" tanya Zio, yang melihat adiknya di kotak kaca itu.


"Iya sayang, ...doain adiknya cepat sembuh ya!" Zeehan memeluk Kenzio erat.


"Iya Pa!... Zio jagain mama dulu ya!" Kenzio meninggalkan Zeehan di ruangan NICU dan menemani Lenka di ruang perawatannya.


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu, memeriksa keadaan bayinya. Memastikan cairan tubuhnya tetap terjaga. Memasukkan makanan berupa Asi, yang dipasang melewati hidung dan masuk ke dalam perut bayi mungil itu.


"Anda bisa beristirahat dokter Han, biar saya yang akan menjaga putri anda," kata seorang perawat bernama Mesya.


"Terimakasih, Suster! Kalau ada apa-apa, telpon saya!" Kata Zeehan.


"Baik Dok!" perawat itu mengangguk.


Dengan berat hati Zeehan meninggalkan bayinya di ruangan Neonatal, menghembuskan nafas yang terasa berat.


"Yang kuat ya sayang, Papa yakin, anak cantik Papa akan bisa melewati semuanya," bisik Zeehan. Sebelum meninggalkan ruangan itu.


Zeehan duduk disisi ranjang Lenka yang masih terbaring kaku, setelah melahirkan Caesar. Pengaruh Obat bius disekitar pinggangnya perlahan menghilang dan meninggalkan rasa sakit dan ngilu.


"Zeehan, istirahatlah, besok kamu sudah harus kerja, kan?"


"Bagaimana aku bisa istirahat sayang, sementara kamu terbaring sakit disini,"


"Aku tidak apa-apa, tidurlah, ajak Zio besok dia harus sekolah, nanti kalau ada apa-apa, aku akan membangunkan mu," kata Lenka.


"Baiklah, aku akan tidur, ayo Zio, kita tidur sekarang," Zeehan mengajak Kenzio tidur di ranjang yang telah disediakan pihak rumah sakit untuk dirinya.


Denis membaringkan tubuhnya lesu di ranjangnya yang dingin. Dia masih berada dirumah yang dia tinggali bersama Clarissa beberapa waktu yang lalu. Mencoba memejamkan mata sejenak. Namun, hatinya tak bisa terlelap. Entah apa yang membuat dirinya gelisah. Dia sudah merelakan Valen bersama Zeehan. Dan menceraikan Clarissa adalah jalan terbaik yang dia pilih. Karena tidak ingin terlalu pusing dengan sikap Clarissa yang kadang kekanak-kanakan.


Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Denis bangkit dari tidurnya. Mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya kedalam sebuah koper besar. Dia akan berangkat ke Bali, dengan pesawat pukul 12.00 siang, masih ada waktu baginya untuk mengunjungi orang tuanya, sebelum berangkat ke pulau Bali.


Berdiri sejenak di depan cermin, menyugar rambutnya yang sudah menutupi sebagian wajahnya. Dia mengingat rambut gondrongnya dengan sebuah karet gelang, dan memperhatikan wajah oval nya yang sedikit ditumbuhi jerawat. Sejak berhenti bekerja di Darya Medika, Denis jarang memperhatikan penampilannya. Bahkan terkesan acak-acakan. Namun tidak mengurangi kadar ketampanannya.


Pagi-pagi sekali Denis, berangkat ke rumah Mamanya Maria, yang sudah kembali bersama Papa Daniel. Mamanya Maria, menyambut Denis dengan hangat.


"Sudah sarapan, nak!" tanya Maria merapikan pakaian Denis yang kusut.


"Belum Ma, aku ingin sarapan sama Mama di sini, siang nanti aku akan berangkat ke Bali." kata Denis, sembari duduk di sofa.


"Kamu sudah pamitan sama Zeehan," tanya Maria. Wanita itu membantu asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan pagi.


"Udah kemaren, Papa mana Ma?"


"Papa sedang berolahraga di ruang gym, sebentar lagi juga turun. Mama Maria mengisi gelas-gelas dengan susu, serta air putih.


"Ayo sarapan Denis, Papamu sudah datang," seru Maria. Denis menyalami sang ayah dan duduk bersama di meja makan.


"Berangkat pukul berapa, Denis?" tanya Daniel Aryadinata, dengan suara bass-nya. Pria tua itu menyesap minumannya sedikit.


"Pukul 12 Pa," jawab santai sembari meminum susu dengan sekali teguk.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Clarissa?"


