
Setelah Katrine kembali ke Australia dan menandatangani surat cerainya dengan Zeehan. Lenka dan Zeehan kembali menempati rumah mereka.
Walau Zeehan belum mampu beraktivitas seperti biasa, namun dia sering datang ke rumah sakit Darya Medika untuk membantu Denis, melakukan apa yang dia bisa.
Denis dan Papanya Daniel, mendatangkan ahli bedah saraf dari Amerika untuk membantu menyembuhkan sakit di kepala Zeehan.
"Pa, apakah operasi terhadap Zeehan bisa berhasil, karena sudah terlalu lama dan dia mengkonsumsi obat-obatan yang tidak tepat sejak lama," ucap Lenka.
"Yang penting kita berusaha Nak! Hasilnya kita serahkan semuanya Tuhan." Kata Pak Daniel penuh semangat.
"Iya Val! Papa benar, bantu dengan doa ya!" Kata Denis.
"Iya Denis, itu pasti. Kapan ahli bedah itu akan datang?" Tanya Lenka.
"Minggu depan," jawab Denis.
Zeehan telah bersiap di kamar operasi, Lenka memberikan semangat agar Zeehan kuat menjalani operasi di bagian kepalanya.
"Kami semuanya menunggumu, Sayang! Kau harus sembuh." Kata Lenka memberikan sebuah ciuman manis di bibir suaminya.
"Aku akan menahan rasa sakit ini untuk kalian, I Love You, honey!"
"I love you, more and more!" Jawab Lenka tersenyum.
Operasi di Kepala Zeehan berlangsung hampir 2 jam. Dan butuh waktu beberapa jam agar Zeehan bangun dari lelapnya, pasca operasi. Butuh perhatian ekstra hingga ingatannya pulih kembali.
Zeehan menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya di hari minggu setelah operasi Zeehan selesai. Lenka mengajak mereka bermain di taman bermain. Menaiki semua wahana dan bermain lempar bola.
Zeehan tersenyum melihat anak-anaknya bahagia.
"Ayo Papa, Zee mau boneka itu, menangkan untuk Zee ya!" Putri kecilnya menarik Zeehan untuk bermain bonek capit.
"Baiklah sayang, papa akan mendapatkannya untukmu." Zevanina bersorak saat Zeehan berhasil mendapatkan boneka yang diinginkannya.
"Terimakasih Papa!"
"Sama-sama sayang!" Zeehan mencium kening putrinya lembut.
"Mama mau apa?" Tanya Zeehan melirik Lenka yang sibuk mengurus Si kecil Samudera.
"Mama tidak mau apa-apa, Pa! Hanya melihat anak-anak senang, mama bahagia."
"Kalau begitu, berikan Samudera padaku, Mama duduk saja disini, kami akan berbelanja sesuatu buat mama," kata Zeehan mengendong Samudera dan berlalu meninggalkan Lenka sendirian di bangku taman.
Zeehan dan ketiga anaknya masuk kedalam Pusat perbelanjaan.
"Zio dan Zee, pilih masing-masing satu hadiah buat Mama terserah mau hadiah apa." Ucap Zeehan.
Zio memilih sebuah sepasang sepatu wanita dan Zee memilih tas tangan berwarna hitam. Masing-masing meminta kasir untuk membungkusnya dengan kertas kado.
Zeehan sendiri, membelikan sebuah Kalung berlian, dengan harga yang fantastis.
"Papa, kami sudah selesai!" Kata Zio.
"Kalau begitu ayo kita keluar, kita tunggu mama di restauran."
Sudah hampir satu jam lenka menunggu Zeehan dan anak-anaknya di bangku taman. Seorang wanita berpakaian seragam restoran cepat saji berlari terengah-engah ke arahnya.
"Nyonya, suami anda?"
"Kenapa dengan suamiku, nona? Dia pingsan?" Lenka tampak panik.
"Iya nyonya, cepatlah, ikuti saya, ... anak-anak anda bingung mencari anda." Tanpa berpikir panjang, Lenka berlari mengikuti karyawati restoran cepat saji itu.
Lenka merasa menyesal membiarkan Zeehan pergi tanpa pengawasannya.
__ADS_1
"Mama...!" Teriak Kenzio memeluk Lenka erat.
"Dimana Papa sayang?"
"Papa tidur di bangku itu!" Zio menunjuk Zeehan yang berbaring di bangku restoran. Lenka melepaskan pelukan Kenzio, dan mendekati suaminya.
"Sayang, apa yang terjadi, apa yang kamu rasakan?" Lenka memeluk Zeehan erat.
"Sayang, apa kepalamu sakit lagi? jawab aku!"
Zeehan tidak bergeming, Kenzio menangis memeluk Mamanya yang tampak cemas.
"Papa bangun!" Zio mengusap lembut kepala ayahnya. Perlahan Zeehan membuka matanya dan tersenyum.
"Happy Birthday, Sayang."
"Sayang! ini tidak lucu, kamu membuatku takut" Lenka tampak cemberut.
"Happy Birthday Mama!" Kenzio memeluk Lenka dan memberikan hadiahnya. Lama lenka terpaku menatap kedua laki-laki kesayangannya itu. Hingga akhirnya lenka bisa tersenyum.
"Makasih sayang!" Lenka tersenyum haru.
Zee pun tidak ketinggalan memberikan hadiahnya dan memeluk Lenka.
"Nah, ini dari Samudra dan Papa!" Zeehan memasangkan kalung berlian di leher Lenka.
"Maaf, sudah melewatkan 2 kali ulang tahunmu, sayang!" Bisik Zeehan.
"Terimakasih, Sayang!" Lenka mengusap air mata yang mengalir begitu saja.
Tak cukup kehadiran Suami dan ketiga buah hatinya, lenka di kejutkan dengan kedatangan Jovan, bibi julia dan Uncle Jo, serta kedua orang tua Zeehan.
"Bibi, kapan kalian datang dari Australia?"lenka memeluk ketiga orang terdekatnya itu penuh haru.
"Makasih Bi, Jovan...uncle Jo!"
"Hey, where is my son!" Jovan mencari sosok kenzio,
"Daddy, I am here!" Kenzio melambaikan tangannya. Dan berlari mengejar Jovan.
"My Boy, kamu sudah besar sekarang, baru kemaren kamu masih bisa Daddy gendong, sekarang udah sama tinggi dengan Daddy." Jovan memeluk Kenzio hampir sama tinggi dengannya.
"Tentu saja Daddy, Mama kan memberiku makan setiap hari, jadi aku cepat besar,"
Jawab Kenzio tersenyum.
"Val, anakmu sudah beranjak remaja sekarang, tampan lagi, pasti banyak cewek yang mengejar-ngejar putraku,"
"Tentu saja, sebentar lagi jadi saingan kamu Jovan, cepatlah menikah, biar tidak keduluan putramu," goda lenka.
"Tunggu saja tanggal mainnya," jawab Jovan sumringah.
Suasana makin ramai dengan kehadiran Denis dan Judith serta putrinya. Mama Maria dan Papa Daniel juga ikut serta. Tak ketinggalan Della, Stella dan Maya.
Tidak lupa mereka juga mengundang David dan Sherly serta kedua putri mereka, Keysa dan Kenzhia.
"Selamat ulang tahun, Lenka!" Ucap Sherly tulus.
"Makasih kak Sherly, halo Kenzhia, keysa! Terimakasih sudah datang," Sapa Lenka pada kedua putri David yang sudah menginjak remaja.
"Bu dokter, kalau Keysa tidak bisa jadi anak bu dokter, Keysa jadi menantunya Bu dokter saja ya!" Kata Keysa polos.
"Mm, boleh! Tapi Keysa tanya sama Kak Zio saja, dia mau apa tidak!" Jawab Lenka tersenyum.
Kenzio menoleh ke arah Keysa, dia tersenyum manis. "Keysa, belajar dulu yang rajin ya!" Ucap Kenzio membuat semua orang tertawa.