Denis menarik nafas perlahan, "Maaf Pa, Zeehan terpaksa menceraikannya, setelah apa yang dia lakukan pada Zeehan.


"Emang, apa yang telah dilakukan wanita itu?" tanya Mama penasaran.


"Dia telah membantu Sherly, menjebak Zeehan untuk tidur dengannya,.... aku akan baik-baik saja Pa, Ma,.walau tanpa Clarissa," kata Denis meyakinkan mamanya. Lebih tepatnya meyakin dirinya sendiri.


"Bagaimana dengan bayi kalian?" Mama Maria mencemaskan keadaan cucunya.


"Aku akan memberinya uang, untuk biaya bulanan Dean, tapi kalau dia tidak sanggup menghidupi Dean, aku akan membawanya bersamaku ke Bali.


Mama Maria hanya mengangguk, begitu selesai sarapan pagi, tanpa di duga, Clarissa datang membawa kerumah itu dan marah-marah.


"Denis, aku berubah pikiran, aku akan menyerahkan bayi Dean padamu, aku akan pergi bekerja, jika bayi ini bersamaku, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa." kata Clarissa tanpa memperdulikan mertuanya yang berada di ruangan yang sama.


"Tidak masalah, Clarissa! Aku akan merawat anakku dengan baik, kamu tidak perlu khawatir," kata Denis santai.


"Baguslah, aku permisi,"


"Clarissa, tidak bisakah kamu duduk dulu di sini, kita bicara baik-baik, kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin," kata Bu Maria.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Ma! Aku sudah capek menjadi istrinya. Denis hanya membuatku semakin terluka, Karena dia tidak mencintaiku, dia hanya tergila-gila pada wanita yang bernama Valencia," ungkap Clarissa kesal, sambil berkacak pinggang.


"Biarkan saja, Mama!" Denis menatap Clarissa sinis. "Aku juga tidak mau bersama wanita yang hanya menuntut materi dan uang, boros dan suka berfoya-foya."


"Clarissa, duduk dulu nak!" kata Papa Daniel lembut.


Clarissa menurut. "Benarkah kamu ingin mengakhiri pernikahanmu dengan Denis," lanjutnya.


"Ya Pa, " jawab Clarissa singkat.


"Baiklah, jika kamu menuntut cerai dari Denis, kamu akan mendapatkan uang bulanan 20 juta rupiah setiap bulan, jika..." Pak Daniel menjeda ucapannya.


"Jika apa Pa?" Clarissa tidak sabaran.


"Jika kamu masih merawat bayi Deanza, tapi jika tidak, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa," kata Pak Daniel.


"Kalau begitu saya permisi Pak Daniel. Saya tidak butuh uang anda, permintaan saya, tolong duduk putra anda agar tidak mempermainkan perempuan," kata Clarissa bangkit dari tempat duduknya, dan menatap Denis yang acuh penuh kebencian. Kemudian segera berjalan keluar dari rumah besar Daniel Aryadinata dengan wajah cemberut.


Mama Maria, menarik nafas panjang, wanita itu mengambil bayi kecil yang berada dalam kereta bayi. "Halo sayang, cucu Oma," Maria tersenyum manis, menimang cucunya dalam pelukan. Bayi Deanza berumur 8 bulan sekarang.


"Kamu yakin akan membawa Deanza ke Bali, Denis?" Mama Maria meletakkan Bayi mungil itu kembali ke dalam stroller-nya.


"Yakin, Ma! sampai di Bali, aku akan mencari pengasuh untuk Dean, gampang saja, mama nggak usah khawatir," kata Denis.


"Ya udah, terserah kamu, yang penting kamu menjaga Deanza dengan baik, dan pastikan dia mendapatkan kasih sayang." tambah Daniel.


"Ya Pa, Ma...aku berjanji akan menjaganya dengan baik."


Sebelum berangkat ke Pulau Bali, Denis menyempatkan diri, membeli semua kebutuhan dirinya dan Deanza dan mengirimnya dengan jasa pengiriman barang ke rumah sakitnya yang ada di Bali.


Sebuah pesan masuk ke aplikasi WhatsApp-nya. Sebuah pesan singkat dari Lenka.

__ADS_1


***Denis, aku sudah melahirkan, sekarang aku berada di rumah sakit Darya Medika***.


Bersambung


__ADS_2