__ADS_1
"Keysa akan membuat Kak Zio jatuh cinta sama Keysa, lihat saja nanti!" Semua orang tertawa melihat Keysa layaknya orang dewasa.
Lenka bahagia di kelilingi orang-orang terkasihnya. Sebuah kejutan yang diberikan Zeehan di hari ulang tahunnya Yang ke-30.
"Kamu tahu semua ini, adalah ide Kenzio." Kata Zeehan.
"Benarkah!?"
Kenzio senyum-senyum sendiri memandang kedua orang tuanya. "Aku sayang sama Papa dan Mama, kalian berdua adalah orang tua yang hebat!" Kenzio memeluk kedua orang tuanya dan adik-adiknya.
"Mama juga sayang sama Zio,"
"Papa juga sayang sama Zio." Suasana bahagia menyelimuti keluarga besar Lenk dan Zeehan. Pesta sederhana itu berlangsung meriah hingga malam hari.
"Aku juga punya hadiah untukmu, Sayang!" Lenka mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa itu?" Tanya Zeehan penasaran.
"Bukalah!" Zeehan menerima sebuah amplot berwarna putih dan membukanya.
"Oh, Sayang, selamat ya! Aku senang mendengarnya!" Zeehan memeluk Lenka erat.
"Apa itu?" Tanya Papa Daniel penasaran.
"Lenka hamil lagi Pa!" Jawab Zeehan sumringah.
"Benarkah!?" Zeehan memperlihatkan sebuah testpack dengan dua garis merah di dalamnya.
"Papa senang mendengarnya, keluarga kita akan menjadi ramai."
"Benar Pa, Mama senang bisa bermain dengan cucu-cucu yang menggemaskan." Ujar Mama Maria ikut bahagia.
"Selamat nak, Bibi bahagia melihatmu seperti ini. Bibi juga pingin cepat menimang cucu, tapi Jovan masih menunda-nunda untuk menikah."
"Mommy, aku tidak menunda-nunda, hanya belum menemukan orang yang tepat."
"Sama saja, Jovan! Sekarang kamu tidak perlu lagi mencemaskan Valen, sudah ada Zeehan yang menjaganya." Sahut Bibi Julia.
"Atau aku saja yang mencarikan istri Jovan, ada temanku namanya Della, itu orangnya!" lenka menunjuk Della yang sedang menikmati minumannya, wanita itu menyemburkan minumannya.
Jovan memandang ke arah Della yang salah tingkah. Dia mendekat, "Hai, Della apa kabar? Jovan mengulurkan tangannya.
Della menerimanya dengan senyum termanisnya. "Baik, lama tidak jumpa Jovan!"
Della dan Jovan sudah saling mengenal, sejak pria berdarah campuran itu datang mengunjungi lenka di Jakarta. Della diam-diam menyukai sepupu temannya itu.
Walau Jovan terlihat tampan dan disukai banyak wanita, namun dia tidak pernah pacaran dengan wanita manapun.
"Ya, lagi ada proyek di Australia, aku jadi jarang ke Jakarta. Sebulan lagi proyek itu akan rampung!"
"Oya proyek apa?"
"Pembangunan hotel dan restoran, aku mengundangmu untuk datang ke acara peresmian Hotelku bulan depan."
"Dengan senang hati aku akan datang," ujar Della sumringah.
"Kami akan datang Jovan, sekalian acara pertunangan kalian!" Kata Lenka.
Jovan tersenyum menatap Lenka, dan mengacungkan ibu jarinya.
"Kamu juga harus bahagia Jovan, terimakasih sudah menjagaku selama ini, bibi benar, sudah ada Zeehan yang menjagaku, tugasmu sekarang menjaga Della, kau tahu, dia menyukaimu," bisik Lenka di ujung pembicaraannya.
"Aku juga menyukainya," Jovan tersenyum melirik Della yang tersipu malu.
T A M A T
__ADS_1